Reaching Dream Bag. 9: Gigit!

Kalau aku diterima kuliah di Yogyakarta, aku akan meninggalkan pekerjaanku yang sekarang. Cuma dikontrak bekerja tiga bulan sejak Mei dan sekarang, masuklah bulan terakhir. Juli 2013. Hari ini tanggal 2.

Aku merasakan sesuatu hal yang ironis. Rasanya mulai sedih akan tidak bekerja lagi. Aku ingat pengalaman wawancara kerja pertama. Si penanya mungkin tidak tahu, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil menahan agar tidak menangis. Aku takut menjadi dewasa. Terlalu banyak hal asing yang akan terjadi di hadapanku, bekerja adalah salah satunya. Mengapa aku tak bisa normal saja menjalaninya? Aku terlalu banyak berpikir dan yang kupikirkan itu justru yang tidak-tidak. Bagaimana kalau… Bagaimana kalau… Dan yang paling berat waktu itu, bagaimana kalau aku harus meninggalkan adikku tersayang yang masih kecil? Banyak sekali yang menahanku agar tidak maju. Tapi, sepulang dari wawancara itu, aku berpikir lagi, “Aku kan ingin maju! Kalau semua ini baik, semua akan Allah mudahkan.” Jadi, benar-benar terasa waktu aku berucap, “Bismillah…” Aku memulai pekerjaan pertamaku.

Aku menjalani semuanya, hari demi hari, dan sampailah pada hari ini. Dan aku sedih lagi… Banyak yang terjadi, yang manis dan yang pahit, tetapi bukan itu sebabnya. Aku sudah mencintai pekerjaanku, tetapi juga bukan itu tepatnya. Aku menikmati pekerjaanku karena inilah pertama kalinya aku mengalami apa yang orang-orang banyak bicarakan tentang apa itu dedikasi, kesungguhan, kerja keras, pengorbanan, kerja sama, kesetiakawanan, kesetiaan, kejujuran, kepedulian, persahabatan, solidaritas, kebermanfaatan hidup, kebermanfaatan ilmu… Aku sulit mengerti bagaimana semua ini bisa menimbulkan suatu kepuasan batin. Tapi, setelah kudalami lagi diriku sendiri, sebetulnya hal-hal inilah yang aku cari seumur hidup dan bekerja adalah jalan untuk merasakan semua itu. Aku selalu ingin tahu, apa yang sesungguhnya saling dibutuhkan manusia dari diri manusia yang lain? Kualitas-kualitas apa yang melanggengkan hubungan saling membutuhkan ini?

Aku tak bisa mendaulat diriku sebagai tahu semua itu secara sempurna, tetapi sedikit banyak ada yang aku tahu. Dunia kerja itu luar biasa. Inilah yang dikatakan orang sebagai dunia nyata. Orang dibanting, diputar-putar, digantung-gantung dalam dunia kerja. Orang berlari-lari, mengejar-ngejar, mencari-cari dalam dunia kerja. Orang menangis dan putus asa, gembira dan bahagia dalam dunia kerja. Aku menyaksikan dinamika dan aku terkesima.

Aku termasuk orang yang terlambat bekerja, sementara karena tuntutan hidup, banyak rekan-rekanku yang memulainya lebih dulu. Mereka luar biasa, kepribadian mereka tampak bersinar karena diasah oleh kerasnya dunia nyata. Mereka menjual apa yang bisa mereka jual, memberi apa yang bisa mereka beri. Mereka menawar untuk mendapatkan harga terbaik bagi diri mereka. Mereka menakar-nakar nilai diri mereka. Mereka berjuang untuk hidup yang lebih baik dan lebih baik lagi. Mereka punya cita-cita dan mereka membuat strategi. Mereka membangun keyakinan, kepercayaan diri, keberanian, dan ketangguhan. Mereka menjajaki berbagai kemungkinan, berkelit lincah, mengalir lembut seperti air, mendobrak segala macam dinding untuk menemukan jalan sekecil apapun itu. Mereka begitu hidup.

Aku ingin seperti mereka.

Aku tak bisa mendaulat diriku sebagai tahu semua itu secara sempurna, tetapi sedikit banyak ada yang aku tahu. Dunia kerja itu luar biasa. Inilah yang dikatakan orang sebagai dunia nyata. Orang dibanting, diputar-putar, digantung-gantung dalam dunia kerja. Orang berlari-lari, mengejar-ngejar, mencari-cari dalam dunia kerja. Orang menangis dan putus asa, gembira dan bahagia dalam dunia kerja. Aku menyaksikan dinamika dan aku lalu tercenung.

Aku termasuk orang yang terlambat bekerja, sementara karena tuntutan hidup, banyak rekan-rekanku yang merasakannya lebih dulu. Mereka menjadi bagian dari kecenderungan dunia, ketika reward adalah perolehan yang diperebutkan dan diberikan hanya kepada yang menang. Mereka menjual apa yang bisa mereka jual, memberi apa yang bisa mereka beri, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak pernah mereka jual, tidak boleh mereka berikan. Mereka belajar menyikut, menjilat, menendang. Bukan mengaliri jalanan yang wajar, mereka mencari jalan-jalan belakang, jalan-jalan tikus, jalan-jalan sempit. Mereka menakar-nakar nilai diri mereka, berharap lebih dan lebih banyak lagi. Memoles diri mereka lebih dan lebih seronok lagi. Mereka berhenti menunggu karena lelah menungu, dan mereka pun menguasai panggung-panggung.

Aku membayangkan adanya satu masa di mana kita akan saling tak mengenal dan tak kenal diri kita sendiri lagi. Kita memandang ke depan dan jauh ke depan, tak sekali-kali menengok ke kanan dan ke kiri, atau menoleh sebentar untuk melihat apa yang mengikuti kita di belakang kita. Kita hanya tahu diri kita. Kita hanya melihat diri kita; kita yang saat ini, kita yang terpantul dalam cermin. Kita lupa pada sesuatu yang membawa kita sampai di sini; diri kita di masa lalu yang dulu begitu indah, yang mengundang keharuan.

Dunia kerja adalah dunia orang menzalimi dan dizalimi. Aku mengetahui ketidakadilan dan melihat keributan-keributan. Aku mendengar keluhan-keluhan dan mengetahui ketidakberesan yang terus-menerus. Aku terpaku, tak bisa mengerti, aku terseret masuk dalam sistem orang melanggar hak orang lain dan dilanggar haknya. Aku bersama banyak orang lain yang memilih diam dan membiarkan, juga yang lantang, tetapi lalu dikeluarkan. Orang-orang keluar masuk, didatangkan dan dibuang, dipuji-puji dan dimaki-maki… Tapi, dunia kerja adalah juga dunia orang menyayangi dan disayangi. Ada ketidakadilan, juga ada orang-orang yang diam memaafkan. Ada keluhan, juga ada klarifikasi dan penjelasan yang bijak. Orang menunaikan kewajiban dan orang lain memenuhi kewajibannya.

Diombang-ambingkan dalam kesimpulan demi kesimpulan. Aku terus gigit prinsip hidupku, berharap aku tak akan menjadi musuh Allah, terus dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang halal dan membuatku berkembang, memperlakukan manusia secara lebih baik, bekerja tanpa banyak bicara, tanpa banyak omong besar, tanpa banyak menuntut, tanpa banyak berangan-angan kosong… Selamat berkarya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s