Gonjang-ganjing Kurikulum 2013

Selama beberapa bulan belakangan, aku hanya menikmati topik kali ini (Kurikulum 2013) lewat koran KOMPAS. Berbagai tokoh mengomentarinya. Pakar-pakar edukasi sampai politisi. Pernah Aburizal Bakrie… Yang terakhir kubaca, Anita Lie. Ada yang pro, tetapi lebih banyak yang kontra. Yang pro, tentu saja orang-orang pemerintahan. Yang kontra, kebanyakan para edukator di sekolah sampai perguruan tinggi. Yeah, kenapa juga akhirnya aku menulis? Karena aku punya adik yang bisa jadi akan menjadi “korban” kurikulum ini. Balya tahun ini akan masuk sekolah dasar. Sampai dua belas tahun ke depan ia akan dididik dengan kurikulum ini, mungkin, jika kurikulum ini tidak akan bernasib serupa dengan kurikulum pendidikan Indonesia selanjutnya. Mau tidak mau, aku harus secara proaktif menentukan sikap.

Latar belakang disusunnya kurikulum 2013 ini, bagiku, jelas. Pertama, Indonesia ingin bergerak cepat dan tepat agar tidak terlewat kesempatan emas “bonus populasi” sekitar 20-45 tahun ke depan. Pada masa itu, jumlah penduduk Indonesia yang berusia produktif akan lebih besar dibandingkan yang berusia nonproduktif. Logika kementerian pendidikan singkatnya adalah kemajuan Indonesia dapat dicapai pada masa itu, sehingga sejak sekarang perlu ada skenario agar perkembangan manusia Indonesia mengarah pada tujuan itu dengan memanfaatkan segala keuntungan yang dapat diperoleh dari bonus populasi. Ini benar-benar mimpi besar bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar dan maju.

Kedua, secara teknis pelaksanaan kurikulum yang sudah ada, proses pendidikan di Indonesia memang mengandung beberapa kekurangan. Manusia Indonesia bukan lagi bertumbuh, melainkan rusak karena proses pendidikan yang salah urus dan salah arah. Misal, kebijakan UAN yang sangat menekan itu. Anak-anak SMA, bahkan SMA-nya sendiri, tergiring untuk mendewakan nilai ketimbang kemampuan, hasil belajar ketimbang proses belajar yang berkualitas. Yang lain lagi, selama 6-17 tahun mengenyam pendidikan, ternyata keluarannya, sumber daya manusianya, tidak sesuai dengan harapan. Studi terbaru, misalnya, menemukan bahwa kemampuan analitis dan pemecahan masalah anak Indonesia lebih rendah dibandingkan anak-anak di negara lain, kemampuan matematisnya lebih rendah dibandingkan anak-anak negara lain, dan sebagainya… Itu menyedihkan, bukan? Indonesia benar-benar tertinggal.

Selidik punya selidik, ahli-ahli pendidikan itu mulai mencari pemecahan masalahnya. Jawaban satu per satu muncul dan berujung pada perubahan atau pemunculan kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru. Dahulu kelulusan bergantung pada UAN, sekarang turut mempertimbangkan nilai tiga tahun bersekolah. Dahulu untuk masuk perguruan tinggi semua tergantung pada SPMB, lalu UM, sekarang ada jalur undangan. Dana pendidikan, BOS dan segala macamnya, trilyunan rupiah digelontorkan. Beasiswa pendidikan diperbanyak. Untuk guru, telah ada program sertifikasi, sekalipun studi terakhir mengatakan sertifikasi itu tidak mengubah cara guru mengajar (kecuali meningkatkan minat orang untuk bekerja sebagai guru). Guru dan dosen pun didorong untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Tinggal hal terakhir dan yang terpenting: apa yang diajarkan dan bagaimana.

Persoalan terakhir berpolemik. Belum selesai sampai hari ini, terutama setelah kurikulum 2013 yang tujuannya mempengaruhi perihal apa dan bagaimana itu, akan dilaksanakan tahun ini. Pak Menteri cenderung tidak mau dengar kritikan sebagian orang, bukan? Tetapi bagiku, keinginannya untuk bersegera melaksanakan kurikulum ini, bisa dipahami. Kata sebagian orang, banyak sekolah yang belum siap… Tapi, kapan akan siap? Apa Indonesia harus jadi Amerika Serikat dulu kalau ingin siap segara sarana dan prasarana, baru kurikulum baru dijalankan? Rasanya, agar Indonesia bisa semaju Amerika Serikat itulah, maka kurikulum yang baru sebaiknya disegerakan. Jadi, bahasa singkatnya, mari kita mulai dulu… evaluasi dan perbaikan kemudian.

Kalau kemudian, suka atau tidak, orang akhirnya bersepakat untuk memulai, pertanyaan berikutnya: bagaimana semua ini akan dilakukan? Bagaimana bisa IPA, IPS dan bahasa Indonesia dijadikan satu?! Bagaimana bisa mata pelajaran-mata pelajaran itu disederhanakan sedemikian rupa sampai tinggal beberapa itu?! (Apa sajanya, sesungguhnya aku lupa…) Bagaimana bisa kurikulum ini justru mereduksi apa yang seharusnya diterima anak Indonesia untuk menjadi manusia yang modern? Akhirnya, orang pun berdebat mengenai apa yang seharusnya diajarkan agar anak Indonesia cemerlang.

Mulai di sini, aku mulai merasakan kerumitannya dan ini sangat filosofis. Memangnya, apa saja yang dibutuhkan manusia untuk hidup dengan baik dan mencapai prestasi dalam hidupnya? Aku bisa menyederhanakannya begini bahwa manusia itu butuh tubuh yang sehat, jiwa, akal dan hati yang terisi baik. IPA, IPS dan bahasa masuk ke wilayah akali; agama, pendidikan moral, kewarganegaraan, pendidikan karakter, dan sebagainya masuk ke wilayah hati. Selanjutnya ada pendidikan jasmani dan seni yang indah, hal itu untuk kesehatan jiwa dan raga… minimal agar orang bisa mengekspresikan diri, meredakan stres, dan tidak berubah gila!

Jadi, apa saja yang dibutuhkan orang? Idealnya adalah semuanya… dan itu berbuah dalam 10 mata pelajaran yang selama ini membuat anak-anak Indonesia “gila” dalam belajarnya! Mari kita realistis bahwa tidak semua itu dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya yang senyatanya. Contoh yang paling ekstrem sederhananya, ada banyak orang yang tidak sekolah, tapi tetap bisa hidup, sekalipun tentu taraf hidupnya menjadi rendah. Pendidikan bertujuan meningkatkan taraf hidup itu sehingga minimal, meskipun tidak semua orang akhirnya bisa  hidup kaya raya, mereka dapat hidup layak, lurus, bermartabat, berkecukupan, dalam kesederhanaannya. Pendidikan yang diinstitusionalkan dan diwajibkan berkeinginan agar minimal orang mendapatkan apa yang wajib dimilikinya untuk dapat hidup seperti itu. Jika selanjutnya orang ingin mencapai lebih daripada yang distandardkan, ia bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Jadi, apa yang dibutuhkan orang? Yang penting-penting saja. Yang primer untuk kehidupannya. Sayangnya, aku tidak memahami dunia belajar mengajar kecuali yang pernah aku sendiri alami selama masa sekolahku. Tidak semua hal dalam IPA, IPS atau bahasa yang penting bagi keberlangsungan hidup, aku yakin itu. Namun, ada beberapa hal yang penting justru begitu sederhana dan sayangnya terlewatkan untuk diajarkan.

Seorang pendidik perlu, ketimbang memaksakan atau memberikan standard pencapaian akademik, sadar bahwa tidak semua manusia suka belajar dan mendedikasikan waktunya untuk belajar dan menjadi pintar (jika ada anak yang seperti itu, itu adalah berkah!) karena ia tahu dengan sendirinya sebagian dari yang dipelajarinya tidak penting bagi hidupnya! Namun sebaliknya, perlu disadari bahwa semua orang suka hidup, semua orang ingin hidup, dengan baik.

Jadi, bagaimana kita bisa menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sekadar ilmu pengetahuan dan teknologi melainkan bekal untuk menjalani kehidupan yang baik? Aku sering bertanya-tanya… Misal, mengapa tidak pernah ada seorang pun guru biologiku yang mengajariku tentang gizi dan nutrisi agar aku dan teman-temanku dapat memilih dan makan makanan yang baik, sehat, dan halal?  Mengapa kami sebaiknya tidak tidur larut malam atau mengapa kami sebaiknya senang membersihkan diri (agar tidak sakit kulit)? Mengapa tidak sebaiknya kami belajar bertanam tomat atau cabai di rumah sekaligus mempelajari nilai ekonominya, betapa itu dapat menghemat belanja orangtua kami?

Seorang guru yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan dan dalam kehidupan nyata, membuat anak belajar untuk hidup bukannya sebaliknya, membuat anak bersemangat karena penasaran apa saja yang bisa diketahuinya di sekolah yang dapat membuat hidupnya semakin menarik… Bagiku, itulah sebenar-benarnya guru. Dan untuk menjadi guru yang semacam itu, tidak seorang pun, presiden, menteri atau siapapun, tidak satu pun hal, kurikulum, program, pelatihan, atau apapun yang dapat berbuat banyak. Hal yang semacam itu tidak bisa dipaksakan. Hal yang seperti itu ada seninya. Dan orang yang paling bisa menjadi pendidik semacam itu adalah orang yang besar dengan memahami makna hidupnya sebagai manusia yang belajar untuk hidup dengan baik, tidak hidup dengan serakah, dan tidak hidup dengan mementingkan dirinya sendiri. Egoisme adalah cikal-bakal materialisme; cikal-bakal guru-guru yang mata duitan, mendewakan karier, pangkat dan jabatan, makan gaji buta atau setengah buta, korup atas diri anak didiknya, membuang idealismenya tanpa malu. Dengan orang-orang yang seperti itu, kurikulum terbaik apapun tidak akan membuat Indonesia ke mana-mana.

Pada akhirnya, kupikir, mari kita dukung apa yang sedang direncanakan saat ini demi kebaikan anak Indonesia. Kita, mungkin telah berumur, mungkin tidak akan hidup sampai 20-45 tahun ke depan. Kita tidak benar-benar dapat mendikte masa depan manusia-manusia yang hari ini belum lahir atau baru berusia beberapa tahun. Kita tidak dapat merencanakan segalanya. Kita tidak dapat terus-menerus berdebat. Sesungguhnya, masa depan suatu bangsa ada sunatullah-nya. Semuanya di tangan Tuhan yang menilai apakah kita pantas diberikan kejayaan atau masih harus terus belajar. Manusia hanya dapat berikhtiar sebaik-baiknya dan bertawakkal. Dan bagi orang-orang yang sedang berikhtiar, ada baiknya kita berikan mereka kesempatan, lalu kita evaluasi bersama hasilnya.

One thought on “Gonjang-ganjing Kurikulum 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s