Manfaat Bersyukur

Sebuah artikel pendek di KOMPAS, Kamis, 3 Januari 2013 yang membuatku rindu kuliah lagi… Kelas-kelasnya, dosen-dosennya, tugas-tugasnya, buku-bukunya, pencarian-pencariannya, perenungan-perenungannya, penemuan-penemuannya… kebahagiaannya.

Psikolog Universitas California di Davis, Amerika Serikat, Robert Emmons, kepada Livescience, Selasa (1/1), mengatakan, emosi positif, termasuk bersyukur, dapat membuat hidup lebih sejahtera, tidur lebih nyenyak, lebih optimistis, serta lebih mudah bersosialisasi. Secara fisik, bersyukur akan meningkatkan kekebalan tubuh dan meningkatkan emosi positif, seperti lebih mudah memaafkan dan tidak pernah merasa kesepian. Penelitian Emmons dan McCullough dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology. Beberapa cara menjaga rasa syukur, antara lain, bersikap cermat dan tidak terburu-buru, merasakan apa yang terjadi sehari-hari, membantu orang lain, mengucapkan terima kasih, bersosialisasi dengan orang-orang yang dicintai, memperhatikan hal-hal yang kita miliki…

***

Artikel penelitian lengkapnya berjudul Counting Blessings versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being in Daily Life (Journal of Personality and Social Psychology, 2003, Vol. 84, No. 2, 377-389). Dan untuk menulis artikelku sendiri ini, aku menambahkan satu referensi lagi selain sumber di atas, berjudul Highlights from the Research Project on Gratitude and Thankfulness.

Bagiku, pentingnya (hasil) penelitian semacam ini tidak sebatas pada ilmu psikologi, tetapi juga agama. Ini mengkonfirmasi sesuatu, bukan? Ya, minimal berupa kesadaran yang lebih baik bahwa beragama itu penting, bahwa beragama dengan baik memiliki dampak positif yang luar biasa bagi kehidupan. Di sini ada peran penting psikologi sebagai ilmu, sebagai jalan untuk menjelaskan secara lebih baik “rahasia” di balik keberagamaan kita. Ya, kita tidak bisa lagi beribadah demi ibadah itu sendiri. Beribadah memang untuk Allah, tetapi rasanya Allah ingin agar kita belajar apa yang sesungguhnya sedang dihadiahkan-Nya kepada orang-orang yang beribadah. Kita manusia, bukan makhluk yang tanpa pamrih. Paling tidak, dalam keikhlasan kita, kita selalu mengharapkan kebahagiaan hidup.

Psikologi Barat selalu dikritik oleh Psikologi Islam (demikian, dalam literatur yang aku baca), sebagai paradigma yang mengagungkan positivisme dan empirisme. Dengan dalih bahwa tidak semua hal mampu dikuantifikasikan atau diindera, kritik tersebut ada benarnya. Namun, satu hal yang juga aku sendiri lewatkan adalah kenyataan bahwa positivisme dan empirisme itu ada karena keduanya bermanfaat, tentu dalam konteks-konteks tertentu. Sebagai orang yang berusaha menekuni bidang psikologi, jujur aku tidak pernah diajak berpikir dan mempelajari sisi manfaat dari hal yang sering menuai kritik ini. Aku justru seperti diajak untuk memandangnya negatif. Dari situ, aku bisa menyimpulkan bahwa sepertinya ada yang salah dengan cara bagaimana Psikologi Islam hendak dikembangkan, terutama bagi mahasiswa. Ibarat kita orang yang ingin membuat mobil jenis baru tetapi tidak memulainya dari mengenali dan mempelajari baik-baik mobil-mobil yang sudah ada secara lengkap, justru dari mengadopsi pendapat orang tentang jeleknya mobil-mobil yang sudah ada dan mimpi-mimpinya akan mobil masa depan yang belum juga menjadi kenyataan. Kita direcoki dengan apa yang seharusnya, tetapi lupa bahwa untuk menuju yang seharusnya itu, kita perlu tahu kenyataan hari ini dan di sini. Ya, ini hanya pendapatku saja.

Emmons dan McCullough menjadi pakar di bidang kebersyukuran ini tampaknya diawali dari keinginan mereka untuk memahami nature atau karakter dasar/ hakikat kebersyukuran, penyebab-penyebab mengapa orang bersyukur dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka ingin memahaminya secara ilmiah, makanya mereka meneliti dengan tujuan membangun metode-metode memelihara kebersyukuran dalam hidup sehari-hari dan mengukur seberapa besar pengaruh kebersyukuran bagi kesejahteraan psikologis seseorang, serta mengukur secara reliabel perbedaan orang-orang dalam sifat kebersyukurannya (macam pertanyaan, mengapa ada orang yang bisa bersyukur ada yang tidak?).

Mereka menyimpulkan beberapa hal:

Pertama, dalam perbadingan eksperimental, orang-orang yang membuat buku harian bersyukur setiap minggunya berolahraga lebih rutin, menunjukkan lebih sedikit keluhan fisik, merasa secara keseluruhan hidup mereka lebih baik, dan lebih optimistis dalam menghadapi minggu berikutnya dibandingkan mereka yang justru menulis keluhan-keluhan atau peristiwa-peristiwa kehidupan yang sifatnya netral.

Kedua, menfaat yang lainnya berkaitan dengan pencapaian tujuan yang dimiliki seseorang. Partisipan yang membuat daftar bersyukur lebih mungkin membuat kemajuan terhadap tujuan atau target penting mereka, seperti target akademik, interpersonal atau menyangkut kesehatan, dalam periode dua bulan (eksperimen) dibandingkan subjek lainnya.

Ketiga, pemberian intervensi kebersyukuran setiap hari (semacam latihan bersyukur) pada orang dewasa muda menghasilkan level kewaspadaan (alertedness), antusiasme, determinasi, kepedulian (attentivness), dan energi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berfokus pada mengeluh atau melakukan perbandingan sosial ke bawah (downward social comparison/ merasa diri lebih baik daripada orang lain).

Keempat, mereka yang bersyukur setiap harinya lebih mungkin untuk menolong orang lain yang sedang memiliki masalah atau menawarkan dukungan emosional mereka dibandingkan mereka yang mengeluh atau membandingkan diri dengan orang lain.

Kelima, dengan sampel penderita penyakit neuromuskular, 21 hari intervensi kebersyukuran menghasilkan mood positif yang lebih tinggi, sense-of-connectedness yang lebih tinggi dengan orang lain, lebih optimistis dalam hidup, dan memiliki durasi dan kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol.

Perbedaan antara orang yang bersyukur dengan yang kurang bersyukur:

Dalam hal kesejahteraan psikologis, orang yang bersyukur melaporkan level emosi positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan optimisme yang lebih tinggi, serta level depresi dan stres yang lebih rendah. Orang yang bersyukur bukannya mengabaikan atau menyangkal aspek-aspek negatif dalam hidup. Kebersyukuran mereka tampak meningkatkan perasaan senang lebih daripada mengurangi emosi-emosi tidak menyenangkan.

Dalam hal sikap prososial, orang yang suka bersyukur memiliki kapasitas untuk berempati dan memahami sudut pandang orang lain. Mereka dinilai sebagai orang yang murah hati dan suka menolong oleh orang-orang di sekitar mereka.

Dalam hal spiritualitas, mereka yang secara rutin terlibat dalam aktivitas-aktivitas religius seperti beribada dan membaca kitab suci lebih mudah bersyukur. Orang yang bersyukur lebih mungkin untuk mengakui keyakinan dalam hubungan saling terkoneksi dalam kehidupan dan berkomitmen, serta bertanggung jawab atas orang lain.

Dalam hal materialisme, orang yang bersyukur kurang mementingkan benda-benda material. Mereka tidak menilai kesuksesan hidup mereka atau orang lain berdasarkan besar kecilnya kepemilikan benda. Mereka tidak iri pada orang lain dan lebih suka berbagi dengan kerabat dibandingkan mereka yang kurang bersyukur.

Perkembangan lebih lanjut, kebersyukuran dapat menjadi terapi psikologis yang potensial. Latihan/ intervensi kebersyukuran dapat diterapkan di berbagai bidang kehidupan, di sekolah, organisasi atau perusahaan, bidang kesehatan, untuk menyelesaikan masalah sosial dan keluarga, dan macam-macam. Aku hanya menyimpulkan bahwa, akhirnya, kebersyukuran ini lebih dari sekadar mengucapkan segala puji bagi Allah di bibir. Hati orang-orang yang bersyukur berbicara. Jiwanya mencari-cari cara agar dapat selalu bersyukur, dengan banyak merenungkan nikmat kehidupan yang diberikan Allah, berefleksi atas kehidupan, menahan diri agar tidak mudah mengeluh, tidak terburu-buru dalam menilai suatu masalah atau situasi yang buruk, dan sebagainya.

***

“Reflect on your present blessings, on which every man has many, not on your past misfortunes, of which all men have some.”

Charles Dickens

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s