Reaching Dream Bag. 8: Merenungkan Momen yang Bernama “Titik Balik”

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami mengembalikannya ke (tingkat) yang serendah-rendahnya.” (QS At Tiin 95: 4-5)

***

Menyaksikan berita di salah satu saluran televisi nasional, masih tentang masalah suap impor daging sapi yang menyeret mantan presiden salah satu partai dan beberapa petingginya. Aku tidak salah kalau akhirnya berkomentar. Ya Allah, semoga kebenaran akhirnya tampak. Hukumlah dengan seadil-adilnya orang-orang yang benar-benar berdosa. Bersihkan mereka yang memang bersih dan lurus. Aku pribadi tidak mau dipimpin oleh orang-orang belang begitu. Aku tidak bisa bersikap “kami dengar, kami taat” terhadap orang-orang yang mengajak ke neraka ini. Ibuku pun ikut bicara, “Kasihan kader-kader mereka di daerah, yang loyal, yang sungguh-sungguh, yang benar-benar bersih, dan berjuang untuk masyarakat.” Dan aku bicara semakin keras, “Semangat, KPK!” Adikku juga bicara, “Ih menjijikkan. Apa mereka nggak malu ya? Apa keluarganya nggak malu ya?”

Sore tadi, kami sekeluarga memang ramai seperti itu. Tapi, ada saatnya aku kemudian diam. Bagaimana bisa orang yang mengerti agama melakukan dosa yang seperti? Adikku menjawab, “Semua orang bisa salah, Kak.” Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak habis pikir, di titik mana orang-orang baik itu bisa terperosok, terpeleset, terjerembab, jatuh sedemikian dalam? “Orang kalau sudah dekat harta dan kekuasaan memang begitu. Sering mau tidak mau ikut terseret.”

Mataku membesar. Mau tidak mau ikut terseret? Sungguhan ya ada dunia yang seperti itu, dunia di mana kita sebagai manusia tidak berdaya berkata tidak? Benakku membayangkan kurva U terbalik, parabola di mata pelajaran fisika bab gerak berubah beraturan atau apalah namanya, yang setiap ulangan dulu aku tidak pernah dapat nilai di atas enam (!) Gravitasi bumi benar-benar berfungsi dengan baik. Pelambatan yang akhirnya membuat benda diam dan tak bisa maju lagi, justru meluncur kembali ke tanah. Itulah yang dimaksud semakin tinggi jatuhnya semakin sakit.

Ah… aku ingat bagaimana seorang rekan kerjaku terpekur setelah menonton rekaman berita terkait isu ini beberapa waktu yang lalu. Aku ingat orang-orang yang bertekad tetap percaya bahwa pemimpin-pemimpin mereka masih dapat dipercaya. Aku ingat rekan-rekan yang rajin sekali kajian di masjid, dalam halaqoh-halaqoh, atau turun ke jalanan menggugat mismanajemen pemerintahan daerah dan pusat.

Aku, terakhir sebelum meninggalkan ruang makan untuk melanjutkan pekerjaan mencuci, membayangkan si terdakwa dan mereka yang terseret. Mereka juga pasti pernah tahu rasanya menjadi pemuda yang terpekur, yang rajin keluar masuk masjid dan ruang-ruang syuro dari yang sempit sampai yang luas, menjadi pahlawan jalanan… Suara-suara mereka memang sudah lama lenyap terbawa angin, tetapi ketika itu tak terdengar lagi oleh hati, saat itulah momen yang bernama “titik balik” itu terjadi. Pertolongan Allah tidak jadi datang, justru dengan kuasa-Nya orang-orang ini dihempaskan ke titik yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya bisa mereka alami.

Ya, di dunia ini bagaimana kita bisa merasa aman kalau hari ini kita baik-baik saja besok juga akan baik-baik saja? Macam setiap peradaban yang menanam bibit kehancurannya sendiri, hidup manusia pun begitu. Apa yang kita tanam? Kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja dilakukan, atau yang kita abaikan, atau yang kita remehkan, tumbuh semakin lama semakin besar menjadi pohon kegelapan hati yang berakar dalam, berbatang kuat, dan bermahkota luar biasa dengan buah perilaku-perilaku salah lainnya. Bagaimana kita bisa merasa aman, merasa yakin bahwa akhir itu benar-benar indah? “Titik balik” itu bisa terjadi kapan saja. Kita yang pernah berada di tempat tinggi dan mulia dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya.

Aku lanjut menjemur pakaian yang sudah selesai dikeringkan. Aku berpikir tentang diriku sendiri. Ah… Hari ini aku bisa bicara seperti ini tentang mereka, tapi tidak ada yang tahu apakah aku juga akan ditakdirkan mengecap panasnya kursi terdakwa, dan orang lain akan membicarakan diriku seperti yang aku lakukan sekarang ini, menjadikan aku bahan perenungkan mereka. Aku menelan ludah dan tak bisa bicara lagi. Na’udzubillah

Ya Allah, ingatkanlah aku jika aku bersalah. Ingatkan aku jika aku bersalah. Berikan aku peringatan sebesar-besarnya jika aku bersalah. Aku lebih bisa tahan adzab dunia ketimbang adzab akhirat. Jika itu menyangkut kesalahan yang harus ditebus, semoga selalu ada kesempatan untuk memohon ampun dan memperbaikinya…

Biarkan aku merasakan pahitnya penyesalan dan rasa berdosa, sebelum datang masa sia-sia saja menyesal dan merasa berdosa. Jadikan aku orang yang senantiasa ingat dan senang diperingatkan. Buatlah hatiku mau menerima nasihat, seenggan apapun itu. Jadikan aku orang yang senantiasa kembali pada yang benar, seberat apapun itu. Biarkan aku selalu berada dalam cahaya-Mu…

Semoga aku bisa bersikap bijak dalam kebenaran maupun dalam menghadapi kesalahan. Lapangkan hati ini untuk menerima apa yang baik dan benar. Kuatkan kaki dan tangan ini untuk melakukan apa yang seharusnya dan sebaiknya. Berikan keberanian untuk mau mengakui kesalahan dan keburukan diri. Semoga ketakutan itu hanya ditujukan kepada-Mu saja. Semoga hanya kepada-Mu saja aku takut…

***

“Pada hari ketika diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh;

dan Allah Memperingatkan kamu terhadap Diri (Siksa)-Nya. Dan Allah Sangat Penyayang kepada Hamba-hamba-Nya.” (QS Ali ‘Imran 3: 30)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s