Reaching Dream Bag. 6: Menuju Gerbang Pascasarjana

I

I Got A Job! ^^

Aku gamang… Aku punya tekad ingin berkiprah di dunia saintifik, teoretis, akademis, analitis… tapi, apa yang terjadi padaku… Aku baru saja diterima bekerja di sebuah lembaga pelatihan dan psikologi terapan. Aku tidak punya mimpi jadi psikolog, melainkan menjadi ilmuwan psikologi! Ya Allah, semoga aku mengambil keputusan yang benar!

Ceritanya berawal dari sebuah pesan di inbox Facebook dari seorang kakak kelas. Ia sedang mencari lulusan Fak. Psikologi, fresh graduate, untuk bekerja di lembaga pelatihan dan psikologi terapan miliknya. Aku diharapkan dapat membantunya bekerja di bidang training development: 1) merancang desain pelatihan, 2) membuat dan menyiapkan training tools yang diperlukan, dan 3) mengontrol kualitas pelatihan.

Tidak terdengar seperti akan bekerja sebagai trainer, bukan? Dan aku menyanggupi, dan aku datang ke kantornya untuk wawancara, dan aku dengan cepat diterima, dan… aku tersadar, aku baru saja membuat keputusan yang luar biasa besarnya dalam hidupku. Aku terkejut. Aku sadar betapa seriusnya keputusan karier ini. Aku telah mengetuk dan membuka satu pintu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan, yaitu bekerja di bidang psikologi ranking lima dalam daftar bidang psikologi terfavoritku. Psikologi Industri dan Organisasi (PIO).

Persoalan pertama, buku catatan mata kuliah DTP (Desain dan Teknik Pelatihan) adalah buku catatan pertamaku yang hilang dan sampai saat ini tak pernah kembali, entah karena dipinjam atau aku lupa taruh. Tidak ada materi yang bisa aku review, setidaknya untuk mengakrabkan diri dengan pekerjaan ini.

Persoalan kedua, aku bukannya tidak suka pelatihan, tetapi aku orang yang cocok di lapangan teoretis-analitis, ketimbang aplikasi-praktis. Hal-hal yang membuatku harus bicara di depan umum, sedikit bersandiwara, harus menyenangkan banyak orang, memenuhi harapan mereka, dan berhumor, biasanya selalu aku hindari. Dan sekarang aku memilih pekerjaan ini, benar-benar perubahan drastis, aku “sengaja” menenggelamkan” diriku dalam zona tidak nyamanku.

Persoalan ketiga, aku tidak pernah belajar assessment bidang PIO.

Persoalan keempat, aku punya bayangan bahwa yang akan aku kerjakan nanti akan lebih berat daripada yang disampaikan dalam job description. Aku secara pasti akan ikut jadi orang lapangan dan potensial ikut dibawa sampai ke luar kota, bahkan ke luar pulau! Entah mengapa, aku tidak bisa memandang ini sebagai suatu pengalaman yang menantang, mengasyikkan, menegangkan, to be away from home… Aku merasa seperti seekor semut kecil yang ketiban gula seberat satu kilogram… Rasanya beraaaat sekali. Aku sampai ingin menangis. Apa aku bisa? Apa aku kuat?

Dan kemudian aku menegur diriku sendiri. “Konyol…”

Setiap orang dewasa itu bekerja, sayang. Kau tahu sendiri itu tugas perkembangan. Kalau kau tidak ingin memandang tugas tersebut sebagai sesuatu yang memaksa, pandangilah itu sebagai jalan untuk membangun jiwamu. Untuk memulai sesuatu yang baru, tentu ada yang lama yang harus diakhiri: kekanak-kanakanmu, ketidakdewasaanmu, kebodohanmu, kekonyolanmu, kebiasaan-kebiasaan burukmu… keragu-raguanmu. Kau pernah bertekad tidak mau takut miskin, sekarang kau harus bertekad bulat untuk tidak takut untuk menjadi dewasa. Kau pernah belajar tentang bagaimana bersikap tepat menghadapi harta, sekarang kau harus belajar tentang bagaimana bersikap bijak menghadapi hidup dan dirimu sendiri.

Ayo, berani! Jalan yang satu ini dapat saja merupakan jalan yang justru mendekatkanmu pada cita-citamu yang utama. Jalan ini dapat saja adalah jalan terbaik bagimu untuk memperbaiki diri dan mendapatkan keterampilan hidup tertentu. Berbalik. Hadapi ia dengan wajahmu yang penuh keyakinan dan semangat itu.

Mulai Mei nanti aku akan punya cerita yang baru. Akan aku beri ia judul, Oase.

***

II

I Took The Tests

Jalan untuk menjadi mahasiswa pascasarjana ternyata panjang. Dulu aku bertanya-tanya, mengapa waktu pendaftarannya lama sekali dari akhir Februari sampai akhir Juni. Sekarang aku mengerti. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dan yang paling makan hati adalah syarat harus punya skor TOEFL dan TPA. Bukan karena susah, tetapi karena harus sabar…

Skor TOEFL minimal 450. Skor TPA minimal 500.

Ini bukan perkara yang bisa ditunda-tunda. Lebih cepat memang lebih baik karena orang yang butuh ikut tes bukan cuma kau seorang. Aku punya pengalaman yang sangat tidak menyenangkan terkait hal ini. Untuk menggantikan TPA Bappenas, aku memilih ikut PAPs UGM. Lebih murah dan tempatnya jelas di kota yang sudah aku kenal. Sebenarnya aku punya kesempatan untuk ikut tes yang tanggal 23 April, tetapi rupanya aku lupa mendaftar, tepatnya… terlambat mendaftar. Tes yang hanya seminggu sekali, sehari hanya 220 orang itu terisi penuh hanya dalam bilangan jam! Padahal pendaftaran dibuka pada dini hari. Bayangkan, berapa banyak orang yang berkompetisi di tengah malam buta agar bisa ikut tes di hari yang diinginkan?

Karena itulah, dini hari ini aku belum tidur. Hari ini tanggal 29 April, aku mendaftar untuk ikut tes tanggal 7 Mei. Kacau… Pukul 00.05 server error, data tak bisa disimpan, kartu tak bisa dicetak. Aku panik. Aku coba berkali-kali, log in-log out, log in-log out… tidak bisa. Akhirnya aku telepon kantornya, seperti yang diinstruksikan di laman depan situs PAPs UGM bahwa kalau ada masalah, hubungi saja nomor yang tertera atau kirim email. Yang mengangkat adalah pak satpam (aku sudah membatin, ada siapa di kantor di tengah malam buta begini…) dan beliau menjawabku dengan baik sekali. “Mbak, hubungi TU saja besok, saya cuma satpam di sini. Yang menelepon seperti mbak banyak sekali malam ini…”

Hah, banyak sekali rupanya yang senasib denganku… Aku membuka laman situs itu lagi dan mendapatkan pemberitahuan baru. Pendaftaran offline dibuka karena server bermasalah. Caranya: via email! Tidak… Aku baru saja menutup seluruh tab web browser-ku karena kesal! Cepat, cepat, cepat… Tidak… Internet di rumah tiba-tiba ngadat. Aku langsung menuju telepon rumah dan menyambungkan modem wifi, alternatif cara berinternet yang lain di rumah. Tapi, sama saja, susah terkoneksi… Aku kembali ke cara awal, bisa, dan langsung kubuat surel mendaftar offline.

Selesai… hanya satu persoalan, aku tidak benar-benar tahu apakah aku sudah terdaftar. Aku cek laman situs PAPs lagi dan membaca bahwa masalah sudah teratasi. Pukul 01.05. Pendaftaran online dibuka lagi. Sisa kuota, separuhnya! Wow, malam ini rupanya banyak yang tidak tidur menanti pendaftaran dibuka, panik karena proses bermasalah, dan lega karena semua akhirnya selesai. Alhamdulillah… Besok tanggal 7 Mei, kami semua akan bertemu.

***

Cerita selanjutnya adalah mengenai TOEFL. Pilihan yang diberikan ada dua: ikut AcEPT UGM atau TOEFL di lembaga resmi penyelenggara tes tersebut. Aku ikut dua-duanya. Sebenarnya satu saja sudah cukup, tetapi omongan orang-orang membuatku was-was. Akhirnya aku ikut dua-duanya saja dan bisa membedakan bagaimana tes tersebut.

Aku tidak pernah ikut dua tes ini sebelumnya. Yang pernah aku ikuti adalah tes prediksinya. Skornya? Lumayan… Tidak buruk. Aku sangat bersyukur sejak kelas 5 SD aku sungguh-sungguh belajar bahasa Inggris sampai sekarang. Ahamdulillah…

Kalau dibandingkan, lebih rumit dan kompleks TOEFL daripada AcEPT. TOEFL benar-benar mengukur English proficiency kita. Soal-soalnya dikatakan tidak menguntungkan orang dari bidang ilmu mana pun, sehingga bacaan yang disoalkan cenderung bacaan umum, tetapi ilmiah. Tapi, sekali lagi aku bersyukur. Waktu aku ikut tes, tema bacaan yang muncul mengenai biologi, astronomi, geologi, dan antropologi. Semuanya bidang ilmu favoritku selain psikologi. Jadi, senang ikut tesnya…

AcEPT benar-benar berorientasi pada kepentingan akademik; tentang kehidupan di kampus, cara menghadapi dosen, aktivitas-aktivitas mahasiswa, kegiatan ilmiah, dan yang terpenting, bacaan-bacaan ilmiah, artikel penelitian dan buku teks. Akan menjadi masalah besar kalau kita jarang membaca selama masih mahasiswa S1 karena kemampuan memahami bacaan macam itulah yang diujikan.

Aku termasuk yang kaget mengetahui soalnya semacam itu. Aku tidak berlatih bahasa Inggris yang semacam itu sejak awal dan hanya mengandalkan pengalaman. Agak kerepotan juga untuk memahaminya, karena aku punya perasaan yang semacam ini pasti ada cues yang sesungguhnya bisa membantu kita mengerjakannya. Di setiap sesinya selalu nyaris kehabisan waktu, tetapi syukurlah tidak, hanya tidak sempat mengecek kembali jawaban-jawaban yang meragukan.

Ketika semua sudah selesai, rasanya lega sekali. Tapi aku kepikiran satu hal. Aku teringat pengalamanku membayar biaya tes di BNI. Aku berbincang-bincang dengan mbak teller-nya. Ia menyampaikan dengan ramahnya dan sedikit banyak membuatku waspada. “Banyak, lho… orang yang ikut tes ini sampai berkali-kali karena gagal terus…”

Aku ternganga.

5 thoughts on “Reaching Dream Bag. 6: Menuju Gerbang Pascasarjana

  1. dengan bekerja akan tau “dunia nyata”… akan sangat banyak manfaatnya kalau nanti sekolah lagi, begitu pengalamanku. semangat ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s