Reaching Dream Bag. 4: Keinginan untuk Hidup yang Mengalahkan Banyak Hal

Entah, apakah ini adalah fenomena yang dialami oleh semua orang. Kau dapat mengatakan ini tentang suatu perjuangan. Memang benar. Ini adalah suatu perjuangan, hanya saja rasanya aneh sekali: perjuangan melawan kevakuman, kondisi kosong.

Pasca lulus perguruan tinggi, belum bisa bekerja, menunggu datangnya waktu mendaftar sekolah pascasarjana, dan hanya bisa di rumah, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang “remeh”, aku merasa ada yang salah. Kehidupan sebelumku, didominasi oleh aktivitas menuntut ilmu memberikanku banyak target dengan sendirinya. Kehidupan orang lain yang didominasi oleh aktivitas mencari penghasilan dengan sendirinya juga memberi mereka banyak target agar mereka layak dibayar. Aku akhirnya belajar menyadari bahwa punya target untuk dicapai, punya tujuan untuk dituju dan punya kesempatan dan kekuatan untuk mengusahakannya adalah nikmat hidup yang luar biasa.

Kondisiku sekarang, aku tidak punya sesuatu di luar diriku, apakah itu sekolah, kuliah atau pekerjaan serius, yang memberikanku target. Dan aku tercengang sendiri pada perjuangan diriku sendiri untuk menciptakan suatu pencapaian hanya karena aku ingin hidup, terus hidup dengan cara yang baik dan penuh. Sesungguhnya, kondisiku sekarang adalah sesuatu yang mungkin dapat membuat banyak orang yang sibuk iri karena aku bagaikan ibu rumah tangga yang kehidupannya serba terjamin. Pekerjaanku mengurus rumah tidaklah berat, tidak perlu kerja keras… tetapi justru karena tidak berat itulah aku merasa sangat berat, jiwaku merasa terbebani oleh “ini tidak benar seringan ini”. Kehidupan tidak boleh seringan ini.

Sibuk mengerjakan sesuatu yang berharga adalah sesuatu yang juga berharga! Setiap hari aku ingin berteriak, “Ya Allah, bagaimana agar aku bisa keluar dari titik ini?” Bertahan menghadapi hal-hal “remeh” di rumah sama beratnya dengan bertahan menghadapi hal-hal berat. Bersabar berada di titik rendah ini sama beratnya dengan bertahan menuntut diri tetap berada di titik yang tinggi. Bersabar dalam penantian sama beratnya dengan bersabar di dalam sempitnya waktu, di tengah banyaknya tuntutan hidup. Ya Allah, vakum itu rasanya seperti ini. Kosong itu rasanya semenyiksa ini. Aku bertanya-tanya, di mana aku bisa menemukan isi, bagaimana caranya mengisi, dengan apa aku dapat mengisi?

Lebih mudah berjuang melakukan yang terbaik jika ada orang yang mengharapmu mencapai yang terbaik daripada jika tidak ada yang demikian. Aku bertarung melawan diriku sendiri untuk menemukan alasan mengapa aku harus tetap melakukan yang terbaik sementara tidak ada sesuatu di luar diriku yang mengharapkanku untuk sempurna. Aku bertarung melawan diriku sendiri untuk menemukan jawaban mengapa aku harus tetap menjadi diriku yang terbaik. Untuk apa? Mengapa aku harus menjadi yang terbaik? Demi kebaikan diriku sendiri? Apakah kebaikan bagi diri sendiri itu? Aku harus mencari semua jawaban itu sendiri tanpa dunia yang biasa mendikteku. Aku diberi kebebasan yang luar biasa, tapi aku justru kelimpungan di dalamnya karena aku belum punya jawabannya. Bagaimana aku menentukan sesuatu benar-benar dari, oleh dan untuk diriku sendiri?

Panjang waktu yang kubutuhkan untuk sampai pada jawaban. Aku tidak punya sesuatu yang konkret dan praktis sebagai bentuk kebaikan yang kuharapkan. Aku hanya berhasil menyimpulkan satu bahwa seluruh perjalanan kali ini benar-benar menuntutku untuk membangun suatu sikap hidup yang memungkinkanku tidak menjadi manusia yang pandang bulu, yang memungkinkanku tetap menjadi diriku di mana pun aku berada, apapun kondisinya, di titik tinggi maupun rendah.

Aku tidak pandai memberinya nama. Sederhana saja, ini tentang kemampuan menemukan nilai dari segala sesuatu. Inilah yang membuatku bertahan dan mampu mengalahkan diriku sendiri dalam pertarungan meredam egoisme manusiawiku yang selalu ingin berada di tempat yang menyenangkan, menguntungkan. Pada dasarnya, semua orang mengerti tentang apa itu “menghargai” dan mampu menghargai sesuatu karena mengenali nilainya. Aku hanya mengaktifkan itu kembali dalam hidupku dan sungguh-sungguh menggunakannya untuk menghadapi kehidupan.

Dan hari-hari berubah monumental karena aku mengusahakannya.

Bangun pagi, lalu mengajari adik membaca dan mengaji…

Membantu ibu, membersihkan rumah dan halaman, lalu mengantar adik berangkat sekolah…

Membantu ibu, mengurus pakaian, menikmati sarapan, menyimak berita dan sedikit halaman buku atau tulisan, lalu menjemput adik dari sekolah…

Mengawasi anak-anak kecil bermain, menemani menonton acara televisi, membacakan cerita, mengarang cerita…

Membaca apapun yang ingin dipahami, berlatih apapun yang ingin dikuasai, mengerjakan apapun yang ingin diselesaikan dengan sempurna…

Pergi berkaca dan tersenyum pada diri sendiri untuk yang terakhir kalinya pada satu hari, besok melihat matahari lagi…

Dan hari-hari berubah monumental karena aku mengusahakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s