Reaching Dream Bag. 10: Waktunya Meluas

Beginilah cara Allah memperingatkan. Beginilah cara Allah membuatku kembali pada arah perbaikan.

Segala puji hanya bagi Engkau, Rabb Semesta Alam…

***

I

Suatu hari aku ditanya oleh direkturku, intinya, “Kamu suka sekali sama pekerjaanmu ini ya?” Dia bilang aku menghadapi laptop, membaca berbagai literatur, dan menuliskannya kembali dalam bentuk buku seperti orang makan cokelat dengan sangat nikmatnya. (Aku tidak begitu suka situasi semacam itu sebenarnya, karena aku jadi merasa seperti dipandang sebagai orang aneh, membuatku bertanya-tanya, memang suka membaca dan menulis itu mengherankan ya? ^^)

Tidak perlu dijelaskan dua kali bahwa aku memang suka dengan pekerjaanku ini, tapi bukan itu jawabanku kali itu. Aku sendiri heran, bagaimana bisa kalimat macam ini keluar dari mulutku? “Semakin banyak tahu, semakin banyak masalah yang bisa diselesaikan, Pak.”

Direkturku akhirnya pergi berlalu, tetapi uniknya aku sendiri justru merasa terganggu, dan berpikir, “Bagaimana kalau beliau balas bertanya, kenapa ada orang yang tahu banyak, tetapi masalah banyak juga yang tidak bisa terselesaikan?” Aku harus menjawab apa? Sepanjang perjalanan pulang aku mencari-cari jawabannya, sampai akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa semakin banyak tahu, maka semakin banyak masalah yang bisa diselesaikan, termasuk masalah mengapa meskipun sudah banyak tahu, ada saja masalah yang tidak bisa diselesaikan. Persoalannya kemudian menjadi: sebenarnya ada hal-hal yang sesungguhnya kita tidak tahu benar, tetapi kita merasa benar-benar tahu. Mengapa kita bisa tidak tahu kalau kita tidak tahu?

Di perjalanan pulang itu, sambil memandangi langit sore, aku bertanya pada Allah, “Ya Rabb, apa yang aku belum tahu tentang dunia ini?” Aku akhirnya berpikir bahwa benar, lebih baik memiliki sedikit ilmu tapi bermanfaat, ketimbang banyak dan mendalam, tetapi menjadi sampah, hiasan pikiran belaka. Aku melihat dunia yang begitu luas dan menyadari betapa kecilnya aku. Aku merenung-renung tentang apa itu kebermanfaatan; apakah keberadaan manusia lebih berharga ketimbang apapun di dunia ini, sampai-sampai Allah menundukkan langit dan bumi untuk melayani kepentingan manusia? Manusia dikatakan makhluk yang tidak pandai bersyukur, bukan? Ah… semoga aku bisa senantiasa mensyukuri setiap byte isi kepalaku. Ya Allah, berikan aku ilmu. Sedikit tidak mengapa, tetapi bermanfaat.

***

II

Hari berikutnya, hari libur. Aku online di rumah dan tidak aku sangka aku disapa oleh seorang kawan lama dari fakultasku dahulu. Lama tidak bertemu, obrolan tentang kabar masing-masing bukan hal aneh, bukan? Standar orang-orang “baru” lulus (padahal aku sudah delapan bulan yang lalu, dia sudah delapan bulan tambah satu tahun), pertanyaannya adalah: Apa aktivitas sekarang? Sudah bekerja? Kerja apa? Katanya mau lanjut sekolah? Pertanyaan pilihan yang lain: Kapan menikah? Awal percakapan dipenuhi emoticon smilešŸ™‚ dan big smilešŸ˜€ Namun, ketika jawaban rupanya menegasikan harapan akan sebuah kabar baik, tanpa emoticon pun sudah terasašŸ˜¦ Mau tidak mau aku merasa prihatin. Pertama, karena aku pernah berada di posisinya waktu belum dapat pekerjaan. Kedua, karena aku pernah berada di posisi yang lebih parah daripada dia karena kenyataan berkata dia lulus satu tahun lebih cepat daripada aku. Ketiga, karena aku tidak bisa bantu apa-apa, secara kehidupan nyata memang beda dari tugas kuliah. Keempat, aku tidak berani bertanya, apa masalah dan hambatan yang sedang dialaminya. Akhirnya, aku cerita saja tentang kehidupanku yang sempat parah pasca kelulusan.

Dia: Awal mulanya bisa bekerja di situ bagaimana?

Aku: Ditawari, lalu aku terima. Bukan perusahaan besar, bahkan masih kecil. Tidak menggaji besar, tapi itu bukan masalah. Aku bekerja jadi berkembang. Pengetahuanku bertambah.

Dia: Iya, betul. Yang penting bisa memperdalam pengetahuan dulu ya.

Aku: (Memikirkan reaksinya. Memutar otak.) Bukan begitu maksudku…

Dia: Bagaimana, Af?

Aku: Kerja itu harus dilihat keuntungannya ke kita apa, setidaknya kita dapat pengetahuan, kita dapat uang, kita dapat menjaga harga diri. Kita sudah lulus sarjana, bukan lagi waktunya kita memperdalam pengetahuan (karena seharusnya pengetahuan kita sudah dalam dari kuliah…) Bukan memperdalam, tapi menambah luasnya… Melihat dunia ini nggak cuma psikologi saja, tapi bagaimana psikologi itu ternyata relevan dengan bidang-bidang lain yang bukan psikologi… (Bagaimana masalah psikologi itu ternyata berhubungan dengan masalah-masalah manusia yang lain…)

Dia: Iya, speechless aku, Af…

Aku: (Merasa gawat. Aku tidak punya niat berceramah! Tapi…) Dulu waktu lulus, aku sedih dan menyesal… karena aku benar-benar sadar yang aku tahu itu sempit sekali. Psikologi yang diajarkan di kampus itu sempit sekali rasanya, sementara dunia nyata itu banyak mintanya. Jadi, masa-masa aku belum dapat kerja, bahkan sampai sekarang akhirnya dapat, salah satu misiku adalah, aku pengen tahu lebih banyak, biar aku bisa berbuat lebih banyak… Jadi, sampai aku tuh mengerjakan pekerjaan rumah menjiwai banget… karena aku tahu, aktivitas yang remeh ini akan memberi banyak, dan itu memang bukan uang… tapi pembelajaran tentang kerja keras, pengabdian, dedikasi, keikhlasan, semangat menjadi yang terbaik di mana pun berada… (Lama dia tidak merespon. Aku jadi merasa tidak enak.) Hehe… kamu nggak perlu baca curhatanku, kok… Kayak omong kosong, mungkin ya… tapi begitulah. Ini bukan omong kosong bagiku.

Dia: (Akhirnya menjawab, tetapi rahasia bagi pembaca.)

Perasaan ketika menjadi mahasiswa dan setelah menjadi mahasiswa sungguh berbeda. Kesenangan jadi-mahasiswa yang pernah dirasakan itu bisa dengan mudahnya tersapu oleh kecemasan jadi-pengangguran. Ya, ketika kau bertanya-tanya, apakah KTP yang baik menerima dicantumkannya kata “pengangguran” di item “pekerjaan:” Sebagian orang cepat terbebas dari kecemasan itu ketika akhirnya ia mendapatkan pekerjaan, apapun itu yang membuatnya dibayar dengan baik, meskipun itu tidak sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya bertahun-tahun lamanya; sebagian lainnya tidak ketika realita tidak sesuai dengan rencana. Sementara orang pertama sudah bebas dari cemas dan siap-siap menghadapi masalah selanjutnya (ketidakcocokan, ketidakpuasan, kekecewaan, kebosanan, ketidakbetahan, dan sebagainya), orang kedua masih cemas dengan dua pilihan, tetap berjuang atau putus asa. Benar-benar kehidupan. Kalau ingin bertahan hidup, orang harus bisa memiliki “kemampuan melihat” kemungkinan-kemungkinan yang baik dan masa depan yang baik.

Kesenangan jadi-mahasiswa yang pernah dirasakan itu juga bisa dengan mudahnya tersapu oleh kesedihan dan penyesalan jadi-mahasiswa-yang-tidak-sungguh-sungguh. Ya, ketika kau bertanya-tanya, mengapa dahulu tidak belajar lebih baik, mengapa tidak mencari pengalaman hidup lebih kaya, mengapa dahulu tidak terpikirkan untuk melakukan ini dan itu, mengapa dahulu tertipu…

Haha… sulit melanjutkan bagian yang kedua di atas karena itu yang aku rasakan. Ada titik dalam hidupku di mana akhirnya aku juga speechless seperti temanku tadi. Apa artinya dapat IPK 3,79? Aku cuma tahu itu hasil atas kerja kerasmu mendalami psikologi. Waktu itu, aku merasa itulah prestasi terbesarku selama menjadi mahasiswa. Ketika lulus, dunia menasihatiku. Yang dibutuhkan sesamaku adalah psikologi yang luas; yang dapat disinergikan dengan bidang-bidang ilmu lain demi menguraikan persoalan manusia yang rumitnya bukan kepalang. Keluar dari kampus, aku seperti tak berdaya. Sepanjang aku tak berilmu dan tak berkemampuan, aku tak bermanfaat. Sepanjang aku tak bermanfaat, aku tak akan dibutuhkan. Sepanjang aku tak dibutuhkan, aku tak akan mendapatkan pekerjaan. Sepanjang aku tak mendapatkan pekerjaan, bencana psikologis akan terus merundungiku. Sepajang bencana psikologis tetap merundungiku, pilihanku hanya dua: mati atau bertahan hidup.

Dari situ, aku membalik proses psikologisku. Ya Allah, aku mau hidup. Aku harus mengatasi persoalan psikologisku. Aku harus bekerja (apapun itu!). Aku harus bisa memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitarku (sesederhana apapun itu!). Aku harus bermanfaat. Aku harus memupuk kemampuan. Aku harus berilmu. Aku harus meluaskan diriku. Akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa prestasi terbesarku saat ini bukanlah aku yang dulu, tetapi aku yang berhasil menyadari dengan pahitnya bahwa aku ini seperti katak dalam tempurung; aku yang berhasil membangkitkan keinginan bahwa aku ingin tumbuh, aku ingin meluas, aku melihat lebih banyak, mendengar lebih banyak, dan merasakan lebih banyak tentang kehidupan yang sedang kujalani ini.

Tak perlu luas-luas sekali sampai aku mengorbankan banyak… Ya Allah, cukup sebesar luas dua telapak kakiku berpijak. Di mana pun aku melangkah, semoga ada yang membuat diriku bermanfaat di sana.

***

III

Yang terakhir, aku cuma ingin menyampaikan bahwa waktu tidak setuju dengan orang-orang yang berpendapat demikian: “Kesempurnaan mahasiswa itu bukan ada pada IPK-nya membumbung tinggi, tetapi pada pengalaman, pergaulan, dan pengabdiannya untuk diri & sekitar.”

Bagiku, kesempurnaan itu ya kesempurnaan, ketika seseorang dapat mencapai yang terbaik secara seimbang. Mahasiswa yang bermanfaat itu insya Allah adalah yang mendalam ilmunya, luas wawasannya, serta terampil dalam keahliannya. IPK itu indikator mendalamnya ilmu. Pengalaman itu indikator luasnya wawasan. Sebaiknya tidak dipersaingkan karena semua ada tujuan dan manfaatnya.

Belajar dari hidupku sendiri yang berlangsung tidak sesempurna banyak mahasiswa berprestasi atau mahasiswa aktivis organisasi lainnya, aku hanya meyakini bahwa untuk setiap hal dalam kehidupan seseorang pasti ada saat yang tepat untuk terjadi. Tidak semua orang bisa menjadi dirinya yang terbaik dalam satu waktu; menyempurnakan semua aspek dalam satu waktu. Ada kalanya semua berlangsung secara bertahap. Ada orang yang perlu belajar dahulu baru yakin mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Ada orang yang dari berilmu dahulu baru pergaulannya meluas. Ada banyak kemungkinan baik, sekalipun awalnya tampak tidak ideal sehingga hematku, kesempurnaan mahasiswa itu bukan terletak pada siapa/ apa dia, tetapi pada tekadnya untuk mau tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari, sesederhana apapun langkahnya. Biar Allah yang menjadikan siapa/ apa dia nantinya sesuai usahanya. Kalaupun IPK-nya pas-pasan, pengalamannya minim, pergaulannya tidak luas, dan pengabdiannya sederhana saja, semoga itu bernilai pahala, dibalas dengan kebaikan, lantaran keikhlasannya.

 

“With any gift of strength, there is an associated weakness. Without ‘bad’, there would be no ‘good’. Without ‘difficult’, there would be no ‘easy’. We value our strengths, but we often curse and ignore our weaknesses. To grow as a person and get what we want out of life, we must not only capitalize upon our strengths, but also face our weaknesses and deal with them.”

 

Beginilah cara Allah memperingatkan. Beginilah cara Allah membuatku kembali pada arah perbaikan.

Segala puji hanya bagi Engkau, Rabb Semesta Alam…

2 thoughts on “Reaching Dream Bag. 10: Waktunya Meluas

  1. para pragmatis ( garis keras ) selalu berkata ; kebenaran yang tak bermanfaat tak layak menjadi kebenaran. sementara di sisi lain kebenaran itu sndiri sesuatu yang nisbi dan ambigu bahkan cendrung terseret pada subjektifitas selera ( Nietczhe ).

    Bicara efektifitas sisi keilmuan/pngetahuan sbgai sesuatu yg sharusnya “tepat guna” dan idak utopis tntu tidak terbatas pada bgimana manfaatnya scra praktis saja. apa yg didengung2kan Thales, masa hellenistis, Patristik, Skolastik, Renaissance dan masa modern? bagaiman sesuatu yg tidak “menjejak bumi” bisa bgtu abadi dlm stiap studi humaniora?

    Basabasi ap yg digembargemborkan John Locke hingga mnggerakan revolusi pd kaum heretic? apappula “racun pemikiran” yg di cetuskan Karl Marx hingga mnyulut revolusi kaum poletar? mngkn ini inti dri apa yg disampaikan descrtes ttg “cogito”, bgmna sbuah pngtahauan berpeluang hampir smpurna meresonanasikan kesadaran ( cogito ) sesubjektif apapun itu, entah kesadaran kelas, masa maupun indivdu. so, sya fkir ap yg dtulis Ibn Rusyd dlm Tahafutut Tahafut sbgi jwaban Tahafutul Falasifah AL Ghazali bukanlah sbuah justifikasi.

    Faktanya Pd akhirnya kaum herenic terbebas, kaum poletar bangkit mnghimpit kapitalisme, cendikiawan muslim mulai berjaya saat dilakukan pengadopsian kitab yunani dlm bhasa arab oleh AlRasyid.

    Bermanfaat?
    tentu.
    Benar?
    tunggu dulu. tergantung dari sudut pndang yg bgaimana melihatnya. ^_^

    Assalamu’alaikum. gmn kabarnya? puasa lancar? barakallahu fiik
    joz

    • Nice reply ^_^

      Waalaikum salam Wr wb. Alhamdulillah, semua baik. Semoga demikian pula dengan Joz. Btw, email terakhirku belum mendapat balasan. Ingin tahu pandanganmu tentang persoalan itu. Sekali lagi, terima kasih banyak sudah berbagi pengetahuan. Pelan-pelan jadi mengerti sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s