I am Making Friend, Right?

Cerita ini berhasil dimuat ^^ di “Apa Kabar Sahabat Dumay-ku” *) kumpulan cerpen hasil lomba cerpen yang diadakan oleh “Bloof” atau Blog of Friendship. Aku masuk 10 besar. Katanya ada hadiahnya, tetapi… meskipun sampai hari ini belum juga sampai, aku senang karyaku bisa dimuat dalam buku ini. Ini pengalaman pertama. Kayaknya, aku tidak punya uang untuk beli buku terbitan Penerbit Indira-Jaya ini. Punyaku dimuat di halaman 28. Kalau teman-teman ada yang baca, cerita ya.

*) Apa Kabar Sahabat Dumay-ku:
Surabaya: Wangsa Indira Jaya, 2013. vi  + 207 hlm ; 13×19. Cetakan I, Maret 2013. Penulis  : Komunitas Bloof (Blogger) Editor  : Estin Putri Desain Sampul  : Arya Poetra Tata Letak : Ahmed Ghoseen A. Redaksi  : Seniman Langit Enterprise

I am Making Friend, Right?

 

Aku tidak separah kakak kelasku. Weblog-ku hanya satu, tetapi aku mencintainya.

***

            Aku sudah menulis selama dua tahun. Aku sendiri tidak yakin, bagaimana bisa? Aku cuma bertahan. Sepanjang aku dianugrahi ide, aku akan menulis dan terus menulis. Dan sepanjang aku belajar dan banyak tahu, aku akan selalu dianugrahi ide. Itu yang aku pegang.

Pada ulang tahunnya yang kedua itu, aku membuat tulisan khusus tentang weblog-ku. Aku mencermati peningkatan dan… bangga (!) Aku berhasil menulis lebih dari 100 tulisan dalam setahun dan berteman dengan lebih dari 100 teman sesama blogger.

Kau tahu rasanya? Orang-orang berkata tentang indahnya menjadi eksis. Rasanya, beginilah, ketika kau menulis dan kau tahu ada orang(-orang) di luar sana yang membacamu, sebagian memujimu, sebagian menyemangatimu atau memberi masukan. Sepanjang aku menulis, orang-orang itu akan ada.

Dan kau tahu rasanya menjalin sebuah hubungan, untuk memiliki orang(-orang) yang membacamu, sebagian memujimu, sebagian menyemangatimu atau memberi masukan? Aku, orang yang terlalu sering menatap langit, mulai menanti-nanti akan ada siapa malam ini, siapa akan berkata apa… Aku begitu bahagia.

Aku membayangkan diriku menjabat tangan banyak orang. (Just) click “add as friend” and send “friend invitation”, then it will (always) be accepted. Siapapun yang berkunjung selalu aku balas dengan kunjungan balik. Siapapun yang menyapa, akan aku sambut. Aku meyakinkan diriku, “Aku sedang berteman. Aku sedang berteman.”

 

            “Saranku, selain menulis jangan lupa berkunjung, agar pertemanannya jadi aktif. Tidak sekedar menjadi kontak.”

Sepanjang hari aku memikirkan satu komentar itu. Dan aku menuruti sarannya. Dia yang pertama kukunjungi setelah itu. Tulisnya:

“Aku berhenti jadi orang gampangan menerima undangan pertemanan,” tulisnya. “Selektif. Tidak bisa semua orang kujadikan teman. Kontakku sudah 700 orang, tapi yang jadi teman, benar-benar teman, jauh sepersepuluhnya. Jujur, siapapun pasti benci sama orang yang ‘egois’, yang tidak menunjukkan itikad baik, setidaknya untuk berinteraksi secara mutual. Berharap blog-nya dikunjungi, tapi dia sendiri malas berkunjung atau tidak pernah berkunjung sama sekali. Jadi, hari ini aku mengeliminasi banyak. Padahal, di inbox-ku masih ada 30 yang belum di-approve! Hahaha…”

Sebagian diriku hanya berkata betapa manusia adalah makhluk yang selalu ingin lebih dan dengan begini, tidak ada yang namanya “teman” dalam kontakku.

Aku pun berhenti mengirimkan undangan kosong. Sampai setengah tahun berikutnya, aku tahu tidak ada yang berubah kecuali tulisanku yang tetap kubuat.

Aku berhenti mengirimkan undangan. Betapa mayanya dunia ini. Lelah. Dalam kemayaan pun kita masih berharap lebih.

***

            “Apakah kamu orang yang aku kenal?” Suatu hari, muncul satu pesan setelah lama tidak pernah ada pesan. “Rasanya kamu salah satu user di situs X.com. Benar?” Aku memeriksa riwayat kunjungannya di blogku. Dia kontak lama yang tiba-tiba mengenalkan diri.

Aku tidak pernah mengalami ini, dihubungi pertama kali oleh seseorang. Benar, saran waktu itu aku terima. Aku tak mampu berbuat banyak, meskipun sedikit tapi pasti, aku belajar menjadi yang pertama membangun pertemanan dengan mereka yang menurutku bisa dijadikan teman. Sejauh ini, tak ada yang menghubungiku selain dia.

            What a kind man to be such open for stranger like me. Aku ingat etika berbincang-bincang di kali pertama “tanyakan nama, asal dan usia” dan mendapati dia tak jauh berbeda denganku, kecuali dia pria dan aku wanita. Apakah aku yang mudah percaya atau dia yang mudah mempercayai orang? Is it fine to be open too?

“Aku kira kamu temanku. Ternyata bukan.”

“Bukan. Aku memang pernah jadi member, tapi tidak aktif.”

“Wah, kebalikan. Aku malah jadi anggota aktif di sana. Pangkatku bukan newbie lagi.”

“Apa kamu mahasiswa?” tanyaku ingin tahu. Ketika orang enggan bicara usia, tanyakan kehidupannya dan simpulkan, bukan? “Aku mahasiswa.”

“Ya, mahasiswa. Aku semester 12.”

“Maaf, tapi benarkah semester 12? Kau belum lulus?”

“Benar.” Dan aku menangkap aroma bangga.

“Apa yang kamu kerjakan sampai bisa seperti itu?”

“Skripsi…” aku tidak yakin dia sungguh-sungguh dengan studinya, “organisasi, masalah, macam-macam, masalah, kerja, dan masalah lagi…” Dia memberikan nomor teleponnya, tetapi tidak pernah kusimpan atau balas kuberikan nomorku.

Benarkah kami hanya berkenalan dan berbincang-bincang? Karena kami membuat janji untuk bertemu lagi secara online. Tidak ada alasan yang spesial, hanya orang yang tertarik pada seseorang dan ingin mengenalnya, lalu dijadikan teman. Setelah cukup mengenalnya dan semakin yakin dia tanpa maksud jahat, entah bagaimana perbincangan ringan berubah menjadi percakapan yang lebih intens. Kalau ditanya siapa pria ini, aku bisa menjawab bahwa dia teman belajar dan diskusiku. Kami hanya dua orang yang tertarik dan menggeluti bidang ilmu yang sama. Dan aku selalu punya banyak pertanyaan… Hanya saja, salah satunya tidak bisa aku sampaikan. Why are you so caring and friendly?

Selalu ada janji untuk bertemu, setidaknya sampai hari di mana ia bertanya, “Seberapa besar kamu bergantung padaku untuk persoalan-persoalan ini?” Aku ingin menjawab, “Aku tidak sedang bergantung. Meskipun tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya, tapi kamu orang pertama yang begitu peduli dan terbuka. Jika aku merasa aman dan nyaman berbicara denganmu, apakah aku salah untuk menganggapmu lebih dari sekadar kenalan atau teman?” tapi tidak bisa. Dia akan tahu yang sebenarnya dan mungkin akan punya alasan untuk menjauhiku.

Apakah kau tahu perasaan semacam itu? Sekarang aku paham apa yang dikatakan orang tentang long distance relationship. Ketika kau tahu bahwa ada hal yang tak mungkin dicapai karena ada jarak sebagai penghalang yang nyata.

Aku pun berhenti mengirimkan surat.

***

            “Terima kasih atas sarannya yang waktu itu. Membuatku belajar tentang apa itu berteman,” kataku. “Omong-omong, aku baru tahu ada orang yang bisa punya 700 kontak.”

“Haha… aku juga tidak tahu mengapa aku begitu populer. Haha… aku narsis, ya?”

“Aku sebelumnya tidak sadar kalau ada orang akan merasa nyaman dengan diperlakukan secara mutual. Tapi, tidakkah capek untuk bersikap mutual pada 700 orang?”

“Benar, capek. Dan, sekarang aku tidak mengurusi hal-hal semacam itu lagi. Membuang-buang waktu dan tenaga. Masa menuntut yang seperti itu sudah lewat…”

Aku menceritakannya betapa aku ingin berteman dengan cara yang baik pada orang yang tepat. Dia pun merekomendasikan seorang temannya agar aku berteman dengan mereka. Kebetulan, orang itu satu kota denganku. Aku membayangkan acara kopi darat yang belum pernah sekalipun aku ikuti, meskipun sudah hampir tiga tahun menjadi blogger aktif.

 

            (Just) click “add as friend” and send “friend invitation”, then it will (always) be accepted. Bersamaan dengan itu aku mengirimkan pesan tertulis via personal inbox-nya. “Si X merekomendasikanmu untuk jadi temanku. Maukah kamu berteman denganku?”

Aku biasa berpikir bahwa pesan pengantar tidak akan dibalas dan orang tersebut cenderung akan menerima undangan pertemanan begitu saja. Tapi… ternyata tidak.

“Terima kasih sudah add aku. Kamu dapat rekomendasi dari dia, percaya saja kalo kita bisa jadi teman? Belum dialami sendiri, kan?” Aku melongo membaca responnya. “Menurutku teman itu melalui proses timbal balik. Tak kenal, tak sayang. Boleh kita berkontak, selama itu mendukung untuk proses saling mengenal, okay?”

Aku merasa etika “perkenalkan diri, nama, asal dan usia” tidak berguna di sini. Kenapa orang ini begitu menuntut di kali pertama? Aku merasa buruk. Ini buruk. Sekarang aku menyesal bahwa seharusnya aku tidak pernah membalas responnya.

“Memang belum dialami sendiri, tapi membangun kepercayaan dan proses mengalaminya bisa dimulai dari sapaan yang pertama dan melihat seperti apa responnya,” tulisku. “Memang belum dialami sendiri, tapi aku berpengharapan baik,” kataku melanjutkan.

“Aku bukannya tidak berpengharapan baik. Tapi memang mau netral, tidak mau memberikan petunjuk apa-apa.” Kenapa dia begitu sulit? Aku semakin merasa ini buruk. “Seumur hidupku, aku belum pernah menemukan orang jadi teman karena ‘kita berteman yuk’. Biasanya orang-orang yang jadi temanku adalah orang-orang yang memang mencoba mengenalku, terutama dari tulisan-tulisanku. Dan, kamu belum membaca satu pun tulisanku. Bagaimana mau berteman?”

Benar, ini buruk. “Terima kasih banyak,” itu kalimat terakhirku. Di hari yang sama di mana dia menerima undanganku, dia membatalkanku dari daftar “temannya”. Aku tidak berhasil mengundang satu orang untuk masuk ke dalam rumahku. Kenapa tidak memberiku kesempatan, sekalipun aku memang telah membuat kesalahan?

Siapa orang di dunia ini yang tidak tahu bahwa berteman itu proses timbal balik?

Aku mendesah, membaca kembali tulisan-tulisannya yang masih terasa begitu pedas, lalu melemparkan pandangan menuju langit biru… Apapun yang terjadi, tapi…

I am making friend, right?

***

            “Bagaimana rasanya berteman? Apakah kamu mengenal semua orang di daftar kontakmu?” tanyaku ingin tahu.

“Tidak. Tidak mungkin bisa. Kenal beberapa saja, kan memang tidak semua cocok dengan selera kita,” jawabnya ringan.

“Apa kamu berusaha mengenal mereka?”

“Tidak juga. Tergantung sebenarnya. Biasanya kenal itu karena butuh, seperti tulisannya bagus, orangnya track record-nya keren…”

“Berapa banyak jumlah orang dalam kontakmu?”

“Eh, tidak tahu. Aku tidak memperhatikan.”

“Kenapa?” tanyaku lebih jauh. Tapi…

“Eh, boleh tanya tidak?” potongnya tiba-tiba.

“Ya. Silakan,” jawabku.

“Kenapa kamu tanya-tanya terus? Kayak wawancara saja.”

“Memang. Aku sedang menyiapkan tulisan baru untuk dimuat di blog-ku. Aku mesti survei dulu.”

“Halah, serius sekali. Hahaha… Omong-omong, kamu siapa ya? Sorry, aku lupa. Sorry, sorry…”

Aku selalu ingat siapa dia, tetapi rupanya tidak dengannya. “Coba tebak, aku the psychologist. Pertama kali kita mengobrol, kita membicarakan peternakan kambingmu. Ingat?”

“O… iya, iya. Agak lupa sih. Tapi, sekarang sudah ingat! Ayo lanjutkan lagi! Asyik nih, diwawancara anak psikologi. Eh, judul tulisannya apa nih?”

“Rahasia. Nanti kalau sudah terbit, aku kasih tahu. Tapi, terima kasih banyak ya.”

“Sama-sama. Ini menyenangkan kok.”

“Sekali lagi, terima kasih banyak. Meskipun kamu lupa aku, aku tahu kamu sering baca tulisan-tulisanku. Semoga kita bisa jadi teman baik. It’s nice to meet you, to make friend with you.”

Me too. Nice to meet you too.”

***

            Aku tidak seperti banyak orang lain. Weblog-ku hanya satu, tetapi aku mencintainya. Aku tidak mencapai kepopuleran dalam hal apapun, tetapi aku memberikan yang terbaik. Teman baikku hanya beberapa, tetapi aku menyayangi mereka.

Sekalipun aku tidak sempurna dalam memahami dan memenuhi harapan mereka, bukankah aku berusaha?

Akan ada saat di mana kita bisa mencapai pengertian yang lebih baik sehingga dapat berteman dengan cara yang lebih baik. Sering, biarkan waktu memainkan perannya, bukan?

Aku berjalan dengan hati yang terasa ringan sambil menikmati langit biru.

 

Semarang, 17 Mei 2012

7 thoughts on “I am Making Friend, Right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s