Science Kid, Science Family

“Education is what remains after one has forgotten what one has learned in school.” 
Albert Einstein
“Science Kid” itu nama salah satu sekolah PAUD di lingkungan tempat tinggalku. Tapi di sini, aku tidak membicarakan itu, bahkan aku termasuk yang tidak begitu setuju sekolah yang demikian. Bagiku, jika memungkinkan dalam arti orangtua mampu, sebaiknya kembalikan pendidikan anak usia dini ke rumah.
Perihal mampu atau tidak ini sungguh sulit didefinisikan. Ada banyak hal yang dapat dijadikan parameter, tapi ada satu hal yang pasti: mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi anak. Tidak selalu berupa materi, tetapi berkesan. Tidak harus banyak, cukup yang sederhana, dan murah.
***
Dunia pendidikan sunguh berkembang, dalam arti yang dahulu tidak ada, sekarang ada. Dahulu cuma ada TK, sekarang ada sekolah untuk bayi, balita, dan anak-anak usia dini. Dahulu bimbingan belajar biasa hanya untuk anak sekolah dasar dan menengah, sekarang mulai ada bimbingan belajar untuk anak TK.
Termasuk “Science Kid” itu… apa yang dipelajari semakin spesifik, anak kecil zaman sekarang sudah belajar science. Aku mencermati kegiatan belajar adikku yang masih TK. Sangat berbeda dengan yang kualami dulu ketika aku TK. Setiap bulan ada kegiatan kunjungan, bahkan salah satunya main ke sawah. Sepulang sekolah, pernah kulihat seorang gurunya melakukan demonstrasi kaca pembesar-sinar matahari-daun kering. Aku dulu nggak pernah!
Sekarang aku belajar memahami mengapa yang demikian menjadi sebuah kebutuhan.  Di samping ini tuntutan kehidupan, aku menyimpulkan bahwa science, terutama ilmu alam, memang adalah cara ampuh mengenalkan Allah pada anak-anak, meskipun prosesnya masih begitu dogmatis. Science membuat agama berarti  dan sebaliknya agama juga berpengaruh sama pada  science bagi anak-anak. Science bukan untuk science itu sendiri, melainkan untuk mencapai sesuatu yang mulia. (Jadi ingin segera tahu di masa depan nanti, anak-anak yang sejak dini dididik sedemikian rupa, akan seperti apa jadinya mereka? Lho, bisa jadi penelitian longitudinal!😀 )
Kita berharap banyak pada institusi pendidikan yang semacam ini. Memang pengaruhnya positif, tetapi ketersediaan dan keterjangkau sekolah yang menawarkan pendidikan yang demikian masih terbatas. Ada kalanya sekolah “terpaksa” harus kembali ke rumah. Karena itu, setiap individu yang kelak akan menjadi orangtua  dan berharap menjadi orangtua yang baik perlu mengantisipasi masa depan yang seperti ini dan pasti seperti ini, mengingat orangtua adalah guru yang pertama dan utama bagi seorang anak.
Proses mengantisipasi ini dapat begitu rumit, tetapi bukan berarti tidak menyisakan bagian yang sederhana. Pendidikan dalam keluarga sungguh merupakan proses transfer pengetahuan, ilmu, dan pengalaman dari orangtua ke anak, sama seperti yang terjadi secara umum dalam masyarakat manusia. Pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sering bukan sesuatu yang secara ngoyo dicari-cari, tapi hadir sendiri seiring dengan perjalanan hidup kita sebagai manusia yang pernah menjadi anak-anak dan tumbuh dewasa.
Inilah kesederhanaannya: kita hanya perlu “menceritakan kembali” hal-hal indah yang pernah kita alami ketika kecil, ketika masih jadi anak sekolah yang belajar dengan cara seperti dan motif seperti itu.
Kita bisa menghadirkan science di rumah dalam kehidupan sehari-hari dengan mengajak anak: untuk tidak melihat air hanya sebagai air, tetapi sesuatu yang membasahi, menyejukkan, dan bisa mengering; tidak melihat tanah hanya sebagai tanah, tetapi sesuatu yang menghidupkan tanaman dan menjadi tempat tinggal dan berpijak banyak makhluk; tidak melihat langit hanya sebagai langit, tetapi sesuatu yang bisa berubah warna, menurunkan air hujan, dan dilintasi hewan dan manusia. Hal-hal yang seperti itu, lalu bertanya, siapa yang membuatnya demikian? Jawabnya Allah.
Hal-hal yang seperti itu tidak hanya dapat dilakukan oleh guru sekolah.
***
Sejak menjadi mahasiswa, bidang studiku membuatku terspesialisasi ke profesi tertentu. Terkadang merasa sebagian dari apa yang aku pelajari dahulu semasa sekolah tidak ada hubungannya lagi denganku sekarang.
Aku hampir lupa pernah mimpi menjadi astronot karena suka fisika terkhusus bab astronomi (sebenarnya juga karena tayangan Sailor Moon yang membuatku kenal nama-nama planet), ingin menjadi geolog karena suka geografi, ingin menjadi palaeontolog dan antropolog karena suka sejarah, dunia dinosaurus dan Discovery Chennel, ingin jadi ahli binatang dan tumbuhan karena suka biologi, ingin menjadi penemu karena suka kimia (terinspirasi dari Marie Curie yang kerena), ingin menjadi pelukis karena suka pelajaran seni…
Tidak terpikir menjadi psychologist, tapi jalan hidup ini memungkinkanku belajar dan merangkum semua yang terjadi, insya Allah, lalu menemukan fungsinya masing-masing bagi kehidupan. Secara praktis, sekolah tidak membuatku mencapai banyak keinginan, justru menggagalkan banyak. Namun demikian, pada intinya, ini bukan lagi masalah aku tidak bisa mencapai mimpi-mimpi itu, melainkan betapa lestarinya rasanya senang bermimpi karena suka belajar, rasanya senang belajar karena ingin tahu, rasanya senang ingin tahu karena ingin mencapai sesuatu yang baik.
Aku melupakan banyak hal dari apa yang pernah kupelajari, aku pun tetap bodoh, tidak mengerti, dan pernah gagal dalam beberapa pelajaran dan ujian, bahkan hampir selalu demikian dalam fisika dan kimia. Jika ada yang harus keberikan pada adik atau anak atau cucu, pasti bukan hal yang kulupakan dan aku tak mampu, melainkan yang paling kuingat dan yang paling bisa kuingat adalah rasa menikmati belajar, ingin tahu, dan semangat menjadi sesuatu itu. Mungkin itu pula yang paling akan diingat oleh adik-adik, dan anak-cucu kita ketika mereka gantian menjadi orang dewasa.
***
Beruntunglah orang-orang yang bisa sekolah, bersyukurlah orang-orang yang menikmati belajar dan tidak berhenti belajar. Perihal belajar, memang fitrah manusia. Lebih baik membesarkan manusia untuk senang belajar daripada untuk menjadi pintar dan cerdas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s