Lagi, Tentang Jurnal Predator

I

Menilai Makalah Ilmiah secara Etis dan Elegan

Mungkin, tulisan Terry Mart di OPINI KOMPAS, Senin, 13 Mei 2013, h. 7, akan mengakhiri polemik seputar jurnal predator, minimal dalam kepalaku. Kupikir, isi tulisan tersebut, pengetahuan yang beliau sampaikan, justru adalah yang terpenting; pertama, tentang bagaimana menilai sebuah makalah ilmiah. “Cara scholar yang etis dan elegan…” kata beliau.

“Ada empat hal yang harus diperhatikan. Pertama, penilai harus pakar sebidang, dengan kapasitas minimal setara. Kedua, penilai harus bebas konflik kepentingan. Ketiga, penilai harus fokus pada karya, bukan pembuatnya. Keempat, penilai bersandar pada keyakinan kejujuran ilmiah (scientific trust).”

Ha… Aku hanya punya cita-cita suatu saat bisa menjadi reviewer atau editor makalah ilmiah. Ya, itu berarti, mulai sekarang ini, aku berharap bisa mengambangkan kepakaranku di bidang psikologi. Aku ingin menjadi setara seperti orang-orang yang selama ini selalu kulihat dengan kepala tertengadah. Cuma, aku masih tidak begitu mengerti, apa maksudnya bebas kepentingan? Mengapa harus fokus pada karya, bukan pembuatnya? Dan kejujuran ilmiah, apakah itu?

Suatu saat, aku akan tahu semua itu.

***

II

Ilmuwan Ekstrem Kanan dan Kiri

Memang penting untuk memahami apa tujuan sebenarnya karya ilmiah perlu dipublikasikan. Tujuannya mulia, yaitu agar orang lain tahu apa yang kita teliti, agar penelitian kita dapat dimanfaatkan atau dikembangkan lebih lanjut sehingga kemanfaatannya menjadi lebih besar lagi bagi masyarakat. Ilmu itu tidak boleh disimpan sendirian, bukan? Namun demikian, ada orang-orang yang tujuan publikasinya bukan itu. Ia menginginkan pengakuan karena selanjutnya, pengakuan itulah yang akan mendatangkan berbagai keuntungan bagi dirinya.

Terry Mart menceritakan tentang seorang ilmuwan, yang menurutku, ikhlas. Grigori Perelman, matematikawan Rusia, memecahkan satu dari tujuh problem matematika abad ini. Ia hanya mempublikasikan makalahnya di preprint server arVix, sebuah basis data tempat tersimpan berjuta makalah dalam bentuk elektronik. Ia menolak semua penghargaan, termasuk uang, meski dia tidak berpunya. Dia ilmuwan ekstrem kanan.

Kebalikannya, tentu saja, ilmuwan ekstrem kiri. Sebagiannya, mungkin, adalah pengguna jurnal predator.

Dari Terry Mart, aku belajar makna profesionalisme. “Aktivitas ilmuwan normal saat ini berselimut profesionalisme. Tidak ada jasa bersifat gratis. Semua harus dibayar dalam bentuk insentif, hibah penelitian, promosi jabatan, dan sejenisnya.”

Aku akan menjadi yang seperti apa? Selama ini aku pelajari seperti apa sosok ilmuwan dari buku cerita anak-anak, Seri Tokoh Dunia. Itulah sumber pertamaku. Mereka kebanyakan kesulitan keuangan, tetapi terus belajar dan meneliti. Perjuangan mereka melakukan penelitian untuk menemukan sesuatu sangat menakjubkan. Tetapi, ketika penemuan mereka baru diakui atau jelas signifikansinya jauh setelah kematian mereka…  Atau, ketika kematian mereka dikarenakan oleh penemuan mereka sendiri… rasanya menyedihkan. Hidup mereka benar-benar tidak mudah, tetapi itulah yang menginspirasi.

Sebelumnya, aku tidak benar-benar memahami bahwa ilmuwan itu adalah sebuah pekerjaan, karier di bidang saintifik. Aku membayangkan profesi itu sangat mulia karena diliputi keikhlasan dan kejujuran, idealisme, kerja keras. Sekarang aku tahu bahwa menjadi ilmuwan juga adalah jalan mendapatkan penghidupan; sebuah profesi. Jika di masa lalu aku tahu bahwa emas dapat diperoleh dari negara tergantung berat buku yang berhasil ditulis ulama/ilmuwan, sekarang insentif diperoleh tergantung di mana makalah dipublikasikan. Jika dahulu standarnya adalah isi (seberapa banyak yang bisa diberikan kepada masyarakat), sekarang adalah pengakuan internasional dan jumlah poin/nilai.

Sistem reward-nya, sedikit banyak, tidak ideal dan mendorong ketidakidealan, bukan? Aku hanya berpikir seperti itu.

***

III

Bahaya Tercerai dari Dunia yang Sebenarnya

Salah tujuan, salah tempat berakhir, demikian akhirnya aku menyimpulkan.  Kau hanya mendapatkan yang kau inginkan, tapi bukan yang sesungguhnya bisa kau dapatkan dan itu lebih baik.

“Mengapa jurnal predator diminati peneliti negara berkembang? Jawabannya sederhana, karena mudah! (Namun) tanpa disadari, peneliti negara berkembang mulai mengasingkan diri dari sejawat mereka di negara maju yang relatih lebih unggul. Rendahnya kontribusi makalah dari negara-negara maju menunjukkan jurnal-jurnal predator rendah visiabilitasnya (tidak banyak dilihat) di mata mayoritas pakar.

(Karena itu) kontribusi peneliti negara berkembang menjadi sulit terdeteksi sejawatnya di negara maju. Di sinilah letak masalahnya. Kita semua sepakat penggalian ilmu pengetahuan bersifat universal. Meski efek lokal bisa melekat pada bidang tertentu, hakikat penelitian tetap universal, apalagi jika kita ingin membangun universitas riset yang unggul dalam bidang-bidang tertentu melalui penelitian. Bagaimana bisa disebut unggul jika kita tak diakui secara global (?)”

2 thoughts on “Lagi, Tentang Jurnal Predator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s