Untuk Psikologi Islam (yang Sempit): Sebuah Tanya Jawab

Sebagai feedback atas tulisanku sebelumnya, aku menerima beberapa sanggahan dan pertanyaan. Mari aku cek satu demi satu. Terima kasih Karim. Terima kasih Amal ^^

***

I

Bilamana ilmu pengetahuan itu akhirnya menggantikan kedudukan wahyu atau rasul, apakah itu artinya nanti iman (akidah) akan bersinggungan dengan ilmu pengetahuan?

Kupikir, bisa jadi ya maupun tidak. Tapi sebelumnya, terkait apakah ilmu pengetahuan dan iman itu akan bersinggungan atau tidak, kita perlu kembali menyamakan persepsi apakah ilmu pengetahuan itu, apakah wahyu dan rasul itu, apakah yang dimaksud dengan “menggantikan” di sini.

Bagiku tidak pernah ada istilah “menggantikan” ketika kita berhasil memahami bahwa ilmu pengetahuan dan wahyu punya kedudukan dan perannya sendiri-sendiri, dan perannya itu tidak saling berlawanan, justru saling melengkapi. Dua hal itu sesungguhnya adalah sama-sama merupakan ayat-ayat Allah yang menjadi sumber pelajaran bagi manusia. Ilmu pengetahuan bermanfaat praktis bagi manusia dalam rangka menghadapi persoalan hidupnya di dunia, sementara wahyu adalah pedoman baik dan benar yang mutlak agar manusia dapat hidup dengan lurus di dunia dan bahagia akhirat.

Contohnya: pengetahuan tentang mengolah bijih besi. Ilmu ini bernama metalurgi. Dengan besi, manusia bisa membuat senjata untuk berbagai kepentingan, salah satunya berperang. Namun agama hadir, dengan iman, manusia meyakini bahwa berperang tanpa alasan yang benar adalah perbuatan dosa; membuat dan menggunakan senjata untuk membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh adalah dosa.

Di sini, ilmu dan iman tidak saling bertentangan. Agama menaungi penerapan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan mendukung kehidupan manusia. Jelas, dalam hierarki fungsi, keduanya tidak setara, tetapi saling mempengaruhi, saling melengkapi. Wahyu Allah ada di atas ilmu pengetahuan manusia, karenanya ia dijadikan pedoman. Sementara itu, kebenaran pengetahuan manusia bersifat temporer dan dapat difalsifikasi (ada kemungkinan salah yang besar) sehingga keterandalannya sebagai pedoman hidup manusia punya kelemahan.

Untuk jawaban “bisa jadi ya (saling bersinggungan)”, bagiku itu karena sebagian orang memandang wahyu dan ilmu setara sebagai sumber kebenaran. Seandainya terjadi perbedaan konsep tentang suatu hal, orang tersebut mungkin akan bingung karena tidak jelas yang mana yang dijadikan sebagai pedoman. Pergesekan, perseteruan akan semakin besar jika yang terjadi adalah agama diletakkan di bawah ilmu pengetahuan karena bisa jadi apa yang benar menurut kitab suci berbeda dengan yang ditemukan di lewat penyelidikan ilmiah.

II

Aku setuju untuk tidak menghilangkan keterlibatan perspektif psikologi lain seperti psikoanalisis, behaviorisme, humanisme, dan transpersonal, tetapi apakah paradigma dan pondasi ilmu pengetahuan yang mendasarinya sesuai dengan nila-nilai  Islam?

Tentu saja paradigma dan landasan pengembangan ilmunya bukan Islam, karena para ilmuwannya bukan orang Islam. Tapi, aku hanya menyadari bahwa semangat mereka mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai orang-orang yang melihat ayat-ayat Allah yang ada di semesta dan di dalam diri manusia, itu sangat Islami. Ini sama seperti kasus “orang Jepang dengan kebersihan mereka”. Mereka bukan orang Islam, tetapi hidup dengan cara yang Islami (bersih) dan ketimbang orang Islam sendiri.

Bukankah dari sini muncul pertanyaan, bagaimanakah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam itu? Secara formal material, Psikologi Islam jelas menyatakan dalam “AD/ART”-nya sebagai ilmu yang berlandaskan Al Quran dan Sunnah, tetapi secara spirit, bagaimana dengan ilmu yang dikembangkan dengan semangat menyelidiki ayat-ayat kauniyah, sekalipun para ilmuwannya bukan Islam dan hanya lantaran dorongan fitrahnya sebagai manusia, ia ingin tahu tentang alam semesta? Apakah kebenarannya tetap dipertanyakan hanya lantaran “AD/ART”-nya bukan Al Quran dan Sunnah?

Perlu diketahui, kriteria sesuatu bisa dikatakan benar itu banyak. Selain tidak bertentangan dengan pedoman kebenaran yang lebih tinggi, ia perlu faktual (tidak bertentangan dengan kenyataan empiris), masuk akal (tidak bertentangan dengan rasionalitas), dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jadi, mungkin sebaiknya kita bisa bersikap adil menilai keberadaan Psikologi Islam dan psikologi barat dengan tidak berdebat di tataran yang mana yang benar, mana yang salah, tetapi dispesifikkan lagi, 1) mana yang sesuai dengan Islam, mana yang tidak; 2) mana yang faktual, mana yang tidak; 3) mana yang masuk akal, mana yang tidak; dan 4) mana yang bermanfaat, mana yang tidak, bagi dunia dan akhirat?

Bukankah Islam mengajarkan kita kriteria mencari kebenaran dengan bertanya seperti itu; untuk bersikap kritis seperti itu? Itulah standar kebenaran yang aku yakini. Dengan begitu, hanya sedikit saja teori dalam psikologi barat yang tidak Islami, tidak faktual, tidak masuk akal, dan tidak bermanfaat. Ini menyelesaikan konflik batinku, juga konflik kognitifku. Karena itulah, aku tidak pernah setuju dengan istilah Psikologi Islam, melainkan Psikologi Islami, meskipun aku tetap mengikuti konsensus tentang istilah Psikologi Islam.

Perlu kutambahkan, tulisanku ini dan tulisanku sebelumnya adalah tetang sikapku terhadap psikologi barat; bahwa akhirnya aku menyimpulkan bahwa aku punya kriteria penyaringan ilmu-ilmu barat yang datang ke hadapanku, mana yang aku pakai, mana yang aku buang. Sikap beberapa ilmuwan Psikologi Islam cenderung “buang semuanya” dengan didasarkan pada berbagai macam dalil Al Quran, tetapi dalam kenyataan mereka masih memakai teori-teori yang seharusnya tidak pernah mereka pakai karena sikap “buang semuanya” itu. Mereka seperti masih ragu-ragu dengan bermain dua kaki semacam itu. Mengapa tidak bersikap tegas bahwa memang ada psikologi barat yang tidak bertentangan dengan Islam? Mengapa bukan kemungkinan kolaborasi yang dieksplorasi, justru kompetisinya? Mereka berakhir membingungkan mahasiswa dan orang-orang yang belajar.

III

Aku masih haqul yakin bahwasanya ada perbedaan bangunan ilmu pengetahuan mengenai islam dengan ilmu psikologi. Menurutku ilmu pengetahuan dalam Islam sejalan dengan jalannya iman, karena mereka mendasarkan paradigma dan pondasinya lewat Al Quran dan As Sunnah, dan itu dibuktikan lewat ilmu pengetahuan yang akhirnya membuat iman seorang muslim bertambah.

Bukannya psikologi yang telah memberikan tempat untuk akhirnya Islam bisa masuk lewat kajian psikologi agama, tetapi memang secara harfiah manusia itu sesungguhnya adalah makhluk homo religion yang akhirnya memang ia membutuhkan agama untuk mengisi hidupnya, terkhusus meninggikan derajatnya.

Aku masih ingat kata ‘Umar dimana ia bilang bahwasanya bangsa Arab dulu adalah bangsa yg kedudukannya paling rendah diantara bangsa-bangsa lain seperti Romawi dan Persia, tetapi ketika Islam datang dengan segala keindahana dan keagungannya bisa mengangkat bangsa Arab dari derajat yang paling rendah ke derajat yang tinggi, setinggi-tingginya.

Memang itu benar. Sebagai orang Islam, proses idealnya memang seperti itu. “Ilmu pengetahuan dalam Islam sejalan dengan jalannya iman, karena mereka mendasarkan paradigma dan pondasinya lewat Al Quran dan As Sunnah, dan itu dibuktikan lewat ilmu pengetahuan yang akhirnya membuat iman seorang muslim bertambah.”

Ketika aku bicara tentang psikologi barat yang memberikan tempat bagi Psikologi Islam, sebenarnya aku berbicara tentang kesempatan/ jalan berkolaborasi yang besar dengan psikologi barat demi mencapai kemanfaatan yang juga lebih besar. Kita sebaiknya punya pengetahuan tentang pohon perkembangan psikologi beserta percabangannya, lalu memutuskan di manakah letak Psikologi Islam kita. Kita berhak untuk menumbuhkan pohon Psikologi Islam kita sendiri, tetapi pertanyaannya tetap di antara ilmu-ilmu psikologi yang ada di dunia, di mana tempat kita, dengan jalan apa kita dapat diterima di dunia?

Di era sekarang ini, kita tidak dapat bersikap eksklusif. Peradaban umat manusia sudah tidak bisa dibeda-bedakan lagi karena di mana-mana semua nyaris hidup dan berteknologi dengan cara yang seragam, sekalipun identitas dan nilai yang dianut bermacam-macam. Apakah kita ingin membangkitkan peradaban Islam yang gemilang? Itu visi terbaik seorang muslim, tetapi bagiku, caranya bukan dengan memisahkan diri, melainkan dengan mengakrabkan diri dan bekerja sama dengan lebih banyak orang dan beri mereka pengaruh-pengaruh yang baik sesuai tanggung jawab kita sebagai seorang muslim, sampaikan walau hanya satu ayat.

Kalau Psikologi Islam ingin mendunia, ia tidak bisa mencapainya dengan membangun dunia (imajiner)nya sendiri karena dunia yang Allah berikan kepada kita hanya satu, yaitu yang kita tempati sekarang. Di luar sana, orang-orang sudah banyak mati lantaran perbedaan ideologi, suku bangsa, agama, dan pandangan politik, demi kekuasaan, kedudukan, kekayaan, dan kesejahteraan, meneguhkan hegemoni. Apakah antarilmuwan juga perlu mengalami perseteruan yang sama? Apakah pertarungan yang sama juga perlu terjadi lapangan ilmu pengetahuan, di kalangan ilmuwan?

Karena itu, bagiku, yang kita butuhkan sekarang adalah kemampuan untuk duduk bersama dengan orang yang berbeda dengan kita dan bekerja sama dengan mereka, dengan tidak menonjolkan perbedaan yang mungkin memang tidak bisa diubah. Inilah seni berkolaborasi. Ada kalanya kita harus mengorbankan sesuatu dan bersikap akomodatif demi kemanfaatan yang lebih besar, demi kehidupan yang lebih baik. Fiqih prioritas bermain di sini.

2 thoughts on “Untuk Psikologi Islam (yang Sempit): Sebuah Tanya Jawab

  1. tulisan yang mencerahkan
    saya mah tak tahu banyak tentang psikologi
    pun soal Islam saya hanya sebatas ujung kuku saja..
    tapi tulisan ini memberi semangat kepada saya untuk mengaplikasikan Islam yang benar dalam segi kehidupan..

    Assalamu’alaikum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s