The Dictionaries and Me

Dulu waktu sekolah, bahkan sampai sekarang, aku paling nyanthel dengan hal-hal yang berkaitan dengan bahasa. Beberapa kali kepikiran, kalau suka bahasa, kenapa tidak kuliah di jurusan bahasa, ya? (Sama seperti, kalau suka lukis, kenapa tidak masuk sekolah seni? hehe) Logikaku selalu berkata bahwa bahasa itu bisa dipelajari sendiri. (Sama seperti, kemampuan melukis itu bisa diasah sendiri). Pertama, hemat. Kedua, aku suka kebebasan.

Sejak kecil, aku menargetkan bisa menguasai tiga bahasa asing. Pertama, bahasa Jepang. Terpengaruh karena suka nonton animasi dari Jepang, iya, tapi itu bukan yang utama.

Tetanggaku ada yang pernah tinggal di Jepang dan anaknya adalah sahabat baikku. Namanya Tante Tutik, sahabatku bernama Megumi. Setiap minggu, setiap hari Minggu, bahkan hampir setiap hari aku main ke rumahnya. Kadang-kadang menginap atau ikut piknik ke pantai. Seru sekali. Sering, kalau tidak ke mana-mana, aku akan datang membawa buku tulis dan pensil untuk belajar bahasa Jepang.😀 Menyenangkan rasanya. Diajari huruf-huruf, lagu-lagu dan banyak kata-kata. Setelah satu buku penuh, menginjak buku kedua, aku pindah rumah. Berhenti belajar selama sekitar empat tahu baru kemudian aku ingat tekadku lagi! Mau bisa bahasa Jepang! Dan, yang mudah dari bahasa Jepang! Aku suka menggambar, selalu tertarik dengan gambar. Aku selalu merasa menulis tulisan/huruf Jepang adalah seperti menggambar. Jadi, ini menyenangkan.

Kedua, bahasa Arab. Aku ingin bisa seperti ibuku yang lumayan bisa bahasa Arab. Dan, mau tidak mau, pasti akrab dengan bahasa Arab karena sejak kecil belajar mengaji.

Ketiga, bahasa Inggris. Aku jarang memandang bahasa Inggris sebagai suatu pelajaran, melainkan salah satu bahasa di dunia. Aku tidak merasakan “wajib”-nya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, hanya saja ada banyak sekali hal di dunia ini yang disampaikan dengan bahasa Inggris yang ingin aku tahu. Kalau tidak bisa bahasa Inggris, aku tidak akan pernah tahu.

Jadi, buku wajib  belajar bahasa sendirian, selain buku belajar bahasa itu sendiri, adalah kamus. Itu alasan pertama. Kedua, di luar keinginan menguasai suatu bahasa, aku bisa merasakan kamus sebagai suatu kebutuhan untuk tahu arti sebuah kata juga penulisannya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mulai kukenal sejak SMP, dibelikan bapak. Aku tidak menyangka, cuma dulu rasanya beruntung saja. Ternyata salah satu tugas pelajaran bahasa adalah tahu cara menggunakan kamus bahasa, untuk tahu arti kata-kata. Ternyata tahu itu menyenangkan. Karena aku suka sains, setiap kali bertemu istilah-istilah ilmiah pasti kutandai. O… ini istilah kimia, biologi, psikologi, mineralogi, geologi, dan sebagainya. Jadi, KBBI-ku ini parah, banyak coretannya. Haha… Halamannya lepas-lepas dan bernoda-noda, sebagian karena ketebalannya itu kumanfaatkan untuk mengeringkan daun dan bunga untuk dibuat kerajinan tangan. Sekarang KBBI kugunakan untuk mengerjakan skripsi. Lho? Memang. Karena salah satu tugasku dalam proses analisis data adalah memahami perkataan subjek dan membuat deskripsinya. Benar-benar berhubungan dengan bahasa sebagai alat komunikasi, alat untuk berekspresi, alat untuk mendeskripsikan sesuatu. Jadi di meja kerjaku ada kamusnya.😀

Kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris. Ini bahkan sejak SD, punya bapak yang akhirnya diambil alih anak-anaknya. Awalnya, dua-duanya asli, kemudian karena kebutuhan, beli lagi, kali ini yang bajakan, di beli di bus. Ini kamus yang kupakai untuk belajar bahasa Inggris selama masa SMP-SMA dan awal masa kuliah. Setelah bertahun-tahun, kamus ini rusak. Lalu, beli yang baru lagi. Selain itu, ada juga kamus saku Oxford’s Learners Pocket Dictionary (sorry, bajakan juga). Ini punya adikku sebenarnya, hadiah kelulusannya waktu SMP, tapi jadi propertiku. Yang ini kumanfaatkan juga untuk mengerjakan skripsi, tujuannya sama dengan tujuan penggunaan KBBI. Terakhir kali aku berkunjung ke toko buku, aku cek, ternyata harganya mahal, ya.

Kamus bahasa Jepang. Entah, apa yang ada di pikiranku, sekarang aku punya tiga kamus yang berbeda. Pertama dibelikan ibu waktu tahu aku suka belajar bahasa Jepang sembilan tahun yang lalu. Namanya poketto jiten, kamus saku yang imut-imut. Selang waktu berlalu, aku merasa tidak cukup. Suatu hari berkunjung ke Jogja, aku beli lagi yang lebih tebal Kamus Lengkap Jepang-Indonesia terbitan Kashiko. Ini yang kupakai buat belajar, seru ada penulisan katanya dalam bahasa Jepang, sampai bulan lalu sebelum aku beli lagi yang baru. Iya, aku beli lagi, uangku cuma cukup untuk membeli Oxford Japanese Mini Dictionary. Yang ini lebih seru lagi, karena setiap katanya, terutama kata kerja ada tanda jenis kata kerjanya, kata kerja 1, 2 atau tak beraturan. Sejak tahu itu, kebuntuanku belajar bahasa Jepang akhirnya terpecahkan. O… ternyata perubahan itu ada prinsipnya. Dengan berpegangan pada prinsip ini, jadi lebih mudah memahami grammar-nya. Aku cuma merasa aneh… karena kebingungan ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan terpecahkan dalam beberapa jam pada suatu hari di bulan lalu.😀 Alhamdulillah…

Bersamaan dengan Oxford Japanese Mini Dictionary itu, aku juga beli kamus bahasa Jerman untuk adikku Marsa. Belum kusentuh, aku tidak paham bahasa Jerman, belum mau belajar bahasa Jerman.

Tahun lalu, aku beli kamus bahasa Arab-Indonesia, Indonesia-Arab. Aku baru tahu pentingnya setelah mencoba ikut kursus tahun lalu. Hehe… agak susah pakainya. Meskipun hafal hurufnya, ternyata aku tidak hafal urutannya. Jadi, tersesat-sesat begitu… Dan, agak aneh terjemahannya. Aku merasa kok terlalu “menyederhanakan” ya. Lalu temanku bilang kalau itu memang begitu, arti yang pas harus dipas-paskan, diharmoniskan. Agak susah menjelaskannya. Rasanya untuk bisa pakai kamus, aku juga harus bisa grammar-nya. Imbuhan, sisipan dan akhiran di bahasa Indonesia susah dicari padanannya dalam bahasa Arab kecuali tahu macam-macam perubahan katanya yang banyak itu.

Namun, dari kesulitan itu aku jadi belajar memahami beberapa teman-temanku yang kesulitan belajar bahasa dan menggunakan kamus. Dulu aku sering mengamati dan bertanya-tanya, apa sih susahnya menggunakan kamu, kok ada yang tidak bisa, kok bingung, padahal mudah, bagiku. Sekarang aku tahu, kelemahan itu ada pada ketidakakraban pada huruf. Beruntunglah kita yang dibesarkan dalam keluarga yang dekat dengan literatur di mana kata-kata dan huruf menjadi bagian kehidupan secara rutin dan otomatis. Ada yang tidak seperti itu dan dampaknya, mereka sulit belajar dan memahami bahasa.

Pada intinya, mengenalkan buku pada anak sejak dini itu penting. Membuat dia suka membaca itu penting. Membaca literatur yang susah dan butuh berpikir dimulai dari kemampuan membaca literatur yang mudah dan menyenangkan. Kalau selamanya seseorang cuma mampu berkutat dengan bacaan yang mudah, kemampuannya perlu ditingkatkan. Karena kualitas hidup itu seiring dengan kualitas perilaku, kualitas perilaku itu seiring dengan kualitas pengetahuan dan kualitas pengetahuan itu seiring dengan, salah satunya, kualitas bacaan, jadi ingin sekali mengajak dan mengajarkan ke banyak anak “cara” membaca.

Kalau suatu saat bisa mendirikan perpustakaan umum, pasti akan kuadakan kamus di situ, kamus dari berbagai macam bahasa. Insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s