Terpaksa Susah, Susah Terpaksa atau Memilih Susah?

Menulis ini aku merasa gundah. Aku bertanya-tanya, dan berharap semoga “adikku” itu baik-baik saja. Aku tidak pernah membayangkan diriku bisa bicara begitu sebelumnya. Kemarin aku menegur anak orang dengan begitu kerasnya. Aku ingin dia bisa melihat sesuatu yang selama ini tak mau dilihatnya. Aku ingin dia bisa melihat kelemahan dan sisi buruk dirinya dengan kepala tegak lantaran bersedia mengakui, menghadapi, dan memperbaiki.

Menulis ini aku memohon perlindungan kepada Allah, karena aku juga merasa takut. Aku sampai pada titik di mana aku berani menegur orang. Hari itu, ada saat di mana jemariku terhenti mengetikkan text message. Aku ingat, aku juga punya kelemahan dan sisi buruk, dan ingin sekali aku bisa benar-benar melihatnya secara jernih bahwa kelemahan dan sisi buruk itu ada bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengangkat. Ya Allah, semoga keputusanku bersikap tegas seperti itu bukan karena nafsu. Jika aku salah, tolong berikan aku petunjuk dan kekuatan untuk meluruskannya.

***

Ada sebuah nasihat yang lama sekali aku jadikan pegangan hidup. “Jika kau tak mengerasi dirimu sendiri, dunia yang akan keras pada dirimu.” Di tengah kehidupanku yang (bukan berkelimpahan) berkecukupan, aku bertanya-tanya, apakah kehidupan yang keras itu? Aku tidak pernah kelaparan, kehabisan pakaian atau tidak punya rumah. Aku tidak khawatir kekurangan harta, aku hidup dengan begitu tenangnya. Ada saatnya aku menangis lama, ada juga saat aku bisa tertawa dan merasa bahagia. Di tengah kehidupanku yang normal, aku bertanya-tanya, apakah kesusahan hidup itu? Bukannya aku tak pernah susah… tetapi yang susah itu terbukti selalu lewat. Aku merasakan kehidupan dengan peristiwa-peristiwa yang datang pergi silih berganti. Aku merasa ini normal sehingga tidak ada yang bisa aku gugatkan kepada Allah. Ini begitu normal. Susah mudahnya kehidupan itu normal. Apa yang bisa aku keluhkan?

Namun ada satu yang tetap menggangguku. Kekhawatiran tak pandai bersyukur membuatku bertanya dan terus bertanya, apakah kebersyukuran itu? Perasaan apa yang harus aku miliki ketika aku bersyukur? Pikiran apa yang harus aku miliki? Apa yang harus aku lakukan ketika aku bersyukur? Orang-orang bilang, nabi bilang, dan Allah pun bilang agar manusia yang dianugrahkan kelebihan harus dapat memberi banyak kepada mereka yang berkekurangan. Ketika aku berkata, ya, aku bersedia memberi, aku kembali bertanya, bukankah akan ada saatnya di mana aku nantinya tidak bersedia memberi? Bukankah memberi itu tak selamanya menyenangkan? Bukankah ada memberi yang memberikan konsekuensi kesusahan?

Lalu aku ingat, “Bukankah Kami telah Memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan kami telah Menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” QS Al-Balad 90: 8-11

Jalan yang mendaki lagi sukar itu salah satu dari dua pilihan. Hidup susah itu salah satu dari dua pilihan. Aku boleh terjun bebas dan hidup mudah dan senang, tetapi ketika ada hal baik yang hendak diwujudkan jalan yang mendaki dan sukar, hidup yang susah, menjadi satu-satunya pilihan. Dari situ aku punya kekuatan untuk mengerasi diriku sendiri. Aku tidak mau takut susah. Aku ingin berani di tengah kelemahan dan sisi buruk diri yang selalu menghantui. Akhirnya, dari situ pula aku selalu punya sesuatu untuk “diobrolkan” dengan Allah, dalam doa maupun perenungan. Selalu ada yang bisa disampaikan kepada Allah, sekalipun itu tak bisa diucapkan dengan baik: terima kasih menciptakan aku dengan kelemahan dan sisi buruk ini. Jika dua hal itu yang akan terus membuatku ingat kembali pada-Mu, biarkan aku hidup damai dengannya.

Haha… benar. Tidak ada yang bisa dikeluhkan.

***

Lagi, tentang apa yang aku rasakan. Aku selalu memendam “iri” pada orang-orang yang hidupnya begitu baik hari ini karena berhasil melalui kesusahan hidup di masa lalu. Ada begitu banyak orang yang mekar begitu indah dan mengagumkannya karena kemiskinan, ketidakberdayaan, kecatatan, kelemahan, dan kesulitan hidupnya. Benar-benar banyak. Di buku-buku, di acara-acara TV, di koran-koran, di cerita-cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut. Mereka orang-orang yang berhasil keluar dari sistem setan ketidakberdayaan yang membuahkan ketidakberdayaan. Mereka punya karakter. Hidup yang membuat mereka hidup susah tanpa dapat memilih. Mereka hidup susah karena kemudahan itu memang tidak ada. Dan mereka memutuskan untuk menerima, menghadapi, dan mengalahkan kesusahan itu.

Bukan karena tidak bersyukur, aku bertanya pada Allah mengapa aku tidak ditakdirkan seperti mereka? Andai aku ditakdirkan hidup dengan hidup yang seperti mereka, apa yang sedang aku lakukan sekarang? Memunguti sampah jalanan dan terus memunguti sampah, atau sembari beristirahat setelah memunguti sampah jalanan, aku membaca, lalu memunguti sampah lagi, kemudian sambil istirahat aku membaca lagi?

Aku bertanya lagi, apa yang Allah kehendaki dengan hidup yang berkecukupan ini? Karena aku melihat pula banyak orang berkecukupan yang tidak berbuat lebih baik melainkan sekadarnya saja; mempertahankan kebercukupan dan kebiasaan. Tawa mereka terdengar biasa. Tangis mereka terdengar biasa. Kaki mereka melangkah biasa. Pembicaraan mereka perkataan biasa. Kematian mereka adalah peristiwa biasa. Ketiadaan mereka adalah biasa, sama seperti keberadaan mereka yang merupakan kebiasaan kehidupan. Seperti debu yang tertiup angin. Nanti aku hanya akan tahu mereka pernah ada, dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk mempertahankan kesan tentang diri mereka dalam hatiku. Orang-orang yang datang lalu pergi, dan generasi pun berganti. Belulang mereka dimakan zaman, tak ada cerita yang tinggal.

Aku, yang membayangkan diriku adalah mereka yang “tak punya” kewajiban memerangi kelemahan untuk bertahan hidup, merasakan bencana eksistensial. “Bukankah Kami telah Memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan kami telah Menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?”

Selalu ada yang aku takutkan: kesenangan dunia yang menipu, kebercukupan yang melenakan, kenyamanan yang membuat lupa bahwa aku tetap punya kesempatan memilih. Akhirnya, dari situ pula aku selalu punya sesuatu untuk “diobrolkan” dengan Allah, dalam doa maupun perenungan. Selalu ada yang bisa disampaikan kepada Allah, sekalipun itu tak bisa diucapkan dengan baik: tolong aku. Ya Allah, jangan Engkau hukum aku jika aku lupa atau bersalah, janganlah Engkau pikulkan kepadaku apa yang tak sanggup aku memikulnya…

***

Karena suatu tujuan yang baik, kita memilih jalan hidup yang susah. Karena ingin bertahan hidup, kita mengarungi jalan hidup susah yang ditakdirkan Allah kepada kita sebagai bentuk ujian peningkatan kualitas diri. Namun, ada orang yang tidak mau hidup susah akhirnya terpaksa susah dan sangat susah, karena ia perlu belajar sesuatu bahwa kesusahan hidup itu bukan untuk dibenci dan dimusuhi. Orang yang ingin mencapai tempat yang tinggi tapi tak mau susah payah mendaki, mereka pantas ditegur. Orang yang ingin hidup senang tapi tak mau kerja keras, mereka pantas diperingatkan. Orang yang kemudian menangis dan mengeluh karena tidak juga sampai di tujuan lantaran tak mau susah payah dan tak mau kerja lebih keras, mereka pantas hidup sangat susah. Mereka menukar kesusahan sementara dengan kesusahan yang lebih permanen. Siapa yang bisa menolong mereka yang kemudian berakhir membenci diri mereka sendiri karena kegagalan yang dibuat sendiri?

“Jika kau tak mengerasi dirimu sendiri, dunia yang akan keras pada dirimu.” Aku ingat. Benar. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS Ar-Ra’d 13:11

5 thoughts on “Terpaksa Susah, Susah Terpaksa atau Memilih Susah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s