Reaching Dream Bag. 3: Having Dream Realistically

Kalau orientasinya uang, jadi pengemis pun semua orang bisa dapat uang! Semua pekerjaan dari yang paling rendah dan tak bermoral sampai yang paling tinggi dan ideal, akan ada penghidupan di situ. Tapi, penghidupan yang bagaimana?Apa yang akan membuatmu manusia? Semua orang akan mendapatkan balasan atas semua upayanya untuk hidup, tapi, apa yang akan membuatmu bermakna sebagai manusia dan dirimu sendiri?

Menulis ini, aku menangis. Dihadapkan pada realita, kalau orientasimu kemakmuran hidup duniawi, berbagai mimpi ideal dapat diinjak-injak menjadi sedemikian rendah! Dihadapkan pada realita, kau bisa secara kejam diminta untuk menanggalkan mimpi-mimpi yang selama ini menjadi pakaian pelindung dan penguat dirimu. Hanya karena dihadapkan pada realita, bahwa seperti orang-orang, kau seharusnya (sudah) begini, begini dan begini! Apa aku hidup hanya agar aku sama seperti orang lain? Aku ingin menciptakan jalan kemapananku sendiri, sekali pun nanti aku akan terbentur kesadaran akan kesalahan dan jalan hidup bak neraka karenanya.

***

Hari ini…

X: Selepas lulus ini, apa rencananya? Nggak kerja?

Aku: (Kalau dikatakan tidak kerja, sebenarnya tidak benar. Aku punya banyak pekerjaan, sekalipun itu tak dibayar.) Mau sekolah lagi, nanti sambil bekerja. Nanti bekerja kalau sudah pasti akan tinggal (sekolah) di mana, jadi sekarang memang tidak mau mencari kerja dulu.

X: Apa nggak capek mikir terus?

Aku: (Aku cuma senyum. Aku tahu apa yang aku mau.)

X: Sarjana psikologi biasanya kerja di perusahaan-perusahaan, kan? Di HRD… Teman-temanmu bagaimana?

Aku: Iya, memang bisa, nanti jadi karyawan perusahaan. Teman-teman banyak yang seperti itu.

X: Kamu nggak?

Aku: Tidak mau kerja jadi karyawan. Tidak suka. (Sekali lagi, aku tahu bidang apa yang aku inginkan.)

X: Kalau begitu, aku termasuk karyawan ya?

Aku: (Tertawa).

X: (Mungkin karena yang dipikirkan olehnya jadi karyawan itu jalan paling mudah untuk mendapatkan uang…) Mbok yang realistis saja… (kayak teman-teman.)

Aku: Yang realistis itu banyak pilihannya, tidak cuma di jalan jadi karyawan…

Benar aku berpikir, yang dikira paling simpel itu adalah yang paling banyak diincar orang, makanya jadi yang paling sulit dicapai. Aku turut prihatin dengan sebagian teman-temanku yang lulus lebih cepat daripadaku, tetapi tetap lama mendapatkan pekerjaan. Aku termasuk orang yang ingin menyarankan… jangan pilih jalan hidup yang keputusannya banyak ditentukan oleh orang lain; suka-tidak suka, setuju-tidak setujunya mereka atas dirimu.

***

Bulan lalu…

Aku: Bagaimana kabar wawancara kerjamu?

Y: Aku nggak jadi ikut. Aku kesal sama bapak yang nggak  percaya aku bisa ke kota X sendirian. Ditelepon, ditanyain terus, bisa nggak, berani nggak? Ya aku kesal… Aku nggak jadi pergi.

Aku: Wah! Lalu bapakmu bagaimana?

Y: Ya nggak apa-apa. Mungkin karena aku anak perempuan, nggak kayak anak laki-laki yang kerja itu prioritas. Bapak santai-santai saja, nggak merasa rugi.

Aku: Aku merasa sekarang ini seperti kembali ke masa akhir SMA dulu. Kupikir, cari kerja itu seperti cari jurusan kuliah. (Aku benar-benar banyak belajar dari pengalaman hidup subjek penelitian skripsiku.) Kita akan berprestasi, sukses, jika kita melakukan hal-hal yang kita suka dan kita bisa. Sekarang ini, semua menjadi lebih serius. Tidak seperti kuliah atau sekolah yang kalau kita melakukan kesalahan kita masih dimaklumi, kalau sekarang, harga kesalahan kita adalah kebahagiaan kita. Jadi, jangan salah pilih…

Y: (Aku lupa responnya apa…)

Z: Oya, ya, benar itu. Sekarang ini yang kita cari adalah kebahagiaan kita…

Aku: Jadi, kenapa kamu tidak tekuni betul-betul hobimu (saja)? Itu bisa jadi uang juga… (daripada sepanjang tahun menanti panggilan wawancara kerja.) Kupikir, jangan kita kerja sekadar untuk memenuhi tugas perkembangan, atau bekerja karena orang dewasa itu bekerja. Kita harus tahu mengapa kita bekerja, untuk apa kita bekerja, dari dalam diri kita sendiri…

Aku: Ndak kamu takut nggak dapat kerja?

Y: Ya iyalah!

Aku: Aku juga. (Tapi aku lebih takut kalau tidak bisa menjadikan nyata apa yang seumur hidup aku cita-citakan. Rasanya kalau aku gagal di situ, aku akan kehilangan siapa aku karena selama ini cita-cita itu yang menuntunku sampai hari ini, membuatku jadi aku yang sekarang… Mengapa aku suka belajar, belajar keras… ingin paham macam-macam isi dunia, karena aku ingin mewujudkan cita-cita itu. Tidak mau masa laluku hanya berhenti sebagai cerita…)

***

Dua minggu yang lalu… Ketika aku menjadi pembicara di sebuah acara…

Aku: Jadi, mulai sekarang pahamilah apa yang diharapkan masa depan. Kalau memang cita-citanya jadi ilmuwan psikologi atau psikolog, mulai hari ini menabunglah karena biaya belajar lagi itu tidak kecil, bekerjalah jika mampu, belajarlah yang serius karena jadi ilmuwan dan psikolog itu tidak boleh bodoh dan seenaknya. Mulailah mengakrabkan diri dengan dunia keilmuwan. Ikutlah seminar, buat makalah, berusaha jadi presenter makalah… Belajar baik-baik tentang metodologi penelitian. Berkenalanlah dengan banyak dosen dan mahasiswa dari universitas mana saja…

Dari menyampaikan itu saja, aku bisa melihat bagaimana adik-adik kelasku mengarahkan hidupnya, dari senyuman dan anggukan yang bersemangat atau ekspresi diam mendengarkan mereka.

***

Hari ini…

Aku mencatat satu pencapaianku, sekalipun itu begitu sederhana. Setelah masa yang panjang, akhirnya aku bisa memaknai apakah mimpi yang tinggi itu. Begitu sederhana. Mimpi yang tinggi, mimpi besarmu… Apa yang disifati sebagai tinggi atau besarnya tidak terletak pada “apa” mimpimu, tetapi “bagaimana” kau, dalam mewujudkan apa yang kau cita-citakan, tidak membiarkan dirimu dikalahkan oleh dirimu sendiri dan ketakutan-ketakutanmu, dunia di luar dirimu yang menakut-nakutimu… Dengan begini, kita boleh dan bisa menjadi apa saja, sesuai siapa diri kita, apa yang kita suka dan apa yang kita bisa.

“If you look to others for fulfillment, you will never truly be fulfilled. If your happiness depends on money, you will
never be happy with yourself. Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is
nothing lacking, the whole world belongs to you.” — Lao Tzu

 

Aku termasuk orang yang berkali-kali dijatuhkan. Menulis seperti ini sedikit banyak membangkitkanku.

6 thoughts on “Reaching Dream Bag. 3: Having Dream Realistically

  1. Hehe Ikut menikamti tulisannya nie. Bener yg udah disampaiakan Karena orang lain selalu ingin melihat kita “memenuhi tugas perkembangan” itu. Ni ada tambahan beban lagi buat Aftina “Kapan nikahnya ya?” Hehehe

  2. Membaca postingan kakak ini,membuat sy kesal. Kesal pd diri sendiri yg masih terjebak takut. Stempel kemapanan, kebahagiaan yg diberikan banyak orang sungguh jauh berbeda dg bahagia yg ku mau. Haha .by the way, salam kenal kak, really like your posts, thanks.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s