Memperbaiki Cara Kita Berinteraksi dengan Al Quran

Celakanya kita yang mengaku sebagai umat yang mengimani Al Quran adalah jika Al Quran yang kita baca tidak berhasil menjaga kita.

***

Aku tidak pernah mengapa, demikian ibuku mengajariku cara berinteraksi dengan Al Quran ketika aku kecil. Setelah tamat Iqro, aku menghabiskan satu tahun untuk membaca Al Quran untuk kali pertama dengan pendampingan. Setelah khatam yang pertama kalinya, ibuku memintaku untuk mulai membaca Al Quran dengan terjemahannya, sedikit demi sedikit, sambil ibu menjelaskan maksudnya jika aku bertanya. Aku khatam yang kedua kalinya dengan cara seperti itu. Setelah itu, ibu melepaskan aku, membaca Al Quran dengan cara yang aku suka.

Aku tidak begitu tahu bagaimana proses yang dini itu mempengaruhiku. Tapi, ada satu peristiwa yang tidak pernah aku ceritakan pada beliau bahwa ketika aku kecil, sepertinya kelas 3 SD, aku pernah menangis. Sebabnya aneh sekali, karena aku tidak bisa meyakinkan temanku yang beragama Nasrani bahwa Tuhan itu bukan tiga, tetapi Esa, dan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan, melainkan hanyalah seorang rasul. Aku menangis sedih sekali. Itulah pertama kalinya pemahamanku tentang Al Quran diuji.

Selanjutnya, karena itu pula, aku tidak bingung membaca buku The Choice-nya Ahmet Deedat ketika aku kelas 6 SD, lalu literatur-literatur keagamaan lainnya. Aku penyuka ilmu pengetahuan. Sementara orang-orang (masih) membahas polemik seputar ilmu sekuler, aku bisa menutup mata pada itu dan dengan gembiranya menikmati proses mensintesis pemahaman Qurani dengan ‘ilmi yang setiap kalinya membuatku terus merasa takjub, sesuatu yang mungkin tidak dialami oleh semua orang. Sementara orang-orang (masih) berdebat, aku sudah bisa diam dengan tenang, dan terkadang bisa berkata, “Bukan begitu maksudnya…” di dalam hati.

Yang satu ini aku juga belum tahu pengaruhnya, tetapi sepertinya membaca Al Quran meningkatkan rasa moralku. Pernah waktu kecil, aku hampir mencuri, aku takut sendiri dan berakhir mengembalikan beberapa permen yang aku ambil ke tempatnya lagi. Aku pernah hampir memanipulasi nilai ulanganku yang andai satu nomor itu tidak salah, aku bisa dapat nilai sempurna, aku takut sendiri dan berakhir jujur pada guru kelasku. Aku pernah hampir menyontek, aku juga takut sendiri. Aku tidak membuang sampah sembarangan, menghemat apa yang sebaiknya tidak diboroskan macam uang, air dan listrik, menyelamatkan binatang-binatang kecil yang harus diselamatkan dari bahaya manusia ^^

Bersamaan dengan membaca terjemah, aku membaca tafsir singkatnya. Sekarang, karena keluarga sudah membeli tafsir yang lebih besar lagi, sekarang itulah yang aku baca. Sekarang, karena aku bercita-cita jadi ilmuwan, aku ingin mengadakan penelitian suatu hari nanti. Dampak longitudinal Al Quran bagi hidup seorang muslim. Nanti dibedakan, bagaimana yang membacanya hanya Arab-nya saja, bagaimana yang membacanya dengan artinya, bagaimana yang menghafalnya, bagaimana yang menghafal juga memahami maknanya… Great!!! Dari situ mungkin aku bisa memberikan masukan yang sungguh-sungguh tentang bagaimana sebaiknya pembelajaran Al Quran itu.

Namun demikian, pakai rasionalitas saja, tidak perlu menunggu saat itu untuk berkata bahwa sepertinya ada yang sebaiknya kita perbaiki dari cara kita berinteraksi dengan Al Quran. Kita orang Indonesia punya masalah yang unik terkait Al Quran kita. Bahasa ibu kita bukan bahasa Arab. Sepanjang kita tidak membaca terjemah Al Quran, selama itu pula kita tidak bisa dikatakan membaca Al Quran, sekalipun benar, kita membaca tulisan Arabnya dengan begitu rajinnya. Kita bicara tentang apa yang bermanfaat bagi hidup dan psikologi mengajariku bahwa orang dikatakan benar-benar membaca jika ia berhasil mencapai pemahaman akan apa yang dibacanya.

Reading is clearly a process which is complete only when comprehension is attained (Dechant & Smith, 1977, h. 27).

Aku teringat surat yang pertama kali turun. Bacalah dengan nama Tuhan-mu… Bacalah, dan Tuhan-mulah yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al ‘Alaq 96: 1-5)

Kita tidak benar-benar membaca Al Quran sampai kita merasakan pengajaran Al Quran. Bagaimana kita belajar jika kita tidak mencapai isinya? Bagaimana kita mencapai isinya jika tidak membaca terjemahannya, kalau kita tidak mengerti bahasa Arab? Kita tidak wajib menguasai bahasa Arab, tetapi memahami Al Quran itu harus. Bagi yang bertarget khatam berkali-kali sampai mengajinya secepat kilat, kita tidak punya kewajiban khatam Al Quran, tetapi mengetahui, memahami, dan bisa mengajarkan minimal satu ayat itu penting. Bagi yang berjuang menghafalkan Al Quran, itu memang ibadah mulia, tetapi jangan tinggalkan pula, rutin memahami maknanya, karena sayang, jika kita menghafal banyak, tetapi hafalan itu hanya menjadi kalimat-kalimat kosong tersimpan di kepala.

***

Mengapa aku menulis ini?

Karena aku prihatin.

Aku mendengar percakapan rekan-rekanku tentang dan terkait Al Quran. Seorang rekanku menghafalkan Al Quran, sesuatu yang membuatku malu pada diriku karena aku tidak lagi menghafalkan Al Quran. Suatu hari kami menonton video ceramah seorang ustadz yang merupakan seorang muallaf. Ia senang sekali dengan ustadz tersebut dan menceritakanku bagaimana perjalanan ustadz tersebut sampai ia memeluk Islam. Ustadz tersebut memeluk Islam karena yakin akan kebenarannya setelah mengikuti sebuah diskusi tentang kebenaran Al Quran bahwa Al Quran benar tak ada keraguan di dalamnya (QS Al Baqarah: 1-5) bahkan sampai Allah menantang manusia untuk menunjukkan bahwa Al Quran otentik sebagai kitab Allah…

Dengan Al Quran berterjemah di tangannya, di sini dia nge-hang. “Itu surat apa, ayat berapa ya… Pokoknya begitulah! Allah tu sampai menantang manusia, juga seluruh penolong-penolongnya untuk membuat yang serupa dengan Al Quran, tapi manusia tu nggak bisa…”

Aku singkat saja menjawab, coba buka satu halaman lagi. QS Al Baqarah: 23.

“Wah, kok tahu?”

Dalam hati aku heran sendiri. Masa tidak tahu? Itu dua halaman pertama Al Quran. Masa belum pernah kau baca? Tidak mungkin…

Jadi, mengapa aku menulis ini?

Agar tidak semakin banyak muslim-muslim yang mengherankan.

2 thoughts on “Memperbaiki Cara Kita Berinteraksi dengan Al Quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s