Reaching Dream Bag. 7: Bolehkah Saya Tidak Dibayar?

Pak Direktur, izinkan saya mengkorupsi sedikit waktu kerja untuk menulis sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan sayašŸ˜€

***

Berapa besar kau ingin digaji?

Dahulu, di salah satu kelas Psikologi Industri dan Organisasi, pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang wajib dimengerti. Itu pertanyaan krusial dalam proses seleksi dan wawancara kerja yang diajukan oleh employer kepada para aplikan/ pelamar kerja. Sampai saat ini, diskusi mengenai bagaimana sebaiknya seorang aplikan menjawab pertanyaan itu masih sebatas teori dalam kepalaku: Kau harus realistis; realistis terhadap perusahaan, juga realistis terhadap kebutuhan dirimu sendiri. Kau harus tahu kekuatan finansial perusahaan dalam menggaji karyawannya. Kau perlu tahu, “Berapa sih biasanya?”, “Berapa sih seharusnya?”

Sekali lagi ini pertanyaan krusial: Berapa Anda ingin dibayar? Tiga juta? Empat juta? Lima juta? Dan aku terus tidak mengerti, bagaimana pertanyaan macam itu bisa mengugurkan seorang calon karyawan. Ada banyak hal, terutama kenyataan-kenyataan di dunia kerja, yang tidak bisa diungkapkan di ruang kuliah, bukan? Ada baiknya jika kita mengalami sendiri lewat pekerjaan pertama kita.

Ya. Waktu berlanjut dan sampailah aku pada titik di mana akhirnya aku mendapatkan pekerjaanku ini. Pertanyaan itu juga muncul di akhir proses wawancara kerja pertamaku. Bisalah aku menilai sesuatu, termasuk diriku sendiri, pada saat itu. Apa yang aku jawab?

“Saya tidak mempersoalkannya.”

Jawaban yang sebetulnya, mungkin, berbahaya dari kacamata industri, di mana orang memang wajar bertransaksi, bertawar-menawar, dan bersepakat soal harga. Aku tidak mempersoalkan berapa yang akan aku dapat, karena aku tidak punya persoalan terkait uang dalam hidupku. Aku hidup berkecukupan dan aku sadar kebutuhan hidupku tidak banyak. Aku bersyukur atas pilihanku untuk hidup sederhana, karenanya aku tidak butuh banyak uang. Aku belum butuh banyak uang.

Namun demikian, sesungguhnya ada jawaban lain di balik jawaban itu.

Aku tidak mempersoalkan berapa yang akan aku dapat. Karena aku tidak tahu berapa nilai diriku. Karena aku belum tahu nilai diriku; atas apa yang aku bisa berikan, berupa pikiran, ide-ide, kemampuan, keahlian, atau apapun. Aku belum tahu nilai dari apa yang bisa aku berikan. Apakah kontribusiku benar-benar berharga? Apakah yang aku lakukan ini adalah pekerjaan yang langka sehingga patut dibayar mahal? Atau apakah aku sebaiknya tahu diri, semua orang juga bisa melakukan apa yang sedang aku lakukan?

Tapi, bagaimana aku bisa tahu jawabannya sebelum aku benar-benar mengalami dan tahu seberapa besar aku mampu memberikan kebaikan atau minimal pengaruh baik? Bukankah itu akan menjadi bukti paling nyata seberapa besar nilai diriku bahwa aku tidak serendah sampah? Aku benar-benar merasa aku akan benar-benar tak berharga jika aku sama seperti banyak orang lain yang justru menjadi biang masalah di tempat kerjanya. Aku merasa tidak patut meminta sebelum bisa memberi. Maka, biarkan aku, berikan aku kesempatan untuk melakukan sesuatu…

***

Pengalaman bekerja ini membuatku banyak merenung tentang apakah rezeki itu.

Berapa bayaran terbesar yang bisa diterima manusia dalam bentuk harta?

Aku tahu cerita-cerita tentang orang yang gajinya berjuta-juta, bermilyar-milyar. Apakah itu sebanding dengan usaha yang diberikannya? Ataukah ia hanya menjadi “tempat pembuangan” bagi uang-uang yang berlimpah yang mengalir di sekitarnyaĀ  sehingga tak ada yang bisa dilakukannya kecuali juga membuka keran uangnya besar-besar?

Akan ada pertanyaan: Semua itu untuk apa? Bukankah kantong kesenangan manusia tidak seluas bumi dan langit? Bukannya pecah, ia akan kempis sendiri lantaran kebosanan. Akan ada saatnya uang-uang itu tidak berguna karena ia tidak lagi bernilai guna bagi diri manusia. Akan ada saatnya uang tidak lagi menjadi rezeki; tidak lagi menjadi pemelihara kehidupan.

Mengapa manusia cenderung meminta yang banyak dan tidak mau menerima yang sedikit?

Pengalaman bekerja ini membuatku banyak merenung tentang apakah kecukupan itu.

Seberapa besar sebetulnya harta yang kita butuhkan untuk mempertahankan hidup dan menjamin keselamatannya di dunia dan akhirat? Aku hanya tahu bahwa sebenarnya itu tidak banyak. Sering, manusia sendiri yang membuat-buat kebutuhannya; mengada-adakan sesuatu yang tidak seperlunya ada.

Bagaimana harta itu akan bermanfaat, bagaimana semua yang kita usahakan bermanfaat, tidak terletak pada keputusan manusia, melainkan keberkahan dari Allah. Apa yang lebih dari cukup itu yang kemudian disucikan lewat kewajiban zakat yang hanya 2,5%. Tapi kemudian, ke mana yang sisa itu pergi? Bagaimana kesadaran akan sisa harta itu? Sunnah untuk disedekahkan, apakah sisanya lagi akan menjadi beban yang memberati punggung di akhirat? Apakah itu sebab Rasulullah meninggalkan dunia dengan neraca keuangan nol untuk dunia yang ditinggalkannya? Tidak ada sisa. Tidak ada banyak sisa.

Tapi, tidak semua orang mampu meninggalkan hidup tanpa sisa. Harta-harta yang ditinggalkan karenanya diwariskan, dan karenanya harta waris diatur dengan sangat hati-hati dalam hukum Islam.

Pengalaman bekerja ini membuatku banyak merenung tentang apakah keikhlasan itu.

Aku bersiap untuk sebuah cita-cita yang besar. Suatu hari aku bertekad untuk tidak menjadi orang yang takut miskin. Memberi banyak yang lalu dilupakan lebih baik daripada memberi sedikit tetapi terus diingat-ingat karena penyesalan, takut kerugian, takut kemiskinan, takut kehidupan yang tak terjamin, yang tak tersembuhkan.

Aku bersiap untuk kemanfaatan diri yang lebih besar. Ketika aku menjadi pribadi yang lebih baik, di mana besar amal harus seiring dengan besar ilmu yang dimiliki, aku harus tahu bahwa yang akan memetik manfaat adalah banyak orang dari beragam kelas sosial. Selalu ada lebih banyak orang yang tidak mampu membayar ketimbang yang mampu membayar lebih. Nanti akan ada saat di mana aku harus menanggalkan jubah profesionalitasku dan lebih banyak menggunakan hati ketimbang logika, bahwa aku adalah manusia sama seperti mereka.

Mungkin, nanti akan ada saat di mana aku dilamun dilema antara memperjuangkan hidup sendiri dan hidup orang lain. Mungkin itu masih bertahun-tahun lagi, tetapi aku berdoa semoga diriku di masa itu bisa menjawab dua pertanyaan ini dengan benar:

Wahai diri, mengapa tidak wajar, bahwa orang yang bekerja tidak harus dibayar?

Wahai diri, bolehkah aku tidak meminta imbalan?

2 thoughts on “Reaching Dream Bag. 7: Bolehkah Saya Tidak Dibayar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s