Petualangan Ibnu Battuta

Orang-orang Barat dengan cara sepihak telah menyempitkan sejarah dunia dengan mengelompokkan pihak kecil yang mereka ketahui penyebaran ras manusianya berada di sekitar bangsa-bangsa Israel, Yunani, dan Romawi. Jadi mereka telah mengabaikan semua musafir dan peneliti yang berlayar mengarungi Lautan Cina dan Samudra Hindia, atau melakukan perjalanan melintasi wilayah-wilayah luas di Asia Tengah sampai Teluk Persia. Sebenarnya, lebih sebagian bumi ini, memuat kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan-kebudayaan Yunani dan Romawi tanpa berkurang tingkat peradabannya. Tetapi kebudayaan-kebudayaan tersebut tetap tidak diketahui oleh mereka yang hanya menulis sejarah dunianya yang kecil, walaupun ada kesan bahwa mereka telah menulis sejarah dunia. — Henri Cordier

***

“Petualangan Ibnu Battuta”, berjudul asli The Advantures of Ibn Battuta, A Muslim Traveler of the 14th Century. Ditulis oleh Ross E. Dunn, profesor sejarah di San Diego State University. Berharga Rp72.000, dibeli dengan uang terakhir di dompet pada suatu hari yang panas, 28 Oktober 2012 di Jogja. Benar-benar kosong dompetku sekeluar dari kompleks jual beli buku di dekat Taman Pintar itu… tapi senang! Buku ini hadir di saat yang benar-benar tepat!

Aku hanya sedang punya misi untuk memahami benar-benar sejarah peradaban Islam di masa lalu. Setelah membaca sirah nabi, lalu sejarah filsafat Islam dan sejarah bangsa Arab, petualangan Ibnu Battuta ke seantero Dar al-Islam di abad ke 14 benar-benar mengisi kekosongan pengetahuan yang selama ini menderaku: Apa yang terjadi setelah tartar Mongol menguasai dunia dan menghancurkan Baghdad di abad 13? Apa yang terjadi dengan Islam di belahan bumi lainnya, bukan hanya di dunia Arab? Karena aku tahu, sepanjang sejarahnya Islam itu bagaikan matahari, hari ini tenggelam di sini terbit di sana, berputar seperti itu.

***

Ibn Battuta adalah Marco Polo-nya dunia Islam. Ia disanjung sebagai musafir terbesar dari zaman pramodern. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga sarjana ahli hukum Islam di Tangier, Maroko, pada 1304 selama masa Dinasti Marinid. Sebagai anak muda, ia belajar ilmu hukum, lalu pada 1325 meninggalkan Maroko untuk berhaji ke Mekkah, Arabia. Sepanjang perjalanan menuju Mekkah, ia mengunjungi Afrika Utara, Mesir, Palestina, dan Suriah.

Seusai berhaji (1326), ia mengelilingi Irak dan Persia, lalu kembali ke Mekkah. Tahun 1328, ia menaiki kapal dan menyeberangi lautan ke arah selatan dan mencapai pantai timur benua Afrika sampai daerah Tanzania, lalu mengunjungi Oman dan Teluk Persia, lalu kembali ke Mekkah lewat jalan darat.

Pada tahun 1330, ia memberanikan diri pergi ke India untuk mencari pekerjaan di Kesultanan Delhi. Ia tidak mengambil jalan laut yang biasa ditempuh orang, lewat Laut Arab menuju pantai barat India, tetapi berjalan ke utara melalui Mesir dan Suriah ke Asia Kecil. Ia melintasi Laut Hitam menuju dataran Asia Tengah bagian barat. Ia sempat menunjungi Istambul, ibukota imperium Byzantium, lalu ke padang rumput Asia, berjalan ke timur melalui Transoxania, Khurasan, dan Afghanistan, lalu tiba di tepi Sungai Indus pada 1333.

Delapan tahun di India, tahun 1341 ia menerima tugas memimpin misi diplomatik ke Cina. Karena sebuah kecelakaan, dua tahun ia “terdampar” di India bagian selatan, Sri Lanka dan Kepulauan Maladewa, lalu kembali meneruskan perjalanan ke Cina, lepas dari urusan diplomatiknya, berdasarkan keinginannya sendiri. Ia mengunjungi Benggala, pantai Burma dan Pulau Sumatera melalui jalan laut, lalu ke Canton. Tahun 1346-47 ia kembali ke Mekkah dengan menempuh jalur India Selatan, Teluk Persia, Suriah, dan Mesir. Setelah berhaji untuk yang terakhir kalinya, ia kembali ke kampung halamannya. Melalui jalan darat, ia sampai di Fez, Maroko pada 1349. Tahun berikutnya, ia melakukan kunjungan singkat melintasi Selat Gibraltar ke Kerajaan Muslim Granada. Tahun 1353, ia melakukan petualangannya yang terakhir, melintasi Gurun Sahara menuju Kerajaan Mali di Sudan, Afrika Barat. Tahun 1355 barulah ia kembali ke Maroko dan menetap sampai akhir hayatnya pada 1368.

Semasa hidupnya, hampir 30 tahun ia berkelana melintasi kawasan Dunia Timur, mengunjungi daerah-daerah yang luasnya sama dengan luas 44 negara zaman modern. Di balik punggungnya, tertinggal suatu jarak sejumlah kira-kira 73.000 mil! Perjalanannya berkeliling dunia memang bukan hal asing dilakukan pada masanya, tetapi ia menjadi unik karena ia mengabadikan pengalamannnya itu lewat sebuah buku, Rihla (rihla = buku kisah perjalanan, buku sastra). Ibn Battuta menyusunnya bersama Ibn Juzayy selama dua tahun sejak 1356.

Rihla-nya adalah yang paling kompleks yang pernah muncul di Afrika Utara pada masa itu. Ibn Battuta bukan sekadar seorang turis yang berkeliling untuk menikmati alam, budaya atau apa saja, tetapi seorang ulama terpelajar. Ia adalah seorang wandering scholar, ia berkelana sambil memberikan pelayanan keilmuan. Di berbagai tempat ia tampil sebagai penasihat atau orang kepercayaan penguasa. Ia sempat menjadi pejabat keagamaan dan mengemban misi diplomatik, dan sebagai ulama ia pun selalu ingin memperdalam ilmunya dengan banyak menemui para ulama ulama dan sufi di sepanjang perjalanannya. Dibandingkan dengan Ibn Khaldun, Ibn Battuta “menunjukkan jalan ke sebuah pelabuhan dan masyarakat Islam”, sementara Ibn Khaldun, “menunjukkan cara untuk memahami dinamika masyarakat dalam suatu rentangan waktu,” (h. xiv-xvi).

Demikian, singkat cerita perjalanan Ibn Battuta yang ditulis oleh Profesor Dunn. Tidak bisa diceritakan secara detail isinya, aku menyampaikan beberapa pelajaran yang berhasil aku petik dalam buku ini.

***

Bagiku, buku ini menjelaskan apa yang kubaca dalam buku History of Arabs yang ditulis Profesor Hitti. Jika Profesor Hitti hanya membahas apa yang terjadi di bumi yang ditempati orang-orang Arab sepanjang masa sampai masa modern ini, Perjalanan Ibn Battuta, sekalipun hanya menceritakan pada apa yang terjadi selama beberapa saat di abad ke-14, memberiku gambaran tentang apa yang terjadi di dunia di luar Arab; orang-orang Afrika, Turki, India, Mongol, Cina, dan juga Indonesia. Benar bagiku, Islam seperti matahari. Tapi, ini sedikit membuatku terpukul, mengingat betapa sedikit yang aku dan mungkin teman-teman ketahui tentang sejarah peradaban Islam.

Aku tahu, karena wawasan kita yang sempit, kita berpikiran sempit: banyak dari kita yang hanya tahu sejarah sebatas apa yang terjadi pada masa yang disebut sebagai masa keemasan Islam, misal sekitar abad 8-10, selama masa Kekhalifahan Abbasiyah. Kita hanya tahu tentang yang baik-baik dan kecewa, sedih, marah, ketika tahu fakta bahwa Baghdad dihancurkan bangsa Mongol atau kekhalifan di Andalusia yang dihancurkan orang-orang Nasrani. Karena tidak tahu, kita tidak bisa merasakan “kebahagiaan” yang lain bahwa pada masa pertengahan (sekitar abad 11-16) itu Islam secara meyakinkan dan luar biasa meluas ke dunia-dunia di luar Arab; bukan hanya sebagai keyakinan agama, tetapi sebagai model universal kehidupan yang beradab, pertama karena peran orang-orang muslim Turki dari Asia Tengah dan kedua karena gerakan para pedagang muslim yang memasuki lingkaran Samudra Hindia, Asia Tenggara, India dan Cina, lalu Asia Tengah dan Afrika Barat (h. xxxv).

Seperti itulah Islam meluas… dan berefleksi pada apa yang terjadi di masa modern (abad 19-21) ini, ketika Islam disebut-sebut mengalami kejatuhan di negara-negaranya sendiri di Asia maupun Timur Tengah, Islam mulai bersinar di dunia Barat, Eropa dan Amerika. (Andai aku bisa panjang umur, ingin bisa mengetahui apa yang terjadi 50 tahun lagi…) Dan bagaimana caranya? Bukan lagi lewat penyerbuan atau perdagangan seperti trend abad pertengahan, tetapi lewat pembelajaran dan proses migrasi. Dan pembelajaran membutuhkan orang-orang yang bisa berpikiran terbuka dan berwawasan luas… Kita benar-benar butuh untuk bisa hidup dan bersikap bijaksana.

Secara tidak terduga aku mendapatkan pula jawaban atas pertanyaan mengapa dalam sejarah dunia kontribusi Islam di abad pertengahan seakan-akan dilewati, di bagian prakata buku ini. Aku mengkutipnya saja, semoga bisa kita pikirkan bersama maknanya:

Islam telah tiba di panggung sejarah dunia pada abad ke-7 sehubungan dengan eksplosi para penggembala penunggang unta yang berbahasa Arab dan keluar dari gurun Arab di bawah pimpinan Nabi Muhammad dan para penggantinya. Penulisan sejarah Barat telah memberikan sejumlah perhatian besar terhadap evolusi awal peradaban Islam, yakti abad “klasikal” dari Khalifah Abbasiyah, berpusat di Baghdad, antara abad ke-8 dan ke-10. Bagi periode ini sumbangan-sumbangan menakjubkan dari kaum Muslim kepada sejarah dunia di bidang kesenian, ilmu pengetahuan, pengobatan, filsafat, dan perdagangan internasional telah diakui, khususnya sepanjang hal itu merupakan pengaruh formatif utama terhadap terbitnya peradaban Eropa yang Kristiani di abad-abad pertengahan. …tepatnya karena para sejarawan Barat telah menaruh perhatian terhadap Islam, khususnya dalam hal dampaknya terhadap perkembangan kelembagaan-kelembagaan Eropa.

Urutan waktu sejarah Islam sampai kepada zaman modern kurang diberi perhatian. Memang, perspektif konvensional dalam penulisan buku-buku teks Eropa dan Amerika adalah bahwa peradaban Islam mencapai “puncak”nya selama zaman Abbasiyah dan sesudah itu menurun ke dalam “turunan” yang bertahap tetapi luar biasa. Pernyataan bahwa Islam kehilangan mahkotanya sejak kira-kira abad ke-10 atau ke-11 secara luas selalu kembali muncul dalam perspesi Barat. Dikatakan orang-orang Muslim menolak warisan intelektual rasionalisme Hellenistik pada waktu yang sama ketika orang-orang Eropa justru menemukannya kembali. Akibatnya, demikian alasan itu berlanjut, setelah pihak Barat menerima pandangan yang “ilmiah” dan “rasional” mengenai dunia alami, mereka sanggup untuk “memajukan” diri ke arah dominasi dunia. Sedangkan peradaban-peradaban “tradisional”, seperti halnya Islam, meluncur jatuh dan terus mundur ke belakang. (hal. xxxiv-xxxv)

Tidakkah terkejut, bahwa secara tidak kita sadari kita sudah menganut pandangan Barat itu, bahwa masa keemasan Islam hanya pada masa Abbasiyah, bahwa kita hanya tahu masa keemasan Islam hanya pada abad 8-11? Kita abai pada fakta lain yang “membanggakan” pula: Ternyata, periode sejarah hemisferik dari tahun 1000 sampai tahun 1500, yaitu apa yang kita sebut Periode Pertengahan Islam, menyaksikan perluasan Islam secara meyakinkan dan luar biasa. (hal. xxxv) Islam punya kebesarannya sendiri yang perlu kita kenal, sebagian tentu untuk meningkatkan kembali harga diri kita sebagai muslim bahwa kita tidak semundur yang dipikirkan banyak orang. Kita membuat kemajuan, termasuk hari ini.

Sekarang, jadi berpikir tentang ide “mendirikan kembali” Dar al-Islam yang diserukan sebagian muslim. Bukan sekarang aku akan membahas itu. Aku akan menunggu sampai wawasan dan pikiranku benar-benar matang dalam hal ini. Semoga ada kesempatan. Tidak lupa, selanjutnya aku akan membaca Perang Salib (Sudut Pandang Islam) karya Carole Hillenbrand dan Muqaddimah karya Ibn Khaldun. Semoga ada waktu untuk benar-benar menyelesaikannya. ^^

4 thoughts on “Petualangan Ibnu Battuta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s