Poetry of The Week: Hidupmu, Genggamanmu, Nerakamu

End, 16/ 10/ 2012

Hidupmu, Genggamanmu

Hari ini, tuntas satu tahap perjalanan sepanjang hayat

Saat toga tersandang dan senyum orangtua pun terkembang

Itulah satu pintu bahagia

Kau sudah menjadi sarjana

 

Namun, kelulusan bukan melulu soal gelar

Bukan semata lama masa studi

Bukan sebatas berapa nilai akhir

Kelulusan adalah awal bagi pembelajaran: bagaimana kau akan mengabdi?

 

Inilah titik kau memulai hidu

Apa yang hendak kau lakukan? Kau mau ke mana?

Sungguh, sudahkah kau berencana?

Kau muda, bertenaga, bermimpilah, jangan redup!

 

Tak peduli aral dan kerikil di setiap perjalanan dan perjuangan

Tetap tegak, lurus, mantapkan hati, kau pemuda harapan

Orangtuamu, keluargamu, bangsa negaramu, Tuhanmu

Ingat! Hidupmu bukan hanya milikmu

 

Teruskan! Senyummu, langkahmu, tulus hatimu

Bermimpilah! Demi asamu, cita-citamu, masa depanmu

Bersyukurlah! Atas lelahmu, perjuanganmu, masa lalumu

Hari ini, hidupmu pilihanmu, genggamanmu

 

Berhentilah! Jangan kutuk kegelapan dan masa surammu

Nyalakan lilinmu! Lihat jalanmu terang oleh harapan

Jalanilah! Dengan dedikasi, keyakinan, kegigihanmu

Hari ini, hidupmu kau ingat, genggamanmu

 

Hari ini, tuntas, kisah abadi terukir di kampus tercinta

Terim kasih guruku, lenteraku, keluargaku, pahlawanku

Terima kasih sahabatku, penyertaku, Tuhanku, pembimbingku

Hari ini, dalam genggaman, hidupku.

***

Puisi ini adalah versiku atas puisi yang temanku buat (dengan judul yang sama), yang dibacakan di upacara kelulusan sarjana hampir delapan bulan yang lalu. Aku hanya tak puas dengan buatannya, dan aku membuat sendiri puisi yang aku suka untuk memperingati hari paling miris dalam kehidupanku (!).

Puisi ini untuk aku baca sendiri, untuk memperingati sebuah perasaan yang tidak akan hilang; perasaan jijik lantaran ketidakmampuanku mendengar jeritan hatiku. Mengapa aku lemah di hadapan harapan orang lain, di hadapan kebiasaan-kebiasaan seputar peristiwa kelulusan? Aku bertanya-tanya. Orang-orang bicara tentang kebahagiaan mereka melepaskan diri dari dunia perguruan tinggi. Orang-orang bicara tentang kesedihan mereka terlepas dari kegembiraan-kegembiraan menjadi mahasiswa. Tidak ada yang memahami rasa takutku. Tidak ada yang bertanya tentang rasa takutku. Aku menyimpan itu sendiri dan perasaan yang melanda itu tak terkatakan sampai hari ini datang.

Puisi ini ditulis sederhana dalam secarik kertas, kutemukan berdebu di bawah tumpukan buku-buku di dalam kamarku. Begitulah caraku menyimpannya, jika kau bertanya, “Mengapa kau tidak menyimpannya dengan baik?” Aku ingin menghinakan perasaan munafikku yang terus terabadikan dalam puisi terburukku ini. Aku ingin terus mengingat kegetiranku, ketakutanku akan kesia-siaan hidup, menjadi orang yang berilmu tanpa amal.

Lubang nerakaku, mungkinkah sudah mulai dalam tergali detik ini?

***

Hidumu, Nerakamu

Akankah kau tetap meneruskannya? Memimpikannya?

Akankah kau tetap berdiri tegap? Mantap?

 

Jika:

Apa yang kau gigit dan mulutmu yang berdarah-darah

Apa yang kau genggam dan jemarimu yang patah-patah

Apa yang kau yakini dan terserak otak kepalamu yang pecah!

Membunuh.

 

Akankah kau yakin jalan itu terang? Cemerlang?

Akankah kau yakin tetap berjuang? Dan menang?

 

Jika:

Tuhanmu

negara bangsamu, masyarakatmu

keluargamu, orangtuamu,

dirimu…

Menjadi musuh.

 

End, 19/ 06/ 13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s