Hikmah dalam Kehidupan Umar bin Abdul Azis

Umar bin Abdul Aziz adalah salah seorang tokoh orang yang aku kagumi. Cerita tentang kehidupannya selalu menimbulkan harapan: pemerintahan yang baik itu nyata dan bisa diwujudkan. Lahir, November 682 di Madinah. Khalifah Umayyah ke-5, memerintah dari tahun 717-720. Ia adalah cucu buyut dari Umar bin Khattab.

***

Kelahiran Umar bin Abdul Aziz

Pada suatu malam (menjelang dini hari), Khalifah Umar bin Khattab disertai pengawalnya melakukan inspeksi ke pinggiran kota. Beliau mendengar percakapan dua orang wanita, ibu dan anak gadisnya.

Ibu: “Campur saja agar susunya dengan air (agar kelihatan lebih banyak).

Anak: “Bagaimana saya harus melakukannya sedang Amirul Mukminin (Khalifah Umar) telah mengeluarkan peraturan yang melarangnya?”

Ibu: “Khalifah Umar toh tidak akan mengetahuinya.”

Anak: “Kalau khalifah Umar tidak mengetahuinya, maka pasti Allah mengetahuinya.”

Percakapan antara keduanya berkesan sekali di hati Umar. Keesokan harinya ia menyuruh pengawalnya menyelidiki kedua wanita itu.

Setelah diketahui bahwa putri itu seorang gadis, lalu, Umar memanggil putranya, ‘Aashim, dan menawarkan gadis itu untuk dinikahinya, dan disuruhnya putranya untuk melihat secara langsung paras wajahnya, seraya berpesan kepadanya:

“Pergilah wahai anakku. Lihatlah gadis itu, nikahilah dia, dan aku berharap dia akan melahirkan seorang pahlawan yang mampu memimpin bangsa Arab.”

Pernikahan pun berlangsung, dan dari mereka lahir seorang (anak) perempuan (Layla binti ‘Aashim) yang kemudian dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan. Kemudian, dari pernikahan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah Umayyah kelima yang sangat adil. Tepat sekali ramalan Khalifah Umar bin Khattab. Sifat amanat dan kejujuran menjadi penghubung antara Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.

***

Beratnya Amanat

Setelah Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah, beliau pergi ke mushalla-nya dan menangis tersedu-sedu. Ketika ditanyakan kepadanya tentang penyebab tangisnya, beliau menjawab:

“Aku memikul amanat umat ini dan aku tangisi orang-orang yang menjadi amanat atasku, yaitu kaum fakir miskin, yang lemah dan lapar, ibnu sabil yang kehilangan tujuan dan terlantar, orang-orang yang dizalimi dan dipaksa menerimanya, orang-orang yang banyak anaknya dan berat beban hidupnya. (Aku) merasa bertanggung jawab atas beban mereka, karena itu, aku menangisi diriku sendiri karena beratnya amanat atas diriku.”

***

Nasihat Ulama kepada Sang Penguasa

Setelah dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta nasihat kepada para ulama.

Salim bin Abdullah menasihatinya, “Wahai, Khalifah! Jadikan seluruh rakyat sebagai ayah, saudara, dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan saudara-saudaramu, dan sayangilah anakmu.”

Ulama lain, Muhammad bin Ka’ab, menasihati, “Wahai, Khalifah, cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, dan bencilah sesuatu untuk orang lain sebagaimana engkau membenci sesuatu untuk dirimu sendiri.”

Hasan al-Bashri menasihati, “Demi Allah, aku telah bergaul dengan banyak orang yang sedap dipandang oleh mata dan tutur karanya menyentuh hati. Ucapan mereka adalah penawar bagi apa yang ada di dalam dada. Memelihara diri dengan yang halal lebih mereka utamakan daripada menjaga diri dari yang haram. Perhatian mereka terhadap shalat sunah lebih besar daripada perhatian kita terhadap shalat fardhu. Mereka menutup kebaikan-kebaikan mereka sebagaimana kita menutup-nutupi segala keburukan kita. Mereka menangis jika berbuat kebaikan, sedangkan kita tertawa jika berbuat kesalahan.”

Khalifah mendengarkan semua nasihat ini sambil menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

***

Nasihat Imam kepada Khalifah

Al-Imam al-Hasan al-Bashri menasihati khalifah yang adil, Umar bin Abdul Azis dengan ucapannya, “Sesungguhnya dunia ini suatu mimpi, sedangkan akhirat adalah kenyataan, dan kematian berada di tengah-tengah antara keduanya. …

Barang siapa mawas diri selama hidupnya, maka dia beruntung. Namun, barang siapa yang lengah dan lalau, maka dia akan merugi. Barang siapa selalu memandang pada akibat, maka dia akan selamat, dan barang siapa yang memperturutkan hawa nafsunya, maka dia akan sesat.

Barang siapa sabar dan tenang, maka dia akan berhasil, dan barang siapa yang takut, maka dia akan selamat. Barang siapa yang memahami, dia akan mengetahui. Barang siapa yang berilmu, maka dia akan memahami.

Apabila kamu tergelincir, kembalilah, dan bila kamu menyesali sesuatu, jangan diulangi. Apabila kamu tidak tahu, bertanyalah, dan bila kamu marah, maka tahanlah dirimu.

Manusia yang mulia akan terhormat dalam pandangan manusia, namun apabila dia menunjukkan kerakusan pada dunia, maka dia akan direndahkan. Omongannya tidak disukai dan dibenci.”

***

Kerendahhatian Sang Khalifah

Diceritakan bahwa pada suatu malam datanglah seorang tamu kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Waktu itu beliau sedang menulis dan lampunya hampir saja padam. Tamu itu kemudian berkata:

“Biarlah saya yang memperbaiki lampu itu, ya Amirul Mukminin.”

Beliau menjawab, “Ah, jangan. Tidak baik seseorang menganggap tamunya itu sebagai pelayannya. Itu bukan termasuk sifat yang mulia.”

Tamu itu berkata lagi, “Kalau begitu, biarlah saya bangunkan pelayan saja?”

Beliau menjawab pula, “Ah, jangan. Ia baru saja tidur. Agaknya sejak tadi (ia) belum merasakan kelezatan bantalnya.”

Selanjutnya beliau sendiri mengisikan minyak ke dalam lampunya itu. Tamu itu pun berkata, “Wahai, apakah Paduka Tuan sendiri yang membetulkan lampu itu, ya Amirul Mukminin?”

Beliau lalu menjawab, “Mengapa tidak? Kalau saya pergi, saya pun tetap Umar, kalau saya kembali pulang, saya pun tetap Umar juga. Tidak akan berkurang sesuatu pun dari diriku dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan? Selamanya saya tetap Umar. Memang, sebaik-baiknya manusia ialah orang yang ber-tawadlu’ di sisi Allah Ta’ala.”

***

Membangun Benteng

Salah serorang gubernur menulis surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk meminta dana yang cukup besar guna membangun benteng di sekeliling ibukota. Khalifah membalas suratnya. Kata khalifah: “Apa manfaatnya membangun benteng? Bentengilah ibukota dengan keadilan, dan bersihkan jalan-jalannya dari kezaliman.”

***

Berpedoman pada As-Sunnah

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Rasulullah saw. dan para Khulafa ar-Rasyidin telah menetapkan sunnah-sunnah. Barang siapa melaksanakannya berarti membenarkan Kitabullah, menyempurnakan ketaatan kepada Allah, dan mengokohkan agama Allah untuk dirinya. Manusia tidak boleh mengganti, mengubah, atau mencari-cari yang lain, yang bertentangan dengannya. Barang siapa berpedoman padanya, ia memperoleh petunjuk. Barang siapa memenangkannya maka dia akan menang, dan barang siapa meninggalkannya dan menempuh jalan selain kaum yang beriman, akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka, seburuk-buruk hunian.”

***

Kebutuhan Asasi Setiap Muslim

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat perintah kepada para gubernur agar melunasi utang-utang segenap penduduk. Salah seorang gubernur menulis surat kepada khalifah sebagai berikut: “Di antara mereka yang berutang terdapat orang-orang yang memiliki rumah, sanggup mempekerjakan pelayan rumah tangga, memiliki kuda, dan memiliki perabot rumah tangga.”

Khalifah Umar menjawab, “Setiap muslim harus mempunyai rumah tinggal sebagai tempat berlindung, seorang pelayan yang membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seekor kuda untuk dipakai berjihad melawan musuh, dan perabotan rumah tangga demi kelancaran hidup sehari-hari. Kalau dia termasuk orang yang berutang, lunasilah seluruh utangnya.”

Begitulah kemakmuran dan kesejahteraan pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Rumah, pelayan, kuda, dan perabot rumah tangga dianggap kebutuhan pokok, sehingga semuanya tidak boleh dijual untuk melunasi utang-utang seseorang, selama kas negara masih dapat menutupinya. Itulah masyarakat islami yang mulia.

***

Kenalilah Harga Dirimu

Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. Maka ia segera memanggil anaknya, lalu melepaskan cincin yang baru saja dikenakan. Ia berkata: “Juallah cincin ini lalu gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang lapar. Kemudian belilah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata ‘Allah merahmati orang yang mengenali harga dirinya.'”

Subhanallah! Alangkah jayanya Islam dan alangkah bahagianya umatnya jika para penguasa kaum muslimin mencontoh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

***

Amanah Seorang Khalifah

Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz dikunjungi bibinya yang bermaksud meminta tambahan tunjangan dari baitul mal. Ketika itu, Amirul Mukminin sedang makan kacang bercampur bawang dan adas, makanan rakyat awam.

Amirul Mukminin menghentikan makannya, lalu mengambil sekeping uang (satu dirham) dan membakarnya. Dibungkusnya uang itu dengan sepotong kain dan diberikannya kepada bibinya seraya berkata, “Inilah tambahan tunjangan uang yang bibi minta.”

Bibinya menjerit kepanasan ketika menyentuh bungkusan berisi uang logam panas itu. Umar berkata, “Kalau api dunia terasa sangat panas, bagaimana kelak api neraka yang akan membakar aku dan Bibi karena mengkhianati amanah dan menyelewengkan harta kaum muslimin?”

***

Kemakmuran Umat Islam pada Masa Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, umat Islam mengalami kemajuan yang begitu besar di berbagai bidang kehidupan, baik ekonomi, sosial, kebudayaan, maupun bidang pertahanan dan keamanan. Selain sebagai khalifah yang bijak, Umar bin Abdul Aziz menerapkan ajaran-ajaran Islam secara konsekuen.

Di bidang ekonomi, beliau mengatur pemasukan kas negara, dari pungutan zakat dan infak, yang kemudian digunakan untuk membiayai roda pemerintahan serta untuk mencukupi kebutuhan para fakir miskin. Lembaga ini beliau namakan Baitul Mal, sebagaimana yang telah dirintis oleh pendahulunya, Umar bin Khattab.

Semua bidang ekonomi yang memungkinkan, dikembangkan sedemikian rupa sehingga upaya merealisasikan kemakmuran rakyat benar-benar tercapai dengan kesuksesan. Kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat Islam bisa dilihat dari pernyataan para gubernurnya, antara lain:

Gubernur Afrika, Yahya bin Said: “Aku diutus oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk mengelola zakat di Afrika. Maka aku berusaha melaksanakan perintah itu dengan baik. Setelah seluruh zakat berhasil dikumpulkan, maka aku pun berniat untuk segera membagi-bagikannya kepada mereka yang berhak menerima. Namun, semua orang yang kujumpai tak satu pun yang bersedia menerima pembagian zakat itu. Sunnguh, Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat hidup berkecukupan. Akhirnya, dicarilah rakyat yang masih berstatus sebagai budak belian, lalu mereka dimerdekakan dengan uang hasil pengumpulan zakat itu.”

Gubernur Basrah. Ia pernah mengirimkan surat kepada pemerintah pusat yang isinya mengadukan kemakmuran yang telah dicapai oleh penduduk Basrah: “… Seluruh rakyat di Basrah semuanya hidup makmur tak kurang suatu apa. Hal ini mengkhawatirkan kami, jangan-jangan mereka menjadi angkuh dan sombong.”

Khalifah Umar membalas surat itu, antara lain berisi nasihat dan peringatan yang berbunyi: “Ketika Allah memasukkan calon-calon penghuni surga ke surga dan calon-calon penghuni neraka ke neraka, Dia merasa senang kepada para penghuni surga lantaran mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi Janji-Nya kepada kami.’ (QS Az-Zumar: 74). Maka setiap orang yang menjumpaimu, suruhlah mereka memuji keagungan Allah Swt!”

Gubernur Irak, Abdul Hamid bin Abdur Rahman. Dikisahkan oleh Abu Ubaik, bahwa Khalifah Umar pernah berkirim surat kepada gubernur Irak. Isinya berupa perintah agar Abdul Hamid membayarkan semua gaji dan hak-hak penduduk setempat secara adil.

Abdul Hamid membalas, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah melaksanakan instruksi paduka dengan baik. Tetapi, uang di Baitul Mal provinsi Irak masih tersisa cukup banyak!”

Khalifah Umar kembali memerintahkan, “Carilah orang-orang yang terlilit utang, dan mereka tidak bergaya hidup mewah dan tidak boros. Berikanlah uang kepada mereka secukupnya untuk melunasi utangnya.”

Gubernuh Abdul Hamid kembali menulis, “Kami telah membayarkan uang kepada orang-orang yang terlilit utang, tapi di Baitul Mal masih tersisa banyak dana.”

“Carilah para pemuda yang cukup umur yang ingin menikah tetapi belum memiliki dana yang cukup. Nikahkanlah mereka dan cukupilah maharnya!”

“Kami telah melaksanakan perintah paduka. Semua pemuda dan duda yang ingin menikah tetapi tidak memiliki dana yang cukup telah kami nikahkan dengan biaya dari Baitul Mal. Tapi, uang di Baitul Mal tetap saja tersisa cukup banyak.”

“Carilah orang-orang yang biasa membayar pajak hasil bumi. Jika di antara mereka ada yang kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya, maka berilah pinjaman modal secukupnya agar mereka dapat mengolah tanahnya dengan baik. Kita tak usah menuntut pengembalian dari mereka kecuali setelah dua tahun atau lebih!”

Demikianlah sekilas cerita. Semua rakyat hidup makmur dan mereka tak ada yang bersedia menerima zakat!

***

Walaupun masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sangat singkat (tiga tahun), ia adalah sosok yang sangat dihormati dalam kenangan umat Islam. Upayanya mereformasi pemerintahan membangkitkan kemarahan para bangsawan dinasti Umayyah, sehingga akhirnya mereka mengutus seorang pelayan untuk meracuni makanan Umar. Umar menyadari ini dalam sekaratnya dan memaafkan pelakunya. Ia meningga pada Februari 720 M dalam usia sekitar 40 tahun di Aleppo, Syria.

Sumber:

Ihya Ulumuddin Al-Ghazali, hal. 759

Hikmah dalam Humor, Kisah dan Pepatah (Basyarahil, 1999)

Kisah-kisah Rukun Islam (Kauma & Nipan, 1999)

Wikipedia

5 thoughts on “Hikmah dalam Kehidupan Umar bin Abdul Azis

  1. Reblogged this on あさぎえんぴつ 'Asagi Enpitsu' and commented:
    kondisi pemerintahan yang sangat kontras dengan era sekarang, ya, Tina.. bahkan, masih banyak golongan orang kaya yang masih mengharapkan raskin/ dana BLT.. #ulasan yang bagus, Tina.. Izin reblogged, ya! (ada sedikit kesalahan ketik pada paragraf ‘Kebutuhan Asasi Setiap Muslim’:
    “Kebitulah kemakmuran dan kesejahteraan pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Rumah, pelayan, kuda, dan perabot rumah tangga dianggap kebutuhan pokok, sehingga semuanya tidak boleh dijual untuk melunasi utang-utang seseorang, selama kas negara masih dapat menutupinya. Itulah masyarakat islami yang mulia.”

    • Wah, terima kasih, Ania. Sudah aku perbaiki kesalahan ketiknya😀

      Memang kondisinya begitu kontras, tetapi kebobrokan pemerintahan memang jamak terjadi di dunia ini. Pemimpin yang baik dapat dihitung dengan jari, tinggal sekarang kita memilih untuk menjadi pemimpin yang macam apa, minimal terhadap diri sendiri.

      Oya! namanya sekarang bukan BLT lagi, tapi BLSM!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s