Untuk Psikologi Islam (yang Sempit): Sebuah Sanggahan

Perbedaan adalah kunci kemajuan jika dari perbedaan yang membuahkan konflik itu orang-orang belajar tentang apa yang lebih baik dan benar. Seorang seniorku berkata, “Argumen dibalas argumen, tulisan dibalas tulisan.” Aku sendiri berkata pada diriku sendiri, “Jika ada yang terasa tidak benar, kau harus segera menentukan sikap, minimal itu untuk dirimu sendiri. Kau tidak boleh hilang tersesat, minimal dalam labirin ruang pemahamanmu sendiri. Tak peduli orang menuju ke mana, apakah itu berlawanan denganmu, kau harus punya sikap, prinsip. Karenanya kau akan bisa berdiri tegak di kaki sendiri, atau kalaupun ditakdirkan jatuh, kau menghilang dengan terhormat, dengan kepala tegak tak tertunduk.”

Sebuah tulisan singkat kubaca di sebuah laman internet, yang bagiku logika yang terkandung di dalamnya tidak tepat: “Teori-teori Psikologi Barat sebagian besar adalah hasil spekulasi dan prasangka tentang manusia. Saatnya kita tinggalkan, dan saatnya kita merujuk pada Al Qur’an.” Diikuti dengan kutipan Al Quran, Surat Yunus (10): 36, “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Pekerjaan pertama yang aku lakukan adalah mengecek tafsir ayat tersebut, terutama untuk memahami apakah “persangkaan” yang dimaksud di sini. Aku membaca tafsir Al-Mishbah dan memahami:

“Kata zhann berarti dugaan, baik yang sangat kuat sehingga mendekati keyakinan maupun yang rapuh. Namun, pada umumnya, ia digunakan untuk menggambarkan dugaan pembenaran yang melampaui batas syakk/ ragu, yang menggambarkan persamaan antara sisi pembenaran dan penolakan. Ayat-ayat yang lalu berbicara tentang persoalan akidah, yakni Keesaan Allah, keniscayaan hari kemudian, serta kebenaran wahyu. Atas dasar itu, ayat 36 ini dipahami dalam konteks akidah.

Harus dicatat bahwa sebagian besar hukum-hukum Islam, berdasarkan dzann, yakni dugaan yang melampaui batas syakk. Sedikit sekali yang bersifat qath’i atau pasti. Allah menoleransi hukum-hukum yang ditetapkan berdasar Al Quran dan Sunnah, walaupun dalam batas “dugaan” yang memiliki dasar.”

***

 I

             Satu hal yang kupahami baik-baik soal penggunaan ayat Al-Quran adalah bahwa setiap orang harus berhati-hati. Kesalahan terbesar terjadi ketika orang mengutip suatu ayat dan menggunakannya untuk menguatkan pendapatnya tentang sesuatu tanpa memperhatikan maksud maupun konteks dari ayat tersebut. Berdasarkan pemahaman tersebut, aku bertanya-tanya, apakah ayat yang (harus) dipahami dalam konteks akidah (keimanan dan keyakinan agama) boleh digunakan untuk menilai kebenaran suatu ilmu pengetahuan?

Persoalan iman tak bisa disamakan dengan persoalan ilmu pengetahuan; apa yang dikatakan benar punya parameter yang berbeda. Iman kepada Allah, hari akhir dan wahyu terletak di hati yang mau menerima kebenaran hakiki; orang tak perlu melihat Allah, mengalami hari akhir untuk, atau menerima sendiri wahyu terlebih dahulu untuk beriman. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, ketika Allah “mengizinkan” manusia untuk mempelajari ayat-ayat-Nya, terutama yang ada di semesta, dalam diri manusianya sendiri dan yang ada di kitab suci, untuk sampai pada keyakinan, orang perlu melihat apa yang senyatanya terjadi, mengalami yang juga orang lain alami terkait suatu pengalaman.

Karena itu, apa yang dikatakan sebagai “prasangka” bagi persoalan keimanan dan ilmu pengetahuan sangat mungkin berbeda. Bagi persoalan akidah, prasangka adalah mengimani sesuatu tanpa keterangan yang nyata dari Tuhan, hanya mengikuti ajaran nenek moyang, dan mitos-mitos. Bagi persoalan ilmu pengetahuan, prasangka adalah memberikan pernyataan yang didasarkan pada subjektifitas, sentimen pribadi, keputusan yang tergesa-gesa tanpa penelitian terlebih dahulu, menjawab tanpa mempelajari pertanyaan terlebih dahulu, tanpa bukti, menebak-nebak.

Dengan begini, aku menyimpulkan bahwa penggunaan ayat Al Quran tersebut untuk menjustifikasi bahwa psikologi Barat mengandung penyimpangan yang fatal, sedikit banyak tidak tepat, karena bagiku kesalahan psikologi Barat di hadapan Islam bukan terletak pada apakah ia didasarkan pada “prasangka” sehingga ia tidak benar. Psikologi Barat, sama seperti ilmu-ilmu lainnya, dikembangkan lewat penelitian-penelitian ilmiah, empiris, panjang, ketat, sistematis, dan bertanggung jawab; yang satu memverifikasi atau memfalsifikasi yang lain.

Jadi, di mana letak prasangkanya? Apakah hanya karena para ilmuwannya bukan orang Islam/kafir maka kita mengatakan ilmunya tidak bisa digunakan karena tidak mengandung kebenaran sehingga kita harus memalingkan diri dari mereka? Jika kita mengiyakan itu, aku merasa pendapat itu didasarkan pada wawasan yang sempit tentang apa yang benar dan apa yang salah. Otoritas kitab suci adalah satu di antara beberapa ukuran kebenaran yang diakui.

Jika kita mengisolasi Psikologi Islam sebagai ilmu yang hanya merujuk pada Al Quran dan hadist, kita tentu sedang mengembangkan sebuah ilmu yang sangat sempit.

II

            “Teori-teori Psikologi Barat sebagian besar adalah hasil spekulasi dan prasangka tentang manusia.” Bagiku itu tidak tepat.

Pertama, sebelum kita melakukan penghitungan dan penelaahan yang betul-betul, tidak dapat kita berkata “sebagian besar” teori-teori psikologi barat adalah hasil spekulasi dan prasangka tentang manusia, melainkan cukup “ada”. Sebelum ada penelitian yang jelas bertujuan mendata, mengulas kembali, mengkritisi, mengevaluasi teori-teori psikologi zaman ini, tidak ada yang boleh berkesimpulan final demikian.

Kedua, meskipun Psikologi Islam memandang psikoanalisa, behaviorisme, psikologi humanistik, dan psikologi transpersonal tidak sempurna (baca: salah), bagaimana kita dapat mengakomodasi bahwa mereka pun ada benarnya dalam hal paradigma mereka tentang manusia? Bagaimana kita dapat menerima bahwa mereka pun tidak salah dalam menyimpulkan bahwa ada “secuil” diri manusia yang hidup seperti hewan dan robot, hidup dalam kegelapan juga dalam keterangbenderangan, hidup dalam ketidaksempurnaannya yang begitu nyata?

Orang-orang yang hari ini hidupnya berantakan karena masa lalunya yang kelam, bagaimana kita bisa tidak menggunakan psikoanalisa untuk memahami dinamika psikologisnya? Orang-orang yang korupsi karena terpengaruh lingkungan kerjanya yang kotor, bagaimana kita tidak akan menggunakan teori-teori behaviorisme? Orang-orang yang hidup dengan begitu altruisnya, bagaimana kita tidak akan memahaminya dengan teori-teori psikologi humanisme tentang aktualisasi diri? Orang-orang yang mengalami pengalaman mistis, apakah kita tidak juga mengakui psikologi transpersonal itu bermanfaat?

Apakah Psikologi Islam yang saat ini sudah bisa menjawab semuanya? Siapa saja yang bisa menerima jika sebab semua masalah psikologis dikembalikan kepada “itu pengaruh jin dan setan-setan yang terkutuk”? Tidak semua masalah berakar pada kekosongan batin, kekeringan spiritual, atau ketiadaan Tuhan dalam hati. Beberapa masalah terjadi dengan begitu sekulernya, tidak ada faktor agama di situ, sehingga tidak diperlukan intervensi psikoreligius di situ. Jika itu yang terjadi, apakah itu berarti Psikologi Islam tidak punya kesempatan untuk berbuat sesuatu di situ?

Ketiga, jika Psikologi Islam merujuk pada Al Quran sementara sebagian besar hukum-hukum Islam yang dikatakan “berdasarkan dzann, yakni dugaan yang melampaui batas syakk. Sedikit sekali yang bersifat qath’i atau pasti…” (Tafsir Al Mishbah QS 10: 36), bukankah Psikologi Islam justru lebih dipenuhi prasangka dan spekulasi daripada Psikologi Barat? Ia mungkin tidak salah dalam memahami konsep manusia yang sebenarnya, yang sempurna, tetapi bisa jadi ia mengalami proses yang tidak sehat dalam mengembangkan dirinya sebagai ilmu yang reliabel dan valid tentang jiwa manusia jika ia tidak membuka diri untuk menerima hal-hal yang ada di luar Al Quran dan Sunnah dan menangkap figur seorang manusia secara utuh.

Jika psikolog dan ilmuwan muslim psikologi enggan berkolaborasi, kita tentu sedang mengembangkan sebuah ilmu yang sangat sangat sempit sampai-sampai orang-orang di dalamnya bingung, tidak dapat bergerak bebas karena takut dosa, karena takut salah, takut berinovasi, takut berbeda dari pakem atau kata-kata dosennya.

III

            Jika kita mengembangkan Psikologi Islam dengan maksud bersaing, berkompetisi memenangkan preferensi kita di atas apapun, “Saatnya kita tinggalkan (psikologi Barat)…” menjadi persuasi argumentatif yang masuk akal. Nanti, akan ada orang-orang yang baru belajar, yang taklid, yang percaya saja apa kata gurunya, meninggalkan rasionalitasnya dan mulai merasa superior tanpa alasan yang jelas, kecuali karena ia dalah pendukung Psikologi Islam. Orang-orang yang berkompetisi tak memberi jalan untuk win-win solution, mementingkan kepentingan kelompok dan mengorbankan kepentingan orang lain, merasa ilmu lain selain Psikologi Islam tak sebaiknya ada di dunia ini, merasa terancam seakan-akan sedang digempur musuh, mencari-cari kejelekan dan kelemahan lawan, membentengi diri sedemikian rupa dari pengaruh luar, dan tidak pernah paham prinsip seorang ilmuwan, bahwa menjadi berilmu adalah termasuk menyadari keburukan diri sendiri.

Bagaimana kini para dosen, ilmuwan, dan pembelajar mengantisipasi kemungkinan terburuk semacam itu? Saat ini kita mungkin hanya punya satu target, yaitu membumikan Psikologi Islam, menegakkannya di atas mazhab-mazhab psikologi yang lain. Namun, di masa depan, bagaimana kita mengantisipasi kebutuhan untuk berkolaborasi dan saling mengakomodasi perkembangan cabang ilmu lain, terutama yang tidak ada tambahan “Islam”-nya? Psikologi Barat telah memberikan kita tempat lewat psikologi agamanya, bagaimana dengan kita terhadap psikologi barat? Bagaimana kita akan membangun sikap yang proporsional sebagai seorang ilmuwan milik dunia di mana semua orang hidup bersama dan memperjuangkan kehidupan yang baik?

Jika Psikologi Islam tidak punya visi yang besar di masa depan dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, kita tentu sedang mengembangkan sebuah ilmu yang sangat sempit.

***

            Ilmu pengetahuan itu barang universal, itu benar. Setiap orang berhak memahami dan mengimplementasikannya. Pengetahuan dan kebenaran memiliki banyak jalan untuk sampai pada kita. Bagiku, salah orang itu sendiri jika ia gagal mengenali dirinya sendiri, kebutuhannya sendiri, jalan hidupnya sendiri, di hadapan ribuan tawaran identitas, alternatif pemenuh kebutuhan, dan jalan hidup. Salah orang itu sendiri jika ia pun gagal menyalahkan dirinya sendiri lantaran kecerobohannya sementara jalan mencapai kebenaran terhampar di hadapannya. Ia tidak menggunakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, pikiran untuk memahami. Ia hanya ikut siapa yang lebih superior dan berlindung di dalam naungan bayang-bayangnya. Jika yang superior itu masuk ke lubang biawak, apakah ia tetap akan terjun? Lubang biawak tidak hanya lubang orang-orang yang kafir dan musyrik, tetapi juga lubang orang-orang yang lalai dalam ber-Islam. Sungguh ini peringatan bagi diri. Allah Maha Tahu.

4 thoughts on “Untuk Psikologi Islam (yang Sempit): Sebuah Sanggahan

  1. Jika kita bicara tentang tafsir ayat alquran. Ada baiknya jika kita baca beberapa kitab, tidak hanya satu kitab saja (al-mishbah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s