Seri Organisasi Bag. 17: Psikologi Industri dan Organisasi

Hidup terus berjalan. Seiring dengan bergulirnya peristiwa, cerita-cerita baru bermunculan. Aku hanya ingat, dulu aku memeringkat bidang psikologi industri dan organisasi (PIO) di peringkat terakhir daftar bidang psikologi kesukaanku. Sekarang, aku kena “batu”-nya dan rasa sakitnya sangat menyenangkan😀 Mungkin, beginilah seharusnya cara belajarku.

Dahulu aku sulit memahami PIO karena dunia industri dan organisasi yang asing sekali. Tidak ada anggota keluargaku yang bekerja di perusahaan. Aku sendiri tidak punya cita-cita jadi pegawai perusahaan, sehingga aku tidak mengerti suka dan dukanya. Lain sekali bukan, dengan psikologi klinis, perkembangan, pendidikan, dan sosial? Aku sulit menemukan relevansi PIO dengan kehidupanku. Bertahan belajar, nilai mata kuliah tetap memuaskan, tetapi itu semua berhenti sebagai konsep dalam kepala yang siap terlupakan.

Kalau syaratku bisa paham adalah harus ada relevansinya dengan kehidupan, aku ditakdirkan Allah bekerja di sebuah lembaga pelatihan yang praktis itu sangat berkaitan dengan PIO. Setiap hari sampai tiga bulan ke depan, aku akan terus berkutat dengan buku-buku PIO, managerial, dan manajemen SDM. Aku bertugas menyusun modul pelatihan, membantu menyusun desain pelatihan, menyusun instrumen untuk mengukur dan mengevaluasi trainee dan pelatihan itu sendiri, membantu membuat SOP pegawai di sini, dan sedikit banyak mengelola web dan mading di tempatku bekerja.

Banyak, tapi menyenangkan! Aku merasa ada sesuatu yang bertambah dalam hidupku. Semua ini, segala kesibukan ini, jauh lebih baik ketimbang apapun yang terjadi dalam hidupku selama enam bulan terakhir sejak kelulusan. Aku seperti bersekolah lagi, seperti kuliah lagi, dan kelasku adalah kehidupan nyata. Aku menduduki pos yang aku sukai. Aku merasa berada di tempat yang tepat dan tak ada yang ingin terus-menerus kukatakan selain “Alhamdulillah…” Semoga semua ini benar bermanfaat.

Teng! Materi pertama dimulai!

***

Hal pertama yang aku pahami adalah apa tujuanku ditempatkan di pos tempatku bekerja sekarang: menerjemahkan konsep-konsep psikologi, terutama psikologi industri dan organisasi, ke dalam bentuk yang praktis dan berkontribusi konstruktif terhadap organisasi atau perusahaan; bagaimana psikologi dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan nyata yang berhubungan dengan pekerjaan manusia?

Ya, mengelola manusia sebagai sumber daya membutuhkan pemahaman akan manusia. Mengapa manusia bekerja? Apa yang memotivasinya? Mengapa ada manusia yang produktivitas kerjanya rendah dan tinggi? Apa faktor yang mempengaruhinya? Mengapa setelah mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan ada manusia yang tidak juga merasa puas? Mengapa manusia bergonta-ganti pekerjaan? Mengapa ada yang bertahan sampai masa pensiun, ada yang dipecat secara tidak hormat? Apa masalah mereka?

Mengapa ada yang lebih suka bekerja sendirian? Mengapa ada yang tidak bisa bekerja sama? Mengapa ada yang tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri? Bagaimana membangun kerja sama dengan orang lain secara efektif? Dan ada lebih banyak pertanyaan lagi… Sedikit banyak, psikologi turut ambil bagian dalam menjawab semua itu dan memberikan solusinya.

Hal kedua yang aku pahami adalah di mana letak pelatihan di antara berbagai macam solusi yang dapat ditawarkan oleh psikologi dan ilmu-ilmu lainnya. Ya, pelatihan bukanlah satu-satunya obat bagi “penyakit” manusia di lingkungan pekerjaannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ia merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kinerja manusia yang bekerja dan memaksimalkan human capital (keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman individu yang dipandang bernilai ekonomis, bermanfaat bagi diri, terkait kemampuannya melakukan pekerjaan).

Di titik ini, aku mengubah konsep yang selama ini kuyakini. Sisi materialistik manusia yang begitu manusiawi. Manusia butuh berkembang, salah satunya demi nilai diri yang lebih tinggi sehingga ia dapat dibayar lebih. Dibayar lebih tentu lebih baik daripada dibayar sedikit. Jika dengan hartanya ia bisa berbuat lebih dalam kebaikan, itu akan sangat lebih baik. Orang-orang yang membantu dengan melatih mereka tentu sedang mengerjakan pekerjaan mulia; membantu orang-orang bekerja lebih baik. Dan di mana posisiku? Aku bukan trainer itu. Aku adalah orang di baliknya; orang yang membantu trainer agar dapat melakukan pelatihan secara lebih baik dengan memberi pasokan ilmu bernama psikologi industri dan organisasi.

Contemporary training should focus on helping solve organizational problems and increase performance instead of caring about forms and quantity of training. Without quality and performance output, training is unproductive and wasteful.

If management adopt regular training and use simple training content, the training will not be effective. But, overtraining will increase trainee’s torments and damage their trust in the training courses (Chang et al, 2012).

Hal ketiga adalah sejauh mana aku bersama tim bertanggung jawab atas masa depan mereka yang meminta pertolongan. Tentu saja, hanya sebatas ketika pelatihan berlangsung. Kupikir, inilah keterbatasan sebuah lembaga pelatihan dalam mengelola sumber daya manusia: kami bukan Human Resource Departement. Kami orang di luar organisasi atau perusahaan sehingga pertama, kami tak bisa benar-benar menyentuh persoalan penyebab dibutuhkannya training terkait kebutuhan yang sebenarnya dibutuhkan jika tidak diberitahu dan kedua, kami tidak bisa menjamin hasil, terutama jika organisasi maupun perusahaan tidak mendukung penerapan pengetahuan atau keterampilan yang dilatihkan pasca-training, tidak juga melakukan perubahan yang akomodatif bagi penerapan pengetahuan dan keterampilan baru.

Hal keempat adalah bagaimana menyajikan pelatihan yang efektif dan efisien. Di sini aku harus banyak belajar mengenai metode mendidik manusia, baik pedagogi maupun andragogi. Tidak terbayangkan sebelumnya! Begitu banyak hal yang diperlukan untuk menanamkan suatu pemahaman bagi manusia kebanyakan. Warna, musik, apa yang dipresentasikan, di layar, di ruangan, dalam diri trainer, metode penyampaian… Tidak terbayangkan sebelumnya! Aku tipe orang penabrak hambatan, tak peduli warna, musik dan tetek-bengek, yang penting aku belajar dan aku percaya pada diri dan jalanku sendiri. Kini aku harus mengerti bahwa ada orang yang butuh dikondisikan, difasilitasi dan dibantu untuk mencapai sesuatu.

***

Aku termasuk orang yang sangat berterima kasih pada keberadaan pelatihan, terutama yang disajikan dalam bentuk permainan. Ada satu pengalaman yang sangat berkesan, yang sangat mempengaruhiku dan membuatku berubah dan berhati-hati untuk tidak menjadi orang yang egois, perfeksionis, mau menang sendiri dan tidak memikirkan orang lain. Aku mengubah definisiku tentang kesuksesan hanya karena sebuah permainan.

Waktu itu aku kelas tiga SMA, mengikuti pelatihan dua hari satu malam yang diadakan oleh sebuah organisasi keagamaan yang kuikuti. Pagi hari, permainan pertama, jika aku tak salah ingat, sebelum outbound. Permainan ini melibatkan banyak sekali uang receh. Banyak sekali. Kami, beberapa puluh orang dikelompokkan dalam tim-tim. Tugas kami adalah berkompetisi dan mengumpulkan sebanyak mungkin uang. Pemenang adalah tim yang berhasil mengumpulkan uang terbanyak.

Prosedur permainan itu adalah sebagai berikut. Instruktur mengambil sejumlah uang dan membagikannya sama rata terhadap semua kelompok (modal), tetapi tetap menyimpan beberapa persediaan uang di tangannya. Instruktur punya simpanan di tempat lain (bank). Permainannya adalah kami peserta diberi hak untuk mengambil sejumlah uang dari tangan instruktur. Jumlah yang boleh kami ambil terserah pada kami, tetapi kami perlu memperhatikan bahwa sisa uang di tangan instruktur sangat penting dan tidak boleh dihabiskan karena bank akan menambahkan lagi uang dengan jumlah sesuai jumlah uang yang tersisa itu.

Di sini persoalan dimulai ketika orientasi setiap tim adalah menang, dalam arti berhasil mengumpulkan uang terbanyak. Hanya sebentar saja, permainaan selesai. Mengapa? Karena kami yang tak sabar cenderung mengambil sebanyak mungkin uang di kesempatan pertama sehingga uang yang tersisa sedikit sekali, sehingga jumlah yang ditambahkan bank sedikit sekali, sampai tidak ada yang bisa diambil lagi untuk modal kami.

Hikmah di balik permainan itu sangat menohok, terutama karena akulah otak di balik kerakusan timku, karena aku ketuanya. Seandainya kami semua sabar dan mengambil sedikit-sedikit saja, tentu uang yang tersisa akan banyak dan sebanyak itu pula lah bank akan menambahkan uang untuk kami sehingga selanjutnya kami dapat mengambil lebih. Seandainya kami memikirkan kebaikan bersama, win-win solution, permainan tak akan berakhir setragis itu. Secara pribadi, aku merasa malu sekali. Mengapa aku tidak bisa bertindak bijaksana dan memikirkan kepentingan sendiri? Jumlah uang di tangan kelompokku memang yang terbanyak, tetapi kami sebenarnya kalah. Benar-benar merasa bersalah.

Sekarang, dengan pekerjaanku sekarang, aku hanya berpikir, apakah proses, dinamika, dan pengaruh yang kurang lebih seperti itukah, yang ingin dibangun lewat sebuah pelatihan atau outbound training? Pelatihan yang mengubah manusia. Aku mungkin tidak benar-benar berubah lebih baik setelah itu, tetapi ada sesuatu yang mencambukku untuk memperbaiki diri. Permainan waktu itu sangat sebentar, tetapi pengaruhnya tetap sampai hari ini. Pelatihan yang membuat manusia belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s