To Deal with The Troublesome One

Ubah Cara Pandang tentang Mereka

Kalian tahu, bahwa jika ia tersenyum, senyumnya sama indahnya seperti senyum anak-anak lain? Perilakunya yang terkadang mengesalkan, misal karena ia berbuat hal yang kalian pikir itu “nakal”, tidak cukup untuk menjadikannya pantas dipanggil “si pembuat onar”. Ia nakal karena kalian pikir ia nakal. Coba pikirkan yang lain tentang mereka.

Ketika dia bermain sepeda kebut-kebutan. “Oh… dia anak yang berani!” Berarti, ini waktunya ia belajar tentang kehati-hatian.

Ketika dia bermain terus-terusan dan enggan belajar atau mengaji. “Oh… dia anak yang energetik, lincah dan antusias!” Berarti, ini waktunya ia belajar tentang membagi waktu.

Ketika dia mandi dan tidak mau keluar dari baknya (main air), atau bermain di halaman dan berlumuran lumpur. “Oh… dia suka sains!” Berarti, ini waktunya ia belajar tentang apa fungsi dan bagaimana memanfaatkan alam.

Ketika dia berebut mainan dan membuat temannya menangis. “Oh… dia anak yang punya keinginan besar!” Berarti, ini waktunya dia belajar mendengarkan, bekerja sama, dan berbagi dengan orang lain.

Ketika dia memecahkan piring. “Oh… dia terlalu bersemangat!” Berarti, ini waktunya dia belajar menghargai benda dan mengendalikan tangannya.

Ketika dia mengacak-acak pekerjaan kita, entah di dapur atau di ruang kerja. “Oh… dia sangat ingin tahu!” Berarti, ini waktunya dia belajar untuk tahu dan terampil.

Ketika dia menangis tak henti-hentinya. “Oh… dia sangat jujur akan perasaannya!” Berarti, ini caranya dia belajar untuk mengelola emosi dan menghadapi rasa sakit.

Anak-anak juga sama seperti orang dewasa. Mereka belajar banyak dari kesalahan. Jika orang dewasa sering tidak mau disalahkan atas kesalahan mereka, bagaimana bisa anak-anak mau? Anak-anak sangat tidak senang jika disudutkan, dipersalahkan, ditunjuk-tunjuk… Jika sebagian memilih menangis, ada sebagian dari mereka yang memilih mengamuk untuk meluapkan ketidaksenangannya.

Tapi, semua mungkin akan berbeda jika kita mengubah cara pandang kita dalam memahami perilaku mereka yang menurut kita bermasalah. Sepanjang kita tidak mempermasalahkan itu dan justru memanfaatkan peristiwa yang terjadi sebagai momen untuk belajar bagi anak, tidak akan ada tangis atau amukan. Tidak akan ada orangtua yang berteriak-teriak.

Miliki Pandangan yang Baik tentang Mereka

Salah satu buku terbaik yang pernah aku baca adalah Botchan, karya Natsume Soseki. Tentang seorang anak yang tumbuh menjadi pria dewasa yang baik. Di masa kecilnya, ketika semua orang menyebutnya nakal dan membencinya, ada satu orang, pelayan di rumahnya, yang berbuat yang sebaliknya; memanggilnya anak baik.

Dampak dari labeling pada diri seseorang sungguh luar biasa. Manusia punya kecenderungan untuk mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya. Jika kita mengatai seorang anak “nakal”, akan muncul energi dalam dirinya untuk sekuat tenaga menjadi nakal untuk kita, demi “memuaskan” kita. Orang yang selalu dikatai “bodoh”, akan merasa bahwa berusaha menjadi pintar itu buang-buang energi karena tidak ada orang yang mengakuinya seperti itu.

Manusia punya kemampuan untuk menginternalisasikan apa-apa yang diharapkan orang atas dirinya. Kalau kita ingin seorang anak menjadi baik, sebaiknya kita tidak berkata, “Nakal! Jangan main tanah lagi! Jangan main kotor-kotor! Berhenti!” ketika dia berbuat salah, melainkan: 1) lihat kesalahannya apa terlebih dahulu dan 2) pikirkan apa yang seharusnya, lalu 3) katakan yang sebaiknya, misal: “Adik, kalau bermain tanah seperti itu, kamu bisa cacingan/gatal-gatal. Boleh setelah ini kita mandi sampai bersih? Mainnya lima menit lagi setelah itu berhenti ya…”

Ketika kita memiliki pandangan yang baik tentang anak-anak yang “nakal”, semua itu akan tampak lewat perilaku kita yang tidak ofensif. Kita memberikan rasa aman, yang membuat anak merasa ia tidak butuh defensi. Ia akan mendengarkan kita karena kita “mendengarkan” dia, memahami apa yang diinginkannya dari membaca apa yang dilakukannya, apa yang dirasakannya, kesenangan-kesenangannya. Jika rasa aman ini terpelihara, anak akan mau mendengarkan nasihat apapun itu karena ia tahu, ia tidak akan dirugikan oleh kita.

Kuasai Kemampuan Persuasi dan Kompromi

Menjadi orangtua/orang dewasa yang baik butuh lebih banyak otak daripada otot untuk meminimalisir dampak konflik, misalnya konflik keinginan; untuk menjaga hati setiap anak agar tidak terluka. Manusia diberi Allah kemampuan berbahasa, “pandai berbicara” (QS Ar-Rahman (55): 4), tentu salah satunya demi tujuan ini. Lewat komunikasi, manusia mempersuasi manusia lain atau membuat kompromi dan negosiasi untuk menemukan jalan keluar dari masalah. Penting saling mengerti keinginan satu sama lain.

Sebaiknya, hindarkan kekerasan, entah itu kekerasan fisik atau verbal yang melukai hati anak, jika itu menyangkut pelajaran hal-hal yang baik dan penting bagi kehidupan. Jika kita mengedepankan kekerasan, anak jadi tidak mengerti apa yang benar sebenarnya, menuruti kemauan kita untuk menghentikan kita dari melukai dirinya, atau menuruti kemauan kita demi tujuan yang baik itu. Lewat komunikasi/ bicara kita bisa menyampaikan banyak hal; hal-hal di balik suatu perintah dan larangan. Dan lagi, penting untuk membiasakan anak tahu apa tujuan atau alasan dari setiap hal yang harus dilakukannya. Jika tujuan itu secara masuk akal menguntungkan baginya, anak cenderung akan terus melakukannya. Jika motifnya mengada-ada, ketika ia sudah bisa berpikir logis nanti, jika ia tidak bisa menemukan rasionalisasinya, ia akan berhenti berbuat.

***

PS: Tulisan ini adalah “laporan” apa pelajaran yang kudapat dari berinteraksi dengan adik kecilku dan teman-temannya selama beberapa bulan terakhir😀 Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s