Muqaddimah Ibn Khaldun Bag.5: Bagaimana manusia dan masyarakat berevolusi?

Ini adalah bab favoritku, sejauh ini. Inilah bab yang membuat Ibn Khaldun masyhur sebagai seorang sosiolog dan psikolog sosial pertama di bumi, yaitu ketika ia menulis tentang peradaban Badui, bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah liar, serta kondisi-kondisi kehidupan mereka. Ini memang terfokus pada peradaban Badui, tetapi aku menangkap adanya beberapa prinsip yang dapat kugunakan untuk memahami bagaimana manusia dan masyarakat berkembang, berevolusi. Aku menyimpulkan benar, bahwa manusia adalah makhluk yang mengejar kesempurnaan. Ini menjelaskan banyak hal mengapa kita dan dunia tempat kita tinggal hari ini adalah seperti ini.

***

“Ketahuilah bahwa perbedaan hal-ihwal penduduk adalah akibat dari perbedaan cara mereka memperoleh penghidupan. Mereka hidup bermasyarakat tidak lain hanyalah untuk saling membantu di dalam memperoleh penghidupan, dan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sederhana, sebelum mereka mencari kebutuhan hidup yang lebih tinggi. … Kehidupan mereka bermasyarakat dan saling membantu di dalam memenuhi kebutuhan hidup dan peradaban, seperti makanan, perlindungan, dan panas, tidak melecut mereka untuk memperolehnya lebih dari batas kebutuhan. Tak lebih dari itu, sebab mereka tidak mampu memperoleh lebih dari itu.

Kemudian, apabila kondisi mereka semakin nyaman dan memperoleh kekayaan dan kemewahan di atas batas yang dibutuhkan, mereka tenang dan tidak ambil pusing. Dengan demikian mereka akan saling membantu dalam berusaha memperoleh sesuatu di atas batas kebutuhan. Mereka mempergunakan banyak makanan, pakaian, dan berbangga diri dengan itu semua. Selanjutnya mereka pun membangun rumah-rumah besar dan mempercantik kota untuk tempat berlindung.

Hal ini diikuti oleh kemajuan di dalam kemewahan dan kesenangan, sehingga sampai menjadi kebiasaan hidup mewah yang melampaui batas. Mereka berlebih-lebihan di dalam berbangga diri, mempersiapkan makanan dan mempercantik dapur, di dalam mempergunakan berbagai pakaian yang indah … membangun bangunan yang besar dan menara-menara, dan memperindah bangunan dengan keahlian yang telah mencapai puncaknya. … Mereka berbeda-beda di dalam mempergunakan kualitas pakaian, tempat tidur, pakaian, tong, dan alat-alat yang mereka pergunakan untuk mencapai tujuan mereka. Mereka itulah sebenarnya orang-orang kota; penduduk kota dan negeri-negeri.” (h. 141-142)

Eksistensi kita, entah sebagai masyarakat primitif ataupun masyarakat modern, adalah sesuatu yang alami. Perkembangan masyarakat dari yang sederhana menjadi kompleks didorong oleh sebab-sebab yang inheren, bukan dibuat-buat dan dipaksakan; fitrah kita sebagai manusia yang ingin berpenghidupan, ingin melindungi dan mempertahankan kehidupan. Meskipun dari penampilan luar yang satu tampak lebih maju dan  indah daripada yang lain, sesungguhnya secara eksistensial keduanya berharga di mana yang satu menjadi awal bagi yang lain. Kita benar-benar hidup di jalan yang ditunjukkan Allah ketika Ia menciptakan manusia.

“… orang-orang Badui (nomad) membatasi diri pada kebutuhan-kebutuhan di dalam cara hidup mereka dan tidak mampu untuk berangkat lebih jauh dari itu, sedangkan orang-orang kota memberikan perhatiannya terhadap kesenangan dan kemewahan di dalam semua ihwal dan kebiasaan mereka. Dan tidak dapat diragukan lagi bahwa kebutuhan yang terbatas lebih dahulu ada dibandingkan dengan kesenangan dan kemewahan hidup. … Manusia pertama kali mencari dan berusaha memperoleh kebutuhannya yang mendasar. Setelah dia memperoleh kebutuhannya yang mendasar, barulah dia berusaha mencari hidup enak dan mewah.” (h. 144)

Mengenai gaya hidup mewah, aku memahami bahwa kemewahan adalah kondisi, ibarat wadah, yang sesungguhnya tidak semua orang mampu memasukinya dan hidup di dalamnya. Bukan karena masalah ketiadaan harta untuk bermewah-mewah, melainkan untuk menjadi mewah pun manusia memerlukan kesiapan untuk menerima kondisi dan kebiasaan mewah. Orang yang kenal rasa keterbatasan akan tahu jalannya untuk mencari hidup yang menyenangkan dan berlebihan. Setiap manusia bergerak ke arah itu dan karenanya agama berusaha mengeremnya dengan ajaran bahwa hidup bermewah-mewah itu buruk. Ada alasan yang masuk akan di balik ajaran itu karena hidup sederhana dengan mempertahankan diri tetap dalam kondisi terbatas/ sukar lebih baik secara fisik dan psikis daripada hidup mewah.

***

“… jiwa, apabila berada dalam fitrahnya yang semula, siap menerima kebajikan maupun kejahatan yang datang dan melekat padanya. Nabi Muhammad bersabda, ‘Setiap bayi dilahirkan menurut fitrahnya. Maka ibu-bapaknyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, atau Kristen, atau Majusi.’

Menurut kadar pengaruh pertama kali dari salah satu di antara kedua sifat (baik-buruk) tersebut, jiwa menjauh dari satu sifat lainnya dan sukar untuk memperolehnya. Apabila kebiasaan berbuat kebajikan masuk pertama kali ke dalam jiwa orang yang baik, dan (jiwa)nya terbiasa dengan (kebajikan, maka orang tersebut) akan menjauhkan diri dari perbuatan buruk dan sukar menemukan jalan ke sana. Demikian pula ihwalnya dengan orang yang jahat.

Penduduk tetap (kota) banyak berurusan dengan hidup enak. Mereka terbiasa hidup mewah dan berurusan dengan dunia, dan tunduk mengikuti nafsu syahwat mereka. Jiwa mereka telah dikotori oleh berbagai macam akhlak yang tercela dan kejahatan. Jalan menuju kebaikan sudah menjauh dari mereka, sesuai dengan kejahatan yang mengotori jiwa mereka. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk menahan diri dari nafsu. Maka, sebagian besar mereka terbiasa dengan perkataan buruk… Mereka sudah tidak takut lagi oleh orang yang memberi nasihat supaya kuasa menahan hawa nafsu, karena kebiasaan buruk berbuat kejahatan secara terang-terangan, baik perkataan maupun perbuatan, telah menguasai mereka.

Sedangkan orang Badui, meskipun juga berurusan dengan dunia, mereka masih dalam batas kebutuhan, dan bukan dalam kemewahan, atau salah satu sebab timbulnya syahwat dan kesenangan. … Akhirnya jelas bahwa hidup menetap merupakan tingkat peradaban yang paling akhir dan menjadi titik bagi langkah pertama manuju kerusakan. Ia juga merupakan tingkat terakhir dari kejahatan dan jauh dari kebajikan.” (h. 145-146)

Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap apa yang mudah, cepat, menyenangkan, dan tidak memayahkan. Kita perlu belajar hidup dengan berpegangan pada apa yang cukup bagi kita karena sebenarnya untuk hidup sesungguhnya kita tidak memerlukan banyak hal. Untuk berkembang, kita tetap perlu melekatkan diri pada kerja keras, keringat, air mata, dan penderitaan. Tetapi kita juga perlu tahu kapan harus berhenti mengembangkan sayap dan berkata, “Ini sudah cukup.”

***

“Orang-orang Badui lebih berani daripada penduduk tetap (kota). Sebabnya ialah karena penduduk tetap malas dan suka yang mudah-mudah. Mereka tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan. Mereka mempercayakan urusan mempertahankan harta dan diri mereka kepada gubernur dan raja yang memimpin mereka, serta kepada tentara yang bertugas menjaga keamana. Mereka banyak menemukan jaminan dan perlindungan pertahanan di tembok-tombok yang memagari mereka… Mereka penuh terawasi dan hidup aman, serta tak pernah memegang senjata…

Orang-orang Badui… hidup liar di tempat-tempat jauh di luar kota dan tidak pernah mendapat pengawasan tentara. Mereka tidak punya tembok dan pintu gerbang. Karena itu, mereka sendiri yang mempertahankan diri mereka dan tidak minta bantuan kepada orang lain. Mereka selalu membawa senjata… hidup memencil di tengah padang pasir, ditemani keteguhan jiwa dan kepercayaan kepada diri sendiri. Keteguhan jiwa telah menjadi sifat mereka, dan keberanian menjadi tabiat.

Manusia adalah anak kebiasaan-kebiasaannya sendiri dan anak segala sesuatu yang ia ciptakan. Dia bukanlah produk dari tabiat dan temperamennya. Kondisi-kondisi yang telah menjadi kebiasaannya, hingga menjadi sifat, adat, dan kebiasaannya, turun menduduki kedudukan  tabiat. Apabila seseorang mempelajari hal ini pada diri anak Adam, dia akan mendapatkan banyak, dan akan menemukan suatu observasi yang benar.” (h. 146-147)

Dari sini, aku bisa yakin dalam sikap skeptisku bahwa pendidikan karakter yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, nonsense. Karakter terbentuk karena kondisi. Karakter terbentuk karena tempaan yang keras, bukan lewat pembelajaran di kelas, melainkan kehidupan itu sendiri. Sepanjang kita tidak mampu menciptakan kondisi, kita harus bersiap gagal. Bom ini pun tidak selesai di sini…

***

“Kepercayaan penduduk tetap (kota) terhadap hukum merusak keteguhan jiwa dan kemampuan mengadakan perlawanan yang ada pada diri mereka. Tak seorang pun menguasai urusan-urusan pribadinya. Para pemimpin dan amir yang menguasai urusan manusia sedikit dibandingkan dengan yang lain-lainnya. Biasanya, dan bahkan seharusnya, manusia itu berada di bawah kekuasaan lainnya. Apabila kekuasaan itu ramah-tamah dan adil, dan orang-orang yang berada di bawahnya tidak merasa tertekan oleh hukum dan pembatasan, mereka akan terpimpin oleh keberanian yang ada dalam diri mereka. Mereka puas dengan tidak adanya kekuatan bagi apapun yang membatasi. Kepercayaan diri, menjadi suatu sifat bagi mereka.

Dan apabila kekuasaan dengan hukum-hukumnya merupakan satu kekuatan yang dipaksakan dan diintimidasi, maka kekuasaan itu akan merusak kepercayaan dan menghilangkan kemampuan bertahan yang ada dalam diri sebagai akibat dari kemalasan yang ada di dalam jiwa yang tertekan. … apabila hukum-hukum itu dipaksakan bersama penyiksaan-penyiksaan, maka ia akan menghapus keteguhan jiwa itu sama sekali. Sebab penyiksaan yang dilakukan terhadap seseorang yang tidak dapat mempertahankan diri, ia akan merasa dihina, dan tak dapat diragukan lagi keteguhan jiwanya akan hancur.

Dan apabila hukum itu dilaksanakan menurut tujuan pendidikan dan pengajaran, dan diterapkan sejak kecil, lambat laun akan timbul beberapa efek yang sama, sebab orang itu tumbuh dan berkembang dalam ketakutan, tunduk dan patuh, dan tentu dia tidak akan percaya kepada keteguhan jiwanya.

… kita dapatkan pula orang yang patuh kepada hukum dan kekuasaannya dari setiap permulaan pendidikan dan pengajaran, di dalam masalah keahlian, ilmu pengetahuan dan agama, keteguhan jiwanya banyak yang rusak. Mereka pun hampir tidak berusaha mempertahankan diri dari segala tindakan yang menantang, dengan cara apapun. Demikian pula ihwal para pelajar yang menggantungkan diri kepada para guru dan pemuka agama, dalam hal belajar membaca dan memperoleh ilmu, yang secara terus-menerus memperoleh pendidikan dan pengajaran di dalam pertemuan-pertemuan yang anggun dan berwibawa. Situasi dan kenyataan ini merusak kemampuan mempertahankan diri dan keteguhan jiwa…

Ini bukan alasan untuk menolaknya, yaitu bahwa para sahabat yang menerapkan hukum-hukum agama dan syariat, tapi sedikit pun keteguhan jiwa mereka tidak berkurang, dan bahkan bertambah kokoh. … ketika kaum muslimin menerima agama dan Nabi Muhammad, kesadaran tumbuh dari dalam diri mereka sendiri. Kesadaran itu tumbuh bukan sebagai hasil dari pendidikan yang sengaja diadakan atau dari pengajaran ilmiah. Tapi itulah hukum-hukum dan ajaran-ajaran agama yang mereka terima secara lisan, dan dengan akidah-akidah keimanan serta pengakuan akan kebenaran yang tertancap dalam diri mereka, menyebabkan mereka mau mengadakan observasi. Keteguhan jiwa yang ada dalam diri mereka tetap kokoh seperti semula dan belum dirusak oleh cakar-cakar pengajaran dan kekuasaan.

Dan ketika kesadaran beragama menurun di kalangan manusia, dan mereka mempergunakan hukum-hukum yang menjadi penengah, kemudian syariat agama menjadi cabang dari ilmu dan keahlian, maka agama pun diperoleh melalui pendidikan dan pengajaran. Orang-orang kembali hidup terikat pada suatu tempat dan sifat tunduk patuh kembali pada hukum. Hal ini mengakibatkan keteguhan jiwa mereka berkurang.

Dengan demikian, jelas bahwa hukum-hukum pemerintahan dan pendidikan merusak keteguhan jiwa, sebab kesadaran merupakan sesuatu yang datang dari luar. Lain dari agama, tidak merusak kepada keteguhan jiwa, sebab kesadaran untuk itu tumbuh dari suatu yang sifatnya inheren. Itulah sebabnya, hukum-hukum pemerintahan dan pendidikan berpengaruh di kalangan orang-orang kota dalam kelemahan jiwa dan berkurangnya stamina mereka, karena mereka membiarkan keduanya sebagai anak dan orangtua.” (h. 147-149)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s