29`-5-2013

I

Di mana-mana aku mendengar suara waktu

melihat waktu

Di langit yang berubah merah, pelan awan yang berarak, matahari yang putih

Di detik putaran jam di dinding, di detak jantungku sendiri

Atau di dalam kehidupan yang memintaku berlari, cepat

Dari satu tempat ke tempat yang lain

satu hari ke hari yang lain

yang kutinggalkan dan yang kutuju

 

Di mana-mana aku mendengar suara waktu

melihat waktu

Di setiap tubuh tempat air mata dan peluh menetes

Teriakan-teriakan, seruan-seruan yang hilang

Pembicaraan-pembicaraan yang berakhir

Lalu aku terdiam

 

Aku mendengar suara waktu

Aku melihat waktu

Hal-hal ada dan menjadi tiada

Yang tidak ada di sana kini ada

Apa yang baru di setiap harinya,

segala hal melapuk

 

***

II

Pelan-pelan menuruni jalan ini

melihat lautan luas, dan kapal-kapal jauh berlabuh

Langit ungu, awan jingga, daun berkilau, dunia di bawah matahari

Pelan-pelan menuruni jalan ini

suara mesinku, orang-orang melewatiku

Langit biru menyentuhku, jiwaku yang bebas

Namun, kapan aku berani berteriak selepas-lepasnya?

Dan pemandangan itu berlalu

Aku kembali menghadapi aspal kelabu

mataku tak dapat teralihkan

Aku bertanya terus dalam hatiku

Mengapa dadaku terasa akan pecah?

Kehidupan membuat manusia yang hanya melihat tujuan berlari tergopoh-gopoh.

***

Setengah tahun aku mengendarai sepeda motor sendiri, satu kali terserempet, satu kali hampir tabrakan.

Inilah salah satu sebabnya mengapa lama aku bertahan lebih suka naik angkutan umum: pikiranku gemar melayang-layang, mataku gemar melihat-lihat; langit, yang ada di kanan dan kiri jalan, wajah orang-orang, warna-warna awan, pepohonan yang berayun-ayun… sesuatu yang dulu aku nikmati dari jendela angkutan umum dengan mata tak teralihkan.

Aku senang hidup di Kota Semarang. Hanya dari satu titik aku bisa melihat laut, gunung, sungai, bukit-bukit, dan lembah. Sekitar 35 km sehari, perjalanan pergi dan pulang, aku tak pernah bisa mengeluh.

Setiap hari selalu terhampar keindahan yang baru; apakah itu ketika hujan, atau ketika hari terang. Aku berburu pelangi. Aku menunggui matahari turun. Aku berjalan pelan-pelan. Ini drama kehidupan yang lain. Aku melihat-lihat tanda-tanda Tuhan. Ada banyak sebab untuk selalu berucap, “Subhanallah… Alhamdulillah… Lailahaillallah… Allahuakbar…” dan merenungkan.

Semarang, 1 Juni 2013. Setelah berbulan-bulan tidak menulis dengan tag puisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s