Why People Decide to Make Foolish

Di artikel sebelumnya “Why People Make Foolish”, kita tahu tentang penyebab orang merugikan dirinya sendiri (self-destruct). Intinya ada dua, yaitu 1) dia lebih mengutamakan kesenangan sesaat, sementara, dan abai terhadap kerugiannya dan 2) dia  tidak bertindak dalam cara atau jalan yang tepat.
 
Perilaku manusia yang normal selalu melibatkan proses pengambilan keputusan. Ketika orang melakukan tindakan yang merugikan, maka itu berarti ia telah mengambil keputusan yang salah. Jadi, mengapa orang bisa membuat keputusan yang demikian?
 
Pertama, distres emosional. 
 
Pada umumnya kita beranggapan bahwa emosi membuat orang irasional sehingga keputusan yang diambilnya buruk. Sebenarnya tidak selalu begitu karena ada keadaan emosi yang membuat orang malah berpikir secara berhati-hati. Jadi, emosi yang bagaimana?
 
Sebenarnya, ini terkait dengan orang yang tidak (dapat) menahan dirinya. Contohnya, orang yang merasa terganggu, tidak sabar misalnya, lebih mudah memilih tindakan yang berisiko (karena hasilnya tampaknya oke), yang potensial menimbulkan kerugian. Orang yang marah lebih mudah bertengkar dan berkelahi dengan orang lain. Orang yang mood-nya jelek lebih mudah marah-marah dan menghancurkan barang atau menyakiti hati orang. Orang yang terburu-buru lebih mudah memutuskan ngebut di jalan.
 
Sekali lagi tapi, mengapa bisa hubungannya seperti itu? Alasan pertama, ada kecenderungan bahwa orang yang merasa terganggu, mereka lebih ingin (segera) mendapatkan hal yang memuaskan (meskipun itu berisiko), sedangkan orang yang merasa baik-baik saja, mereka lebih ingin menjauhi risiko (meskipun itu menarik). Kedua, orang yang tidak dapat menata perasaannya, mereka cenderung gagal berpikir dengan mempertimbangkan akibat dan konsekuensi pilihan.
Orang yang sedang merasa buruk cenderung “malas” berpikir baik-baik.
 
Kedua, threatened egotism 
 
Orang yang demikian sangat memikirkan citra diri, harga dirinya. Jadi, ia melakukan apa saja yang dapat menyelamatkan mukanya, kebanggaan dirinya. Orang yang memikirkan dirinya sendiri semacam ini dapat berperilaku irasional. Orang ini ingin  mendapat kesan baik dari orang lain sehingga perilakunya berorientasi pada pencitraan, meskipun nyata ada akibat buruknya. Ia tidak ingin merasa terancam oleh omongan-omongan miring, tidak ingin direndahkan, tidak ingin dikalahkan, dan sebagainya.
 
Ketiga, kegagalan regulasi diri. 
 
Regulasi diri merupakan suatu sistem tentang bagaimana psikis seseorang mengelola dan mengontrol diri sendiri, menanggapi respon-respon awal, dan menjaga diri tetap berada dalam jalur menuju tujuan. Pada dasarnya memang manusia adalah makhluk yang meregulasi diri. Akal senantiasa mencerahkan diri manusia dengan berbagai tujuan dalam hidupnya dan pengejaran tujuan membuat manusia harus melakukan dan tidak melakukan sesuatu.
 
Jika sistem ini mengalami kegagalan, sangat pasti akan muncul perilaku-perilaku yang maladaptif dan merugikan. Mengapa? Karena regulasi dirilah kunci yang membuat orang sadar pilihan dan konsekuensi atas pilihan. Jika mau tujuan tercapai, lakukan ini dan jangan lakukan itu. Kemampuan regulasi diri membuat orang “bersedia” menahan diri, menghindari diri dari perbuatan yang merugikan dirinya, dan menunda kesenangan sesaat dan sementara.
 
Mengapa orang bisa gagal meregulasi diri? Salah satunya adalah kelelahan, kehabisan energi karena digunakan untuk mengatasi tekanan. Regulasi diri membutuhkan sumber daya dari dalam diri untuk membuat orang terus berusaha mencapai target, deadline atau tujuan. Karena fokus tersebut, orang menjadi mudah jatuh di aspek kehidupan yang lain.
 
Keempat, decision fatigue. 
 
Kelelahan karena membuat banyak keputusan (serius) yang menghabiskan energi, baik fisik maupun psikis. Pada intinya adalah orang butuh istirahat. Kita tidak bisa terus-terusan melakukan hal-hal serius dalam suatu waktu, termasuk membuat keputusan. Kelelahan membuat kita rawan salah memutuskan.
 
Kelima, penolakan dan rasa memiliki (dan dimiliki)
 
Yang terakhir ini berkaitan dengan faktor sosial. Ada penemuan di mana orang yang ditolak oleh lingkungan sosial cenderung berperilaku self-destructive. Penolakan membuat orang merasakan sesuatu yang buruk dan menyakitkan. Walaupun tidak pasti orang akan berbuat sesuatu yang buruk, kemungkinan itu tetap ada.
 
***
Cukup panjang, menjelaskan perihal salah satu macam perilaku kita, tentang mengapa kita bisa memutuskan dan kemudian berbuat hal-hal bodoh. Ini tentu tidak sempurna, bahkan dapat salah, tetapi tetap saja mengajarkan kita tentang sesuatu. Bagiku sendiri, topik ini membuatku lebih jelas tentang mengapa kita harus berhati-hati menghadapi kehidupan dunia yang dijadikan menyenangkan.
Bukannya karena dunia ini tidak baik, tetapi selalu saja ada sesuatu di belakangnya yang harus dicari tahu dan dipikirkan, apakah yang ingin kita capai di dunia ini akan ada menimbulkan akibat buruk atau tidak, sementara atau selamanya, jangka pendek atau jangka panjang.
 
Bukannya tidak boleh bersungguh-sungguh mengejar target, tetapi selalu upayakan ada kesempatan di mana kita dapat mengevaluasi diri dan terbuka pada masukan dan pengetahuan-pengetahuan yang benar bahwa mungkin ada kesalahan yang harus segera diatasi.
 
Bukannya tidak boleh merasakan sesuatu yang tidak enak dalam hati, marah, kesal, lelah, dan sebagainya, tetapi yang harus kita latih adalah bagaimana mengelolanya, menahannya agar emosi menimbulkan energi yang bersifat merusak.
 
Tapi, intinya adalah mengembalikan diri kita sesuai fitrahnya, yaitu makhluk yang berakal, yang menggunakan akal sesuai fungsinya, yang tidak ingin mengalami penderitaan karena kerugian. Itu cara terjitu.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s