Ajari Aku Hidup dengan Keberanian

Jika keadilan ditegakkan, keberanian tidak diperlukan lagi.

Sering aku bertanya-tanya, dari mana datangnya perasaan gentar ini? Ketika di hadapanku keburukan, ketidakbenaran dan ketidakadilan terjadi, aku memilih diam, padahal nuraniku berkata jangan. Aku biarkan diriku berlalu dan waktu melaju sampai semua itu menjadi masa lalu, padahal jiwaku terus terpaku memikirkannya. Lalu, tahukah kau bagaimana aku mengasihani diriku sendiri? Aku bertanya, mungkinkah ini masih lebih baik daripada tidak merasakan apa-apa? Andai ada yang dapat menjawabnya, di antara mereka yang berkelebihan, siapakah yang berkenan menyantuniku sebuah rasa bernama keberanian?

***

Aku menyadari betul, aku mengakuinya, aku memiliki jiwa yang kerdil. Rasanya ada terlalu banyak zona tak nyaman dalam hidupku. Sejak kanak-kanak, aku takut hantu dan gelap malam hari. Sampai sekarang, tidak pernah tahan dengan kisah-kisah dan film-film horor. Tidak pernah berani menontonnya sendirian. Jika bersama-sama orang, aku pasti menontonnya sambil bersembunyi di balik punggung mereka, menutup mata dan telinga rapat-rapat, menjerit-jerit jika backsound menegangkan itu tetap saja berhasil menyusup masuk dan menggetarkan gendang telingaku. Sementara orang bisa menikmatinya, aku justru terhantui oleh penampakan-penampakan yang mengerikan itu. Aku tak bisa mengerti keterhiburan yang dirasakan orang-orang lewat film-film semacam itu.

Namun pada akhirnya, yang kemudian menyelamatkanku adalah kedewasaanku, ketika aku, dengan bantuan kematangan kognitifku, bisa benar-benar meyakinkan diri sendiri: Itu cuma film, itu bohong-bohongan, itu tidak nyata, itu cuma efek, itu cuma cerita, itu tidak ada. Memang itu tidak ada, tetapi benar-benar butuh waktu untuk percaya itu tidak ada. Dan tahun-tahun yang aku habiskan untuk takut gelap, malam hari, dan film horor… aku kini bisa merasa itu semua tidak masuk akal.

Sejak kanak-kanak pula, aku takut tampil di depan umum. Di sekolah, hal-hal yang tidak aku suka: menyanyi di depan kelas, mendeklamasikan puisi di depan kelas, berpidato di depan kelas, bermain drama. Pernah suatu saat, ketika aku berkesempatan menjadi ketua panitia sebuah acara kerohanian Islam di SMA, aku nekad membatalkan bagian sambutan ketua panitia karena aku tidak mau bicara di depan ratusan orang. Aku merasa itu keputusan gila, tetapi aku lalu lega. Pernah di SMP, aku lebih memilih diam dan mendapat nilai 4 daripada maju ke depan kelas untuk berpidato bahasa Jawa. Setelah kemudian hari aku pikir, semua itu bukan karena aku tak bisa, hanya saja rasanya memalukan sekali menjadi pusat perhatian orang. Aku tidak suka dilihat, aku tidak suka terungkap, aku tidak suka ketahuan. Aku tidak nyaman dengan ide mengekspresikan pikiran dan perasaan secara langsung dan terbuka. Yang seperti itu selalu melonjakkan debar jantungku, membuat perut sakit, dan seluruh tubuh menjadi panas… Meskipun demikian, selalu ada saat di mana aku tak punya pilihan lain selain maju, terutama di masa kuliah.

Sekali lagi, yang kemudian menyelamatkanku adalah kedewasaanku, ketika aku mulai mengenal diri dan apa kebutuhanku; kalau aku tidak tampil, aku tidak belajar apa-apa, aku tidak akan maju; kalau aku tidak tampil, aku tidak akan didengar, sebaik dan sebenar apapun pendapatku; kalau aku tidak tampil, aku melanggar kewajibanku dan hak orang-orang atas diriku; kalau aku tidak tampil, aku tidak amanah atas tanggung jawab yang membuatku harus tampil; kalau aku tidak tampil, aku tidak akan bertahan hidup. Berani tampil demi menyatakan eksistensi. Mungkin menjadi kuat dan tak tergoyahkan oleh pendapat umum memang berlangsung pelan-pelan dalam diri seseorang.

Aku kira, aku sudah cukup berani, ternyata tidak. Tidak sampai aku menjadi lebih dewasa, aku menyadari wajah-wajah ketakutanku yang lain. Bukan disertai perasaan ngeri atau malu yang mendorongku untuk merespon objek ketakutanku dengan bersembunyi atau lari, melainkan marah. Aku marah, tapi takut. Aku ingin melawan, tapi tak berani. Aku yang tak berdaya, lalu memutuskan pergi karena tidak tahan lagi.

Aku pernah gagal menolong seorang teman karena aku tidak berdaya membelanya. Waktu itu aku tidak bisa mencegah keburukan yang berlangsung, karena aku tidak berani mengajak orang-orang untuk berbuat, menangani masalah, dan memperlakukan sesama dengan cara yang baik. Aku yang lebih muda dibandingkan senior-seniorku, yang tidak punya kedudukan dan juga pengaruh, yang diremehkan dan tak didengarkan… Aku yang kecil dan lemah, sekalipun aku memegang kebenaran, sekalipun yang aku tahu aku tahu adalah lebih baik, tak berani bicara dan karena itu tidak ada orang yang terguncang oleh kesalahan mereka. Aku terpaksa diam padahal nuraniku memerintahkanku yang sebaliknya. Aku berperang dengan diriku sendiri. Karena aku kalah dari diriku sendiri, aku gagal menolong seseorang dan dihantui penyesalan; andai aku punya keberanian, andai aku mampu mengalahkan ketakutanku.

Satu hal yang sama-sama kita manusia rasakan: kita takut pada orang-orang yang lebih tua dari kita, orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya, orang-orang yang lebih berkuasa, orang-orang yang lebih berpengaruh, orang-orang yang lebih pintar, orang-orang yang lebih mampu, orang-orang yang lebih kaya, orang-orang yang lebih berpengalaman, orang-orang yang lebih daripada kita. Kita takut dibalas, dihancurkan, disakiti, dibenci, dimarahi, dipersulit, dan tidak ditolong.

Siapa kita jika kita bukan siapa-siapa? Siapa kita jika kita kemudian berjuang untuk menjadi seseorang; untuk menjadi orang yang lebih sempurna. Akhirnya, apakah jika kita lebih hebat, lebih tinggi, lebih kuat, lebih besar, dan lebih berani, kita akan lebih baik dan akan baik-baik saja? Apakah jika kita lebih dewasa, memiliki kedudukan lebih tinggi, pengaruh yang lebih besar, dan karenanya punya keberanian untuk berbuat apa saja, maka kita akan lebih baik dan akan baik-baik saja? Atau kita akan ganti menjadi orang yang ditakuti sehingga tak ada orang yang berani bicara untuk membuat kita terguncang oleh kesalahan kita sendiri? Kita begitu ditakuti sehingga orang-orang lebih memilih diam, bersembunyi, atau lari, sementara nurani mereka menjerit begitu inginnya memperingatkan diri kita untuk menolong kita. Kita begitu ditakuti karena kita memiliki kemampuan dan keberanian untuk membalas, menghancurkan, menyakiti, membenci, memarahi, mempersulit, dan tidak menolong orang.

Kita tidak pernah benar-benar tahu di titik mana kita tertipu. Dalam setiap tindakan berani kita, selalu ada potensi kita melanggar hak orang lain, melanggar hukum-hukum Allah, bersalah dan berdosa.

Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa aku lebih takut pada diriku sendiri yang mungkin akan tidak kenal dirinya lagi ketika ketidaktakutan sirna dari dalam hatinya dan keberaniannya justru berbalik membinasakan. Mungkin nanti aku akan bertanya-tanya, dari mana datangnya keberanian ini? Ketika di hadapanku ada kebaikan, kebenaran, dan keadilan, aku memilih mendebatnya sementara nuraniku tak mampu berkata-kata lagi. Aku biarkan diriku berlalu dan waktu melaju sampai semua itu menjadi masa lalu. Lalu, tahukah kau bagaimana aku nanti akan membenarkan ketidakpercayaanku pada nasihat? Hanya karena aku takut kembali merasakan ketakutan pernah menjadi orang yang lemah dan rendah, yang kecil dan tak berharga, dan takut. Jika saat itu terjadi, andai ada yang dapat menjawabnya, apakah yang dapat mengajariku lagi sebuah rasa bernama ketakutan? Ketakutan yang disertai perasaan hina, yang membuatku mewaspadai hidup yang menginginkan kelebihan dan kesempurnaan duniawi, tapi lupa akhirat.

Ya Allah, ajari aku hidup dengan keberanian untuk tidak lari, bersembunyi, mendustakan, dan mengabaikan nasihat dan peringatan;

Hidup yang penuh ketakutan hanya pada-Mu saja, penuh keberanian karena-Mu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s