Tentang Mursi: Biarkan yang Harus Tumbang, Tumbang

Karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terbaik buat diri kitalah, banyak dari kita yang memasrahkan hidup kepada Yang Maha Kuasa: Kehendak Allah adalah yang terbaik, seburuk apapun peristiwa yang tengah terjadi, yang sedang kita alami. Lengsernya presiden Mesir, Muhammad Mursi, dirayakan oleh sebagian pihak, diratapi oleh pihak yang lain. Sulit, bukan, memahami apa yang terbaik itu? Bagi mereka yang memandang kemenangan adalah haknya, kekalahan akan luar biasa menyakitkan. Akan sangat sulit merelakan itu, kecuali jika ada pihak yang mendominasi dan mampu memaksa mereka untuk menerima.

Pembicaraan tentang drama politik Mesir akan panjang, mengingat ketidakpastian kembali muncul. Berbulan-bulan kita merasa puas, akhirnya ada pemimpin yang Islami di dunia ini, kita puji sedemikian rupa sosoknya. Kalau kenyataan hari ini seperti ini, kita yang hanya bisa mengamati bisa apa? Bertanya? Apa yang dikehendaki Allah sebetulnya?

Yang seperti ini aku pikirkan waktu JK gagal jadi presiden bertahun-tahun yang lalu. “Kenapa ya Bu?” tanyaku pada ibuku. “Kenapa orang baik justru begitu?” Akhirnya aku punya kesimpulan sendiri. “Mungkin, begitulah cara Allah melindungi dia, biar tidak terkotori.” Ya, mungkin dia belum cukup bersih untuk membersihkan yang kotor. Allah sayang sama JK. Tuh, kan, tidak jadi presiden tapi bisa berperan menangani konflik di sana-sini, jadi ketua PMI, menjadi tokoh bangsa yang dihormati di dunia internasional… Dia punya jalan yang membuat dia tetap menjadi pribadi yang menginspirasi. Ya, biarkan yang harus tumbang, tumbang… karena mungkin, yang tumbang akan menumbuhkan tanaman-tanaman baru yang lebih kuat.

***

Cerita hari ini adalah aku membaca status Facebook seorang teman yang ramai sekali dikomentari orang. “Mungkin inilah penyebab Mursi di kudeta?” judulnya, dan berikut inilah isinya:

Sejumlah prestasi sudah dikerjakan Mursi pada 100 hari kepemimpinannya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Minggu pertama, Moursi membebaskan wartawati Mesir yang ditahan di Sudan dan menjemputnya dengan pesawat kepresidenan.

2. Pemecatan 70 Jenderal dan Kudeta dengan Cinta pada Marsekal Thantawi dan Anan, Panglima dan wakil Panglima militer.

3. Penghapusan hutang 40.000 petani yang memiliki hutang di bawah 10.000 pounds (30 Juta) yang di masa Mubarak ditangkapi dan dijebloskan ke Penjara.

4. Investasi 270 Milyar dollar yang ditanam di Mesir, hanya dalam 1 bulan Moursi berkuasa.

5. Selama 100 hari ini, Moursi tidak menerima gaji selama menjadi Presiden.

6. Moursi mengembalikan izzah Mesir dengan menguasai gurun Sinai yang di masa Mobarak, 70 % lalulintas udara dan darat dikuasai Israel.

7. Moursi melakukan politik smart and cool dalam bersikap kepada Amerika dan Israel. Hingga PM Israel mengatakan, “Sikap Moursi jauh lebih berbahaya daripada Nuklirnya Iran”. Bahkan Obama menilai, “Hubungan AS dengan Mesir bukan hubungan sahabat bukan pula musuh.”

8. Penjualan khmar dilarang, dan itu tidak mengganggu pariwisata Mesir.

9. Penampilan di pantai dibatasi, hari Jumat diliburkan, dan turis wanita dan pria dipisahkan.

10. Militer Mesir memang the real power, tapi semua di bawah komando Panglima Tertinggi. Pada 2 bulan Moursi berkuasa, 2 kapal selam tercanggih Jermah berhasil didatangkan walau diprotes keras ISrael.

11. Kanal Suez diperlebar dan diperdalam, dan sekarang dikontrol sepenuhnya oleh Mesir setelah direktur Kanal Suez diganti yang sebelumnya didikte Barat.

12. PM Hiysam Qandil setiap Shubuh memeriksa pabrik roti dan turun ke bawah, atas intruksi Presiden Moursi hal yang hanya terjadi di masa Kenabian dan Khulafaur-Rasyidin.

13. Moursi mempelopori pemisahan kepentingan antara kepentingan pribadi+keluarga+partai dengan kepentingan negara. Saat diundang Raja Saudi, keluarga Moursi dengan uang pribadinya menggunakan pesawat Egypt Air tidak menggunakan pesawat kepresidenan.

14. Moursi adalah Presiden pertama dunia yang dengan tegas dan berani menekankan cinta Nabi dan cinta para sahabat di hadapan Khomanei dan pemimpin Syiah di Iran.

15. Jika patokannya adalah mengutip ayat Al-Qur’an dan Hadits, maka Moursi adalah Presiden pertama yang mengutip ayat-ayat AL-Quran dan Hadits di depan Sidang Umum PBB bulan lalu.

16. Jika patokannya adalah masalah protokoler, maka Moursi adalah Presiden yang membiarkan jalanan tetap lalu lalang saat ia melintas dan membiarkan masjid terbuka saat ia shalat.

17. Di Mesir, masjid saat ini dibuka 24 jam untuk kepentingan jamaah setelah di Era Mobarak, masjid-masjid di Mesir ditutup 1 jam setelah shalat wajib.

18. Di tataran regional, Moursi menggalang aliansi dengan Turki. Dalam benak kedua pemimpin ini, kehancuran Israel hanya tinggal waktu dan itu didahului dengan perubahan rezim-rezim antek2 AS baik di Teluk maupun di negara-negara TIMTENG lainnya.

19. Untuk masalah Palestina, tidak ada pemimpin yang nyata-nyata mendukung perjuangan perlawanan selain Moursi. Perbatasan dibuka, hanya dalam 1 minggu Moursi berkuasa dan kemarin dengan Qatar sukses membantuk Zona Ekonomi untuk membangun kembali Gaza.

Masih banyak keberhasilan Mursi lainnya. Tak salah jika rakyat Mesir puas pada kepemimpinannya. Rakyat Mesir makin cinta kepada presidennya yang kata Ismail Haniyya punya kisah mirip Nabi Musa as. ini -sama-sama pernah di penjara baru jadi penguasa istana-. Pusat Riset Opini Publik (Bashira) mengadakan jajak pendapat kedua terhadap kinerja presiden Mursi setelah 80 hari masa jabtannya. Hasilnya, publik yang puas terhadap kinerja Mursi sebanyak 79%. Sisanya yang tidak puas 13%, dan 8% menyatakan ragu-ragu. Dukungan ini sudah melebihi raihan suaranya di Pemilu kemarin.

Aku tidak tahu, dari mana sumber tulisan di atas, tapi, kalau pertanyaannya “mungkin inilah sebab Mursi dikudeta?” aku mau menjawab… “Begitulah cara orang yang kecewa bereaksi.” Sedikit banyak, aku ingin juga berkata, “Mereka pandai bereaksi, belum belajar.”

Tulisan Zuhairi Misrawi di KOMPAS hari ini (Jumat, 5 Juli 2013) yang membuatku bisa berkata begitu. Pada masa-masa begini, sulit menemukan orang Islam sendiri yang mampu mengevaluasi diri.

“Kudeta militer harus diakui dapat membawa preseden buruk bagi demokrasi yang sedang bersemi di Mesir. Namun, sebagaimana disampaikan Grand Syaikh al-Azhar yang mendukung sepenuhnya langkah militer, kudeta adalah pilihan yang paling kecil risikonya dalam rangka melanjutkan cita-cita revolusi.

“Tak diragukan lagi, masalah utama Ikhwanul Muslimin (IM)  adalah kerap kali mengeksploitasi agama di dalam politik. Karena itu, yang menonjol adalah kepentingan kelompoknya daripada kepentingan rakyat banyak. Bahkan, menurut IM, hanya merekalah yang paling “islami”, sedangkan kubu lain dianggap “kafir”. Untuk membela jabatan Mursi, mereka pun selalu menggunakan istilah “membela konstitusi dan syariah.”

Aku sendiri pun berpikir, masalah hubungan antarmanusia ini sebaiknya tidak disangkut-pautkan dengan isu-isu agama. Artinya, sebaiknya tidak dianggap serangan terhadap Mursi sama dengan serangan terhadap Islam, tidak dianggap pula serangan terhadap IM sama dengan serangan terhadap Islam. Mursi bisa salah, sebanyak apapun kebaikannya sebagai manusia. IM pun bisa salah, sebanyak apapun kebaikan yang dicita-citakannya sebagai organisasi manusia.

“Puncak dilema kaum Islamis, tidak terkecuali IM, adalah absennya ideologi kebangsaan dalam langgam politik mereka.”

“Dalam memimpin Mesir, Mursi dianggap oleh kaum muda hanya memikirkan kelompoknya, IM, yang hampir memonopoli jabatan politik dan kantong ekonomi. Terakhir, Mursi mengangkat sejumlah gubernur dari kalangan IM sehingga menimbulkan kemarahan di sejumlah provinsi. Kaum muda yang tak berafiliasi dengan IM hampir bisa dipastikan tak mendapatkan tempat yang lauak. Karena itu, Mursi dipandang sebagai presiden yang tidak mampu mengemban amanat revolusi serta memupus cita-cita dan masa depan kaum muda.

“Gerakan pembangkangan itu sebenarnya sudah bergerak lama, sekitar tiga bulan terakhir. Mereka memulainya dengan mengalahkan para kandidat IM di pemilihan senat di sejumlah perguruan tinggi Mesir. Selama ini, IM selalu merajai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan kampus. Namun, kepemimpinan Mursi yang hanya mengedepankan kepentingan kelompoknya membangkitkan kesadaran di kalangan muda untuk menaklukkan basis-basis IM di lingkungan kampus. Kaum muda revolusi hampir memenangi setiap pertarungan kepemimpinan di lingkungan kampus sehingga mereka punya energi postif melanjutkan perlawanan terhadap IM.

“Dalam waktu relatif singkat, kaum muda revolusi mengumpulkan 22 juta tanda tangan, melebihi target maksimal 15 juta tanda tangan. Hal itu memantapkan mereka menjadikan momentum satu tahun pemerintahan Mursi pada 30 Juni sebagai saat yang tepat memberikan ‘kartu merah’ kepada Mursi dan IM.”

Memang sebaiknya tidak dianggap serangan terhadap Mursi sama dengan serangan terhadap Islam, tidak dianggap pula serangan terhadap IM sama dengan serangan terhadap Islam. Mursi bisa salah, sebanyak apapun kebaikannya sebagai manusia. IM pun bisa salah, sebanyak apapun kebaikan yang dicita-citakannya sebagai organisasi manusia. Ini semata-mata evaluasi terhadap manusia-manusia yang berbuat salah.

“Pada awalnya, IM cenderung meremehkan gerakan ini karena memang tak punya kaki tangan politik dari pihak oposisi. Mereka bergerak dalam senyap dan mendapat kepercayaan publik yang sangat luar biasa, yang merasa tak punya harapan pada pemerintahan Mursi. Maka, analisis yang menyatakan tumbangnya Mursi akibat perseteruan antara kubu Islamis dan kubu Liberal sama sekali tak benar. Tumbangnya Mursi semata-mata karena Mursi mengabaikan harapan kaum muda dan rakyat Mesir pada umumnya yang telah berkorban nyawa dan harta melengserkan rezim Hosni Mubarak.

“IM lupa, kemenangan Mursi dalam pilpres putaran kedua bukan hanya karena dukungan dari IM dan Salafi, melainkan juga kubu liberal dan sosialis yang memandang memilih Mursi sebagai presiden lebih tepat dalam mewujudkan cita-cita revolusi daripada Ahmad Syafiq yang didukung sepenuhnya oleh antek-antek Hosni Mubarak.

“… Sebagai penguasa, IM tak cermat mendengarkan dan melakukan dialog dengan pihak oposisi. Dari waktu ke waktu, dalam satu tahun terakhir, IM kerap melakukan manuver politik yang sebenarnya tak perlu. … Yang paling mencolok, dan ini yang merupakan klausul penting dalam gerakan al-tamarrud (mosi tidak percaya dan pembangkangan), menolak “Ikhwanisasi Mesir”. Mursi, secara pribadi, orang baik dan kapabel, tetapi tekanan yang kuat dari elite IM … menyebabkan Mursi mengabaikan suara lain dari lingkarannya.”

***

Memang benar adanya. Allah menghendaki kita semua berbeda; bukan umat yang satu, bahkan dalam keimanan dan ketaatan terhadap diri-Nya. Kesadaran akan ketetapan ini sesungguhnya melahirkan satu ilmu yang sangat penting dalam memanajemen manusia, yaitu manajemen perbedaan dan konflik. Ada baiknya, PKS, atau partai-partai Islam pada umumnya dapat mengalami hal yang serupa. Fakta bahwa kursi kekuasaan masih jauh mungkin sebenarnya hendak mengajarkan bahwa ada hal yang masih harus dipelajari tentang menjadi pemimpin yang benar-benar baik; bukan pemimpin bagi golongan, tetapi bagi seluruh orang yang sudah menaruh percaya padanya; yang memimpin dengan hati, penuh kasih sayang terhadap pendukung ataupun musuh (tidak paranoid dan takut dicongkel dari kekuasaan).

Belajar dari nasib Mursi:

1. Memang dia secara pribadi, orang baik dan kapabel, sehingga orang tak percaya dia dijatuhkan karena kebaikan dan kapabilitasnya. Mari kita menjadi pribadi yang baik dan kapabel, berintegritas seperti Mursi.

2. Ada baiknya agama tidak kita manfaatkan sebagai alasan meneguhkan kekuasaan, demi nafsu berkuasa, mengamankan kedudukan politik. Tidak ada makhluk di bumi yang bersaksi atas diri kita bahwa diri kita adalah sebaik-baiknya manusia. Sekalipun kita memperjuangkan Islam, sebaiknya kita tidak menggeneralisasikan kritik terhadap pribadi sama dengan kritik terhadap Islam sehingga kita membela diri sedemikian rupa, dengan dalil-dalil pula. Semoga kita tidak menjadi manusia yang tertipu, yang memandang baik perbuatan buruk dan memandang buruk orang (siapapun dia, “muslim” atau “kafir”) yang berusaha menasihati kita (baik dengan cara “halus” maupun “kasar”).

3. Ketika menjadi pemimpin suatu bangsa, sebaiknya kita memiliki wawasan akan perbedaan, sebaiknya kita mengenali perbedaan itu sebaik kita mengenali diri kita sendiri. Ketika menjadi pemimpin suatu bangsa, hasil didukung oleh orang-orang yang sudah mengalah demi tujuan yang lebih besar, orang-orang yang dahulu adalah lawan, ada baiknya kita tidak menjadi orang pertama yang mengkhianati tujuan itu. Berikan apa yang sudah dijanjikan, termasuk jika itu adalah kekuasaan dan wewenang. Allah suka orang yang menepat janji dan tidak berkhianat. Ketika menjadi pemimpin suatu bangsa, berhenti menjadi pemimpin golongan karena apa yang baik parameternya bukan lagi kebaikan golongan, tetapi kebaikan semua orang.

4. Sebaiknya kita tidak memaksakan persamaan. Keunikan adalah sifat dasar penciptaan kita sebagai manusia. Kebebasan untuk menjadi berbeda, sampai pada titik tertentu, adalah asasi. Paksaan untuk menanggalkan keunikan itu menimbulkan rasa terancam dan tidak aman. Orang berkuasa yang memaksa orang untuk sama dengannya berarti sedang melakukan kezaliman. Karena Allah menghendaki kita berbeda, apakah kita hendak menjadi yang mendustakannya? Biarkan orang menemukan jalannya. Andaikata ia memilih untuk sama, biarkan itu tercapai lewat kesukarelaan, bukan karena ketakutan terhadap kita.

Aku berpikir semacam itu tentang peristiwa besar tahun ini ini. Menjadi orang baik itu mudah. Menjadi orang yang adil? Pikirkan 1.000 kali sebelum berkata itu juga mudah.

12 thoughts on “Tentang Mursi: Biarkan yang Harus Tumbang, Tumbang

    • Pengamat Timur Tengah, sering menulis di KOMPAS tentang perkembangan dunia di Timur Tengah, disertasinya tentang Timur Tengah, dahulu (kalau tidak salah) beliau juga sekolah di Timur Tengah…

      • IMHO: mengutip pendapat liberalis dalam konteks masalah mesir adalah perkara yang melanggar kaidah cover both side, bukan tidak boleh, tapi tidak berimbang.

        Ikhwanisasi Mesir adalah argumen terlemah, apakah 32 tahun Husni Mubarok tidak ada HusniMubarak-sasi seantero mesir? apakah pemerintah otoriter Husni Mubarok berimbang dalam menanggapi oposisi?

        maka apakah Husni Mubarok dikudeta oleh militer dan dicaci oleh liberalis?

        Masalah Mesir adalah perkara pertarungan ideologi

        cmiiw

    • Pendapatmu mungkin ada benarnya, tetapi tujuanku menulis tentang ini bukanlah untuk ikut-ikut dalam pertarungan ideologi itu. Itu memang tidak akan ada akhirnya sampai akhir zaman.

      Aku hanya berusaha memahami apa yang sanggup aku pahami bahwa semua yang terjadi ini mengandung pelajaran yang besar, minimal bagi diriku sendiri sebagai seorang muslim yang ingin belajar cara hidup yang (lebih) baik. Semoga kamu bisa memahami ini🙂

    • Terima kasih atas link-nya. Di laman tersebut, aku berkomentar: “Tulisan yang bagus, tapi membaca ini akan ada (banyak) orang yang telinganya akan merah. Renungan ini tidak disertai bukti-bukti yang nyata dan terkesan menjelek-jelekkan; bisa jadi juga tercampur prasangka-prasangka.

      Saya mohon berhati-hatilah, agar niat memperbaiki keadaan tidak justru membuat suasana menjadi semakin keruh lantaran munculnya orang-orang yang bukannya berpikir dan mengambil pelajaran, tetapi mati-matian membela keyakinan diri mereka yang terancam. Ambillah jalan tengah. IM ada (buruk dan) salahnya, tetapi juga ada baik (dan benar)-nya; sama seperti Anda dan juga saya. Kita semua masih manusia.”

      Itulah sikapku.

    • Blog tersebut tampaknya masih baru. Tulisan tentang IM itu adalah tulisan pertamanya. Ada baiknya jika kita pembaca berhati-hati. Blog yang baru muncul setelah terjadinya suatu peristiwa bisa jadi dibuat dengan tujuan-tujuan tertentu yang belum tentu lurus. Ada orang-orang yang bekerjanya menunggangi peristiwa dan membombardirkan pemikiran-pemikiran di tengah khalayak yang kebingungan untuk mengadu domba.

      Tulisan di blog itu cenderung ekstrem negatif. Pencari kebenaran yang bijak, menurutku, ada mereka yang bisa menempatkan diri secara proporsional; seimbang memberikan penerangan pada sisi positif dan negatif dari suatu hal yang dievaluasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s