Poetry of The Week: Kini, Aku di Masa Depan Itu

Empat tahun yang lalu aku pernah menulis sebuah puisi, Ketika Memandang Masa Depan. Betapapun indah isinya bagiku waktu itu, sesungguhnya itu adalah ekspresi skeptisisme dan kesedihan atas kehidupan. Aku ingat menulis itu dalam ruang kelas yang lengang karena hanya diisi oleh segelintir mahasiswa. Aku satu-satunya mahasiswa dari angkatanku, sisanya adalah senior-seniorku. Aku duduk di baris paling depan, sementara banyak orang di belakangku aku dengarkan tengah mengobrol pelan sambil menanti perkuliahan dimulai. Rasanya begitu sepi.

Ketika kebanyakan orang memilih kelas berdasarkan siapa saja temannya yang juga memilih kelas tersebut, aku tidak. Aku tak  keberatan berdiri sendirian ketika aku tahu apa yang aku inginkan dan mengapa. Tapi… rasanya entah mengapa begitu sepi. Aku melihat orang lain yang handphone-nya sering kali berbunyi lalu jemari mereka menari cepat mengetikkan text message, atau mereka yang bisa tanpa merasa bersalah menjadi yang ramai di kelas dan berakhir ditegur dosen. Sebagian orang berkata para pengobrol itu bermasalah. Mereka berharap akan anak-anak yang lebih tenang, penurut, dan bersungguh-sungguh belajar. Tapi, ketika aku memenuhi harapan mereka dan untuk itu, aku menyadari sendiri betapa aku tidak boleh konformis dengan mayoritas, mereka bilang aku autistik; aku hidup dalam duniaku sendiri. I am inadequate socially. Mereka membuatku berpikir demikian tentang diriku sendiri selama beberapa waktu.

Ada titik dalam hidupku di mana kemudian aku merasa goblok jika memprioritaskan apa kata orang di atas apa yang menurut prinsipku sendiri adalah benar. Aku tidak secara sosial inadekuat! Aku cuma tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mengerti situasi dan bagaimana harus berbuat. Dan aku menyimpulkan bahwa memang ada orang yang cenderung semena-mena dalam menilai orang lain, yang begitu cepat mengambil kesimpulan-kesimpulan berbahaya tentang orang yang mereka nilai, dan yang secara tidak sadar menjadi agen perusak hidup orang lewat komentar-komentar mereka. Sepanjang aku mengenal diriku, apakah aku perlu mendengarkan mereka yang tidak pernah berusaha mengenal aku?

Ketika kita memandang masa depan
apakah semua orang pantas kita kenal?

Suatu kenyataan yang menyesakkan
akan ada waktunya
untuk pura-pura buta
untuk pura-pura tuli
dan untuk pura-pura tak berhati.

Apakah benar?
suatu saat nanti akan ada
orang-orang yang kita lupakan
orang-orang yang terlupakan
orang-orang yang kita ingat
dan orang-orang yang teringat sampai mati.

Jika benar,
siapa saja mereka?
akan kucari tahu
sampai ujung dunia.

22 April 2009

Keluar dari kelas pada hari itu, aku merasakan kelegaan yang aneh, ketika aku merasa dapat menduga sebuah masa depan tentang orang-orang macam apa yang aku ingin mereka ada dalam lingkaranku dan aku ada dalam lingkaran mereka. Aku ingin suatu saat nanti dapat mensyukuri keberadaan semua orang yang ada dalam hidupku. Aku tidak ingin menjadi orang yang berakhir pura-pura buta, tuli, dan tak berhati lantaran jengah akan keberadaan mereka. Aku tak ingin menjadi orang yang lupa atau sengaja melupakan. Aku ingin menjadi orang yang ingat tentang mereka sampai aku mati. Aku ingin semua orang memiliki arti dan memberikan arti bagi hidupku, dan begitu juga aku bagi hidup mereka. Karena itu, aku sering bertanya-tanya, adakah aku bermusuh hari ini, meskipun hanya satu orang? Dan aku ingin selalu bisa menjawabnya dengan baik.

***

Pernah suatu ketika, di bulan-bulan akhir masa mahasiswa, mungkin dua tahun yang lalu, aku kembali termenung oleh persoalan serupa. Setelah sebuah diskusi, dosenku tiba-tiba bertanya, apakah aku punya teman dekat? Jantungku langsung terpacu, jangan-jangan peristiwa seperti hari aku dikatai autistik itu akan terjadi lagi. Gagap aku menjawabnya, karena sebenarnya aku tidak mengerti betul definisi teman dekat itu di sini. Aku menjawab sekenanya saja dan aku lupa apa tepatnya jawabanku saat itu. Satu hal yang kembali membuatku sakit hati adalah ketika dia menyimpulkan bahwa sifat pertemananku instrumental saja, ketika butuh, bicara, tidak butuh, tidak bicara. Benar-benar, itu teman kata “autistik” sepertinya. Manusia instrumentalistik. Apa lagi kali ini?

Pulang dari kampus aku merenung-renung. Apakah aku manusia instrumentalistik? Apakah aku bicara dengan orang demi kepentingan instrumental saja? Apakah aku menganggap orang instrumen atau alat bagi pencapaian kepentingan-kepentinganku? Apakah aku orang yang memanfaatkan orang lain? I am not that evil! Sekalipun aku tidak punya orang yang bisa aku katakan dekat, aku bukan orang jahat.  Sekalipun aku tidak punya orang yang bisa aku katakan dekat, aku punya orang-orang yang aku sebut mereka teman, sementara aku tak pernah bisa membedakan apakah mereka itu teman dekat atau teman jauh, sahabat dekat atau sahabat jauh. Apakah aku lagi-lagi inadequate socially kalau teman bicara terbaikku adalah diriku sendiri lewat sebuah buku tempat aku bisa berefleksi sebaik-baiknya lewat tulisan? Aku cukup rasional ketika memutuskan berprinsip tak mau menggantungkan, terutama perkara emosional, kepada orang lain. Aku cukup rasional juga ketika memutuskan untuk berusaha sekeras mungkin berdiri di kaki sendiri, mengandalkan diri sendiri, sampai terbukti aku lemah sehingga sangat rasional, aku membutuhkan orang lain.

Aku bukan manusia instrumentalistik. Aku tidak sedingin itu, dan aku selalu ingat… Ketika aku sedang mencari orang-orang yang aku berharap mereka akan berarti bagi hidupku, aku tahu ada orang-orang yang juga sedang mencariku dengan tujuan serupa. Mereka yang juga bertanya dan berharap, tetapi dengan kata-kata yang berbeda dari yang aku miliki ini:

Ketika kita memandang masa depan
apakah semua orang pantas kita kenal?

Suatu kenyataan yang menyesakkan
akan ada waktunya
untuk pura-pura buta
untuk pura-pura tuli
dan untuk pura-pura tak berhati.

Apakah benar?
suatu saat nanti akan ada
orang-orang yang kita lupakan
orang-orang yang terlupakan
orang-orang yang kita ingat
dan orang-orang yang teringat sampai mati.

Jika benar,
siapa saja mereka?
akan kucari tahu
sampai ujung dunia.

Dalam hidup pasti ada jarak, dan Allah menciptakan jalan-jalan bagi manusia agar mereka dapat saling meraih. Banyak orang yang semula saling asing, kini saling kenal. Banyak orang yang semula berpapasan tanpa saling melihat, kini saling menyapa dan tersenyum dengan hangatnya. Banyak orang yang semula saling diam, kini saling bicara dan berbagi pikiran dan perasaan.

Semua orang semula lahir tak bisa bicara, tetapi jika akhirnya semua bisa bicara, sungguh menyedihkan kisah mereka yang berakhir saling menyakiti, berhenti bicara dan berbagi pikiran dan perasaan, berhenti menyapa dan tersenyum hangat, berhenti saling melihat… Karena itu, aku sering bertanya-tanya, siapakah teman-temanku hari ini? Mereka, yang tidak pura-pura buta, tuli dan berhati ketika bertemu denganku. Mereka yang tidak lupa tentang aku, ingat tentang aku, bukan sebagai musuh mereka. Dan aku selalu ingin bisa menjawab itu dengan baik.

***

Kini, aku berada di masa depan itu. Empat tahun itu sudah lama. Dua tahun itu juga sudah lama. Entah bagaimana, aku hari ini bisa merasakan puisi itu dengan begitu berbeda. Aku mencari-cari ke mana skeptisisme itu pergi? Ke mana kesedihan itu juga pergi? Bukan karena aku berhasil mendapatkan lebih banyak teman sampai tak terhitung jari. Bukan karena aku berhasil menjadi orang yang populer atau apa. Bukan karena aku berhasil menjadi sosok seperti yang kuharapkan dalam puisi itu, yang tidak terlupakan dan terus diingat. Bukan karena itu, dan sesungguhnya aku tak pernah ingin tahu itu.

Di tengah situasi di mana jarak semakin memisahkan, pertemuan semakin jarang, atau bahkan sudah menjadi barang lampau yang semakin lampau… Di tengah kesadaran bahwa semua mungkin akan menjadi tak sama lagi kelak ketika kembali bertemu, bahwa semua mungkin akan kembali tak saling mengenal… Aku bersyukur, ada di hari ini mereka yang sama berdoa sepertiku, “Semoga silaturahim kita masih bisa terjalin walaupun mungkin kita tidak bisa lagi bersua…” Atau, “We will always be friend, no matter what. … Jika suatu saat ada kesempatan silaturahim, kami akan bertemu sebagai teman. Well, so do you and I.” Atau, “Semoga Allah menjaga silaturahim di antara kita.”

Apa aku masih inadequate socially jika aku menangis sendiri saja menerima kalimat indah semacam itu, yang bertahun-tahun lamanya aku nantikan dari seorang teman? Ya Allah, aku melankolis lagi… Syukur, alhamdulillah. Benar-benar, aku sangat berterima kasih.

***

Ketika kita memandang masa depan
apakah semua orang pantas kita kenal?

Suatu kenyataan yang menyesakkan
selalu ada waktu bagi sebuah perpisahan
ketika mereka telah menjadi tak tergantikan
dan begitu tak terlupakan.

Apakah benar?
suatu saat nanti akan ada
pertemuan bagi orang-orang yang berpisah jalan?
seakan-akan tak pernah ada masa yang berlalu
seakan-akan tak pernah ada yang berbeda
kembali seperti dulu.

Jika benar,
apakah yang akan menjaga kita?
akan kucari tahu
sampai ujung dunia.

21 Juli 2013

Kini, Aku di Masa Depan Itu

6 thoughts on “Poetry of The Week: Kini, Aku di Masa Depan Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s