Jurnal Predator dan Self-Plagiarism

Lagi, tentang tulisan ilmiah. Suka!

Sepuluh hari terakhir ini, KOMPAS menurunkan artikel-artikel yang menarik untuk disimak, terutama bagi mereka yang punya passion di bidang saintifik. Pertama, “Jurnal Predator!” dimuat dalam rubrik OPINI tanggal 2 April 2013, hal. 6, ditulis oleh Terry Mart, pengajar di Departemen Fisika FMIPA UI. Kedua, “Self-Plagiarism atau Auto-Plagiat”, dimuat dalam rubrik PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN tanggal 9 April 2013, hal. 12, ditulis oleh Muhadjir Effendy, Dosen Universitas Negeri Malang; Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Ringkasannya akan kutulis untuk teman-teman di sini.

***

Sebagai orang yang baru saja selesai jadi mahasiswa dan baru saja mengenal dunia penelitian, yang juga baru aku tahu yang soal meneliti dan meneliti. Satu hal yang kemudian aku camkan pada diriku sendiri adalah bahwa aku masih harus terus belajar, pertama tentang moral seorang pekerja ilmu pengetahuan dan kedua tentang ilmu, harus dikemanakan ia setelah diperoleh? Terkait soal “ke mana” ini, salah satu muara bagi hasil penelitian kita adalah jurnal ilmiah. Dari sinilah keberadaan jurnal predator menjadi masalah. Terkait soal “moral ilmuwan”, plagiarisme adalah masalah selanjutnya, tetapi self-plagiarism adalah fenomena yang masih diperdebatkan bermasalah atau tidaknya.

1# Jurnal Predator

Polosnya aku… kukira semua jurnal itu baik. Di belantara ilmu pengetahuan, ternyata ada juga jurnal predator, istilah bagi jurnal yang diterbitkan demi tujuan bisnis; menghasilkan uang bagi si pembuat jurnal.

Disebutkan oleh Terry Mart dan menurut hasil penelitian Jeffret Beall (seorang pustakawan dari Universitas Colorado, AS),  beberapa ciri-ciri jurnal prodator ini:  menetapkan biaya pemuatan per makalah ratusan hingga ribuan dolar AS (mahal!),  bersifat open-access, hanya tersedia versi online/ tidak ada versi cetaknya. “Kalaupun ada, hanya versi cetak lepas (reprint) yang tentu saja sangat mudah dicetak dengan printer masa kini.”

Keberadaan jurnal predator adalah skandal dalam dunia ilmu pengetahuan dan bisa jadi, merupakan masalah besar di negara berkembang. “… hal ini seperti gayung bersambut karena ilmuwan negara berkembang sangat membutuhkan aktualisasi diri melalui jurnal-jurnal dengan ‘cap internasional’. Semua itu untuk meraih hibah penelitian atau jabatan yang lebih tinggi meski harus membayar mahal. Jadilah simbiosis yang menguntungkan.”

“Sebenarnya tidak ada masalah jika makalah yang masuk benar-benar diperiksa juri (reviewer) yang mumpuni, sebidang, dan menggunakan standar ilmiah internasional. Kenyataannya, hampir semua jurnal ini menjamin makalah pasti diterima asal (si peneliti bersedia) membayar. Di sini skandal ilmiah itu dimulai.”

Karena jurnal tersebut tidak bekerja dengan standard yang seharusnya, tidak ada yang bisa mempertanggungjawabkan kualitas artikel penelitian atau makalah yang dimuatnya. Pendirinya bisa saja seseorang yang hanya mengerti teknologi informasi, bukan akademisi. Ia mengatur segalanya seperti sungguh-sungguh, mulai dari tampilan situsnya yang menarik, mengendalikan makalah-makalah yang masuk, proses penjurian dan penerbitan. “…prinsip pendirian jurnal predator adalah (1) membuat situs, (2) mengirim email spam ke para ilmuwan, (3) dan setelah itu tinggal berleha-leha menunggu konsumen datang.”

Untuk persialan mencari penulis makalah, juri dan dewan editor, “Mereka mengirimkan email spam ke ilmuwan-ilmuwan untuk mengisi.” Untuk mengelabui konsumen, mereka menggunakan alamat kantor palsu. “… hampir semua dikendalikan dari India, Pakistan, serta negara-negara di Afrika meski ada alamat surat di Amerika, Kanada, atau Eropa…” Alamat daratnya sulit ditemukan dan bila diperiksa menyasar ke tempat-tempat yang tidak ilmiah dan editornya hanya dapat dihubungi via email atau situs internet. “Banyak juga jurnal predator yang judulnya dimulai dengan ‘American Journal of’ atau ‘Canadian Journal of’ semata-mata untuk menunjukkan bahwa jurnal tersebut merupakan produk Amerika atau Kanada.”

Menurut Terry Mart, keberadaan jurnal predator ini sangat merugikan. Pertama,  bagi kemajuan dunia ilmu pengetahuan Indonesia, “Makalah-makalah ilmiah yang potensial untuk diterbitkan jurnal nasional terserap oleh jurnal predator gara-gara ada embel-embel internasionalnya. Padahal, dalam banyak hal, jurnal nasional kita (Indonesia) jauh lebih baik dibandingkan jurnal predator.” Kedua, jurnal predator ini sangat komersil. “Untuk memasukkan (makalah) harus membayar, dan untuk menarik makalah juga harus membayar…” dan itu tidak murah.

Jika ada di antara teman-teman yang menjadi ilmuwan atau nanti menjadi ilmuwan, sebaiknya kita semua menghindar dari jurnal-jurnal semacam ini. Ada banyak jalan untuk mengaktualisasikan diri, seperti dengan memanfaatkan jurnal komunitas ilmu masing-masing. Bagiku sendiri, jika bisa menulis dan tulisan itu diakui secara internasional itu baik. Tapi, jika demi ambisi (pengakuan, jabatan, atau materi) kita mengagung-agungkan ‘cap internasional’ dan jadi melakukan apa saja demi ‘cap internasional’ itu, bukankah itu berarti kita sedang membohongi diri sendiri? Kita sedang teralihkan dari tujuan kita yang sebenarnya sebagai pekerja ilmu pengetahuan.

Di akhir tulisannya, Terry Mart mengingatkan lagi para ilmuwan agar memahami betul hakikat makalah ilmiah bahwa “Seberkas makalah ilmiah tidak lebih dari laporan hasil penelitian yang ditulis dalam format tertentu untuk dibaca para peneliti lain yang mengerti atau berkepentingan dengan hasil penelitian tersebut.” Baginya, ini adalah cara ampuh menghadapi jurnal predator, dan bagiku yang beruntung membaca tulisannya, ini membuka wawasan baru tentang hal-hal yang ideal bagi hidup seorang ilmuwan.

***

2# Self-Plagiarism

Plagiarisme adalah masalah kronis lain dalam dunia ilmu pengetahuan. Kita mahasiswa atau mantan mahasiswa sedikit banyak, karena belum tahu, pasti pernah melakukan plagiasi. Namun anehnya, entah mengapa, ini pengalamanku sendiri selama menjadi mahasiswa, aku tidak pernah diberi tahu perihal plagiarisme yang sebenarnya, sementara tugas membuat makalah ada hampir sepanjang tahun dan berakhir pada skripsi. Tidak pernah ada sosialisasi yang sungguh-sungguh tentang apa itu plagiarisme, indikator melakukan plagiat dan apa sanksinya, padahal masalah ini telah diatur dalam peraturan menteri.

Beberapa hal yang penting diketahui tentang plagiarisme. Plagiat didefiniskan sebagai “Perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah orang lain yang diakuinya sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. … praktik plagiat mencakup sesuatu yang dibuat, diterbitkan, dipresentasikan, ataupun dimuat.”

Plagiarisme akhirnya jelas, tetapi kemudian muncul masalah lain yang tidak banyak diketahui orang, yaitu tentang self-plagiarism atau istilah lainnya auto-plagiat, yaitu: “… pemakaian lagi karya sendiri secara signifikan, identik, atau mendekati identik, tanpa memberi tahu tindakan itu atau tanpa merujuk pada karya aslinya.”

Dalam self-plagiarism, memang tidak ada orang atau pihak lain yang dicurangi karena yang dipakai itu karya sendiri dan meskipun ada unsur ketidakjujuran, tindakan itu bukan pencurian intelektual. Tapi, terkadang tindakan yang semacam itu dapat dikategorikan sebagai pelanggaran etika yang serius jika ada unsur curang. “Misalnya, pengulangan karya yang hak ciptanya sudah milik pihak lain, mahasiswa yang menggunakan karya ilmiahnya untuk memenuhi tugas pada lebih dari satu mata kuliah, atau pemakaian ulang karya ilmiahnya untuk tugas akhir yang mensyaratkan orisinalitas (skripsi, tesis atau disertasi). Bagi dosen, bila menggunakan karya ilmiahnya (lagi) untuk usulan kenaikan pangkat, padahal karya itu telah digunakan untuk maksud sama.”

Tapi, apakah dengan begitu semua pengulangan karya dianggap pelanggaran, sekalipun hanya sedikit dan jika pengulangan itu tidak dilakukan penyebarluasan ilmu pengetahuan dapat terhambat? Inilah yang sedang diusahakan untuk diatur agar semua orang punya acuan pasti. Meskipun demikian, ada beberapa alasan yang perlu kita pahami kapan pengulangan publikasi karya ilmiah boleh dilakukan.

Menurut Pamela Samuelson (profesor ilmu hukum dan informasi dari Universitas California), seperti yang dikutip si penulis artikel, Muhadjir Effendi, “… pengulangan publikasi karya ilmiah diperbolehkan apabila: (1) karya ilmiah itu perlu dikemukakan lagi sebagai landasan karya ilmiah berikutnya; (2) bagian dari karya ilmiah terdahulu itu terkait bukti dan alasan baru pada karya berikutnya; (3) sasaran yang dituju publikasi karya ilmiah itu beragam karena sifatnya yang multidisiplin, sehingga publikasi di media yang berbeda diperlukan untuk menjangkau komunitas multidisiplin.”

***

Selesai. Memang, seorang ilmuwan itu perlu memiliki niat yang lurus, tidak materialistis dan mendewakan pangkat atau jabatan, mau bekerja keras untuk melakukan penelitian dan menghasilkan tulisan yang berkualitas, dan memegang teguh prinsip moral dan etika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s