Reaching Dream Bag. 1: Awal Mula

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai pada detik di mana aku memutuskan untuk menerbitkan seri baru dalam daily journal-ku, berjudul “Reaching Dream”. Aku ingat dulu ketik membuat rencana hidup. Kuliah, yang mana di dalamnya ada tiga proyek besar KKN, magang dan skripsi, sudah selesai dan sekarang memasuki rimba belantara dunia yang kata orang lebih liar, lebat dan berbahaya. Sedikit banyak aku memang terpengaruh dan kegalauan itu nyata ketika aku ragu memutuskan akan melakukan apa. Butuh waktu untuk bisa yakin kalau mimpi yang selama ini aku pegang tidak salah, tidak muluk-muluk, tidak tidak realistis…

AKU BISA

AKU BISA

AKU BISA

Memangnya, aku ingin jadi apa, sih? Aku ingin jadi ilmuwan, peneliti profesional di bidang psikologi pendidikan, minimal untuk bisa jadi menteri pendidikan untuk diri dan keluargaku sendiri. Sekarang ini, aku bersemangat berkata, “Mari kita lihat!” Aku tidak bisa menebak masa depan, apakah satu, lima, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi aku akan menjadi seperti apa, aku akan sedang melakukan apa. Mari kita lihat. Aku berniat terus menulis di bawah naungan seri ini sampai mimpi tersebut tercapai. Dan sekarang aku berkata, “Wow!” Ini proyek raksasa! Mari kita lihat!

***

Awal mula… Aku hanya anak kecil bodoh yang sangat menikmati semua yang ditayangkan di Discovery Chennel. Sejak awal, aku tidak pernah anti belajar. Pelajaran favoritku banyak, IPA, IPS dan Bahasa. Meskipun nilai lebih sering di bawah rata-rata, tidak pernah membenci Fisika dan Kimia; selalu suka Biologi sehingga bercita-cita jadi seorang botanist. Kecuali Ekonomi dan segala hal yang berkaitan dengan menghitung-hitung uang, pendapatan dan pengeluaran, aku selalu suka IPS, terutama sejarah, geografi, antropologi, dan sosiologi. Beruntung aku masuk Fakultas Psikologi yang ilmunya merupakan gabungan antara IPA dan IPS. Meskipun tidak pernah menyangka akhirnya menjadi mahasiswa psikologi, tidak pernah ada perasaan menyesal atau bosan. Pada intinya aku suka belajar dan psikologi benar-benar merupakan ilmu yang memberiku banyak sekali hal. Sebagian, sejak tiga tahun yang lalu, pengalaman menjadi mahasiswa psikologi aku tuangkan dalam blog ini. Alhamdulillah…

Mengapa memilih psikologi pendidikan, banyak orang bertanya. Jawaban yang lebih sering kuberikan biasa saja. Karena aku suka belajar dan aku mendapatkan banyak hal dari belajar, aku ingin membalas budi. Andai aku bisa menemukan cara yang memudahkan orang belajar dan dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna karena belajar itu… Andai aku bisa menemukan cara agar orang suka belajar… Begitulah, dan sedikit banyak terpikir juga nasib bangsa Indonesia. Selama ini aku tidak mengerti, bagaimana orang bisa mengkritik Pak Menteri Pendidikan dan sistem pendidikan nasionalnya? Aku tidak tahu tentang apa yang kurang karena entah bagaimana, aku baik-baik saja, aku belajar dan belajar, senang dan senang, tidak terpengaruh sekali oleh dinamika dalam ekosistemku, Indonesia-ku.

Belajarlah yang membuatku sadar bahwa ada orang yang tidak seberuntung aku, entah karena ia dibesarkan dengan cara dan di lingkungan yang salah atau sejak lahir mengidap suatu ketidaknormalan. Ketika pendidikan menjadi kunci banyak kebaikan dalam hidup, rasanya tidak adil kalau aku senang sendirian, belajar sendirian, baik-baik saja sendirian. Rasanya kasihan ada orang yang tidak bisa belajar sehingga akhirnya tidak terdidik, tidak mengenal harga dirinya sebagai manusia, kemanusiaannya. Kasihan melihat orang yang hidup melulu hanya memikirkan dan mengurusi perut, lalu abai bahwa pikiran dan jiwanya juga perlu berkembang. Ketika ilmu adalah cahaya, rasanya juga ingin agar semua orang menikmati terangnya.

Mengapa mau jadi ilmuwan/ peneliti? Ya, aku hanya merasa itulah profesi paling ideal bagiku. Aku selalu ingin hidup dalam lingkungan yang sedikit banyak menjamin kelangsungan hidup orang-orang yang punya idealisme: dunia ilmu pengetahuan. Bekerja bukan karena uang, tetapi untuk kemanusiaan, kemajuan agama, bangsa dan negara. Bekerja bukan karena takut miskin, takut tidak bisa hidup layak, takut tidak bisa hidup enak dan terjamin. Aku ingin tahu, dengan idealisme yang seperti itu aku akan bisa menjadi setinggi apa, sejauh apa, sebesar apa; atau jika aku meninggalkan idealisme itu, aku akan menjadi serendah apa. Aku ingin tahu hidupku akan seperti apa, bagaimana tutur ceritanya, bagaimana akhirnya.

Di usia yang sudah kepala dua ini, bukan saatnya lagi bagiku untuk bermimpi, tetapi mewujudkan mimpi; bukan saatnya melepaskan mimpi karena rasa takut gagal dan menggantinya dengan yang lebih mudah. Aku yang sekarang berhutang banyak pada aku yang dulu, aku yang kanak-kanak dan remaja, yang karena mimpinya di masa lalu membawaku pada hari ini. Aku tidak ingin mengecewakan “mereka” yang sudah bermimpi. Aku tidak ingin mengecewakan “mereka” yang sudah belajar mati-matian, suka ilmu pengetahuan sebegitu matinya sampai tidak ada tempat favorit kecuali perpustakaan dan kelas, sampai tidak ada kegiatan favorit kecuali membaca, menulis dan merenung-renung ingin membuat, mencipta, memberikan sesuatu.

Rencana utamaku setelah ini adalah melanjutkan studi magister sains psikologi pendidikan, insya Allah mendaftar tahun depan. Sementara ini, ada banyak sekali hal yang ingin aku lakukan baik di rumah, di kampus atau di masyarakat. Rasa takut, ada… Ketika semua orang berburu pekerjaan demi masa depan mereka, aku juga punya perasaan takut tidak kebagian. Andai nanti harus bekerja… Wah, aku belum pernah bekerja sebelumnya, benar-benar fresh graduate. Tapi, entah bagaimana, perasaan itu menghilang sedikit demi sedikit seiring dengan berjalannya waktu aku mulai memahami keadaan bahwa sepanjang aku bermanfaat, aku akan dibutuhkan, apakah itu nanti berbayar atau tidak. Prinsip yang kutanamkan: Aku tidak takut miskin! Kesederhanaan itu benar-benar baik, terutama untuk menjauhkanku dari kebutuhan-kebutuhan buatan dan tak penting. Aku akan fokus dengan penuh harap bahwa Allah Swt meridhai mimpiku yang seperti ini.

Senang rasanya bisa menulis tentang ini. Aku bersemangat!

Terakhir, aku ingin berterima kasih pada banyak sekali orang (kusebut satu per satu di dalam hati…) Semoga Allah membalas kebaikan hati kalian semua!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s