Socrates, Plato, Aristoteles

Berdasarkan sejarah, tiga orang inilah termasuk dalam golongan mereka yang memulai “segalanya” di lapangan ilmu pengetahuan. Sebelum orang-orang sampai, mereka telah tiba. Namun, apakah di antara kita ada yang pernah bertanya, mengapa “semua” berasal dari Yunani kuno? Jawabannya sederhana, kudapatkan dari dalam Muqaddimah: karena hanya itulah yang berhasil sampai.

“Cabang ilmu pengetahuan itu demikian banyak, dan ahli-ahli pikir dari berbagai bangsa pun tidak sedikit, dan ilmu pengetahuan purbakala yang hilang lenyap lebih banyak dari cabang-cabang yang sampai pada kita. 

Manakah … ilmu pengetahuan bangsa Persia … ? Dan manakah ilmu pengetahuan bangsa Khaldea, bangsa Asyiria, dan bangsa Babylonia dengan peninggalan yang membuktikan tingginya ilmu pengetahuan mereka? Dan manakah ilmu pengetahuan Mesir dan bangsa-bangsa yang mendahului mereka? Dalam kenyataannya, kita hanya mewarisi ilmu pengetahuan satu bangsa saja, yaitu Yunani, dan itu adalah berkat perhatian yang ditumpahkan oleh Khalifah Al-Makmun yang telah membelanjakan banyak uang dan mempergunakan banyak bantuan sarjana untuk menerjemahkan buku-buku Yunani itu ke dalam bahasa Arab. Tentang bangsa-bangsa lain, kita tidak tahu sama sekali.” (h. 63-64)

Waktu memang telah memainkan perannya dengan sangat baik. Ada banyak sekali hal yang telah hilang entah ke mana sehingga terpikirkan juga bahwa mungkin saja di ratusan tahun ke depan, masa di mana kita hidup ini akan bernasib serupa.

Bangsa Barat adalah bangsa yang beruntung terkait hal ini. Ketika mereka hampir menjadi bangsa yang lupa, mereka diingatkan kembali akan keberadaan masa keemasan peradaban mereka di masa lalu. Mungkin yang mereka rasakan sama seperti yang kini, kita, orang Islam, rasakan ketika memandang ke belakang, ke masa keemasannya. Lho, itu kan pemikirannya nenek moyang bangsa kami… kok di ambil bangsa lain? Kita hidup di masa kegelapan, kok mereka bisa hidup dengan begitu terang?

Aku membayangkan itulah yang mendorong orang-orang Barat kemudian belajar di pusat-pusat peradaban Islam di masa lalu dan membawa pulang bergulung-gulung manuskrip untuk dibaca dan dikaji di universitas-universitas pertama mereka. Mereka lalu “tercerahkan” dan gemerlap sampai hari ini. Jika ada bangsa lain yang kemudian tersudutkan sampai ke pojok-pojok dunia, mungkin itulah sunatullah bahwa kejayaan itu memang dipergilirkan di antara manusia dan setiap kejatuhan pasti punya sebabnya yang bisa dijelaskan, sama seperti kejayaan yang juga ada penjelasannya.

Tulisan kali ini tidak bermaksud menjelaskan tentang penjelasan itu. Lewat menuliskan ini, ada hal yang ingin aku ingat, yaitu bagian dari sebuah buku yang penting tentang pemikiran Socrates, Plato dan Aristoteles. Berikut ini diambil dari buku Filsafat Ilmu (Mustansyir & Munir, 2001) yang akhirnya aku ingin aku selesaikan.

***

“Filsafat Yunani telah berhasil mematahkan berbagai mitos tentang kejadian dan asal-usul alam semesta, dan itu berarti dimulainya tahap rasionalisasi pemikiran manusia tentang alam semesta. Filosof yang mengembangkan filsafat pada zaman Yunan dan ramai diperbincangkan sepannjang sejarah filsafat adalah Socrates.

Socrates (470 SM-399 SM) tidak memberikan suatu ajaran yang sistematis. Ia langsung menerapkan metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari. Metode berfilsafat yang diuraikannya disebut dialektika yang berarti bercakap-cakap. Itu disebut demikian karena dialog atau wawancara mempunyai peranan hakiki dalam filsafat. Socrates sendiri menyebut metodenya itu “maieutike tekhne” (seni kebidanan), artinya fungsi filsafat hanya membidani lahirnya pengetahuan. Socrates sendiri tidak menyampaikan pengetahuan, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaannya ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain dan dengan pertanyaan lebih lanjut ia menguji nilai pikiran-pikiran yang sudah dilahirkan.

Plato (428 SM-348 SM) adalah murid Socrates yang meneruskan tradisi dialog dalam berfilsafat. … Plato memilih dialog karena ia berkeyakinan bahwa filsafat pada intinya tidak lain daripada suatu dialog. Berfilsafat berarti mencari kebijaksanaan atau kebenaran, dan oleh karena itu dapat dimengerti bahwa mencari kebenaran itu sebaiknya dilakukan bersama-sama dalam suatu dialog.

Plato dikenal sebagai filosof dualisme, mengakui adanya dua kenyataan yang terpisah dan berdiri sendiri, yaitu dunia ide dan dunia bayangan (inderawi). … Bertitik tolak dari pandangannya ini, Plato mengajarkan adanya dua bentuk pengenalan. Pertama, pengalaman ide-ide yang merupakan pengalaman dalam arti sebenarnya; sifatnya teguh, jelas dan tidak berubah. Kedua, pengenalan tentang benda-benda jasmani; sifatnya tidak tetap, selalu berubah.

Pemikiran filsafat Yunani mencapai puncaknya pada murid Plato, Aristoteles (384 SM-322 SM). Ia mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan ialah mencari penyebab-penyebab objek yang diselidiki. Bilamana manusia hendak memahami proses kejadian segala sesuatu, penyebab-penyebab yang dimaksud Aristoteles adalah: 1) penyebab matersial (bahan dari mana benda dibuat), 2) penyebab formal (bentuk yang menyusun bahan, 3) penyebab efisian, sumberkejadian, faktor yang menjalankan kejadian, dan 4) penyebab final, tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian.

Sama seperti Plato, Aristoteles juga mengemukakan bahwa pengetahuan ada dua, pengetahuan inderawi (hasil tangkapan konkret benda tertentu) dan pengetahuan akali (hasil tangkapan hakikat, jenis benda tertentu. Pengetahuan indewati mengarah kepada ilmu pengetahuan, namun ia sendiri bukan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya terdiri dari pengetahuan akali. Itulah sebabnya, baik menurut Aristoteles maupun Plato, tidak mungkin terdapat ilmu pengetahuan mengenai hal-hal yang konkret. Yang ada hanyalah ilmu pengetahuan mengenai hal-hal yang umum, yang dicapai dengan jalan abstraksi. Akal tidaklah mengandung ide-ide bawaan, melainkan mengabstraksikan ide-ide yang dipunyainya, yaitu bentuk yang dimiliki benda berdasarkan hasil tangkapan inderawi. Sumbangan Aristoteles  dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah pemikirannya tentang silogisme; suatu cara menarik kesimpulan dari premis-premis sebelumnya.” (h. 59-66)

***

Kebodohan adalah sumber ketakutan. Bukan bodoh dalam arti tidak cerdas, melainkan tidak berpengetahuan. Ia membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya adalah kecil dan mengecilkan dirinya yang sebenarnya besar.

Suatu hari aku menonton Time Compass di KOMPAS TV, episode kerajaan Carolingian dengan rajanya yang terkenal, Charlemagne. Di salah satu pembahasannya, diceritakan stratifikasi masyarakat pada masa itu yang hanya terdiri atas tiga, yaitu raja dan bangsawan, serta ksatria, lalu pendeta, dan terakhir petani. Orang-orang ini tinggal dalam kastil-benteng… (semoga pembaca pernah menonton film King Arthur, Underworld: Rise of The Lycan, atau yang sebangsanya, karena setting-nya semacam itu penggambarannya), dikelilingi oleh dinding tinggi, dilindungi sedemikian rupa dari dunia luar yang “menakutkan”, hutan-hutan penuh “monster”, pikir mereka. Jadi, orang-orang kecil yang ketakutan tak pernah keluar benteng/ menjelajahi hutan dan bekerja sebagai petani. Mereka memberikan hasil pertanian mereka kepada raja dan bangsawan, sebaliknya raja dan bangsawan memberikan perlindungan dan keamanan kepada mereka.

Aku hanya berpikir, mungkin begitulah kurang lebih kehidupan orang-orang pada era “mitos” dan “monster”. Hari ini kita bisa mengatakan bahwa orang yang hidup dengan fantasi macam itu adalah orang yang tak pakai otak, tetapi zaman dahulu demikianlah otak mereka bekerja. Sekarang kita punya keberanian menjelajah bahkan sampai ke bulan karena pengetahuan, tetapi orang dahulu berkata gerhana itu karena ada naga yang memakan matahari. Mereka yang ketakutan menyembah-nyambah sedemikian rupa agar tidak celaka, mengorbankan ini dan itu agar tidak diganggu… padahal tidak ada yang bisa buat celaka, tidak ada yang bisa mengganggu.

Aku kemudian membayangkan betapa sulitnya tugas nabi dan rasul di masa mitos itu, untuk meyakinkan manusia bukan hanya tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini kecuali Tuhan. Manusia harus mengeluarkan diri mereka dari ketidakbenaran yang selama ini berakar dan masuk ke dalam kebenaran yang “baru”, yang sebenarnya. Dan hidayah itu tentu sesuatu yang luar biasa. Hidayah yang akhirnya aku pahami bukan untuk orang-orang yang cerdas, kritis, dan bisa berpikir, tetapi untuk mereka yang mau/ingin kebenaran. Allah yang akan mencerdaskan mereka agar dapat menerima petunjuk-Nya.

Sekarang, manusia kembali berubah lagi. Ilmu pengetahuan membuatnya dapat melangkah jauh sekali, berkali-kali lipat dibandingkan langkah mereka yang ketakutan. Di bumi dan langit, di kedalaman lautan atau tingginya angkasa, tidak ada yang ditakuti lagi sejak semua berhasil diselidiki dan diketahui. Perjuangan nabi dan rasul, yang kini diteruskan oleh peran ulama, tetap berat, yaitu bagaimana meyakinkan manusia bahwa tetap ada satu yang harus ditakuti agar manusia tetap dapat menjadi insan yang merdeka tidak diperbudak oleh kehidupan yang diciptakannya, hasil keberanian-keberaniannya berpikir, berinovasi, dan mencipta teknologi.

Dunia yang luas semakin terasa sempit dan sesak, hampir tak ada yang tak terjelajahi. Monster kini hanya ada dalam buku cerita dan film-film sains fiksi. Ilmu pengetahuan berlimpah, datang dari mana saja di bumi. Tapi, dalam kemudahan, kesulitan dan penderitaan tetap menemukan jalannya untuk sampai. Generasi demi generasi berganti, tetapi ada yang tetap sama selama kita semua tetaplah manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s