Seri Organisasi Bag. 18: Ilmu tentang Kehancuran Organisasi

Organisasi sama seperti manusia. Ia lahir dan suatu saat akan mati. Ia tumbuh dan berkembang, suatu saat nanti akan menua dan tak kuat lagi menanggung beban. Hanya bedanya, organisasi dapat diremajakan seiring dengan datangnya perubahan dan pembaruan-pembaruan. Orang-orang di dalamnya datang dan pergi silih berganti demi tempat-tempat yang harus diisi atau kemudian diputuskan untuk dihilangkan. Orang-orang direkrut atau dilepaskan. Kebutuhan-kebutuhan didefinisikan ulang, aturan-aturan ditegaskan, sistem-sistem diperbarui…

Kita bisa melihat organisasi manusia yang berusia ratusan tahun, tetapi kita juga bisa melihat organisasi yang mati besok. Tidak ada yang abadi, bahkan dalam organisasi sesempurna apapun. Hanya saja, seorang pendiri tentu tak ingin mengalami itu, tak ingin menyaksikan itu, tak ingin memikirkan itu. Ia tak mau berpikir tentang kondisi-kondisi yang akan mengarahkan organisasinya pada keruntuhan. Ia melulu menengadah memandang mimpi-mimpinya, hal-hal besar yang dapat dicapainya di masa depan. Ia melulu berencana, berstrategi untuk suatu kemajuan… Andai ia mau belajar satu ilmu yang lain. Dramatis… Aku akan menamakan ini ilmu tentang kehancuran organisasi.

***

Singkatnya, organisasi yang sehat akan tumbuh besar, sama seperti manusia yang sehat dan kesehatannya itu memungkinkannya untuk bergerak dan maju. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu meregulasi dirinya, memanajemen setiap aspek dalam dirinya. Organisasi yang sehat didirikan di atas fondasi yang kokoh; filosofi, visi yang mulia, cita-cita yang besar hendak mensejahterakan manusia di dalam dan di luar dirinya. Di sini, kita bisa kembali pada prinsip bahwa yang bermanfaat, yang benar dan baiklah yang akan bertahan/ dipertahankan tetap ada di bumi.

The think tank telah didefinsikan. Ia menjalankan fungsinya sebagai otak di balik tindakan-tindakan dan keputusan organisasi. Keputusan dan rencana tindakan hanya akan menjadi keputusan dan rencana sampai ada orang yang bersedia menjalankannya. Organisasi yang sehat bergerak dengan tangan dan kaki yang kuat. Orang-orang yang sejak awal sudah melabuhkan hatinya bersama organisasi, yang cita-citanya adalah cita-cita organisasinya, cita-cita organisasi adalah cita-citanya. Organisasi “hanyalah” kebesaran dari dirinya. Kondisi awal ini tidak pernah terdiri atas banyak orang, melainkan sedikit, tetapi tangguh, berenergi besar. Mereka orang-orang yang berdiri dari kelumpuhan menuju keberdayaan, dari titik nol, bahkan minusnya. Tetapi sungguh kehendak Allah… Allah menganugrahkan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, bekerja lurus, dan penuh keikhlasan.

Ada masanya kemudian organisasi mulai memiliki satu demi satu hal yang dahulu diimpi-impikannya. Satu demi satu mimpinya menjadi kenyataan sehingga ia merasa cukup realistis untuk bermimpi yang lebih besar lagi. Di sinilah datang ujian pertama. Aku ingin teori solidaritas Ibn Khaldun dan bagaimana solidaritas itu dapat meluntur… Di sinilah organisasi mulai menjadi entitas yang menyedihkan. Kemapanan sedikit banyak memang melenakan ketika yang terpikirkan adalah “semua baik-baik saja”. Kau jadi tidak mengecek mimpi orang-orang dan berasumsi bahwa semua orang masih bersepakat pada kesepakatan lama. Kau tidak bertanya yang membuat mereka menjawab dengan jujur tentang kekecewaan, ketidakpuasan, dan kesusahan-kesusahan mereka. Kau tidak menjalankan sistem penjamin kepuasan berorganisasi.

Pada titik ini, kebahagiaan orang sudah tidak lagi bersumber dari mimpi mereka yang menjadi kenyataan, yang dahulu diperjuangkan dengan penuh dedikasi dan semangat. Mereka mencari tempat mapan mereka di dalam organisasi, kepastian hidup, jaminan kesejahteraan bahwa yang mereka berikan dan janjikan akan berikan akan juga dibalas dengan yang sebanding. Mereka tidak dapat lagi mengorbankan apa-apa yang dahulu dapat mereka korbankan. Mereka berubah realistis, tidak lagi dapat dihibur dengan apa yang dahulu persahabatan, solidaritas, dapat berikan.

Kebahagiaan adalah pengisi ruang hati, bukan lambung. Kisah-kisah pengkhianatan selalu bermula dari keberadaan kepentingan, mimpi-mimpi, dan pendapat personal yang tidak terakomodasi, diri pribadi yang dikecewakan tanpa dipulihkan, pengikut yang “ditinggalkan” oleh sang pemimpin, kawan setara yang lalu dijadikan bawahan… Prinsip ketiga yang terlanggar di sini: keadilan. Keadilan dalam membagi kekuasaan dan wewenang, membagi tempat dalam struktur, membagi keuntungan, membagi kesempatan, membagi kasih sayang.

Organisasi hancur karena orang-orang di dalamnya yang salah diperlakukan. Kau dapat memiliki sistem organisasi terbaik, tetapi sekali kau memperlakukan orang dengan cara yang menyakiti hati mereka, kau menanam benih kehancuran. Kau, orang-orang dalam organisasi, terlalu banyak meminta, tetapi tidak banyak memberi; terlalu banyak memikirkan hasil, tetapi tidak memikirkan hati dan hidup orang-orang yang bekerja bersamamu. Organisasi tidak cukup dipimpin dengan kepemimpinan intelektual, tetapi juga kepemimpinan berhati.

Sekarang, tanyalah pada diri masing-masing, kekerasan hati apa yang sedang melanda kini? Tidak bisa memaafkan rekan yang berbuat salah? Berlarut-larut merasa kecewa pada diri rekan yang gagal memberikan apa yang seharusnya mereka berikan? Terus-menerus merasa tidak puas? Marah yang mati-matian disembunyikan? Membiarkan penyimpangan-penyimpangan lantaran putus asa terhadap diri rekan? Rasa ketidaksukaanmu? Rasa tidak percayamu?

Besar sekali biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan orang-orang terbaik. Tetapi biaya itu akan semakin tak tertanggungkan sebelum kau mampu menjadi dirimu yang terbaik bagi orang-orang itu. Kau hanya sedang mendapatkan orang yang akan pergi.

***

Yeah… Akan ada saatnya aku akan menulis tentang manajemen solidaritas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s