Reaching Dream Bag. 5: Vita 43 Lembar

Diriku yang suka bermimpi, aku tidak pernah meragukannya. Meskipun sampai hari ini masih banyak yang belum menjadi kenyataan, aku baik-baik saja. Bicara tentang hidup, masa depan itu misteri. Sering, harapan itu terwujud tidak dalam bilangan bulan atau tahun, tetapi puluhan tahun lagi. Aku berdoa agar diberi Allah umur panjang yang penuh berkah dan diberi kemampuan untuk bekerja keras dan bersabar.

Bicara tentang mimpi, selalu ada referensi dalam hidup kita atas mimpi-mimpi kita. Apa yang kita lihat, kita dengar, kita baca, atau kita saksikan, apa yang kemudian kita yakini, kita pahami, dan kita terima mempengaruhi apa mimpi kita. Mimpi itu menjadi tujuan, memberi orientasi bagi hidup kita. Yang paling konkret, mimpi itu bahkan menentukan tindakan-tindakan kita, apa kesukaan kita, bagaimana kita mengisi waktu luang, apa yang kita beli, apa yang kita dukung dan bicarakan dengan orang lain.

Aku sering bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Aku kemudian berpikir bahwa itu begitu karena mimpi berakar pada diri sendiri, eksistensinya sebagai manusia, yang jika itu dicabut, rasanya habis sudah. Ide-ide macam kebahagiaan dan makna hidup bermain dalam setiap mimpi kita karena ini menyangkut hal-hal terbesar yang kita ingin lakukan dalam hidup, yang tersulit untuk diwujudkan. Karena sulit itu, setiap hari jadi selalu ada alasan untuk hidup dengan baik.

Syukurlah manusia tidak hanya punya masa lalu dan masa kini dalam hidupnya.

***

Dua bulan terakhir ini terasa berbeda. Semangat yang hilang itu, muncul dan berkobar-kobar lagi. Sekolah yang ingin aku masuki untuk program magister sainsnya akhirnya membuka pintu pendaftarannya! Untuk melengkapi sebagian syaratnya, aku datang ke kampus untuk mendapatkan dua surat rekomendasi. Aku tidak mempercayai keberuntunganku ketika aku ditawarkan untuk membantu mengerjakan penelitian. Karena itu, sejak saat itu, aku membuka internet lagi untuk suatu aktivitas yang sejak skripsiku selesai tidak pernah aku lakukan lagi. Mencari buku dan jurnal. Kalau memang sudah jadi minat, semua jadi begitu menyenangkan. Perasaan senang dan bersemangat yang lama tidak dirasakan, aku alami lagi. Aku di hadapan ilmu pengetahuan selalu seperti itu. Kalau ada hal-hal baru yang bisa aku ketahui, aku selalu seperti itu.

Selama aku mencari, aku mampir ke sebuah situs milik tim peneliti dari sebuah universitas. Bagiku, itu luar biasa karena aku belum pernah melihat yang seperti itu di Indonesia, khususnya di bidang psikologi. Sebabnya singkat, karena belum ada, belum ada karena belum bisa ada yang seperti itu di lingkunganku.

Ceritanya adalah tentang sebuah laboratorium penelitian psikologi. Laboratorium itu dikepalai oleh seorang direktur, seorang profesor wanita yang usianya akan  70 tahun tiga tahun lagi. Ia membawahi beberapa anak buah dan berkolaborasi dengan beberapa doktor dalam penelitian-penelitiannya. Di laman itu, aku melihat sebuah link, Dr. X’s vita. Ketika kubuka, tanpa aku inginkan isinya terunduh. Aku tidak berpikir itu apa, aku tidak merasa tertarik. Karena ingin tahu saja, akhirnya aku buka file tersebut. Sebuah vita. Curricullum Vitae. Aku masih tidak berpikir itu apa sampai aku cek berapa halaman sih dokumen itu dan aku terbelalak. Empat-puluh-tiga halaman! Lho, ada ya orang yang seperti itu di dunia ini?! Bagiku, itu luar biasa karena aku belum pernah melihat yang seperti itu di Indonesia, khususnya di bidang psikologi.

Aku tidak kenal siapa profesor ini, tetapi kemudian aku membayangkan dia seperti ini:

Lahir tahun 1946. Ia, sama seperti semua orang yang pernah menjadi mahasiswa, memulai dari nol. Ia pernah berusia 17 atau 18 tahun dan sama seperti banyak orang lainnya, berjuang untuk masuk perguruan tinggi. Aku tidak pernah tahu bagaimana hidupnya selama menjadi mahasiswa, pelan-pelan memenuhi dirinya dengan psikologi.

Ia lulus, mungkin, lima tahun kemudian. Tercatat tahun 1968. Ia mendapatkan penghargaan. Magna cum laude. Ia kemudian melanjutkan sekolah, dipekerjakan di kampusnya untuk mengajar, dan lagi-lagi aku tidak tahu apa yang dialaminya selama masa empat tahun berikutnya. Pada tahun 1972 ia sudah meraih gelar Ph.D dari sebuah universitas ternama. Di sekolahnya yang kedua itulah, sampai tahun 1977  ia menjadi assistant professor. Ia lalu naik tingkat lagi menjadi associate professor sampai tahun 1981.

Ia naik tingkat lagi. Pangkat profesor dijalaninya selama hampir 25 tahun sejak usianya kurang lebih 35 tahun. Sejak tahun 2005, ia kembali naik tingkat, bukan lagi seorang profesor, melainkan distinguished professor. Gelar itu diberikan sebagai penghormatan atas kontribusinya yang luar biasa sebagai seorang pengajar juga seorang peneliti selama karier akademiknya. Ia menerima banyak sekali penghargaan, mengajar di berbagai universitas sebagai dosen undangan, beberapa kali menduduki posisi kepemimpinan dan menjadi konsultan, anggota dewan penasihat berbagai komite, kepanitiaan, reviewer dan editor jurnal ilmiah, dan anggota dari banyak organisasi profesional, serta menerima hibah-hibah penelitian.

Riwayat penelitiannya dimulai tahun 1967. Penelitian pertamanya dimuat di sebuah jurnal fakultasnya. Subjeknya mahasiswa, topiknya juga tentang kehidupan mahasiswa, tentang evaluasi mahasiswi terhadap teman-teman sesama mahasiswi, hubungannya dengan kongruensi intelektual dan motif peran sosial.

Penelitiannya selanjutnya adalah empat tahun berikutnya di sekolah pascasarjana. Hanya ada tiga. Dua dimuat di jurnal nasional, satu dipresentasikan di pertemuan ilmiah. Penelitian berikutnya hanya satu, disertasinya.

Selama menjadi assistant professor, setiap tahun terpublikasikan satu sampai tiga laporan penelitiannya. Namun, dua tahun menjelang kenaikan pangkatnya sebagai associate professor tercatat banyak sekali karya yang dipublikasikannya, sampai 12 buah; sepertiga adalah artikel penelitian dalam jurnal, sepertiga makalah dalam temu ilmiah, sepertiga adalah buku. Berikutnya, grafik karnya meningkat dan konstan, lima sampai tujuh publikasi selama satu tahunnya. Setelah menjadi profesor penuh, setiap tahunnya ia mempublikasikan delapan sampai 20-an tulisan ilmiah. Lebih banyak penelitian dan lebih banyak buku. Minatnya pun berkembang, yang awalnya hanya psikologi sosial, ia pun memasuki dunia psikologi positif dan psikologi kesehatan dan menulis buku text untuk bidang-bidang tersebut. Di beberapa tahun terakhir ini, daripada meneliti ia akhirnya labih banyak menulis buku, menulis handbook, dan merevisi karya-karyanya yang telah lalu.

Aku tidak berhasil menghitung berapa jumlah karyanya secara pasti. Lebih dari 400 publikasi. Mulai dari bekerja sendirian, lalu dua orang dengan seorang temannya, lalu bertiga, sampai dengan berbanyak orang, lintas generasi, lintas etnik, dan negara. Ia pernah menjadi anak buah, ia juga pernah menjadi ketua tim peneliti. Ia melakukan banyak hal, tetapi semua dimulai dari nol dan bermula dari satu langkah pertama yang tidak pernah berhenti sampai hari ini. Ia kini melakukan banyak hal, tetapi semua dimulai dari satu minat yang difokusinya, yang berkembang dan terus berkembang sampai ia kemudian menjadi ahli di lebih banyak bidang. Ia kini melatih banyak asisten-asisten penelitian, peneliti-peneliti muda, tapi dulu ia juga pernah muda dan tidak tahu apa-apa tentang penelitian.

Semua itu terjadi dalam waktu hampir 50 tahun kehidupannya. Kalau aku bertanya padanya, apa mimpinya dulu ketika ia berusia 23 tahun, apa jawabnya, ya? Ia tentu orang yang tidak mudah merasa cukup, bukan? Ia tentu juga mati-matian menjaga integritas dirinya sebagai ilmuwan, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s