Tawakal

Jika Allah Menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu; jika Allah Membiarkan kamu (tidak Memberi Pertolongan), maka siapa gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

QS Ali Imran: 160

 

Kita hidup dengan berjuta keinginan dan harapan. Pada kenyataannya, setiap keinginan dan harapan kita akan berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu tercapai atau tidak. Pada kenyataannya pula, setiap orang dalam kenghadapi kenyataannya akan memiliki dua pilihan reaksi, yaitu bersyukur atau merasa sial.

Berhasil atau tidaknya kita memang tergantung pada banyak hal. Seperti yang banyak kita baca di buku-buku mengenai keberhasilan dan kegagalan, penjelasan mengapa kita berhasil atau gagal ada pada dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Tidak perlu panjang lebar, faktor eksternal berkaitan dengan hal-hal yang ada di luar diri kita seperti pengaruh lingkungan fisik dan sosial budaya, sedangkan faktor internal berkaitan dengan hal-hal yang ada di dalam diri kita seperti kecerdasan, bakat, dan kemampuan individual kita. Disadari atau tidak, kita sering melupakan satu faktor penting yang sesungguhnya ada jauh di atas semua faktor tersebut. Pertanyaannya, di manakah kita tempatkan Allah dalam setiap perjalanan hidup, keberhasilan dan kegagalan yang kita alami?

Kebanyakan manusia menjalani hidup dengan suatu “hukum” yang melekat dalam kepalanya: kemampuan (bakat, kecerdasan, dan sebagainya) diri berbanding lurus dengan keberhasilan. “Hukum” lain yang mungkin pula ia yakini adalah sebab dan akibat dalam kehidupan. Itulah mengapa orang menggunakan logika berpikir orang pintar nilainya bagus, anak berbakat akan menjadi orang sukses, orang yang memiliki kecerdasan ini dan itu yang baik akan berhasil. “Hukum” seperti itu tidak salah sebagai upaya manusia menjelaskan fenomena kehidupan yang ia hadapi. Namun, keyakinan seperti itu, sekalipun benar, juga memiliki kesalahan. Kita menjadi terlalu berpegang pada logika manusia dan melupakan bahwa Tuhan punya cara-Nya sendiri atas makhluk-makhluk-Nya.

Orang yang termakan “logika manusia atas keberhasilan” dapat kita lihat sebagai orang yang mati-matian menggenjot potensi dirinya. Pelajar yang ingin pintar akan belajar mati-matian. Kita lihat sebagian keluarga yang menyekolahkan dan mengkursuskan anaknya macam-macam untuk mengasah berbagai bakat. Pedagang yang ingin meraih keuntungan materi akan memanfaat seribu cara yang bisa ditemukan oleh otaknya yang cerdas. Politikus yang ingin berpengaruh akan memanfaatkan kecerdasan apa saja yang ia miliki untuk melakukan manuver-manuver politik di hadapan lawan-lawan politiknya. Merekalah yang ketika berhasil cenderung berpuas pada diri mereka sendiri, lupa bersyukur, dan lupa diri bahwa Allah-lah yang menganugrahkan nikmat tersebut seperti yang dapat kita baca pada QS Al Fajr: 15 – 16:

Adapun manusia apabila Tuhan-nya Mengujinya lalu Dimuliakan-Nya dan Diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhan-ku telah Memuliakanku.” Adapun bila Tuhan-nya Mengujinya lalu Membatasi Rezekinya, maka dia berkata, “Tuhan-ku Menghinakanku.”

Pada akhir yang tidak kita inginkan, ada orang yang terlalu termakan “syarat-syarat keberhasilan” tanpa memahami makna keberhasilannya. Merekalah orang yang menjadi puas akan suatu simbol, lambang atau atribut kuantitatif. Merekalah yang berpikir keberhasilan dapat dibeli. Ketika mereka gagal padahal telah melakukan begitu banyak hal, bisa dibayangkan apa yang akan mereka alami. Mereka bisa mengalami kekecewaan berat. Merekalah yang berpikir kesuksesan (kekayaan, dan sebagainya) adalah kemuliaan sedangkan kegagalan (kemiskinan, dan sebagainya) adalah kehinaan padahal semuanya kembali pada Allah yang Menguji manusia.

Ada sebuah cerita menarik mengenai urgensi tawakal kepada Allah yang bisa kita ambil pelajaran1. Seorang guru bercakap-cakap dengan muridnya yang akan mengikuti pendidikan kemiliteran. Si murid mengeluhkan bahwa matanya rabun, sehingga ia khawatir tidak akan lulus pemeriksaan dokter. Melihat muridnya yang bersedih, guru tersebut menasihatkan, “Tawakallah kepada Allah. Insya Allah kamu berhasil!” tegas beliau.

“Bagaimana saya akan berhasil, sedang salah satu mata saya pandangannya terganggut?” tanya si murid.

“Maka dari itulah, saya katakan bertawakallah kepada Allah… karena jika pandangan matamu sehat, pastilah kamu akan bertawakal kepada matamu.”

Si murid tersentak mendengar nasihat gurunya. Akhirnya ia memutuskan menjalani pemeriksaan dokter dengan tawakal kepada Allah. Ia menjalani tes tersebut dengan penuh percaya diri dan optimis dan lulus pemeriksaan.

Pada kesempatan dimana ia mengikuti uji coba perang, teman-temannya mengkhawatirkan ia tak akan berhasil karena matanya rabun. Ia sempat khawatir akan gagal, tetapi kemudian ia teringat nasihat gurunya sehingga keraguannya hilang sedikit demi sedikit menjadi keyakinan penuh terhadap Allah. Tidak disangka, ia menjadi penembak terbaik.

Semua orang heran dan terkejut mendengar kenyataan yang dialami si murid. Si murid menyadari bahwa keberhasilan yang demikian tidak perlu menimbulkan keheranan jika setiap orang mengetahui hakikat kebenaran tawakal kepada Allah.

Pernahkah kita mengalami kerterkejutan yang seperti ini, ketika kita menyangsikan keberhasilan orang lain karena ia tidak memiliki “syarat-syarat” berhasil menurut pandangan manusia? Banyak sekali peristiwa seperti itu terjadi, seperti seseorang yang selamat dari bencana padahal menurut teori manusia dia tidak mungkin selamat atau orang yang lemah, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Di tangan Allah-lah pertolongan yang tak disangka-sangka datang dan itu tergantung pada sejauh mana kita beriman dan berserah diri kepada-Nya.

Tawakal kepada Allah adalah penolong dalam banyak kejadian dan peristiwa dalam kehidupan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Tawakal kepada Allah adalah teman di kala kesulitan menghadang, ia menumbuhkan kepercayaan dan kekhusyukan, mengilhami diri dengan harapan, ketenangan, kesabaran, dan keteguhan. Hakikat tawakal adalah mengerahkan segala daya dan upaya sesuai kemampuan manusia dengan menyerahkan urusannya setelah itu kepada Allah, Dzat Yang Maha Mengatur2.

Ketika kita memahami betapa pentingnya tawakal dalam hidup kita, hanya kepada Allah-lah kita berlindung. Kita tidak lagi menggantungkan hidup pada kecerdasan otak, bakat, kelebihan materi, pertemanan dan hubungan sosial, pengaruh keluarga, sekolah yang terbaik, dan begitu banyak faktor lainnya. Semua faktor itu berperan dalam setiap usaha atau ikhtiar kita. Dengan tawakal, kita menyadari batasan diri kita bahwa kita adalah makhluk yang sangat lemah di hadapan Allah dan kemudian menyerahkan akhirnya pada ketentuan Allah. Apapun yang terjadi, semuanya atas izin dan hanya karena Allah, apakah itu kegagalan atau keberhasilan.

Apakah kita bisa membayangkan bagaimanakah perasaan orang yang bertawakal kepada Allah? Pedagang yang tawakal adalah pedagang yang tidak bersedih ketika barang dagangannya hilang. Kita juga bisa membayangkan ketika kita bisa tidak bersedih ketika mengetahui nilai ujian kita jelek. Baik buruk apa yang kita dapatkan, itulah ketentuan Allah. Melalui apa yang terjadi kita mengambil pelajaran dari setiap ujian hidup, baik yang menyenangkan maupun tidak dan terus menjalani hidup dengan penuh semangat dan pikiran yang positif.

 

1 Lihat Asisi, Abbas. 2006. Biografi Dakwah Hasan Al Banna. Bandung: Syamil, h.24 – 25

2 Ibid h.25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s