Dapatkan SIM dengan Cara yang Jujur

Bersejarah! Akhirnya aku ujian SIM. SIM C.

Sering diledek seorang teman baikku, sampai seumur begitu “belum bisa” naik motor. Menjadi bahan keheranan dan mungkin objek rasa kasihan, lima tahun kuliah pulang pergi naik kendaraan umum! Sungguh dunia dengan teknologi dan kemudahan yang menghagemoni, tidak bisa mengerti bahwa aku termasuk orang yang menikmati jalan kaki dan angkutan massal.

Baru dua minggu ini bisa mengantar ibu dan adik ke kampus masing-masing dengan motor, dengan kecepatan yang belum bisa lebih dari 40 km per jam. Setiap saat selalu sungguh-sungguh membaca doa naik kendaraan, la hawla wala quwwata illa billah. Dan, dalam perjalanan sesekali mencoba menikmati langit (karena perhatian harus selalu fokus pada jalanan)… Sebentar lagi masa itu berakhir, masa menjadi penumpang yang menikmati perjalanan dengan melihat-lihat dan tenggelam sendiri dalam imajinasi, ide-ide dan rencana,  membaca kembali buku di pangkuan, atau terkantuk-kantuk dan tertidur dibuai angin sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela angkutan umum.

Ada rasa kehilangan ketika harus meninggalkan kebiasaan lama dan memulai kebiasaan yang baru.Tapi, semua itu tampaknya masih agak lama, karena aku belum punya SIM alias Surat Izin Mengemudi atau driving lisence ^^

***

Bersejarah! Sabtu, 10 November 2012 aku mengikuti ujian SIM di kantor polisi, tepatnya di satuan lalu lintas. Masuk tempat parkir (aku diantar bapak), langsung disambut oleh spanduk besar yang berisi informasi seputar pembuatan SIM. Menarik, poin terakhir yang kubaca. Intinya, dilarang menggunakan jasa calo! Tapi ironis, belum selesai benah-benah di tempat parkir, langsung ada bapak-bapak yang menghampiri, “Bisa saya bantu? Mau buat SIM apa?” Aku dalam hati berkata, “O… jadi ini yang namanya calo.” Aku melengos saja, pura-pura tidak tahu, tidak mau peduli.

Aku selalu berpegangan pada satu keyakinan bahwa segala sesuatu ada di bumi karena dibutuhkan. Aku pun bisa mengambil satu kesimpulan bahwa memperjuangkan yang benar itu memang tidak mudah karena tetap saja ada orang yang butuh yang tidak benar. Biarlah para calo itu… Aku tahu, para polisi itu tidak buta, makanya ada spanduk besar semacam itu.

Ada banyak orang yang ingin punya SIM. Kantor sederhana itu ramai dengan orang-orang yang mengambil formulir, termasuk aku. Selesai mengisi formulis, aku bisa lanjut pada tahan selanjutnya, yaitu ujian teori pengetahuan berlalu lintas. Aku diminta menunggu bersama beberapa peserta yang lain dan selama waktu menunggu itu, aku menekuni “materi ujian yang dipasang di dinding”. Jadi, ini yang harus dihafal? Tidak sulit, menyangkut berbagai rambu-rambu lalu lintas dan apa yang harus dilakukan jika sedang berkendara di pertigaan, di perempatan, ketika bertemu polisi yang memberikan aba-aba ini dan itu, dan sebagainya.

Baiklah, aku hafal. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana itu akan berguna di dalam ruang ujian nanti.

Aku dipersilakan masuk dan menempati tempat duduk. Aku melihat setiap meja panjang untuk tiga orang dan di atasnya ada tiga mouse sebagai alat untuk menjawab benar/salah. Ini dia ujian audio visual. Soal 30, lulus jika minimal benar 21. Setiap soal waktu menjawab 15 detik. Oke, aku berdebar-debar. Ini pertama kalinya dan fakta bahwa adikku yang pernah ikut ujian semacam ini gagal sampai tiga kali mulai menggangguku.

Rasanya mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi… Hanya benar 16! Aku gagal! Beberapa peserta aku dengar menertawakan nasib mereka yang serupa denganku. Keluar dari ruangan dengan perasaan lega begitu-rupanya dan segera mencari informasi tentang ujian ulang.

Hari Senin aku kembali lagi. Rasanya mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi… Kali ini benar 17! Aku gagal lagi! Ibu-ibu di sebelahku yang tahu ini ujian keduaku tertawa kecil.

Sepanjang perjalanan pulang aku protes dalam hati, bagaimana bisa tahu yang benar kalau begini caranya? Aku tidak tahu di bagian mana aku salah. Aku merasa bisa mengerjakannya, tetapi rupanya hasil menunjukkan betapa bodohnya aku menyangkut persoalan berkendara. Lho, bukannya asal tidak tabrakan saja sudah oke, ya? Logikaku begitu sederhana dan itulah penyebab tabrakan, aku sadar!

Hari Rabu aku kembali. Singkat aku belajar dari adikku. Aku tahu, yang paling membingungkan adalah soal tentang apa yang harus dilakukan ketika di jalan bercabang. Mudah saja adikku bilang, begini, begini, dan begini. Oke, ngerti sekarang. Aku masuk ruang ujian, duduk di sebelah seorang ibu-ibu. Berkenalan sebentar dan ibu itu bertanya pelan, “Sudah punya sertifikat LPK?”

“LPK?” Aku memang tidak tahu.

Intinya, ibu itu membayar sampai Rp150.000 untuk mendapatkan sertifikat itu. Itu sertifikat yang sepertinya dilampirkan di formulir. Ibu itu bertanya bagaimana prosesku mengikuti ujian ini. Aku bilang, kan tinggal daftar lalu masuk ruangan. Sekilas ada kekecewaan di wajah ibu itu. Ya iyalah… Ujian SIM itu rasanya memang gratis (kecuali biaya tes kesehatan) sampai lulus ujian praktek.

Jadi, bagaimana dengan hasil ujianku. Bisa benar 22! Wah, nyerempet batas minimal. Setelah tiga kali, akhirnya bisa melewati tahap yang ini. Meskipun hanya benar 22, aku merasa benar 30 karena aku tahu di soal mana saja aku salah. Rupanya kalau sudah tahu yang benar secara otomatis akan bisa tahu bagaimana yang salah itu. Alhamdulillah…

Kesenanganku lenyap seketika di ujian praktek. Mati aku. Soal 1: Berjalan zig-zag. Soal 2: Melewati gang sempit. Soal 3: Berbelok setengah jalan. Soal 4: Ngebut, berhenti mendadak, hindari rintangan. Soal 5: Buat angka delapan. Langsung pacu jantung lagi, melihat pak polisi yang mencontohkan lincah sekali di atas sepeda motornya. Aku tidak selincah itu! Aku langsung gagal di soal pertama.

Aku belum punya rencana untuk datang lagi ke kantor polisi. Ujian praktek ini persoalan yang sungguh-sungguh karena aku butuh latihan lagi. Tapi, sampai kapan? Bagaimana aku bisanya, karena aku terkenal tidak bisa naik motor dalam arti mendekati yang sebenarnya sebelum ini? Aku baru dua minggu berani turun ke jalan… belum bisa berakrobat seperti itu.

Sepanjang perjalanan pulang, kali ini di angkutan umum, teringat orang-orang, baik teman maupun keluarga yang mendapatkan SIM dengan cara membayar alias SIM tembak, baik sepenuhnya maupun sedikit saja. Kayaknya kali ini tidak cukup tiga kali gagal, seperti waktu ujian teori. “Sudah, SIM tembak saja…” kata sebagian dari mereka.

“Nggak mau!” kataku. “Nanti kalau kecelakaan atau mati di jalan, itu berarti salahku sendiri karena belum mahir sudah dikasih izin berkendara.” Aku selalu menjawab seperti itu.

Aku sendiri berasionalisasi bahwa jika ujian ini dilakukan secara ideal, sebenarnya prosedur yang seperti ini membantu mengatasi kepadatan di jalan raya dan mendukung gaya hidup sehat karena mau tidak mau yang belum lincah menjadi pengguna angkutan massal, mengurangi emisi CO2. Lho, bagus kan?

Tapi nanti kalau mau kerja bagaimana? Kan butuh naik kendaraan…

“Nggak mau. Nanti nggak berkah kerjanya, karena cara mendapatkannya nggak benar…”

“Berlebihan… Banyak orang seperti itu. SIM tembak…”

“Hoho… itu urusan mereka. Semua ada waktunya. Mau jujur masa tidak ditolong Allah?”

“Selamat berjuang, kalau begitu!”

“Terima kasih!”

“Semoga selamat di jalan, pergi ke tempat-tempat yang disenangi Allah, dengan cara yang disenangi Allah…”

Aku selalu berprinsip seperti itu. Rasanya memang susah, tetapi entah mengapa itu tidak menjadi masalah besar. Sejak lama aku  setia dengan angkutan massal dan tekad hidup hijauku, jadi memang tidak masalah. Hanya saja, aku benar-benar ingin bisa punya SIM. Ingin bisa berkunjung ke rumah temanku yang suka meledek menyemangati aku agar bisa naik motor itu… dengan mengendarai motor, lalu berkata, “Setelah lima tahun, akhirnya bisa juga kan?”

8 thoughts on “Dapatkan SIM dengan Cara yang Jujur

  1. Hahaha..
    Maka dari itu, sampai sekarang aku tetap tak punya SIM C padahal sudah empat tahun malang melintang naik motor.

    Memang menyenangkan naik kendaraan umum dan berjalan kaki, tapi kalau sudah dikejar waktu, lebih menyenangkan mengebut di jalan raya, Mbak. Lebih sensasional rasanya😀

  2. Ikut seneng tapi juga sedih karena bertambah lagi satu pengendara motor dari pengguna angkutan. Nggak salah sih Karena memang situasinya yg nggak memungkinkan. hehehe Semoga tetep bermanfaat. & bisa terinsipirasi dari kata-kata Walikota Bogota berikut ini “Negara maju bukanlah negara tempat orang miskin mengendarai mobil (kendaraan); ia adalah tempat orang kaya menggunakan transportasi publik,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s