Poetry of The Week: A Man Embracing His Ideal

Hidup macam apa yang akan kau jalani dengan dirimu yang seperti itu? Kau yang ingin tahu:

Bisa sejauh apa atau bisa sejatuh apa dirimu dengan idealismemu?

Bisa sebahagia apa atau bisa semenderita apa dirimu dengan semua yang kau cita-citakan?

Belum bisa menyerah sebelum benar-benar kalah. Kau yang ingin mencatat:

Di titik mana dirimu tertipu? Di titik mana dirimu tergelincir? Di titik mana dirimu akhirnya memutuskan berhenti?

Kapan kau akan kehilangan rasa malu dan takut, dan berani menjadi semua yang kau takutkan hari ini?

Meraih kekuatan dari memerangi kelemahan, memahami kebenaran dari merenungi kesalahan.

Hidup terus mengajarimu sesuatu.

Menyadari kelemahan dari mengenali kekuatan, memperbaiki kesalahan karena mencintai kebenaran.

Hidup benar-benar terus mengajarimu sesuatu.

Semarang, 2 Juli 2013

***

Puisi ini adalah kelanjutan perenunganku tentang “titik balik”. Aku, kita, yang masih muda, tidak akan pernah mengerti diri kita yang nanti tua. Seandainya kita yang sekarang dan kita yang mendatang dipertemukan, apa yang akan kita semua saling gugatkan? Apakah salah diri kita yang dulu bertekad memegang teguh idealisme? Apakah salah diri kita yang kelak melepaskan idealismenya? Hidup bagaikan mimpi. Manusia diciptakan untuk bisa berkata apa saja, tetapi tidak untuk mewujudkan semua yang telah dikatakan. Andai ludahmu sudah jatuh ke tanah, maukah kau memasukkannya kembali ke dalam mulutmu? Andai idealismemu sudah diinjak-injak sedemikian rupa oleh pengkhianatanmu sendiri, maukah kau memungutnya kembali dengan menahan semua perasaan malu dan terhina?

“Titik balik” tidak hanya tentang momen kejatuhan, tetapi juga momen kebangkitan. Aku hanya benar-benar merasakan kasih sayang Allah, ketika memikirkan ini. Manusia yang tidak melihat jalan keluar adalah manusia yang membatasi dirinya sendiri. Ya, kita boleh berputus asa tentang banyak hal, tetapi tidak untuk meraih Rahmat Allah, bahwa pengampunan dan pertolongan selalu ada bagi orang-orang yang bertekad kembali, yang berhasil belajar sesuatu dari kesalahan dan kelemahan dirinya, juga kebenaran dan kekuatan dirinya.

Segala hal berubah dari waktu ke waktu. Segala hal punya sejarah dan masa depan yang mungkin berbeda dari masa lalu …. Jika sesuatu dapat menjadi lebih buruk, ia juga bisa menjadi lebih baik. Yang semula mati dapat hidup lagi. Yang semula tak berarti bisa bermakna lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s