Poetry of The Week: Surat

Menanti surat, demi kata-kata yang ada di dalamnya

demi sebuah jawaban dan kebenaran

demi sebuah pesan yang aku tahu akan menjadi kenangan

ketika aku menyentuh lembarannya yang melapuk

atau beku dalam file-file bisu.

 

Menanti surat, demi kata-kata yang ada di dalamnya

demi sebuah pemikiran dan warna perasaan

demi sebuah pesan yang aku tahu akan menjadi pelajaran

ketika aku membuka tutup ruang kesabaran yang menyempit,

aku sesak, menangisi tanganku terus kosong.

 

Kau sedang apa? Kau sedang di mana? Adakah waktu?

Hujan melambat di luar sana, dan suaranya tak terdengar lagi.

Kau sedang apa? Kau sedang di mana? Adakah waktu?

Terik mentari lenyap, dan bintang bermunculan lagi.

 

Apakah kita sedang bersama merenungkannya,

ketika kita menengadah dan menemukan bulan yang itu-itu saja?

Apakah kita sedang bersama berusaha memutuskannya,

ketika kita kembali, berharap yang terbaik terjadi besok.

 

Ataukah kita sedang sama menduga, akankah kita menjadi seperti mereka?

Mereka yang belajar untuk melupakan, membungkam jerit hati, terlelap memendam gundah.

Mereka yang belajar untuk mengecilkan makna penantian, membiasakan hidup berjalan untuk berakhir.

 

Tuhan, mengapa Kau bikin ada jarak, dan jalan-jalan?

 

Semarang, 19 Juli 2013; 12:00 AM

 

12 thoughts on “Poetry of The Week: Surat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s