Pertama Kalinya Jadi Pembicara :D

Pertama kalinya menjadi pembicara dalam forum yang membahas tentang psikologi Islami, akan aku ingat, 8 Desember 2012😀 Pertama kalinya juga dapat sertifikat yang mencantumkan nama lengkap plus gelar S.Psi! Akan aku ingat juga, 8 Desember 2012. Bisa dikatakan, aku dibentuk oleh Kesppi Fak. Psi Undip. Rasanya senang jika sekarang setelah jadi alumni, aku masih bisa kembali melakukan sesuatu untuk Kesppi… Alhamdulillah.

Acara Diklat Kesppi adalah kegiatan rutin tahunan untuk menyambut mahasiswa baru yang hendak bergabung menjadi anggota Kesppi. Aku ikut acara itu sebagai peserta lima tahun yang lalu dan setiap tahun selanjutnya selalu ambil bagian sebagai panitia penyelenggara. Kalau tahun ini aku jadi salah satu pembicaranya, rasanya aku ini sedang menjalani sebuah evolusi, metamorfosa, atau apalah istilahnya… yang semoga lebih baik. Aku merasa sedang menjalani ujian, terutama karena cita-citaku memang ada di bidang ini.

Bicara di hadapan adik-adik yang selisihnya 4 sampai 3 tahun dariku memunculkan kekhawatiran tersendiri. Bukan masalah takut tidak bisa ngomong, tetapi lebih karena sudah lama sekali aku tidak pegang materi psikologi Islami. Aku takut lupa banyak hal penting terkait psikologi Islami. Selanjutnya, yang mungkin remeh, tetapi ternyata serius juga, ada perasaan tidak pantas yang sifatnya self-evaluative, seakan-akan ada sesuatu dalam diriku yang berkata, “Kamu harus betul-betul jadi orang baik, jadi muslim yang sungguh-sungguh, karena kamu ini mulai diminta untuk mengajarkan hal-hal yang ideal ke orang lain.” Ya, selalu ada rasa takut kalau ilmu ini hanya menjadi hiasan kepala… Semoga tidak menjadi seperti itu, Ya Allah…

***

Benar-benar topik yang sederhana; “Pengantar Psikologi Islam/i”. Aku diminta menjelaskan tentang beberapa hal: 1) Pengertian psikologi Islam/i, 2) Sejarah psikologi Islam/i, 3) Manfaat psikologi Islam/i, dan 4) Tantangan-tanganan psikologi Islam/i.

Pertama, pengertian psikologi Islam/i. Aku langsung dihadapkan pada satu polemik yang sampai pada hari aku menyusun slide untuk mengisi acara belum juga berhasil aku pecahkan. Apa bedanya psikologi Islam dan psikologi Islami? Ini pertanyaan yang mengundang perdebatan internal, tetapi sebenarnya sudah berhasil dicapai konsensus untuk memakai “psikologi Islam” sebagai nama cabang psikologi ini. Aku termasuk orang yang condong pada nama  psikologi Islami.

Sebelum menghadapi adik-adik, ini persoalan pertama yang harus aku selesaikan terlebih dahulu dan akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa dua nama tersebut adalah tidak salah, sama-sama benar sekalipun mengandung suatu perbedaan atau penekanannya sendiri.

Andaikan Islam adalah air yang berada dalam sebuah gelas, psikologi Islam adalah khazanah psikologi yang dikembangkan atau digali dari ajaran-ajaran/ agama Islam. Mencari atau mengembangkan psikologi Islam ibarat mencari ikan dalam air dalam gelas bernama Islam. Tempatnya jelas, batasannya jelas. Nanti pada akhirnya, topik-topiknya pun jelas berbeda dari psikologi Barat; akan ada pembahasan tentang citra manusia menurut Islam, sekawan jasad-nafs-qalb-ruh, penyakit-penyakit hati, perkembangan manusia yang Islami, terapi-terapi psikis Islami, dan masih banyak lagi.

Psikologi Islami sama, tetapi ada perbedaannya. Kita sama-sama mencari ikan, tetapi tempatnya tidak sebatas dalam gelas bernama Islam, tetapi juga dari dunia di luar gelas sehingga karena itu ada proses filterisasi/ penyaringan mana yang bisa kita sebut ikan, mana buaya, sesuai dengan ajaran, syariat atau nilai-nilai Islam. Jika menggunakan nama psikologi Islami, kita akan mencari psikologi dari sumber yang mana saja, baik teori maupun terapannya, yang Islami, yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Islam dalam pengembangan maupun aplikasinya.

Jadi, sebagai ilmuwan muslim psikologi, kita akan diminta untuk baik-baik melihat ke dalam agama kita sendiri dan melihat ke luar, ke dunia yang lebih besar tempat kita hidup bersama manusia-manusia lain; untuk mendalami agama kita sendiri dan psikologi secara umum. Pertanyaan terakhir, jadi pakai nama yang mana? Jawabku, untuk resmi dan harmonisnya, pakai yang sudah disepakati lebih banyak orang. Di Indonesia, nama Psikologi Islam sudah jadi yang diterima ketimbang psikologi Islami.

Kedua, sejarah psikologi Islam. Jawabku, ini susah dijawab. Kalau dilihat dari sudut pandang sejarah peradaban manusia, meskipun secara sistematis belum diberi nama psikologi Islam, psikologi Islam sudah lahir bersama dengan lahirnya Islam sebagai agama. Sejak  syariat Islam melahirkan hukum-hukum, sistem ekonomi, sosial, dan politik-pemerintahan yang Islami, psikologi yang Islami yang berperan mengatasi persoalan-persoalan psikis dan perilaku manusia pun lahir. Perkembangannya semakin maju dengan dikenalnya istilah ‘ilm an-nafs di antara para ilmuwan muslim abad 8-13. Jadi, psikologi Islam ini sebenarnya adalah ilmu yang sudah tua dan merupakan bagian dari ilmu-ilmu keislaman.

Tapi, kalau dilihat dari sejarah psikologi sebagai ilmu kontemporer, psikologi Islam ini ilmu yang masih baru sekali. Sejarahnya secara lengkap dapat dilihat dalam buku At-Ta’shil al-Islami lil Dirasaat an-Nafsiyah (diterjemahkan: Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam) karya Muhammad Izzudin Taufiq hal. 18-28 (diterbitkan tahun 2006 oleh Gema Insani Press). Kebutuhan akan psikologi yang Islami bagi umat Islam mencuat pertama kali pada tahun 1970-an, dan di Indonesia sendiri itu baru secara resmi terjadi pada tahun 1994, semoga tidak salah, ketika diadakan kongres psikologi Islami untuk pertama kalinya di Solo.

Sekarang ini persoalan pengembangan psikologi Islami pun menjadi kompleks. Mata kita perlu diarahkan ke masa lalu untuk menelusuri jejak-jejak ‘ilm an-nafs yang ditinggalkan ilmuwan-ilmuwan muslim di masa lalu, juga menghadapi masa kini dan masa depan yang meminta banyak hal.

Ketiga, manfaat psikologi Islam. Jelas. Orang Islam perlu psikologi yang tidak bertentangan dengan keislamannya dan mendukung keislamannya. Sebagian psikologi yang berasal dari dunia Barat bertentangan dan tidak mendukung keislaman seseorang sehingga psikologi Islam penting untuk dikembangkan demi kemaslahatan umat Islam pada khususnya. Ada yang tidak universal dalam psikologi yang dipelajari di fakultas-fakultas psikologi di dunia, terutama di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Usman Najati mengatakan bahwa psikologi dan beragam ilmu humaniora lainnya yang dipelajari di negara-negara Islam adalah ilmu yang memiliki falsafah dan arah tujuan yang asing bagi kalangan muslim. Teorinya dibentuk oleh ilmuwan barat dan bukan ilmuwan muslim dengan dasar hasil penelitian dan kajian yang diadakan di masyarakat barat dan bukan masyarakat muslim (dalam Taufiq, 2006).

Namun demikian, bahkan setelah kesenjangan ini disadari, sulit pula dibedakan mana atau seperti apa teori psikologi yang Islami itu. Pertanyaan yang sering, yang mana orangnya teoretikus psikologi Islam, minimal di Indonesia? Mana buku-bukunya? Mana penelitian-penelitiannya? Mungkin ada, tetapi keberadaannya terpencar-pencar seperti bintang-bintang di langit. Aku pun berpikir, kalau perkembangan ilmu ini tidak terorganisasi dengan baik, tetap saja, akan sulit mengharapkan manfaat yang nyata darinya. Sayang biaya, waktu dan usia kalau begini ceritanya…

Keempat, banyak persoalan dihadapi.

Bisa jadi, mengembangkan psikologi Islam adalah perkara yang hukumnya fardhu kifayah (Taufiq, 2006). Tidak perlu semua, tetapi harus ada mahasiswa psikologi yang mau berangkat ke arah pengembangan psikologi Islam. Yeah, persoalan selanjutnya adalah bagaimana agar ada mahasiswa yang mau pergi ke jurusan itu? Dibandingkan psikologi Barat yang menghagemoni, psikologi Islam cenderung tak mau dikenal (khususnya di Indonesia) karena berbagai macam alasan yang sering tidak ilmiah, seperti ketakutan ilmu tersebut ditunggangi kepentingan, pergerakan atau doktrin tertentu; keyakinan sekular ilmu adalah ilmu, agama adalah agama; perasaan lebih mudah ngikut psikologi yang sudah ada dibandingkan psikologi Islami yang masih abu-abu; terakhir, kemalasan mahasiswa yang sudah capek belajar, termasuk belajar psikologi pada umumnya.

Persoalan terakhir adalah pertikaian, perselisihan, perbedaan pendapat di antara para ilmuwan psikologi muslim itu sendiri. Aku sendiri baru menyadari kalau ini ternyata persoalan serius kalau ada ilmuwan yang lebih condong mengembangkan psikologi tasawuf, ada yang lebih pada membumikan syariat Islam dalam psikologi. Jujur, aku masih awam dalam hal ini. Jawabku, aku termasuk orang yang tidak mau melawan arus sunatullah kalau manusia itu makhluk yang senantiasa berbeda pendapat dalam usahanya mencari kebenaran. Kalau memandang jauh ke masa depan, mungkin perkembangan psikologi Islam akan sama seperti psikologi Barat yang berkembang mulai dari psikofisiologi, psikoanalisa, behaviorisme, humanisme, dan psikologi transpersonal… Orang-orang saling memfalsifikasi dan memverifikasi temuan-temuan ilmiah, bukan? Mungkin nanti psikologi Islami juga akan bercabang-cabang seperti itu… Bagiku, itu bukan masalah besar. Justru menarik.

Psikologi Islami adalah corak psikologi yang berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan (Bastaman, 2005).

2 thoughts on “Pertama Kalinya Jadi Pembicara :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s