Hati-hati dengan Disfungsi Keluarga

Sekarang rasanya semakin mengerti mengapa Islam sedemikian rupa mengatur kehidupan berkeluarga manusia; mulai dari perintah menikah, kewajiban dan hak, peran dan tanggung jawab anggota keluarga, ayah, ibu dan anak, serta hukum-hukum lainnya. Aku bukan orang yang tahu banyak, tetapi belajar mengenai fenomena keluarga disfungsional membuatku demikian. Keluarga diposisikan sedemikian mulianya sebagai bata utama pembangunan masyarakat, makanya ia tidak boleh hancur atau menjadi disfungsional; gagal menjalankan fungsinya. Agama menjadi benteng utama keluarga dalam memerangi disfungsionalitas, sama seperti bagaimana ia menjadi benteng manusia menghadapi pengaruh atau peristiwa hidup negatif.

***

Keluarga yang disfungsional adalah akar dari banyak permasalahan dan penderitaan hidup manusia. Keluarga adalah tempat utama dan pertama bagi manusia untuk berkembang. Kegagalannya berfungsi memberikan pengaruh-pengaruh positif bagi manusia menjadi penyebab dari berbagai masalah (kesehatan, psikis, dan sosial) di masa manusia itu tumbuh dewasa. Keluarga disfungsional merupakan masalah yang serius mengingat sesungguhnya masalah sosial disebabkan oleh keberadaan orang-orang (dewasa/ orangtua) yang tidak sehat jiwanya dalam keluarga, yang karenanya gagal menjalankan fungsi pemeliharaan, perlindungan dan pembimbing bagi anak-anaknya. Keluarga disfungsional pun memediasi munculnya beragam masalah sosial di masyarakat, contohnya kriminalitas, anak terlantar, remaja bermasalah perilaku, dan sebagainya.

Definisi dan Karakteristik

Keluarga disfungsional mengacu pada “pola keluarga yang secara umum diasosiasikan dengan rendahnya tingkat kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan pengaruh-pengaruh positif jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga lainya” (Parillo, 2008), dicirikan di antaranya dengan adanya:

Pertama, adanya kekerasan emosional, fisik, atau seksual dan penelantaran dalam rumahtangga dari orangtua terhadap anak (child abuse) atau kekerasan antarpasangan (spouse abuse), yang mana itu melukai jiwa dan fisik si penderita dan menjadikan keluarga sebagai lingkungan tempat tinggal yang mengancam bagi anak.

Kedua, adanya penyalahgunaan narkoba dan alkohol yang kronis. Adanya penggunaan narkoba dan alkohol berdampak pada tingginya kekerasan dalam keluarga dan rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.

Ketiga, adanya kondisi-kondisi tertentu yang menjadikan anggota keluarga (orangtua) sulit memenuhi tanggung jawabnya terhadap anak, seperti:

1) Kemiskinan yang kronis, yang tidak memberikan individu kesempatan ekonomi yang memadai untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, pendidikan yang cukup, dan harapan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

2) Terkait dengan kondisi miskin tersebut, anggota keluarga menjadi sangat rentan. Mereka hampir tidak memiliki rencana untuk masa depan, melakukan tindak kriminal (untuk mendapatkan penghidupan), menganggur, dan hidup menggelandang.

3) Mengalami sakit keras atau menderita gangguan mental (depresi atau stres) sehingga anak terpaksa mengambil alih tugas orangtua dan kehilangan masa kanak-kanaknya.

4) Pola pengasuhan anak yang buruk dari orangtua. Tak pandang latar belakang status sosial ekonominya, mereka adalah orangtua yang buruk, toxic parents (Forward, 1989), yang pola perilaku negatifnya konsisten dan mendominasi kehidupan anak. Mereka mencelakakan, menyakiti, menjahati anak mereka sendiri, menimbulkan luka fisik maupun psikis yang membuat anak trauma. Mereka tidak menjalankan kewajiban mereka sebagai pemelihara, pelindung dan pembimbing, menjadikan anak orangtua bagi orangtua mereka, menjadi orangtua bagi diri mereka sendiri, tanpa ada sosok yang dapat diteladani, pantas dilihat dan dijadikan sumber belajar. Mereka melakukan kekerasan fisik, seksual, maupun verbal/emosional pada anak-anak mereka sendiri.

Dampak, Skenario Terburuk

Keluarga disfungsional termasuk masalah sosial karena dua hal, yaitu dampak negatif yang dimunculkannya: Pertama, keluarga yang disfungsional mengakibatkan anggota di dalamnya mengalami penderitaan, kesakitan, dan kesulitan lataran karakteristik dasar keluarga yang buruk. Kedua, keluarga yang disfungsional menurunkan pola-pola kehidupan yang juga disfungsional kepada anak cucu keturunannya selanjutnya lewat proses yang dinamakan transmisi intergenerasi. Tanpa adanya kekuatan pribadi untuk menjalani kehidupan yang baik dan dukungan sosial (dari luar keluarga), lingkaran setan keluarga disfungsional ini akan bertahan dari masa ke masa, diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Keluarga adalah tempat pertama dan utama anak belajar hal-hal yang baik, tetapi juga dapat menjadi tempat untuk belajar hal-hal yang buruk dan pengaruhnya dapat sangat mengakar karena keberadaan model hidup dan kebiasaan-kebiasaan perilaku yang negatif. Secara psikologis, pengasuhan yang buruk mempengaruhi kepribadian anak. Mereka yang menjadi korban sering memiliki penghargaan diri yang rendah, konsep diri yang negatif, kepercayaan diri yang rendah, prestasi belajar yang buruk, dan tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang baik. Untuk melarikan diri dari masalah, mereka dapat meniru cara orangtuanya: minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, atau bereaksi agresif jika stres.

Solusi

Mungkin klise, tapi beginilah. Setelah kusimpulkan, penyebab keluarga disfungsional ada tiga, yaitu rendahnya tingkat kesejahteraan, masalah psikologis, dan kekeringan spiritual-religius. Ketiga faktor tersebut berpengaruh sangat erat sehingga dapat dipastikan segala program pengentasan masalah sosial akan cenderung gagal jika hanya berkutat pada satu faktor tanpa mempertimbangkan peran faktor lainnya. Tingkat kesejahteraan mempengaruhi keberfungsian orangtua sebagai pemenuh kebutuhan fisik anak, pelindung dan pemeliharanya. Masalah psikologis mempengaruhi cara orangtua memperlakukan anak, yang agresif tanpa kasih sayang. Kekeringan spiritual akibat rendahnya religiusitas mempengaruhi kemampuan orangtua sebagai pembimbing dan penjaga moral-etika anak, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit.

Kekurangan yang kulihat dalam program-program pengentasan masalah sosial ada pada ketidakpaduan program. Pekerja sosial berusaha meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan caranya sendiri, psikolog bekerja eksklusif di tataran gangguan mental dan ketidakadekuatan psikis lainnya, sementara agamawan berkotbah sendirian. Setelah itu, tak ada kelompok masyarakat di luar para penderita yang bersedia memberikan dukungan moralnya untuk menjaga para korban agar tidak turun status setelah kondisinya diperbaiki.

Kekurangan selanjutnya adalah tidak adanya program preventif bagi keluarga-keluarga yang belum pecah sebagai masalah sosial,  tetapi berisiko jatuh ke dalamnya. Psikoedukasi yang bernapaskan agama tentang cara mengasuh anak dan berkeluarga secara sehat dan bertanggung jawab adalah diperlukan; tentang bagaimana menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk, bagaimana membiasakan kebiasaan-kebiasaan baik, apa saja hikmah-hikmahnya, bagaimana cara menjadi ayah dan ibu yang seharusnya, bagaimana menghadapi saat-saat sulit dan meminimalisasi dampak negatif dari peristiwa negatif.

***

PS: Aku kehabisan ide dan sedang diburu-buru sesuatu… Semoga tulisan ini bisa disempurnakan lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s