Reaching Dream Bag. 2: Hartaku, Mau Ke Mana?

I

Mempersiapkan masa depan adalah persoalan nyata dan jangan bilang persiapan itu mengenal kata selesai. Tidak benar rasanya mengkhususkan masa mahasiswa sebagai masa menempa diri. Jadi, apapun evaluasi dan kesalahan yang terlambat disadari oleh diri, aku ingin mengajak semua yang membaca ini untuk tidak larut dapat penyesalahan akan masa lalu. Tidak semua orang menjalani masa mahasiswa yang brilian dan itu tidak akan berarti apa-apa jika hari ini kita bisa belajar sesuatu yang membuat kita melangkah ke masa depan dengan cara lebih baik.

Karier dan pekerjaan adalah target semua orang yang hidup. Uang itu kebutuhan primer. Uang, uang dan uang. Semua orang butuh uang, hidup dengan uang. Kekayaan harta adalah idaman… Rumah sendiri, kendaraan bagus, keluarga yang kalau bisa tidak sekadar berkecukupan, pekerjaan yang mapan dan menghasilkan secara memuaskan. Memang itu realita dan boleh dikatai munafik orang-orang yang tidak menghendaki materi dalam hidupnya.

Itu pelajaran terbesar yang dipahami sebagian besar manusia: Harta itu vital karena dalam harta ada sebagian kunci keberlangsungan hidup manusia.

Sampai saat ini, hidup sejak masa kanak-kanak sampai dewasa membuatku belajar tentang pentingnya mengelola uang. Semasa sekolah dasar, aku tidak diberi uang saku, selalu membawa bekal ke sekolah, minimal sebotol air minum. Sejak kecil, aku diajarkan tentang memiliki uang: disimpan, jangan boros (membeli barang-barang yang tidak bermutu atau hanya memberikan kesenangan sesaat), dan jangan mencuri (memang, buat apa mencuri uang kalau aku tidak butuh uang dan tidak banyak yang aku inginkan dan ingin kubeli?)

Pelajaran kedua terbesar, bagiku: Harta adalah dibutuhkan karena ia adalah sarana untuk mendapatkan sesuatu yang penting bagi hidup. Jika aku benar mengelola uang, aku bisa mendapatkan apa-apa yang aku inginkan, minimal dengan cara membeli; uang sebagai alat pertukaran.

Pemahaman semacam itu bukannya tidak bermanfaat, tetapi tiba-tiba menjadi tidak mengigit lagi seiring perkembanganku sendiri yang tidak lagi menjadi manusia yang pasif, yang hanya bisa menerima dari ibu, bapak atau keluarga, lalu berkata, “Terima kasih.” Untuk mendapatkan apa-apa yang aku inginkan, aku dihadapkan pada tuntutan bahwa aku harus mencari dan menemukannya, minimal demi kepentinganku sendiri. Persoalan tidak lagi pada apakah aku punya atau tidak, melainkan bagaimana aku bisa punya. Persoalannya tidak lagi apakah aku bisa benar mengelola uang, tetapi jauh, apakah aku bisa mengelola diriku agar pantas menerima rezeki sesuai hakku.

Pelajaran terbesar ketigaku: Harta akan menghampiri orang-orang yang pantas mendapatkannya, entah karena ilmu atau dirinya yang bermanfaat atau karena kerja kerasnya yang membuahkan hasil.

Sampai pada pemahaman ini, sebenarnya aku mentok. Aku belum termasuk golongan orang-orang yang berhasil menghasilkan uang, kecuali sedikit. Belum ada bagian dari diriku, apakah tenaga dan psikologi yang lima tahun aku pelajari, yang membuatku dibayar, kecuali sedikit. Dua persoalan yang kusebutkan di atas benar-benar membuatku galau; bukan karena uang atau hartanya karena jika tujuanku uang, jadi peminta-minta, penjual diri, penipu, atau pencuri pun menghasilkan uang, melainkan karena keinginanku untuk berkembang tidak lagi menjadi diriku yang sekarang, yang seperti ini.

Aku merasa kalah dari orang-orang yang telah memulai lebih dahulu, lebih cepat dalam berusaha, bekerja dan memantapkan dirinya. Aku melihat punggung mereka, lalu jejak langkah-langkah mereka yang bergegas begitu dinamis. Ketika sebagian dari mereka tak peduli pada bayaran asal hidup mereka berisi oleh sesuatu yang bermanfaat dan bermakna, aku belajar hal terbesar yang selanjutnya: Harta bukan segalanya.

Ketika harta bukan segalanya, apakah aku berani habis-habisan berjuang dalam hidup ini?

***

II

Seandainya aku nanti punya banyak uang, akan aku apakah mereka? Ketika nanti aku sudah mantap bekerja dan mandiri, akan bagaimana aku mengelola mereka?

Aku belum bekerja dan tidak sedang bersemangat mencari pekerjaan seperti teman-temanku yang lain. Aku boleh memilih jalan hidupku, bukan? Aku hanya tidak ingin bekerja seakan-akan kalau tidak bekerja itu salah, tidak benar menurut trend bahwa selepas kuliah berburu pekerjaan. Aku ingin menikmati masa menganggurku yang sementara ini untuk menenangkan diri, menata kembali langkah, meluruskan banyak hal yang bengkok dalam hidupku, baru benar-benar ikut terjun. Aku harus menarik napas dalam dan memahami satu tentang satu hal: harta, kekayaan, kepemilikan.

Mau tidak mau perkara yang demikian akan sampai dalam hidupku. Awal aku hidup tak punya apa-apa, lalu punya barang-barang yang kudapat karena pemberian, dan selanjutnya punya karena kuusahakan sendiri. Aku sudah banyak mendengar tentang bagaimana orang celaka karena hartanya, peringatan-peringatan dalam agama yang begitu jelas dan banyak agar manusia mencari dan menggunakan hartanya secara halal. Selama ini aku lebih sering menganggap itu urusan hidup orang lain, tetapi sekarang semua itu menjadi masalah hidupku. Selama aku masih merupakan manusia, aku tidak akan lepas dari salah termasuk salah yang berkaitan dengan pencarian dan penggunaan harta.

Saat ini, aku miskin dan hidup tergantung pada orang. Seandainya kelak aku dikayakan Allah, apa jadinya aku nanti? Apakah aku akan tetap jalan kaki, makan-makanan biasa, tak punya banyak keinginan belanja, tetap bersedekah rutin? Ataukah aku akan jadi pelit, serakah, penikmat barang-barang mahal? Apakah aku akan ditipu orang atau menipu demi harta? Apakah aku akan lupa diriku yang dulu yang pernah menulis tentang hal ini di sini? Harta duniawi itu ujian; ujian dalam hidup kau, aku, kita semua. Pertanyaan terbesar yang sejak sekarang aku persiapkan jawabannya: Mau aku ke manakan hartaku hari ini, hartaku nanti?

Lalu aku melakukan tanya jawab… berawal dari pertanyaan ekonomika, aku mendapatkan jawaban tentang persoalan membelanjakan harta, seperti yang diperintahkan Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami Berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir, itulah orang-orang yang zalim.” (QS 2: 254)

A: Pepatah bilang, hemat pangkal kaya. Aku berpikir soal krisis ekonomi di Eropa di mana Jerman mengusulkan solusi penghematan anggaran dan peningkatan penerimaan. Tapi, aku baca di koran, situasi krisis tersebut juga dapat diselamatkan dengan memperbesar belanja, untuk menggerakkan pasar. Pemang pengeluaran kita bisa bermanfaat seperti itu ya? Seandainya Indonesia krisis moneter lagi, aku mungkin akan termasuk (dalam golongan) orang yang super dalam menghemat. Sekarang aku baru tahu kalau “tidak berhemat” ada baiknya juga…

B: Kalau sudut pandang personal kan linear, sederhana… Saya nabung tiap bulan 30.000 maka tahun depan akan punya 360.000… karena fokusnya adalah di tabungan saya. Padahal kan kekayaan saya tidak cuma berupa uang. Oke, sekarang ada satu pertanyaan, kalau saya punya penghasilan 2 jt, nabung 1 jt perbulan, kamu punya penghasilan 2jt, nabung 800rb perbulan siapa yang lebih kaya 1 tahun ke depan?

A: Jawabannya, yang menabungnya paling besar.

B: Sederhananya begitu. Nah coba lihat pengeluarannya. Kalau saya 1 jt semuanya konsumtif: makan, etc. tapi kamu 200rb buat beli saham, kan bisa jadi nantinya kamu lebih kaya. Tergantung apa yang dibeli.

A: Jadi perputaran uangnya (harus) yang produktif?

B: Ya itu satu faktor.

A: Tergantung apa yang dibeli/untuk apa uang itu dikeluarkan?

B: Faktor lain, kalau makanan yang kamu beli lebih sehat dari makanan saya. Tepatnya, tergantung pengaruh dari pengeluaran itu (karena) setiap pengeluaran ada pengaruhnya.

A: Jadi bukan pengeluaran buta, ya.

B: Contoh negaranya, taruhlah ada suatu daerah x, dia terpencil. Tiba-tiba pemerintah bikin jembatan di situ dengan nilai proyek x milyar. Maka, akan ada orang-orang yang mengerjakannya … ada pekerja yang tinggal di sana untuk sementara, dia membeli barang-barang penduduk sekitar. Penduduk sekitar memiliki peluang buat lebih meudah menjual hasil alamnya, atau hasil produksi mereka. Semacam itulah yang bikin ekonomi hidup, dan itu juga jawaban kenapa Jakarta macet.

A: Jadi, harus di tengah-tengah ya. Mengeluarkan modal itu tidak boleh jor-joran, hemat juga tidak boleh kebangetan.

B: Harus menghidupkan perekonomian dengan pembelanjaan yang tepat.

A: Aku pernah dengar cerita sahabat nabi, yang kalau tidak salah merelakan hartanya banyak banget untuk kaum muslimin. Apa mereka tidak punya rasa takut miskin? Kayaknya semua orang punya rasa takut; takut (menjadi) tidak berdaya salah satunya.

B: Setiap keputusan itu ada efeknya. Mengeluarkan atau tidak mengeluarkan, tetap ada efeknya. Cuma orang kadang-kadang berfikir “diam berarti aman”, padahal tidak.

A: Jadi harta yang diam itu sebaiknya tidak dibiarkan? Jadi sebaiknya bank itu untuk tempat menyimpan uang sementara ya?

B: Ya. Pasti ada lah alokasi untuk jaga-jaga. Tapi kita harus tahu alokasinya buat apa. Jangan ditumpuk secara tidak jelas. Jadi jumlahnya tetap wajar.

A: Benar! Jangan (harta) disimpan tanpa ada tujuannya.

Selama ini motto hidup menulisku adalah: menulis itu butuh tujuan dan alasan. Mulai hari ini motto bekerjaku adalah: bekerja itu butuh tujuan dan alasan (YANG TEPAT).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s