Tentang “Tempat untuk Lari”, Penjelasan Puisi

Tempat untuk Lari

Tempat ini…

Tempat kau berpikir dapat pergi,

tempat kau tak ingin ditemukan oleh segala yang membuntuti, mengintai,

tempat kau berharap ada dinding yang tinggi dan pintu yang rapat terkunci

atau masa yang jauh sekali.

Tempat kau rasa dapat sendiri,

hanya bersama apapun yang dapat melindungi, merintangi,

hanya bersama siapapun yang iba dan berbisik paling dini

bahwa tak ada lagi penyebab kau berada di sini.

Tempat kau berharap tidak datang suatu saat nanti

di mana kau lebih ingin terbawa angin ke tempat lain yang tak kauketahui,

lebih ingin tenggelam dalam gelap, dingin, dan sesaknya bumi

atau berakhir tanpa eksistensi karena api.

Tempat kau tak ingin mengingati bahwa tempat untuk lari yang sejati

tidak pernah berupa alam mimpi atau sunyi kamar pribadi

tidak pernah berupa ramai dengan pemerhati yang tak peduli atau relasi

tidak pernah berupa adiksi atau mati.

Tempat kau tak ingin kelak di dalamnya sekuat-kuatnya menangisi:

kemenanganmu dapat diakhiri dengan cara seperti ini.

Ketika kau tak mampu bercerai dengan dirimu yang berpikir, merasa, dan mengingini,

ke mana lagi tempat untuk lari?

Ketika kau mulai dengan sekuat tenaga mencegah dirimu dari memandangi

mereka yang berhenti bersembunyi, memutuskan keluar untuk menghadapi,

tempat ini mulai dipenuhi dengan begitu banyak anak kunci,

tempat ini mulai menjadi tempat untuk kembali.

Tempat ini bukan tempat untuk lari.

15.02.12

Ketika manusia tak dilepaskan, sungguh ia diharapkan kembali.
Puisi ini, bagiku, termasuk yang paling bermakna yang pernah aku buat karena dilatarbelakangi oleh tercapainya kesimpulan baru tentang hidup dan hikmahnya yang sangat berharga. Satu masalah menjadi cukup terang.
 
Benar-benar tentang hikmah hidup di dunia dan mengalami, melihat peristiwa yang terjadi, tapi entah kenapa ada seorang teman yang mempertanyakannya, entah bingung atau termakan asumsi pribadinya. Susahnya menjadi orang psikologi, mudah bersikap seolah-olah tahu apa yang terjadi pada diri manusia, padahal itu hanya menebak-nebak. Aku merasa salah dimengerti. Setelah menebak ini tentang withdrawal, lalu ia tebak ini tentang frustrasi, lalu yang paling parah, ini tentang bunuh diri. Ya Allah, tidak seperti itu maksud puisi ini.
 
Walaupun demikian, atas pengalaman salah dimengerti ini aku merasa bersyukur. Salah dimengerti bukan masalah besar jika kita bisa memberikan pengertian yang benar. Tidak enaknya salah dimengerti menjadi pelajaran agar kita juga tidak salah mengerti orang. Jadi, siapapun yang pernah berinteraksi denganku, yang merasa tidak nyaman karena salah dimengerti olehku, aku minta maaf yang sebesar-besarnya.
 
Demikianlah latar belakang aku memutuskan membuat tulisan tentang “Tempat untuk Lari”, renungan tentang fenomena normal yang menyakitkan tentang orang-orang yang lari dari kesalahan dan masalah. 
 
“Tempat untuk Lari” memang tentang sebuah tempat, yang kubayangkan. “Tempat untuk Lari” adalah juga tentang siapa saja yang ada di sana, mengapa mereka bisa ada di sana, apa yang mereka alami, pikirkan, rasakan, dan harapkan dalam usaha pelarian mereka.
 
“Tempat untuk Lari” adalah keberadaan yang imajiner dan seandainya itu nyata berupa sebuah ruang material, maka itu menjadi tempat yang sangat besar, sesak, dan pernah dimasuki oleh setiap manusia. Di dalamnya manusia merenung, lalu mengambil keputusan; ada yang memutuskan tetap tinggal, ada yang memutuskan keluar untuk berpindah ke ruang lain yang lebih dalam, dan ada yang memutuskan keluar, kembali, dan menghadapi masalah, kesalahan, dan konsekuensinya.
 
Ahh… ingin sekali menjadikan ini sebuah cerita.
 
***
 
Dua hari itu menyenangkan sebelum puisi tersebut akhirnya kubuat, mencuri jatah waktu mengerjakan skripsi. Pagi hari menonton sidang Angelina Sondakh di televisi, siang mendengarkan dialog yang mengulasnya, malam juga, besok paginya, sore, dan malamnya juga bagitu. Aku suka dialog-dialog semacam itu dan jarang-jarang ada satu peristiwa yang ditayangkan dengan cara seperti itu. Lengkap, ada kasus yang dipertontonkan bersama, lalu diulas bersama-sama. Namun demikian, bukan rasa senang saja aku alami. Ada sebuah pelajaran dari peristiwa semacam itu.
 
Kesalahan, Bencana Psikologis, dan Fitrah Perbaikan
 
Aku tidak pernah mengalami hidup seperti yang seperti dialami para tersangka, terdakwa atau apalah di persidangan sana. Tapi, tidak butuh pengalaman itu untuk bisa membayangkan bagaimana rasanya mengalami itu sejak semua orang pernah melakukan kesalahan dan bermasalah. Meskipun perkara terkait kesalahan diputus sebagai tak terbukti salah, meskipun opini manusia akhirnya berubah simpati, jika memang ada kesalahan yang dibuat, disembunyikan dan tidak diperbaiki, luka psikologis itu -rasa cemas, khawatir dan takut, rasa bersalah dan menyesal, ketidaktenangan- semuanya akan terbawa sampai mati dan kehidupan setelah mati. Sekali sadar telah berbuat salah, selamanya tidak akan merasa benar, kecuali jika kau mulai menipu diri dan menjungkirbalikkan realita.
 
Bumi yang terkena bencana dapat kembali menghijau, luka di tubuh dan kulit kita dapat sembuh tak berbekas dan sakit lagi. Tapi, sungguh kehendak Allah, jiwa manusia diciptakan sedemikian rupa berbeda dengan hal-hal yang material itu. Dari peristiwa-peristiwa yang banyak diberitakan, tentang kesialan yang dibuat oleh tangan sendiri, aku belajar bahwa “luka” psikologis termasuk bencana dalam kehidupan manusia, berfungsi sama seperti bencana-bencana lainnya yang kita semua tahu, bisa sebagai ujian keimanan, pelajaran hidup, maupun hukuman. Setidaknya penyebabnya jelas, yaitu kesalahan yang tidak/belum dimintakan maaf atau taubatnya dan tidak/belum diperbaiki.
 
Sungguh kehendak Allah, kesalahan dibuat Allah berpengaruh sedemikian rupa terhadap jiwa manusia. Sungguh kehendak Allah pula, jiwa manusia dibuat berespon sedemikian rupa terhadap kesalahan. Jika semua itu adalah fitrah penciptaan manusia, maka apakah fungsinya? Aku memikirkannya dan semoga tidak salah menyimpulkan bahwa kesalahan, mekanisme terjadinya, dan dinamika yang meliputinya, semua itu berfungsi mengembalikan manusia ke jalan yang seharusnya, ke kehidupan yang menenangkan, ke jalan yang disebut oleh kita semua sebagai kebahagiaan. 
 
Dengan fitrah semacam itu, tidak ada manusia yang bisa bebas dari kesalahan dan konsekuensi (minimal secara psikologis) kesalahan yang mereka buat, sejauh apapun mereka lari, sebaik apapun tempat mereka bersembunyi, sekuat apapun manusia yang melindungi dan berkata menjamin mereka. Jika mereka mengira orang lain yang mengejar-ngejar mereka untuk mengaku dan menyerahkan diri, sebenarnya mereka dikejar oleh diri mereka sendiri yang meneriakkan apa yang benar. Mereka sejak awal sudah lama ditemukan oleh diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak sadar. Semakin mereka berjuang melepaskan diri dari diri sendiri yang tidak mungkin dilepaskan, mereka semakin sakit sampai suatu ketika tidak tertahankan lagi dan tidak ada pilihan lain kecuali menyerah pada apa yang benar.
 
Pengadilan Dunia dan Pengadilan Akhirat
 
Yang tidak bermanfaat akan lenyap dari bumi ini. Apapun yang tetap ada di kehidupan kita, sekalipun itu buruk terlihat dengan mata manusia kita, pasti mengandung suatu manfaat, kebaikan, dan siap diambil oleh orang-orang yang belajar. Termasuk peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di bumi ini, dalam hal ini tentang orang-orang yang bersalah, jahat, yang merajalela lalu tertangkap dan diminta mengaku, bagaimana mereka berusaha sia-sia berkelit, mencari-cari kemungkinan bebas atau mendapatkan keringanan hukuman. Mereka orang-orang yang berusaha lari.
 
Aku tidak tahu hakikat akhirat, tapi sekarang sedikit demi sedikit bisa bahwa memang itulah tempat, hari di mana kesalahan-kesalahan ditampakkan sejelas-jelasnya. Tempat di mana orang-orang tidak bisa lari lagi, tidak ada tempat berlindung berupa apapun. Kejadian di dunia memberikan suatu pengetahuan yang memungkinkanku membuat suatu perbandingan, yang sedikit demi sedikit bisa membuatku membayangkan betapa mengerikannya hal yang bisa dialami oleh setiap manusia pada hari itu.
 
Di dunia ini, kita ditangguhkan, kita masih bisa lari dari kesalahan-kesalahan kita, kita masih bisa berusaha menenang-nenangkan diri kita. Ketika menghadapi masalah karena kesalahan, kita masih bisa memutuskan tidur, berharap melupakan sejenak apa yang telah dilakukan. Kita masih bisa bersembunyi di tempat-tempat pribadi kita, menghindari orang-orang yang menagih tanggung jawab. Kita masih bisa membaurkan diri ke dalam keramaian, sementara kita tidak ingin diketahui bahwa kita ingin tak dikenali. Kita masih bisa mencari pertolongan relasi, teman, sahabat, dan keluarga, untuk bersama membicarakan siasat melarikan diri dan menghindari hukuman. Dalam kondisi tertentu, kita masih bisa menenggelamkan diri dalam kesenangan dan melupakan bahwa kita sedang bermasalah. Dalam kondisi yang paling parah ketika tidak ada lagi harapan, kita bisa memutuskan mati, berharap semua, drama pengejaran, selesai.
 
Tapi, tidak ada yang selesai. Dengan itu semua seseorang tidak benar-benar berhasil lari. Ia hanya berpindah-pindah tempat melarikan diri. Keberhasilannya meloloskan diri sangat sementara, ketenangannya juga sangat sementara. Pada akhirnya dia akan tahu bahwa ia sebenarnya dikalahkan perlahan-lahan dan dia kalah telak karena tidak ada tempat yang bisa dimasuki lagi.
 
Di pengadilan akhir, tidak ada hakim, jaksa, penyidik, atau apapun, yang seperti yang dunia, yang bisa menerima jawaban “lupa”, “tidak tahu”, “tidak pernah”, atau “itu bukan saya”, atau “saya sedang sakit”. Tidak ada BAP yang bisa disangkal “saya tidak mengakui itu, itu bukan percakapan saya”. Tidak ada saksi palsu, setiap orang tidak bisa melindungi temannya, bahkan tidak bisa melindungi atau menebus dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa mengelak. Semua orang akan ingat apa yang telah diperbuatnya.
 
Takut. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s