Membawa Ilmu Manajemen ke Dalam Keluarga

Sekarang aku banyak berkutat dengan ilmu manajemen organisasi, dan aku terkesima… mengapa segalanya begitu pas, serasi? Mungkin, itukah yang dinamakan hukum alam, prinsip kehidupan, atau sunatullah? Prinsip yang terjadi pada diri manusia sama dengan yang terjadi dalam keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan alam semesta. Sedikit banyak, itulah yang dinamakan manajemen. Dari Al Quran kita belajar bagaimana Allah memanajemen alam semesta, segala isinya, dan semua makhluknya dalam hukum-hukum yang belum semua kita manusia mengerti. Meskipun demikian, dari situ ada hal berharga yang bisa dipelajari bahwa semua hal butuh tujuan sebagai arah pergerakan, butuh perencanaan, butuh aturan, kontrol dan pengawasan, butuh evaluasi dan feedback, kalau mau bergerak maju.

Jadi, alhamdulillah aku bekerja di tempatku bekerja sekarang. Alhamdulillah penelitian skripsiku mengangkat topik tentang regulasi diri. Aku berkesempatan mempelajari manajemen di level mikro (individu manusia lewat regulasi diri itu) sehingga tidak kesusahan memahami generalisasi konsep dan penerapannya di level yang lebih besar, di level organisasi. Semoga ada kesempatan bisa mempelajari konsep dan penerapannya di level masyarakat yang lebih besar atau negara.

Yang menarik sekarang adalah munculnya wawasan yang tak terduga bahwa ilmu manajemen ini bisa dibawa ke dalam keluarga. Ini mungkin bukan barang baru bagi sebagian pembaca, tetapi bagiku… ini adalah solusi yang belum pernah benar-benar terpikirkan sebelumnya bahwa sebuah keluarga dapat dimanajemen sedemikian rupa, tidak dibiarkan asal jalan ke mana kehidupan membawanya. Aku belajar mengapa manajemen ini dibutuhkan: karena manusia hidup dalam keterbatasan dan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, manusia harus berusaha. Ini sama seperti, mengapa seseorang harus meregulasi dirinya? Karena tidak ada hasil tanpa usaha. Tidak ada keinginan yang gratis, yang bisa dipetik langsung, macam buah-buahan surga yang tinggal minta datang sendiri.

***

Manajemen berarti proses mencapai tujuan secara efisien dengan dan melalui peran orang-orang (DeCenzo & Robbins, 2010).

Mengapa keluarga harus dimanajemen? Karena keluarga dibangun dalam keterbatasan-keterbatasan dan untuk mencapai apa yang dicita-citakannya, setiap anggota keluarga harus berusaha. Manajemen dilakukan agar keluarga dapat bertahan dan selanjutnya dapat memelihara kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. Setiap upaya mencapai tujuan terdiri atas tiga elemen, yaitu: tujuan, sumber daya yang terbatas, dan manusia (DeCenzo & Robbins, 2010).

Pertama, orang-orang dalam keluarga harus mengerti akan pentingnya tujuan. Tujuan dibutuhkan karena aktivitas-aktivitas yang diambil dalam keluarga harus terarah pada suatu akhir. Jika kita tidak tahu ke mana akan pergi, jalanan akan membawa kita ke mana saja, bukan? Keluarga yang tidak tahu apa tujuan, cita-cita dan prinsip akan diombang-ambingkan oleh jalanan kehidupan lantaran tidak punya pegangan dan pedoman.

Kedua, sumber daya yang terbatas adalah fakta kehidupan keluarga. Banyak keluarga yang memulai hidupnya dari tidak punya rumah dulu, tidak punya pekerjaan tetap dulu, tidak punya banyak uang dulu. Keterbatasan ini mendorong kita untuk melakukan alokasi yang bertanggung jawab; memutar otak sedemikian rupa, mencari solusi yang efektif, hemat, dan kreatif, bagaimana agar segala sesuatunya cukup. Sebaliknya, kegagalan menggunakan akal sehat dalam mengelola sumber daya ini bisa menyebabkan kebangkrutan.

Ketiga, kebutuhan akan dua orang atau lebih, karena manusia tidak bisa hidup sendirian. Bersama atau melalui orang-orang itu, seseorang melakukan kerja sama dan setiap orang yang terlibat pun memiliki peran penting sebagai perencana, pengatur, pengarah, dan pengontrol setiap keputusan, tindakan dan proses yang berlangsung.

Berdasarkan penjelasan di atas, minimal ada tiga hal yang harus dimanajemen dalam keluarga: 1) visi dan misi, fundamen dan rencana kehidupan sebuah keluarga, 2) sumber daya, termasuk uang dan barang, dan 3) anggota-anggota keluarga.

***

Tujuan untuk Sebuah Keluarga

Tentu tidak seformal visi dan misi sebuah organisasi, tetapi sebaik tidak diremehkan. Keluarga perlu landasan yang sifatnya rasional, masuk akal; karena untuk bertahan hidup, cinta tidak bisa dimakan. Kehidupan yang baik seimbang segala aspeknya; spiritual, psikologis, fisik, dan sosial. Orang-orang yang ingin berkeluarga perlu untuk memahami seperti apakah keluarga yang ideal itu. Karenanya, cita-cita keluarga yang ingin bahagia tidak sebatas mapan secara ekonomi. Jika seseorang memahami keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, maka tentu ia akan bercita-cita lebih dari sekadar kepentingan dirinya; juga memikirkan masyarakatnya.

Visi dan misi keluarga sering tidak perlu dinyatakan secara terbuka karena sudah menjadi bagian yang integral dalam visi dan misi, ideologi, dan prinsip hidup individu-individu yang membangun keluarga. Namun demikian, yang demikian ini belum operasional karena barulah berupa konsep ideal, hidup dalam benak. Untuk sehat spiritual, keluarga harus dekat dengan Allah dan menjaga kualitas ibadah. Untuk sehat secara psikologis, keluarga harus harmonis, mengutamakan pendidikan, dan membumikan kasih sayang. Untuk sehat secara sosial, keluarga harus bersosialisasi dan menjaga tali silaturahim. Untuk sehat secara fisik, keluarga harus makan-makanan yang baik, dan sebagainya.

Semakin besar tujuan keluarga, semakin besar usaha yang harus dilakukan, semakin bersungguh-sungguh orang-orang di dalamnya dalam berbuat, semakin besar hasil yang didapat, semakin besar kepuasan dan kebahagiaan hidupnya. Tujuan mulia akan mendapatkan hadiah dari Allah. Demikianlah motivasi setiap anggota terjaga untuk senantiasa mau hidup baik dan benar.

Mengelola Sumber Daya

Keterbatasan memang membatasi. Namun, dalam keberlimpahannya, manusia dapat memilih untuk membatasi dirinya dan hidup secukupnya saja; ekonomis, efektif dan efisien, salah satunya sebagai antisipasi kebutuhan hidup di masa mendatang. Di sini, seseorang perlu jeli dan melihat kehidupan secara bijak untuk mampu membedakan mana kebutuhan yang merupakan prioritas, mana yang bukan; mana yang primer, sekunder, atau hanya tersier; mana yang kegunaannya tinggi, mana yang mudah menjadi sampah. Lalu, bagaimana memelihara dan menjaga barang-barang agar tetap dalam kondisi terbaiknya, apakah itu rumah, halaman, kendaraan, perabotan, peralatan rumah tangga, dan sebagainya. Terakhir, tentu saja memanajemen keuangan. Ini akan menjadi tulisan tersendiri yang sangat menarik!

My Family, My Team

Ini dia, yang terpenting. Dimensi manusia dalam keluarga. Tanpa manusia, tidak ada keluarga. Juga akan menjadi tulisan tersendiri! Bagaimana membangun keluarga sebagai tim, bukan sekadar sekumpulan orang yang menumpang hidup satu atap? Bagaimana membangun keharmonisan? Bagaimana membangun hubungan saling membutuhkan dan kerja sama? Bagaimana menegakkan kepemimpinan? Bagaimana mengelola hubungan dan komunikasi? Bagaimana membagi peran dan mengelola konflik? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana?

***

Ada setumpuk buku yang ingin sekali bisa aku baca untuk menjawab semua pertanyaan itu. Apakah ini akan menjadi agenda Seri Keluarga sampai satu tahun ke depan? Ya Allah, semoga saja. Pengetahuan didapat seiring dengan pengalaman dan pembelajaran. Insya Allah… Haha ^^… maaf jika tulisan kali ini tidak bisa setuntas biasanya. Waktu membatasi dan ternyata pengetahuan juga masih terbatas. Di titik ini, entah mengapa perhatianku untuk tema keluarga bergeser. Dahulu banyaknya membicarakan anak-anak kecil, perkembangan manusia, dan sebangsanya (karena belajarnya masih psikologi perkembangan)… sekarang keluarga, benar-benar keluarga, teknis manajemennya. Mungkin karena teman-temanku sudah mulai banyak yang menikah? Haha, mungkin saja! Semoga semua ini bermanfaat, terutama untuk diri sendiri yang juga memiliki mimpi.

Rencana judul selanjutnya:

Understanding The Troublesome One, melanjutkan seri The Troublesome One… Ada seorang anak, tetangga, yang sudah berbulan-bulan menarik perhatianku lantaran perilaku “nakal”-nya. Aku mencatat sesuatu dalam pikiranku. Semoga ada kesempatan untuk mendokumentasikannya dalam tulisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s