Si Bongkok dari Notre-Dame

“… maka di antara mayat-mayat mengerikan ini ditemukan dua kerangka yang saling berpelukan menjadi satu. Salah satu dari dua kerangka menusia ini milik seorang wanita. Di atasnya masih nampak sisa-sisa potongan baju yang semula putih warnanya; di bagian lehernya ada seuntai kalung terbuat dari biji-biji adrezarach serta sebuah kantung sutera kecil bersulam dari manik-manik hijau. Kantung itu terbuka dan kosong. Benda-benda itu nilainya sepele sehingga tidak diragukan lagi bahwa tukang gantung tidak mempunyai pikiran untuk mengambilnya. Sedangkan kerangka lainnya, yang nampak memeluk erat kerangka pertama adalah kerangka seorang pria. Kerangka ini ditandai dengan bentuk bagian perutnya yang membongkok, kepala terpuruk di antara kedua pundaknya, sedang kakinya yang satu lebih pendek dari lainnya. Tetapi tidak terlihat tanda-tanda patah pada batang lehernya, jadi jelaslah bahwa orang yang memiliki kerangka ini tidak pernah digantung. Tentunya ia datang ke mari dan mati di tempat ini. Ketika mereka yang menemukan kerangka ini berusaha memisahkannya dari kerangka yang dipeluknya, kerangka itu hancur menjadi debu.” (Si Bongkok dari Notre-Dame Jilid 2, h. 262)

***

Baru saja menyelesaikannya: Si Bongkok dari Notre-Dame atau The Hunchback of Notre-Dame. Roman kedua Victor Hugo sukses kutemukan pada suatu hari libur yang sibuk di pasar buku dekat Taman Pintar, Yogyakarta. Tahu perasaan orang tidak punya banyak uang di surga buku? Yang paling dirasakan adalah perasaan takut salah beli sehingga tidak pernah tidak, aku harus menajamkan mata, berkeliling dan mengunjungi setiap lorong di setiap lantai tempat itu untuk menemukan buku terbaik yang termurah. Sejauh ini aku selalu puas. Bersamaan dengan Petualangan Ibnu Battutah yang tempo hari aku bahas, aku membeli dua jilid roman ini seharga 20.000 rupiah saja. Bersyukur…

Sesungguhnya, buku ini sedikit melelahkan pada awalnya. Perlu dua kali membaca bab pertamanya sampai akhirnya bisa paham sang penulis sedang berusaha menolong pembaca memahami setting, konteks, situasi sosial masyarakat, dan budaya di mana cerita ini dikisahkan terjadi. Juga… sedikit membosankan karena penceritaan latar belakang kehidupan setiap tokoh yang seakan tanpa akhir dan tanpa peristiwa-peristiwa menarik menghabiskan seluruh buku pertama, tetapi tiba-tiba alur cerita menukik tajam secara mengejutkan dan melahirkan tragedi yang menghabisi nyawa setiap tokoh utamanya pada akhirnya.

Membaca roman ini seperti menyaksikan pertumbuhan tanaman; bagaimana sebuah biji ada dan bisa berada lalu tumbuh di situ… semakin besar dan semakin besar melibatkan banyak hal demi pertumbuhannya… dan kemudian, secara tragis, tahu bagaimana tanaman itu dibabat habis dan mati. Tanah itu lalu kosong… tinggal cerita bahwa dahulu pernah ada sesuatu di situ. Begitulah roman… cerita tentang kehidupan seseorang atau orang-orang dari hidup sampai matinya. Apakah selalu merupakan cerita yang tragis? Mungkin. Kematian mana di dunia ini yang tidak tragis? Karena setidaknya hanya ada tiga pilihan reaksi bagi orang yang menyaksikannya, kematian itu: menertawakan, menangisi atau melaluinya begitu saja.

Roman ini tentang, kasar aku mengistilahkannya, ketololan manusia karena cinta. Cinta yang menghubungkan antara tokoh yang satu dan yang lainnya begitu murni dan karenanya gila. Akal sehat hampir-hampir tidak berlaku; cinta menjadi sebab altruisme yang tanpa pamrih dan sebaliknya, juga sebab kekejaman pada objek yang dicintai. Rasa manisnya pahit, kebahagiaannya berbayang penderitaan, harapannya berbuntut keputusasaan, kehidupan dijungkirbalikkan sedemikian rupa, sehingga manusia-manusia ini bertanya pada Tuhan, “Mengapa?”

Para pelaku drama kehidupan ini mungkin tak akan pernah tahu jawabannya, tetapi itu, sekalipun hanyalah fiksi, adalah cerita dan pelajaran bagi pembaca untuk kehidupannya. Berterimakasihlah pada Victor Hugo…

***

Ini tidak murni tentang si bongkok kita, Quasimodo, penabuh genta Katedral Notre-Dame. Ada Dom Frollo seorang padri yang memungut Quasimodo sebagai anak dan La Esmeralda, gadis gipsi yang menawan hati Dom Frollo dan Quasimodo. Ditakdirkan seperti ini bahwa bertahun-tahun yang lalu, tanpa sepengetahuan kedua tokoh, Quasimodo dan La Esmeralda adalah bayi yang ditukar. La Esmeralda yang manis diculik dari ibunya oleh kaum pengelana Mesir, sebaliknya Quasimodo yang buruk rupa diberikan kepada sang ibu. Karena tidak tahan dengan makhluk mengerikan itu, Quasimodo dibuang dan akhirnya diasuh oleh Dom Frollo, lalu dipekerjakan sebagai penabuh genta.

Quasimodo adalah orang tak berarti, seumur hidup menjadi olok-olokan masyarakat dan tidak dimanusiakan. Ia bermata satu dan tuli, berfisik cacat, mengerikan seperti monster. Ia tidak pernah keluar dari katedral dan hanya berteman dengan satu orang, yaitu ayah asuhnya, dan genta-gentanya. Ia begitu sadar pada dirinya dan menerimanya bahwa ia bukan orang yang diterima. Hidupnya berubah ketika ia terseret masalah yang menjerat ayah asuhnya. Sebagai pendeta, Dom Frollo tidak dapat menikah, tetapi sial, ia justru jatuh cinta pada La Esmeralda dan terjebak oleh nafsunya.  Ia berakhir membunuh Kapten Pheobus kekasih La Esmeralda yang dicemburuinya. Sial sekali lagi, kapten tersebut selamat, sang gadis terjebak dalam fitnah mengerikan sebagai tukang sihir pembunuh, sedang pengakuan cintanya pada gadis itu membuatnya menerima kebencian luar biasa. La Esmeralda dijatuhi hukuman gantung dan dekat pada saat kematiannya, ia diselamatkan oleh Quasimodo yang merasa berhutang budi karena pernah menerima belas kasihan gadis itu sebelumnya.

La Esmeralda yang hancur mendapatkan perlindungan di katedral, karenanya tak tersentuh hukum jika ia tidak keluar dari selnya, dan menerima perawatan, pelayanan dan penjagaan dari Quasimodo. Meskipun demikian, Quasimodo yang mengerikan tetap mengerikan di mata La Esmeralda. Perasaan Quasimodo tetap tidak pernah sampai, tetapi ia melakukan segalanya demi La Esmeralda yang tetap cinta mati pada Kapten Pheobus yang sudah berpaling pada wanita lain. Quasimodo melindungi La Esmeralda dari Don Frollo punya maksud-maksud mengerikan atas diri Esmeralda dan pada puncaknya, meskipun secara tragis karena salah paham lantaran tuli, melindunginya dari “tentara jalanan” yang beranggotakan para sampah masyarakat, gelandangan, pengemis dan sebagainya yang menyerang katedral karena hendak membebaskan saudari mereka itu dari hukuman gantung yang tetap akan dilaksanakan atas dirinya. Perang satu lawan 6.000 orang demi La Esmeralda!

Namun sial, La Esmeralda keluar dari katedral. Dom Frollo yang bekerja sama dengan Pierre Gringoire, salah satu anggota kaum gelandangan, membebaskan La Esmeralda agar ia dapat menghindari hukuman mati. Di tengah jalan, Gringoire berpisah dan membiarkan Dom Frollo bersama gadis itu. Padri itu mengancam, tetapi La Esmeralda lebih memilih mati daripada bersama orang yang telah mencelakakannya. Sang padri menyerahkan La Esmeralda pada tentara-tentara yang mengejarnya. Ia kembali ke katedral, menyaksikan hukuman gantung itu sambil tertawa-tawa dari salah satu menara… tetapi sebaliknya, ia disaksikan oleh Quasimodo yang luar biasa terguncang. Quasimodo yang marah melemparkannya ke bawah dan Dom Frollo pun mati.

“Quasimodo kini melayangkan pandangannya ke arah gadis Mesir yang menggelantung di tiang gantungan. Dari jarak tersebut ia bisa menyaksikan bagaimana perempuan itu menggeliat-geliat di balik gaun putihnya dalam hentakan penderitaan terakhir menjelang kematiannya; kemudian pandangannya menatap ke bawah ke arah padri, yang terkapar di kaki menara, tanpa berbentuk manusia lagi. Sambil menghembuskan napas panjang berserulah Quasimodo, ‘Itulah semua yang pernah aku cintai!’ ” (Si Bongkok dari Notre-Dame Jilid 2, h. 258)

Setelah itu Quasimodo menghilang dari masyarakat tanpa pernah dapat ditemukan…

Jangan terlalu angkuh merasa dirimu tak akan pernah berbuat dosa, jangan terlalu berputus asa dirimu tak akan pernah keluar dari nasib buruk. Setiap orang hidup dan punya cangkangnya masing-masing tempatnya berlindung, apakah itu nama baik dan kewibawaan, seperti Dom Frollo, kecantikan, kemudaan dan keceriaan hidup, seperti La Esmeralda, atau sikap dingin dan ketidakpedulian, seperti Quasimodo. Karena cinta, Dom Frollo yang seperti malaikat berubah menjadi iblis, La Esmeralda yang bersinar berubah kehilangan kewarasannya, dan Quasimodo akhirnya menangis, terisak-isak untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya tidak menjadi manusia…

***

Tentang Victor Hugo

Victor Marie Comte Hugo (Victor Hugo), lahir di Besancon, Prancis tanggal 25 Februari 1802 dan meninggal dunia tanggal 22 Maret 1885. Dia adalah seorang pengarang Prancis terbesar pada zamannya. Malah ada yang menganggap dia adalah yang terbesar sesudah Shakespeare.

Victor Hugo mulai menulis sajak pada usia sangat muda, 15 tahun. Pada usia itu dia sudah memperlihatkan bakatnya yang sangat besar dan dalam sayembara puisi yang diadakan Akademi Prancis dia mendapat pujian. Dia hampir dapat dikatakan menguasai seluruh bentuk teknik penulisan kesusastraan. Dia menulis puisi, roman, drama, esai, dan juga mengadakan studi yang cukup mendalam tentang Shakespeare serta pembahasan tentang kesusastraan dan falsafah. “Si Bongkok dari Natre-Dame” (1831) adalah romannya yang paling besar selain “Les Miserable”.

***

Terakhir… tentang evaluasi mengejutkan terhadap dunia kesusastraan Indonesia dalam pengantar roman ini oleh penerbit Pantja Simpati. Ini pelajaran tersendiri tentang kesusastraan dan apa yang sebaiknya kita lakukan.

Sampai berapa jauh peranan sastra dalam kehidupan manusia? Suatu pertanyaan yang tidak baru dan nampaknya pertanyaan itu tidak sulit untuk dijawab. Bagi mereka yang terlibat langsung dalam kegiatan ini, dengan bangga akan mengatakan, tidak terbatas.

Kami tidak ingin memihak. Seperti juga politik, ekonomi dan sebagainya, sastra ikut mengambil peranan penting dalam kehidupan manusia. Walaupun tidak menentukan seperti politik dan ekonomi, misalnya. Tetapi bahwa sastra terkadang merisaukan para pemegang kekuasaan suatu negeri, tak seorang pun dapat membantahnya. Seluruh riwayat telah mencatatnya dengan baik.

Perkembangan sastra Indonesia… sampai saat ini masih saja bergumul dengan berbagai keterbatasan. Terutama dalam ide-ide besar. Kita tidak tahu, kapan kita dapat melepaskan diri dari pergumulan keterbatasan itu. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi? Atau sesudah Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang kedua ratus? Atau sesudah kita tidak lagi dianggap sebagai negara berkembang? Sungguh sesuatu yang tidak mudah diramalkan.

Kita tentu tidak ingin terjebak dalam anggapan bahwa negara dunia ketiga adalah negara dengan keterbatasan-keterbatasan dalam arti yang luas. Karena dalam keterbatasan itu kita harus tahu di mana kita berpijak.

Kita memang mengakui bahwa sampai saat ini tak seorang pengarang Indonesia pun berhasil merekam secara menumental betapa sesungguhnya revolusi kemerdekaan itu. Tidak oleh mereka yang menamakan dirinya Angkatan ’45, atau mereka yang datang kemudian. Kita tidak pernah tahu betapa pandangan seorang sastrawan Indonesia mengenai revolusi itu, kemudian menuangkannya dalam hasil karyanya. Kita memang mencatat Pramoedya Ananta Toer. Tetapi pengarang ini dalam novel dan roman-romannya merekam peristiwa revolusi itu hanya sepenggal-sepenggal, tidak secara menyeluruh, tidak secara menumental. Yang menumental itulah yang kita tunggu sekarang ini.

… Dengan menerjemahkan karya klasik dunia ini kami ingin mengetengahkannya sebagai bahan perbandingan, betapa para pengarang dunia itu membangun karya-karya mereka. Bila kita membaca Si Bongkok dari Notre-Dame kta akan mengetahui bagaimana Victor Hugo membangun watak para tokohnya, bagaimana pengarang ini mencatat segala hiruk-pikuk Paris yang sudah mulai membangun dirinya pada abad ke-15, bagaimana bentuk arsitektur pada waktu itu…

Dengan menggunakan contoh-contoh ini, kami ingin merangsang para pengarang Indonesia untuk berbuat. Karena kami anggap sudah tiba saatnya kita memiliki novel-novel besar dan pengarang-pengarang besar.

6 thoughts on “Si Bongkok dari Notre-Dame

    • Susah membandingkannya, terutama karena aku agak lupa les miserables… kupikir sama, cuma… kalau les miserables happy ending (marius dan cossette akhirnya bisa bersama, kan?), kalau si bongkok ini tragis… mati semua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s