Seri Organisasi Bag. 19: Ilmu tentang Kehancuran Organisasi 2

Organisasi sama seperti manusia. Ia lahir dan suatu saat akan mati. Ia butuh belajar untuk tumbuh dan berkembang. Ya. Setelah tulisan sebelumnya tentang melunturnya solidaritas sebagai penyebab kehancuran organisasi yang pertama, kali ini tentang kegagalan belajar sebagai penyebab kehancuran organisasi yang kedua.

***

Ketika membaca sebuah buku manajemen, aku tertarik pada satu istilah. “Learning Organization”. Organisasi yang belajar. Penjelasannya pendek saja (banyak aku lengkapi dari baca Wikipedia), tetapi aku dapat memahami sesuatu.

Organisasi yang belajar adalah organisasi yang membantu/ memfasilitasi anggota-anggotanya untuk belajar dan secara berkelanjutan mentransformasi dirinya sendiri. Kebutuhan untuk melakukan fasilitasi anggota untuk belajar dan transformasi diri muncul dari adanya tekanan untuk berubah, mengingat iklim kompetisi di dunia ini telah menjadi begitu ketat dan perubahan demi perubahan terjadi dari waktu ke waktu. Jelas sekali prinsipnya, “siapa kuat, siapa cepat, siapa siap, dia bertahan, dia menang”.

Sama seperti diri manusia, organisasi butuh belajar untuk tetap berkembang. Namun, ada satu perbedaan mendasar. Tidak seperti manusia yang sudah diciptakan dengan kemampuan belajar yang inheren, organisasi manusia tidaklah demikian. Kemampuan belajar organisasi tidak muncul dengan sendirinya. Ia didesain, diusahakan untuk terjadi, oleh orang-orang di dalam organisasi yang menyadari bahwa pembaruan dan perubahan untuk memperbaiki adalah diperlukan.

Misal, agar tetap kompetitif, perusahaan harus cepat belajar, cepat menyelidiki untuk mengetahui, apa saja kebutuhan masyarakat saat ini. Agar tetap produktif, perusahaan harus mempelajari kemampuan-kemampuan produksi yang lebih efektif. Agar tetap solid, perusahaan harus memahami dinamika dalam dirinya sendiri, hal-hal tidak benar apa yang sedang terjadi, apa yang harus dipertahankan, dan sebagainya. Akhirnya, ia dikatakan belajar jika mampu membuat anggota-anggotanya belajar hal-hal yang perlukan untuk maju dan merubah dirinya berdasarkan pengetahuan hasil membaca situasi dan kondisi.

Organisasi dikatakan belajar jika mampu bereaksi secara adaptif terhadap tuntutan perubahan dan perbaikan. Ia dikatakan organisasi yang belajar jika memiliki karakteristik berikut:

1) Systems Thinking. Organisasi memahami bagaimana suatu hal terjadi sebagai sebuah sistem, yang satu mempengaruhi yang lain. Dalam organisasi, sistem terdiri atas orang-orang, struktur, dan proses-proses yang bekerja sama menentukan sehat sakitnya organisasi. Dengan cara berpikir sistem, satu masalah yang terjadi dalam organisasi dipandang sebagai bagian dari keseluruhan organisasi. Implikasinya, organisasi tidak akan hanya bereaksi pada satu bagian yang bermasalah itu saja, tetapi juga memperhatikan komponen-komponen lainnya.

Misal, jika ada karyawan yang mogok kerja, dengan berpikir sistem, seorang direktur mungkin tidak akan menyalahkan karyawan itu sepenuhnya atas pembangkangannya. Ia justru dapat berefleksi bahwa mungkin saja sebagai pimpinan ia pernah salah memperlakukan karyawan. Ketika ia melakukan evaluasi dan menemukan cacat dalam caranya memberikan imbalan dan berkomunikasi selama ini, ia akan memperbaiki sistem reward dan cara komunikasi dalam organisasi dan dengan itu ia meredakan ketidakpuasan karyawan.

2) Personal Mastery. Adalah komitmen orang-orang pada proses belajar. Organisasi yang orang-orangnya cepat belajar akan lebih maju daripada pesaingnya yang lambat belajar. Individu belajar lewat training-training dan program pengembangan diri. Meskipun demikian, kebanyakan belajar tidak terjadi lewat training-training formal, melainkan latihan setiap harinya lantaran adanya dukungan kultur organisasi yang mendukung proses belajar. Organisasi pun menjadi organisasi yang belajar karena orang-orang di dalamnya belajar.

3) Mental Models. Individu dan organisasi harus punya model yang ideal tentang mereka harus menjadi seperti apa. Apa yang ideal, dalam hal perilaku, kebiasaan, dan budaya organisasi perlu ditantang dari waktu ke waktu dan direvisi, terkait nilai-nilai dan norma serta pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai.

4) Shared Vision. Organisasi memiliki visi bersama yang juga dianut oleh anggota-anggotanya. Visi tersebut menciptakan identitas bersama, tujuan yang ingin dicapai bersama dan sifatnya intrinsik. Kebersamaan dalam visi ini mendorong motivasi anggota untuk belajar demi mencapai visi tersebut.

5) Team Learning. Individu-individu yang belajar, berakumulasi menjadi tim yang belajar. Tim kerja adalah kekuatan utama organisasi sehingga karena itu, jika tim dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan, organisasi akan berkembang. Tim yang belajar butuh orang-orang yang mau terlibat, karenanya mereka membangun komunikasi yang terbuka untuk berbagi makna dan pemahaman.

***

Dengan pemahaman di atas, organisasi yang akan hancur adalah organisasi yang karakternya tidak memenuhi karakter organisasi yang sehat di atas. 1) Pemimpin dan anggotanya berpikir parsial tentang masalah organisasi dan saling menyalahkan, tidak mau saling dievaluasi. 2) Pemimpin dan anggota-anggotanya tidak punya semangat untuk meningkatkan kapasitas diri, malas belajar, malas ikut training, malas membaca, malas mengkaji, malas diskusi… dan mudah merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki diri atau berlebihan memuji diri. 3) Tidak punya model perkembangan, tidak tahu apa yang ideal untuk kehidupan organisasi yang lebih baik. 4) Pemimpin dan anggota-anggotanya tidak memiliki visi yang sama, atau tidak lagi sepakat terkait visi yang pernah dimiliki. Dan 5) tim dalam organisasi tidak belajar karena orang-orang di dalamnya tidak mau belajar sebagai tim, bahwa mereka perlu bekerja sama, bahwa mereka saling membutuhkan dan saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan masing-masing.

Organisasi yang tidak belajar stagnan. Yang diam di tempat atau justru mundur karena beban masalah-masalah internal tidak akan siap menghadapi tekanan dari luar, berakhir tergilas oleh zaman, perubahan, dan organisasi-organisasi yang lebih siap. Organisasi yang mau maju harus belajar, untuk belajar harus mau susah payah, termasuk mengendalikan ego pribadi atau kepentingan kelompok demi tujuan yang lebih besar, lebih penting, dan lebih bermanfaat; mencairkan yang beku, dan menghubungkan kembali apa-apa yang terputus.

Semangat memperbaiki organisasi!

One thought on “Seri Organisasi Bag. 19: Ilmu tentang Kehancuran Organisasi 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s