Dapatkan SIM dengan Cara yang Jujur Bag. 2

Ini dunia orang-orang yang tidak sabar. Ini dunia orang yang tidak tenang. Ini dunia orang yang tidak menghargai kerja keras dan tidak bekerja keras. Ini dunia di mana keberhasilan adalah segalanya. Ini dunia orang yang tidak menghargai kegagalan. Ini dunia orang maniak konformitas. Ini dunia orang tidak boleh tidak sama, tidak boleh tidak bisa. Ini dunia orang sakit. Ini dunia orang yang tidak mempermasalahkan ketertipuan. Ini dunia orang yang menghalalkan topeng dan kebohongan. Ini dunia orang cari selamat. Ini dunia orang mencari ketenangan dengan cara yang sesungguhnya tidak menenangkan!

Aku memilih jadi patung saja. Aku pura-pura tidak merasakan apa-apa saja. Ketika ditanya, “Gimana rasanya sudah dapat SIM?” Dia menjawab, “Biasa saja.” Aku tidak menjawab, tapi dalam hati, “Jijik!”

***

            Membutuhkan sekitar satu jam untuk bisa membebaskan diri dari rasa tidak nyaman itu; rasa tidak senang itu. Obatnya hanya berusaha melupakan karena itu bukan perkara yang dapat dilupakan. Obatnya hanya tidur untuk mengembalikan keseimbangan dalam diri, kesegaran pikiran untuk merumuskan jawaban seandainya ditanya entah di mana dan kapan, oleh siapa.

Memejamkan mata dan menyadari lebih baik apa yang telah hilang, yaitu kebanggaan dan keberhargaan diri. Ada banyak hal yang mungkin akan dilucuti dari diri, mulai mengasihani diri. Inilah tempat di mana diri harus bertahan hidup, sekalipun bukan untuk menjauhkan diri dari sebab-sebab kematian, melainkan dari ketakutan, kerentanan, sakit hati, dan kerugian ekonomi, mulai memaklumi dunia. “Memang Indonesia tidak bisa lepas dari korupsi,”memang korupsi sudah mendarah daging,” mulai membenarkan percakapan dua orang itu.

Tak berguna memasang wajah batu yang dingin atau batu terjelek yang masam. Setelah sidik jari dipindai, setelah tanda tangan diberikan, setelah mendengarkan ulang data-data berupa nama, tempat tanggal lahir, dan alamat yang akan dicantumkan, setelah memandangi bertanya sosok petugas berseragam cokelat yang bekerja secepat mungkin tanpa sedikit pun saling bertemu pandang sekalipun dicari…

“Hanya peduli pada apa yang sedang dihadapi, bukan?” Tanpa suara. “Tak peduli apa yang terjadi sebelum ini, bukan?” Tanpa suara. “Sudah ada yang lebih penting, bukan? Keselamatan memang kebutuhan.” Tanpa suara.

“Lihat kamera, duduk bersandar di kursi. Satu, dua, tiga… selesai. Silakan menunggu di luar.”

…tetap berusaha agar ada sedikit senyum di wajah.

Menerima hasilnya tidak lebih dari lima menit kemudian. Benda itu begitu mudah dibuat; begitu cepat untuk diubah menjadi kenyataan. Menerimanya setelah membayar sedikit untuk biaya cetak, entah mengapa tak ada keberanian untuk melihat-lihatnya layaknya orang-orang yang pertama kali mendapatkan sesuatu hal yang baru dalam hidupnya. Dicampakkan ke dalam tas, benda itu tahu ceritanya karena itu memang ceritanya. Berjalan dengan langkah berat dan cepat, cepat-cepat berusaha keluar dari tempat itu. Terhenti di dekat pintu gerbang, ketika menoleh terlihat banyak orang bernomor dada duduk berderet-deret di beranda sebuah gedung yang menghadapi lapangan dengan patok-patok yang membentuk pola-pola tertentu, menunggu.

“Goblok.” Tanpa suara, tetapi terdengar getir, ironis. Pernah juga berada di sana, tiga kali, mengharapkan keberuntungan yang tak kunjung datang, dan memandangi orang-orang yang keluar dari tempat ini, dan tahu, satu dari mereka mungkin juga berkata, “Goblok.”

Siapa di antara mereka yang melakukan percakapan ini tadi?

“… Jatuh di ujian teori.” dengan nada cemas, seakan-akan tidak ada jalan lain untuk dilalui.

“Nggak papa. Cari bapak-bapak yang botak. Nanti dibantu. Sudah ya, banyak yang ngantre foto.”

Siapa di antara mereka yang melakukan percakapan ini tadi?

            “Nanti to, kamu jatuhkan saja di ujian teori dan prakteknya. Senggol saja patoknya. Habis itu, cah ayu, datang ke saya dengan berkasnya.”

Mengangguk-angguk.

            “Besok pagi, ambil di saya. Ya?”

Siapa di antara mereka yang ibu atau bapaknya melakukan percakapan ini tadi?

            “Sekarang ini, untuk dapat SIM, pintunya ada dua. Di sini, sama di sana. Istilahnya bukan kerjasama lagi, tapi memang begitu jalannya untuk dapat tambahan.”

            “Kalau nggak bayar ya tes berkali-kali. Kalau nggak bayar ya nggak bisa dapat.

            “Ibu carikan SIM untuk siapa?”

            “Itu… anak laki-laki saya. Kerjaannya ketangkap polisi terus.”

            “Walah…”

            “Belum punya SIM, lha sekolahnya dekat kantor polisi. Begitu dapat motor, langsung dipreteli motornya, bodi motornya diganti-ganti, bannya, spionnya… Dasar anak laki-laki.”

            “Tapi itu tergantung pergaulannya… Banyak yang cari SIM sekarang. Bulan depan mau ada operasi besar-besaran. Memang Indonesia tidak bisa lepas dari korupsi…”

            “Memang korupsi sudah mendarah daging…”

Siapa di antara mereka yang tidak mendengarkan penawaran ini?

            “Bikin SIM baru, Pak? Mau dibantu?”

Atau…

            “Bikin SIM baru, Mas? Sudah ada yang bantu?”

Siapa di antara mereka yang dengan bapaknya melakukan percakapan ini tadi?

            “Memang tidak fair. Lihat ini. Kalau digambar ini, patok-patok untuk tes jalan zig-zag seharusnya tidak sekecil itu. Yang di lapangan itu tidak ada satu setengah panjang kendaraan. Untuk tes putaran U juga. Itu tidak ada dua kali panjang kendaraan seperti kata polisinya. Untuk bisa itu, stang motornya harus dibelokkan penuh dan tubuh harus agak miring. Yang bisa begitu cuma yang bisa berakrobat. Orang biasa susah…”

            “Pak polisinya bisa…”

            “Mereka sudah dilatih begitu… Jadi, di sini memang sudah dibuat susah biar orang pada nggak bisa, biar pada lari ke tempat pelatihan ujian SIM. Ujung-ujungnya mereka cari tambahan.”

            “Mustinya orang-orang bilang, kalau ada yang salah patok-patoknya…”

            “Iya. Tapi mungkin mereka pada nggak tahu. Kalau tahu, mereka tidak berani.”

            “Di tempat pelatihan tadi, tidak ada latihan prakteknya. Ada sih… tapi cuma satu dua orang. Sepertinya untuk formalitas saja… Begitu daftar, sertifikatnya langsung ada. Nilai semua orang cukup semua.”

            “Di sana juga ada polisinya, kan? Bapak-bapak yang botak itu.”

            “Memang nggak pakai calo lagi… tapi begini caranya.”

            “Jadi, nggak papa kita begini ya? Nanti di rumah latihan lagi saja biar terampil…”

***

            Hanya 15 menit terakhir akhirnya bisa tertidur. Tidak akan pernah lagi datang ke tempat itu; kompleks sederhana yang terdiri atas satu pos pelayanan umum tempat orang bisa menanyakan kebingungan mereka, kantor dokter petugas cek kesehatan yang dibayar 30.000 rupiah untuk tes sederhana buta warna, tekanan darah, tinggi dan berat badan, berkacamata atau tidak…

Pada akhirnya, tahu juga tingga badan ini tetap dipalsu tanpa izin, tanpa bicara… Butuh dua jam kemudian untuk punya keberanian melihat kartu yang tadi dicampakkan dalam tas untuk disimpan baik-baik dalam dompet. Ini catatan kejahatan yang pertama dan tempat pertama yang memaksa diri menjadi kriminal pertama kalinya adalah tempat itu.

Mereka tidak bisa percaya, orang bisa hidup tanpa SIM, tanpa perlu mengendarai kendaraan untuk melalang buana dalam kehidupan… mempercayakan diri dengan penuh kesabaran pada fasilitas publik ketika kemampuan memang belum ada untuk benar-benar dipercayai. Terseret dalam apa yang mereka yakini sebagai kenormalan. Menyerah dalam ketidakmampuan untuk menghindar. Melihat jalanan, tidak ada keberanian dan bertanya-tanya, kapan kenormalan yang lain akan dialami, seperti menyogok untuk menghindari hukuman dan sebagainya, sayang baru itu yang diketahui… Sungguh tak berpengalaman hidup dalam dunia yang kotor. Merasa goblok, ironis… Keterlaluan! Kau, orang yang terbiasa hidup menghadapi, bukan menghindar atau lari. Menyedihkan!

Semarang, 30 Desember 2012

PS: Lho, jadi cerpen! Huaaa, aku malu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s