Mengenang Prof. Dr. Zakiah Daradjat Tokoh Kementerian Agama dan Pelopor Psikologi Islam di Indonesia

Sumber: http://bimasislam.kemenag.go.id/informasi/artikel/624-mengenang-prof-dr-zakiah-daradjat-tokoh-kementerian-agama-dan-pelopor-psikologi-islam-di-indonesia-.html

Senin, 28 Januari 2013

Oleh M. Fuad Nasar, M.Sc

Umat Islam dan bangsa Indonesia patut bersyukur dan berterima kasih atas dedikasi keilmuwan, karya pemikiran, dan pengabdian tanpa pamrih tokoh wanita Islam Ibu Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat.

Tokoh bersahaja dan muslimah yang tekun itu telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa 15 Januari 2013, pukul 09.00 WIB dalam perawatan di Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam usia 83 tahun. Jenazah Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam “RUHAMA” itu dimakamkan di kompleks pemakaman UIN di Ciputat.

Dokter Jiwa Di Kementerian Agama

Zakiah Daradjat dilahirkan di Koto Marapak, Kecamatan Ampek Angkek, Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 6 November 1929. Menamatkan Sekolah Dasar (standaardschool) Muhammadiyah di kampung halamannya, Kulliyatul Muballighat Diniyah Puteri Padang Panjang, dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta (1951-1955).

Dari Yogyakarta, Zakiah mendapat kesempatan mengikuti pendidikan S2 dan S3 pada Ein Shams University, Faculty of Education Mental Hygiene Department, Cairo. Zakiah memperoleh Master dalam bidang Mental Hygiene tahun 1959 dan meraih gelar Ph.D tahun 1964 dengan disertasi yang telah diterbitkan menjadi buku berjudul “Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak”.

Setelah kembali ke Indonesia Zakiah Daradjat mengembangkan dan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. Pertama kali sebagai mahasiswa ikatan dinas yang telah selesai pendidikan, ia ditugaskan di Kementerian Agama. Zakiah diberi ruangan khusus untuk membuka praktik konsultasi psikologi bagi karyawan Kementerian Agama. Di masa itulah pertama kalinya Kementerian Agama mengenal dokter jiwa untuk membantu pegawai yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah pribadi, problema keluarga dan anak-anak remaja. Karena semakin banyak klien yang datang, bahkan dari kalangan bukan pegawai Kementerian Agama, pada 1965 Zakiah membuka praktik di rumah. Mula-mula dua kali seminggu, tetapi karena tidak tertampung, hingga menjadi enam hari dalam seminggu.

Di samping itu, ia mengajar sebagai dosen keliling pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN) dan beberapa IAIN lainnya. Pada 1 Oktober 1982, Zakiah dikukuhkan sebagai Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Bidang Ilmu Jiwa Agama. Zakiah Daradjat tidak hanya dikenal sebagai psikolog dan dosen, tetapi juga muballigh dan tokoh masyarakat. Sebagai pendidik dan Guru Besar Ilmu Jiwa Agama, ia setia di jalur profesinya hingga akhir hayat. Hingga usia senja, meski telah pensiun dari tugas kedinasan, Zakiah sebagai Guru Besar (emeritus) masih aktif mengajar di UIN Syarif Hidayatullah dan perguruan tinggi lain yang membutuhkan ilmunya. Profesor teladan yang tidak memilih-milih kelas, malahan sangat senang memberi ilmunya kepada para mahasiswa di program S1.

Disiplin ilmu yang dikuasai Zakiah sangat dibutuhkan dalam memecahkan persoalan kejiwaan, problema keluarga dan pendidikan anak yang dihadapi masyarakat Indonesia di zaman pancaroba. Zakiah Daradjat membuka praktik di kediamannya yang sederhana di Wisma Sejahtera, Jl. RS Fatmawati No 6, Cipete, Jakarta Selatan. ”Setiap hari, selama lima hari dalam sepekan, rata-rata saya menerima tiga hingga lima pasien, tanpa memandang apakah mereka dari golongan masyarakat mampu atau bukan. Seringkali saya tidak menerima bayaran apa-apa, karena memang tujuan saya untuk menolong sesama manusia.” tuturnya kepada wartawan Republika yang mewawancarainya tahun 1994.

Dalam perjalanan karir Zakiah Daradjat pernah menjabat Direktur Pendidikan Agama pada Kementerian Agama mulai 1972, dan tahun 1977 sebagai Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam. Pemikiran Zakiah Daradjat di bidang pendidikan agama banyak mempengaruhi wajah sistem pendidikan di Indonesia. Semasa menjabat direktur di Kementerian Agama, Zakiah  termasuk salah seorang yang membidani lahirnya kebijakan yang tertuang dalam SKB (Surat Keputusan Bersama) Tiga Menteri pada tahun 1975. Melalui SKB tiga menteri (Menteri Agama, Mendikbud dan Mendagri) yang lahir di masa kepemimpinan Menteri Agama Prof.Dr. H.A. Mukti Ali itu, Zakiah menginginkan peningkatan penghargaan terhadap status madrasah.

Demikian juga ketika menempati posisi sebagai Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, seperti dituturkan Prof. Dr. Azyumardi Azra, Zakiah Daradjat banyak melakukan sentuhan bagi pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam. Salah satu contoh, untuk mengatasi kekurangan guru bidang studi umum di madrasah-madrasah, Zakiah Daradjat membuka jurusan Tadris pada IAIN dan penyusunan master plan Perguruan Tinggi Agama Islam yang menjadi referensi bagi IAIN seluruh Indonesia. Melalui master plan atau Rencana Induk Pengembangan itulah Kementerian Agama dapat meyakinkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sehingga IAIN memperoleh anggaran yang relatif memadai.

Tokoh ilmuwan yang sangat peduli terhadap pembangunan nilai-nilai moral di Indonesia dan peranan wanita dalam pembangunan bangsa itu pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (Periode 1983-1988), anggota MPR-RI (Periode 1992-1997), dan anggota Dewan Riset Nasional. Zakiah Daradjat adalah perempuan pertama yang terpilih sebagai salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam periode kepengurusan dengan Ketua Umum almarhum KH Hasan Basri.

Suara sejuk Zakiah Daradjat akrab di telinga pendengar setia Kuliah Subuh RRI Jakarta sejak 1969 sampai dekade 2000-an. Ia kerap pula diminta mengisi siaran Mimbar Agama Islam TVRI Pusat Jakarta pada petang Kamis malam Jumat. Pada 19 Agustus 1999 Zakiah Daradjat memperoleh Bintang Jasa Maha Putera Utama dari Pemerintah RI.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat mengatakan, “UIN Jakarta kehilangan lagi dosen terbaik, Prof. Dr. Zakiah Daradjat pelopor psikologi Islam di Indonesia”. Sementara itu Wakil Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar mengenang, “Zakiah Daradjat adalah sosok yang bisa diterima semua kalangan. Bukan hanya di lingkungan Muhammadiyah, di Nahdlatul Ulama dan gerakan Islam lain juga menerima dengan baik. Sosok muslimah Asia Tenggara. Bisa jadi, Zakiah menjadi sosok muslimah yang sulit ditemui lagi. Sosok Zakiah Daradjat seperti sosok Hamka dalam versi muslimah. Indonesia kehilangan muslimah yang mungkin tidak ada lagi yang menyamai.”

Sekilas Pemikirannya

Zakiah Daradjat adalah penulis yang produktif. Ia mewariskan kekayaan kultural berupa buku-buku teks perguruan tinggi dan bacaan umum berjumlah sekitar 33 judul, di antaranya; Ilmu Jiwa Agama, Problema Remaja di Indonesia, Pendidikan Orang Dewasa, Kepribadian Guru, Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia, Menghadapi Masa Menopause, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Islam dan Kesehatan Mental, Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, Zakat Pembersih Harta dan Jiwa, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, Haji Ibadah Yang Unik, Doa Menunjang Semangat Hidup, Kesehatan Mental Dalam Keluarga, Remaja Harapan dan Tantangan dan lain-lain.

Di samping itu, Zakiah menterjemahkan puluhan buku berbahasa Arab dan Inggris mengenai ilmu jiwa dan pendidikan, seperti Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental (Prof. Dr. Abdul Azis El-Quussy), Anda dan Kemampuan Anda (Virgina Bailard), Dendam Anak-Anak (Prof. Dr. Mustafa Fahmi), Anak-Anak Yang Cemerlang (Prof. Dr. Paul Wetty), Bimbingan Pendidikan dan Pekerjaan (Prof. Dr. Attia Mahmoud Hana), dan beberapa judul lain yang merupakan sumbangan sangat besar bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Dalam buku Kesehatan Mental yang telah mengalami cetak ulang ke-23 tahun 2001, Zakiah Daradjat menulis bahwa yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Kesehatan mental pulalah yang menentukan apakah orang akan mempunyai kegairahan untuk hidup, atau akan pasif dan tidak bersemangat. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis atau apatis, karena ia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar dan menerima kegagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantinya. Pentingnya pendidikan agama sebagai wahana untuk membentuk kesehatan mental menjadi tema terpenting pemikiran Zakiah Daradjat.

Pendidikan dalam hubungannya dengan kesehatan mental, kata Zakiah, bukanlah hanya pendidikan yang disengaja, yang ditujukan kepada objek yang dididik, yaitu anak. Akan tetapi yang lebih penting adalah keadaan rumah tangga, keadaan jiwa ibu bapak, hubungan antara satu dengan lainnya, dan sikap jiwa mereka terhadap rumah tangga dan anak-anak. Segala persoalan orangtua, lanjut Zakiah, akan mempengaruhi si anak.

Kebanyakan anak nakal karena di rumah kurang mendapat kasih sayang orangtuanya. Karena itu, Zakiah mengaku selalu mengelus dada bila mendengarkan orangtua yang selalu menyalahkan anak-anaknya yang nakal.  ”Kita hanya tahunya mereka nakal. Tapi kita tidak mau tahu apa penyebabnya. Padahal para remaja yang kita anggap nakal dan tidak baik itu, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang menderita,” ujarnya.

Zakiah Daradjat memandang kebahagiaan hidup dalam rumah tangga adalah modal utama untuk dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan pada umumnya. Dalam buku Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga (1974), Zakiah menuturkan sebagai berikut, “Dari sekian banyak kasus keluarga, yang pernah datang kepada penulis untuk minta bantuan, agar keluarganya dapat diselamatkan, atau untuk minta pertimbangan terakhir sebelum mengambil keputusan drastis, dapat dikumpulkan beberapa kesimpulan dan pokok-pokok usaha, yang perlu dilakukan oleh suami-istri guna menyelamatkan keluarganya dari kekacauan. Menurutnya, beberapa persyaratan yang perlu diketahui dan dilakukan oleh setiap pasangan suami istri agar dapat tercapai kebahagiaan dan ketenteraman dalam keluarga, ialah saling mengerti, saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai.

Sebuah buku berjudul “Kebahagiaan” yang diterbitkan tahun 1988, memaparkan tinjauan Zakiah Daradjat tentang beberapa penyakit kejiwaan yang menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan, yaitu iri, dendam, cemas, dan stress. Pengendalian diri adalah kunci kebahagiaan. Berapa banyak rumah tangga yang dulu hidup rukun, tenang dan bahagia, berubah menjadi pecah berantakan, tegang dan bermusuhan, akibat tidak mampunya suami istri mengendalikan diri, tegasnya.

Salah satu cabang ilmu jiwa yang masih muda, Ilmu Jiwa Agama sampai sekarang masih belum mendapat tempat yang wajar. Masih banyak ahli ilmu jiwa yang tidak mengakui adanya satu cabang Ilmu Jiwa yang berdiri sendiri, yang meneliti secara ilmiah dan menyoroti masalah agama. Mengingat pentingnya peran Ilmu Jiwa Agama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan, Zakiah Daradjat secara konsisten dan tidak mengenal lelah merintis dan memperkenalkan cabang ilmu jiwa yang masih muda ini kepada publik Indonesia. Ia mengembangkan Ilmu Jiwa Agama atau disebut juga Ilmu Psikologi Islam melalui mata kuliah di perguruan tinggi, seminar, ceramah-ceramah, penataran, kursus-kursus, konsultasi, artikel dan puluhan buku yang ditulis dan  diterjemahkannya.

Menarik disimak Ibu Aisyah Amini dalam buku 70 Tahun Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1999) menulis, “Apa yang dilakukan Zakiah ini sangat besar artinya bagi kehidupan keluarga-keluarga di tanah air. Meskipun keluarga merupakan komponen kecil dalam struktur kenegaraan, tetapi memiliki peran yang signifikan dalam menciptakan dan mempersiapkan generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa. Andaikata jumlah orang yang mempunyai ilmu seperti Zakiah mampu mengamalkannya banyak, saya kira masalah-masalah seperti munculnya anak-anak yang menyimpang tingkah lakunya atau semacamnya tidak akan banyak terjadi seperti yang sering kita saksikan di masa sekarang. Ilmu yang dimiliki Zakiah itu adalah obat yang sangat mujarab. Namun sayang apa yang dimiliki Zakiah tidak cukup luas dikuasai oleh anggota-anggota masyarakat.”

Umur biologis Ibu Zakiah Daradjat telah berhenti di angka 83 tahun, tapi umur historis tidak berakhir. Ia meninggalkan buku-buku text perguruan tinggi dan bacaan umum yang memberi pencerahan kepada publik. Ribuan mahasiswa atau anak didik pernah menimba ilmu kepadanya. Tidak terhitung nasehat-nasehat berharga yang diberikannya kepada orang yang berkonsultasi. Semua amal jariyah itu, baik materi maupun non-materi, menjadi bekal yang akan selalu menemani almarhumah hingga ke akhirat nanti.

3 thoughts on “Mengenang Prof. Dr. Zakiah Daradjat Tokoh Kementerian Agama dan Pelopor Psikologi Islam di Indonesia

  1. aslkm..mohon jika masih ada buku beliau yg berjudul ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga..saya sudah mencari tapi tadk dapat,..mohon bantuan tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s