Anak dan Manajemen Keuangan

Lama tidak menulis seri keluarga, alhamdulillah hari ini bisa muncul lagi. Beberapa minggu terakhir, beberapa hal menarik saya alami. Saya mengikuti dua seminar dan dua pelatihan. Semoga ada kesempatan untuk bisa menuliskan pengalaman saya tersebut.

***

Topik kali ini adalah manajemen keuangan, terkhusus pada anak-anak. Sedikit berefleksi pada pengalaman sendiri bahwa sejak dari sekolah dasar (kelas 1) saya sudah diajari untuk memanajemen keuangan saya sendiri. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa mungkin saja, anak-anak lain dapat juga melakukannya. Pengaruh dari pengajaran memanajemen keuangan saya rasakan sampai sekarang. Kasarnya, meskipun sedikit uang saku, selama ini saya jarang bokek (tidak punya uang) dan selalu bisa bersedekah, alhamdulillah… ^^

Manajemen Keuangan, Manajemen Keinginan

Benda yang bernama uang itu tidak akan berbunyi apa-apa jika tidak dikaitkan dengan yang namanya keinginan. Mengapa uang penting? Itu karena uang adalah jalan untuk mendapatkan, mencapai apa-apa yang diinginkan. Ada uang ada barang dalam hal ini adalah benar. Ada uang, ada barang, ada kesenangan, itulah yang terjadi selanjutnya.

Fase anak adalah masa di mana orang bisa dikatakan hanya mengenal kesenangan. Anak-anak adalah maniak hal-hal yang menyenangkan dan enak, dan susahnya, akal mereka masih “tumpul” untuk dapat membedakan mana keinginan yang baik bagi dirinya dan sebaliknya. Jika keinginannya tidak dipenuhi, senjata utamanya adalah menangis, dan orangtua-orangtua yang tidak asertif akan berlangganan banyak masalah, mulai dari anak yang hobinya merengek-rengek, temper tantrum, atau nekad mencuri (uang) demi suatu barang, entah jajanan, mainan atau makanan yang diinginkannya.

Berbahaya jika orangtua mempercayakan anak uang sebelum mengajarkan bagaimana mengelola keinginan-keinginan, dorongan-dorongan dalam dirinya. Meskipun anak mungkin belum sepenuhnya mengerti, tetapi mereka dapat diajarkan tentang mana keinginan yang baik dan buruk bagi dirinya. Di sinilah mengapa orangtua perlu menjadi manusia yang cerdas untuk memberikan penjelasan tentang apa yang baik dan buruk dengan cara yang dapat diterima anak.

Saya ingat masa SD saya yang hampir tidak pernah diberi uang saku. Sebagai gantinya, selalu saya bawa bekal ke sekolah. Sebagai anak, saya dahulu tidak pernah bertanya mengapa dan mengerti begitu saja bahwa tidak jajan itu bukan masalah besar. Kunci terbesar yang membuat itu semua menjadi mungkin adalah orangtua saya tidak pernah mengenalkan pada saya apa itu jajan sehingga tidak ada kebiasaan menikmati jajanan. Meskipun ada keinginan, keinginan itu tidak mencapai taraf “adiktif”, kalau tidak jajan tidak senang. Jajanan dan kesenangan tidak menjadi kebiasaan, bukan hal yang dengan mudah diberikan, justru menjadi reward ketika saya menjadi anak yang berperilaku baik, rajin beribadah dan mau belajar.

Karena tidak jajan bukan masalah besar, maka tidak menerima (banyak) uang saku juga tidak masalah. Sudah cukup, jika kebutuhannya adalah minum, bawa air minum. Jika kebutuhannya adalah makan, bawa makanan sendiri dari rumah. Apa yang terbangun kemudian adalah ketidaktergantungan bahwa ada beberapa hal yang bisa didapatkan dengan tidak perlu membeli, tetapi diusahakan sendiri. Hal ini membuat kebutuhan akan uang menjadi tidak terlalu besar karena ada uang oke, tidak juga tidak masalah.

 

Manajemen Keuangan, Kenalkan Fungsi dan Tujuan Punya Uang

Pelajaran IPS kelas 3 SD: uang adalah alat pertukaran, pemunah sistem barter. Selalu ingat itu, tetapi dalam kehidupan definisi uang tidak sesederhana itu. Benar, uang punya fungsi, tetapi punya uang ada tujuannya. Seberapa bernilai tujuan punya uang dapat dilihat dari kualitas keinginan-keinginan yang ingin kita wujudkan dengan uang. Singkatnya, jangan memberikan anak uang tanpa tujuan. Karena uang punya fungsi, tanpa tujuan yang benar, uang dapat dipakai untuk apa saja, didapatkan dengan cara apa saja.

Jadi, tujuan macam apa yang perlu kita kenalkan terkait uang ini? Yang paling sederhana, sama seperti yang dinyatakan Maslow dalam piramida kebutuhannya, adalah kebutuhan fisiologis, lalu berkembang menjadi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat konsumtif, habis pakai. Pemahaman akan keberadaan jenis kebutuhan dan keinginan yang seperti ini menunjukkan pula potensi uang sebagai barang habis pakai. Apa jadinya jika uang yang penting dan berguna itu habis?

Inilah pengantar bagi pendidikan selanjutnya setelah manajemen keinginan, yaitu tentang bagaimana menyimpan dan mengeluarkan uang. Di sini, kita bisa ingat kembali tuntunan dalam Al Qur’an bahwa dalam membelanjakan harta kita tidak berlebihan dan juga tidak kikir. Dalam membelanjakan sesuatu sebaiknya kita berada di posisi moderat (QS Al Furqan 25: 67).

Takdir harta adalah untuk dibelanjakan demi kemaslahatan hidup manusia, tetapi pembelanjaan yang melampaui batas justru menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan. Dihadapkan pada ayat Al Qur’an di atas, peribahasan hemat pangkal kaya menjadi ada tidak benarnya karena hemat hanyalah salah satu dari banyak cara untuk mencapai kemakmuran. Cara yang lainnya adalah dengan membelanjakan harta untuk tujuan-tujuan yang tepat,  baik dan benar yang diharapkan oleh agama.

Untuk itu, ada baiknya jika di dalam keluarga dapat kita adakan dua jenis tabungan, yaitu tabungan dunia dan tabungan akhirat. Tabungan dunia adalah untuk berjaga-jaga terkait urusan dunia, tabungan akhirat demi kehidupan di masa depan. Anak-anak dapat mengerti ini ketika kita mengajarkan mereka bagaimana bersedekah, berbagi dengan orang-orang miskin, atau berinfak untuk masjid. Anak-anak juga dapat mengerti jika uang dibelanjakan sampai habis, kelak tidak ada lagi benda yang bisa dibeli, tetapi jika uang itu dipakai untuk beramal, insya Allah dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda dalam jumlah yang lebih besar serta keberkahan.

Orangtua, Take Control!

Berbicara tentang kontrol, pertama orangtua berkewajiban mengontrol dirinya sendiri, kedua orangtua berkewajiban mengontrol diri anak-anak mereka. Manajemen keuangan juga perlu dilakukan oleh orangtua dengan mengontrol keinginan-keinginannya. Anak banyak belajar dengan cara melihat. Anak yang melihat orangtuanya konsumtif dan tidak hidup sederhana, akan cenderung ikut konsumtif dan tidak sederhana, banyak keinginannya. Anak yang melihatnya mudah berbelanja, akan cenderung mudah mengeluarkan uang. Anak yang melihat orangtuanya suka bersenang-senang, juga akan cenderung suka bersenang-senang.

Terhadap diri anak yang mulai dipercayakan uang, orangtua perlu menjadi pengawas dengan banyak bertanya: uang yang diberikan digunakan untuk apa, ada sisanya atau tidak, sisanya akan dipakai untuk apa? Semacam itu, tentu dengan cara yang baik. Untuk persoalan menyimpan, ajak anak mengunjungi bank dan melihat betapa orang-orang serius mengelola uangnya, masa depan mereka. Percayakan anak untuk punya dompet sendiri. Punya dompet sendiri memunculkan perasaan memiliki sehingga muncul pura kesadaran untuk bertanggung jawab menjaga apa yang dimiliki sebaik mungkin.

Selain itu, baik untuk terus memelihara komunikasi agar anak dapat senantiasa jujur dan terbuka mengutarakan keinginan-keinginannya, benda-benda yang ingin dibelinya. Berahasia dalam hal ini bisa jadi ada tidak baiknya ketika anak diam-diam mengeluarkan uang karena takut orangtuanya tidak setuju. Orangtua perlu untuk mau dan bisa mendengarkan. Sekalipun keinginan anak itu sulit atau bahkan tak bisa dipenuhi, tetapi penjelasan yang baik selalu bisa menjadi obat kekecewaan.

Ajari anak untuk menghadapi kenyataan bahwa uang juga berkaitan dengan hal-hal yang pahit. Uang bisa hilang, diambil orang atau jatuh di jalan. Ada kalanya uang yang ada tidak cukup untuk mendapatkan benda yang diinginkan, ada kalanya juga terlihat orang yang punya jauh lebih banyak uang sehingga bisa membeli barang-barang bagus. Ceritakan celakanya kehidupan orang yang tidak berhati-hati mengelola keinginan dan hartanya. Ceritakan besarnya kecelakaan bagi orang yang hidupnya bermewah-mewah, serakah dan kikir. Ceritakan tentang orang yang hartanya justru menjadi sebabnya masuk neraka. Agar anak-anak kita waspada, karena harta adalah salah satu ujian hidup di dunia yang fana ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s