Social Loafing

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/308/Social-Loafing

Sep 28, ’11 1:31 PM

Mungkin ini artikel psikologi pertama yang kubuat, tertahun 2008, ketika aku masih semester tiga. Saat itu, aku sedang stres-stresnya memikirkan cara mengorganisasi kelompok membuat tugas kuliah… Tulisan ini pertama kali dimuat di blog pertamaku, yang kemudian aku tinggal tak kuurus lagi karena tidak tahan membuat tulisan psikologi berbau serius.
***
*Loaf artinya bermalas-malas. Social loafing? Kemalasan (yang berkaitan dengan faktor) sosial.
Digariskannya manusia sebagai makhluk sosial memunculkan konsekuensi terbentuknya kelompok-kelompok manusia. Dalam kelompok-kelompoknya, manusia berinteraksi satu sama lain di mana didalamnya ada hubungan saling tergantung atau interdependency untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri. Namun demikian, manusia tidak dapat murni sebagai makhluk sosial karena manusia juga digariskan sebagai makhluk individual.
Selama perjalanan hidup kita, kita merupakan individu yang menjadi anggota dari banyak kelompok, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang formal sampai yang informal, dari yang jangka pendek sampai yang jangka panjang, dari yang kohesif sampai yang tidak kohesif dan sebagainya (Sarwono, 1999). Kelompok-kelompok tersebut ternyata memiliki dampak yang kuat terhadap bagaimana kita berpikir dan bertindak. Sebenarnya, cara berpikir dan bertingkah laku inilah yang menjadi acuan kita menggolongkan individu-individu sebagai in-group atau out-group. Persepsi terhadap in-group dan out-group inilah yang pula menentukan pola perilaku kita. Sebagai contoh adalah pola perilaku individualistik atau kolektivistik (Triandis, 1994).
 
Mengenai individualistik atau kolektivistik, aku jadi teringat kuliah Psikologi Lintas Budaya terakhir di bulan Oktober (tahun 2008!). Saat itu kami, mahasiswa peserta mata kuliah, mengukur diri kami sendiri: individualis atau kolektivis, dan hasilnya cukup mencengangkan. Kami yang kebanyakan orang Jawa ternyata banyak yang berjiwa individualistik. Zaman rupanya telah berubah. Perlu diketahui bahwa, masyarakat Asia sebenarnya cenderung berbudaya kolektif.
 
Kemudian dosen kami menanyakan bagaimana kami membangun kelompok selama ini (terutama dalam menghadapi tugas kelompok). Memang, ada kesulitan mengorganisasi orang-orang, tetapi metode bagi-bagi tugas (jatah mencari bahan) menurutku cukup kolektivistik daripada tugas itu hanya dikerjakan satu atau dua orang sendirian. Apa jawab dosenku? Sama saja, itu individualistik juga karena setiap orang hanya akan memikirkan jatahnya sendiri. Memikirkan tugas sendiri yang sudah selesai dan kalau ada masalah, asal itu bukan di bagian di mana ia mengerjakan itu, itu bukan masalahnya.
 
Di luar pembahasan individualistik-kolektivistik itu, kalau membicarakan suka duka membangun kelompok, ada banyak sekali carita yang intinya kelompok kerja ideal memang sukar diraih. Berdasarkan pengalaman pribadi, permasalahan yang dapat muncul dalam kerja kelompok antara lain:
Pertama, masalah kepemimpinan yang tidak jelas; tidak ada yang berinisiatif memulai di awal dengan mengumpulkan kelompok ketika tugas baru saja diberikan.
Kedua, kesan “tugas tidak penting” sehingga pengerjaan berlarut-larut. Biasanya, dekat-dekat hari H baru mulai “sibuk”.
Ketiga, ada saja anggota yang pasif, tidak datang di pertemuan diskusi, dan setelah beberapa waktu baru bertanya, “Tugasku apa?” (Apakah ini individualistik?)
Keempat, ada saja anggota yang tidak berjalan berdasarkan instruksi yang diberikan. Pada akhirnya, ada saja orang yang harus berkorban bekerja lebih banyak.
Kelima, ada juga yang merasa tidak adil ketika bagiannya “diserobot” yang lain. Karena dia bekerja sampai lembur, tapi hasil kerjanya kurang memuaskan dan diperbaiki yang lain.
Keenam, masalah gender. Entah kenapa, laki-laki suka sekali mengandalkan rekannya yang perempuan dalam pengerjaan tugas. Aku senyum-senyum saja ketika pernah mendengar cerita tentang ini. “Waktu ada tugas, aku nggak ngapa-ngapain, lho. Kalau sama “X”, “Y”, “Z” (mereka perempuan) tugas tahu-tahu sudah selesai.” (Apa laki-laki memang begitu?)
Ketujuh, kenapa, selalu saja, ada orang yang “tidak bekerja” atau bekerja di bawah level yang sebenarnya bisa ia lampaui. Maksudku, seharusnya dia bisa bekerja senilai 10, tetapi dia cuma mengerjakan 5.
 
Suatu hari di perpustakaan, aku membuka-buka buku psikologi sosial dan terkejut. Rupanya ada penjelasan untuk semua pertanyaan tentang kelompok ini. Semua yang terjadi, semua yang memusingkan itu dapat dirangkum dalam satu istilah “Social Loafing” atau kemalasan sosial (Baron dan Byrne, 2005). Yang kemudian aku pelajari adalah ini:
 
Cara kerja bagi-bagi tugas dan menggabungkannya menjadi satu di akhir adalah cukup umum dilakukan. Pola ini disebut additive task. Seperti yang telah diungkapkan di atas, dalam tugas-tugas seperti ini memang terjadi beberapa orang yang bekerja lebih keras sedangkan yang lainnya masa bodoh, melakukan lebih sedikit dari bagian mereka dan lebih sedikit dari bagian yang mungkin akan mereka kerjakan kalau bekerja sendiri. Nah, yang seperti inilah yang disebut social loafing, yaitu pengurangan motivasi dan usaha ketika individu bekerja secara kolektif dalam kelompok dibandingkan ketika bekerja secara individual.
 
Menurut penelitian, social loafing ternyata tidak tampak terjadi dalam budaya kolektif, seperti yang ada di banyak negara Asia, yaitu budaya di mana kebaikan-kebaikan kolektif lebih dihargai daripada prestasi atau keberhasilan individual. Faktor budaya ternyata sangat mempengaruhi perilaku kita. Tetapi sekarang, ketika kita sebagai masyarakat timur/Asia ternyata tidak lagi bercirikan kolektivistik atau cenderung individualistik, maka social loafing akan menjadi makanan sehari-hari suatu kelompok.
 
Bagaimana social loafing dapat terjadi? Karau dan Williams mengemukakan model usaha kolektif (collective effort model/CEM) untuk menjelaskan terjadinya social loafing. Social loafing dapat dipahami lewat teori motivasi individual (expectance-valence theory) pada situasi yang melibatkan kelompok. Teori ini menyebutkan bahwa individu akan bekerja keras pada tugas yang diberikan hanya pada kondisi-kondisi berikut:
1. Mereka percaya bahwa kerja keras akan menghasilkan kinerja yang lebih baik (pengharapan/expectancy).
2. Mereka percaya bahwa kinerja yang lebih baik akan diakui dan dihargai (instrumentalis/instrumentality).
3. Penghargaan yang diperoleh adalah sesuatu yang mereka anggap berharga dan diinginkan (valensi/valence).
 
Namun, dalam kelompok, orang jadi tidak bekerja keras jika pertimbangannya demikian:
1. Ia mungkin menyadari bahwa ada faktor-faktor lain di samping usaha mereka sendiri yang menentukan kenerja kelompok, seperti besar usaha yang dikerahkan anggota lain.
2. Ia mungkin menyadari bahwa hasil baik akan dibagi ke semua anggota kelompok dan bahwa, sebagai konsekuensinya, mereka mungkin tidak mendapatkan pembagian yang adil sesuai usaha mereka.
3. Lebih banyak terdapat ketidakpastian antara seberapa keras orang bekerja dan hasil yang mereka terima.
 
CEM memperkirakan bahwa social loafing paling lemah ketika:
1. Individu bekerja dalam kelompok kecil daripada kelompok besar.
2. Individu bekerja dalam tugas yang secara intrinsik menarik atau penting bagi mereka.
3. Individu bekerja dengan orang-orang yang dihargai (teman-teman, rekan tim, saudara, dsb).
4. Individu mempersepsikan bahwa kontribusi mereka pada kelompok adalah unik dan penting.
5. Individu memperkirakan rekan mereka bekerja secara buruk.
6. Individu datang dari budaya yang menekankan pada usaha dan hasil individual daripada kelompok.
 
Social loafing paling mungkin terjadi dalam kondisi di mana kontribusi individual tidak dapat dievaluasi, ketika orang-orang mengerjakan tugas yang mereka anggap membosankan atau tidak memberi aspirasi, atau bekerja dengan orang-orang yang tidak terlalu mereka hargai atau mereka kenal. Social loafing tentu saja sangat merugikan kinerja suatu kelompok. Jadi, bagaimana mengatasinya?
Pertama, dengan membuat hasil akhir atau usaha dari setiap anggota dapat diidentifikasi. Dalam kondisi ini, orang-orang tidak dapat bersantai dan membiarkan orang lain bekerja. 
Kedua, dengan meningkatkan komitmen anggota kelompok pada kinerja tugas yang sukses. Tekanan untuk bekerja keras kemudian akan membatasi social loafing.
Ketiga, dengan meningkatkan kejelasan akan arti penting atau nilai dari suatu tugas.
Keempat, social loafing menurun ketika individu memandang kontribusi mereka pada tugas adalah unik, bukan sekadar meramainkan kontribusi orang lain.
Selalu ada solusi untuk masalah-masalah keseharian kita. Ketika kita tahu bahwa fenomena “Kelompok Tidak Efektif atau Kelompok Malas” ternyata punya pemecahannya, maka ayo sikapi ketidakefektifan kelompok kita selama ini dengan kepala dingin. Jangan jadi panas karena ulah rekan-rekan kita. Buang-buang energi saja. Semoga pemaparan Social Loafing ini bermanfaat.
 
Referensi:
Baron, Robert dan Donn Byrne. 2005. Psikologi Sosial Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, Sarlito. 1999. Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Triandis, Harry. 1994. Culture and Social Behavior. NewYork: McGraw-Hill, Inc.
 
PS:
Ada banyak isu yang berhubungan dengan social loafing ini. Asyik kalau dibuat tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s