Kesombongan Kaum Ulama, Ilmuwan, dan Cendekia, serta Mereka yang Merasa Tahu atau Memang Lebih Tahu

Suatu ketika, aku tertarik pada status FB ini: Sains lahir dari kerendah-hatian. Prinsip-prinsip sains mendidik kita untuk rendah hati. Tapi kenapa banyak ilmuwan dewasa ini justru semakin sombong? Haha… bagaimana aku bantu menjawabnya? Karena mereka tidak sadar diri bahwa mereka itu sedang sombong? Karena setan menampakkan kebagusan dari apa yang selalu mereka kerjakan; berlomba-lomba menjadi yang paling benar dan terpercaya? Benar-benar, aku angkat tangan mengenai persoalan ini. Mari kita membaca bab “Celanya Takabbur dan Bangga akan Diri Sendiri” dalam Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali. Semoga ada yang bisa kita ambil pelajaran darinya.

***

Setiap manusia punya lubang nerakanya sendiri-sendiri dan lubang neraka para ulama/ ilmuwan ada pada ilmunya, di mana ilmunya menjadi biang ke-takabbur-an dan kebanggaan diri. Takabbur artinya sombong, congkak, atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, baik kedudukan, keturunan, kebagusan bentuk (penampilan fisik), dan lain sebagainya. Beberapa ayat Al Quran menunjukkan betapa buruk dan jahatnya ke-takabbur-an ini:

QS Al-A’raf (7): 146 Aku akan Memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda Kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat tiap-tiap Ayat(-Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan Ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.

QS Al-Mu’min (40): 35 … Allah Mengunci Mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Dan beberapa hadist:

Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan. (HR Muslim)

Allah berfirman dalam hadist qudsi: Kesombongan adalah selendangku dan kebesaran adalah sarungku. Maka barangsiapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasri Kulemparkan ia ke dalam Jahannam dan tidak akan Kuperdulikan lagi. (HR Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Sementara itu, tawadlu’ (merendahkan diri) adalah karakter yang sangat diutamakan:

Berbahagialah seseorang yang ber-tawadlu’ bukan karena kemiskinan, juga membelanjakan harta yang dikumpulkan bukan untuk kemaksiatan, demikian pula suka belas kasihan kepada orang-orang yang hina dan miskin dan mempererat hubungan dengan ahli fikih dan ahli hikmah. (HR Thabrani)

Bagaimanakah tawadlu’ itu? 1) Tunduk pada apa-apa yang haq dan benar, 2) Mengikuti apa-apa yang haq dan benar, sekalipun itu bersumber dari perkataan anak kecil atau sebodoh-bodohnya manusia.

Hakikat Takabbur dan Bahayanya

Takabbur itu ada dua macamnya, yaitu takabbur yang berada dalam batin dan takabbur yang tampak secara lahir. Yang batin adalah yang merupakan pekerti di dalam hati, sedangkan yang lahir adalah perilaku-perilaku yang tampak dari anggota badan. Perilaku-perilaku ini banyak sekali bentuknya dan karena itu sulit sekali untuk dihitung atau diperinci satu per satu.

Takabbur adalah sifat yang sangat berbahaya dan besar sekali kerusakan yang dapat ditimbulkannya. Seperti yang telah disampaikan dalam hadist, ia dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk masuk surga. Sebabnya tidak lain karena takabbur itu menjadi batas pemisah antara seseorang dengan akhlak dan budi pekerti yang baik yang merupakan pintu-pintu menuju surga.

Orang yang takabbur itu: 1) merasa dirinya tinggi, melebihi orang-orang lain, 2) cinta pada dirinya sendiri sehingga ia tidak dapat mempunyai perasaan cinta terhadap sesama mukmin, 3) tidak tawadlu’ atau merendahkan diri sebagaimana wajarnya yang diperintahkan oleh agama, 4) tidak dapat meninggalkan sifat pendendam, 4) tidak dapat pula terus-menerus terpercaya, baik perbuatan maupun ucapannya, 5) tidak dapat memberi nasihat yang baik, berbuat baik dan jujur, dan sebaliknya, tidak dapat diberi nasihat atau diperlakukan secara baik dan jujur pula, 6) sukar meninggalkan kemarahan dan menahan amarah, 7) sukar melenyapkan kedengkian dalam hati, dan 8) tidak dapat menghindarkan diri dari kegemaran mengejek orang atau kesukaan mengumpat.

Tidak ada budi pekerti buruk yang tidak dimiliki orang yang sombong. Ia terpaksa menggunakan semua yang buruk-buruk itu demi menjaga kemuliaannya. Orang yang merasa dirinya amat mulia dan bersifat takabbur pasti memiliki sifat-sifat yang jahat itu. Tetapi sebaliknya segala budi pekerti yang baik ia tak kuasa melaksanakannya karena takut kemuliannya lenyap. Bentuk ke-takabbur-an yang terjahat adalah yang karena ke-takabbur-annya itu, seseorang tidak suka menggunakan kemanfaatan dari ilmu yang diterimanya, tidak suka menerima apa-apa yang haq dan benar, dan tidak suka mengikuti jalan yang benar itu. Itu semua lah yang menjadikan orang yang takabbur sukar memasuki surga, sekalipun takabbur yang ada dalam dirinya hanya seberat debu.

Dari Mana Datangnya Ke-takabbur-an?

Sumber pokoknya adalah karena adanya perasaan menganggap kecil orang lain, menganggap orang lain kurang atau tidak berharga sama sekali bila dibandingkan dengan dirinya sendiri, serta anggapan hina pada orang itu. Sebaliknya, dirinya sendiri dianggapnya amat mulia, terhormat, dan melebihi orang lain dalam segala hal.

Dalam sebuah hadist, disebutkan dua macam sifat yang menjadi dasar kesombongan, yaitu: 1) menolak atau enggan menerima serta mengikuti apa-apa yang benar dan 2) menganggap hina, rendah, dan kecil orang lain, padahal ia adalah sesama makhluk Allah, sesama hamba-Nya, dan bahkan yang mungkin dihinakan itu sebenarnya lebih mulia dari dirinya sendiri.

Sampai sejauh mana kedurhakaan orang yang sombong dengan memperhatikan dua macam bahaya di atas?

Pertama, ialah bahwa kesombongan, kemegahan, kebanggaan, dan merasa diri mulia dan tinggi itu sebenarnya tidak sesuai melainkan untuk Dzat yang Maha Esa, Allah yang Maha Merajai. Adapun hamba sebagai manusia itu hanyalah budak Allah yang amat lemah sekali, yang tidak kuasa melakukan sesuatu apapun kecuali dengan pertolongan Allah. Karena itu, manusia benar-benar tidak patut merasa dirinya besar dan lalu menghina sesama manusia. Orang yang sombong, ia menantang Allah dengan merampas salah satu sifat yang hanya cocok untuk keagungan Tuhan belaka.

Kedua, ialah bahwa orang yang mendengar adanya kebenaran (haq) yang datang dari siapapun dari hamba Allah, kemudian enggan menerimanya, menunjukkan kedurhakaannya. Ia yang menolaknya dengan acuh tak acuh, berbuat demikian lantaran merasa dirinya lebih baik sedangkan orang lain tidak, sehingga ia enggan mengikuti kebenaran itu. Perilaku yang seperti ini seperti perilaku orang kafir dan kaum munafik.

QS Al-Baqarah (2): 206 Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang membuatnya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sunguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.

Penyebab Kesombongan: Salah Satunya, Ilmu Pengetahuan

Menurut Al-Ghazali, ada tujuh penyebab kesombongan yang semuanya bersumber dari adanya persepsi, merasa diri sempurna: 1) ilmu pengetahuan, 2) amal dan peribadatan, 3) keturunan dan silsilah, 4) ketampanan dan kecantikan, 5) harta kekayaan, 6) kekuatan dan ketangkasan tubuh, dan 7) banyaknya pengikut, penolong, keluarga atau kerabat.

Al-Ghazali berkata, gegabah sekali seorang alim ulama yang di dalam hatinya terjelma sifat sombong. Baru saja ia merasa ada kesempurnaan ilmu keagamaan (atau ilmu-ilmu lainnya), tiba-tiba saja ia merasa dirinya tinggi dan orang lain dianggapnya di bawahnya, dianggap bodoh semua, dan setiap orang yang mendekatinya, diharapkan supaya suka menjadi pelayannya. Orang ini mengira bahwa dirinya itu di sisi Allah lebih tinggi dan lebih utama. Dia lebih mengkhawatirkan kalau-kalau orang lain berbuat dosa ketimbang mengkhawatirkan dirinya sendiri. Dia merasa seolah-olah yakin bahwa kesempatannya masuk surga lebih besar daripada orang lain.

Seseorang menjadi sombong dengan sebab ilmu pengetahuan, didorong oleh dua hal:

Pertama, ia sibuk menuntut ilmu yang olehnya dianggap sebagai ilmu yang baik, tetapi sebenarnya bukanlah ilmu yang hakiki dan bermanfaat. Ilmu hakiki adalah ilmu pengetahuan yang membawa seseorang mengetahui kedudukan  Tuhan dan kedudukan dirinya sendiri. Ilmu yang hakiki adalah yang menyebabkan seorang manusia ingin sekali bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang baik dan selamat, di bawah naungan kasih sayang Allah pada hari kiamat nanti. Perasaan semacam inilah yang ditimbulkan oleh ilmu yang hakiki; membuat orang ke arah ketakwaan yang sebenar-benarnya, ke arah ke-tawadlu’-an yang sebaik-baiknya, dan bukan menjadikannya sombong.

QS Fathir (35): 28 Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.

Kedua, ia memang ahli betul dalam ilmu pengetahuannya, terutama dalam hal keagamaan, tetapi sayang, jahat perngai dan akhlaknya, buruk watak dan tabiatnya, rendah jiwa dan hina budi pekertinya. Ini mungkin disebabkan karena dahulunya ia tidak meperhatikan pendidikan jiwanya terlebih dahulu, tidak ingin membersihkan jiwa dan hatinya dengan berbagai kesungguhan dan latihan batin, sehingga akhirnya jiwanya menjadi amat kotor dan banyak nodanya. Ilmu yang masuk dalam kalbu yang kotor, buah yang dihasilkannya dari ilmu itu tidaklah akan lezat, bahkan tidak ada kebaikan yang berbekas sama sekali.

Imam Wahab berkata: “Ilmu pengetahuan itu adalah seperti hujan yang turun dari langit. Keadaannya amat suci, manis dan bersih. Setelah jatuh di bumi, semua pohonnya dapat menjalarkan akar-akarnya untuk memperoleh kadar makanan yang diperlukan. Dengan begitu yang semestinya pohon pahit dapat menambahkan kepahitannya, pohon manis dapat menambahkan kemanisannya. Begitulah perumpamaan ilmu pengetahuan yang sudah meresap dalam jiwa manusia. Ilmu ini dapat memberikan semangat dan dorongan pada manusia yang memilikinya itu sesuai dengan keadaannya sebelum dimasuki ilmu tadi. Jikalau baik kehendak dan keinginannya, maka bertambah baik pula, dan jikalau penuh dengan hawa nafsu dan kejahatan, maka bertambah sangat. Maka dari itu, ilmu pengetahuan tadi akan memberi tambahan kesombongan pada orang yang asal mulanya memang berwatak sombong, tetapi sebaliknya akan menambah kerendahan hati bagi seseorang yang asal mulanya memng sudah berwatak rendah hati.”

Apakah sebabnya ilmu itu justru menambah kejahatan atau kebaikan dalam diri seseorang?

Orang yang sejak mulanya sombong, sedang saat itu ia masih bodoh, maka nanti setelah ia memperoleh ilmu pengetahuan, tentu ada yang akan dijadikan sebagai bahan kesombongannya itu. Oleh karenanya, ilmu pengetahuan akan menambah kesombongannya. Sebaliknya, jika sejak semula dalam diri orang itu sudah ada dasar ketakutannya kepada Allah, padahal di saat itu ilmunya belum seberapa, maka nanti setelah bertambah ilmu yang dimiliki, maka makin mengertilah ia apa kemanfaatannya takwa kepada Allah. Dengan demikian, makin kokohlah jiwanya, makin kuat hujjah-nya, dan makin bertambah pula ketakwaannya.

Mengobati Takabbur karena Ilmu Pengetahuan

Al-Ghazali menyarankan, bahwa pengobatan takabbur itu secara umum memiliki dua cara: 1) jebol pohon takabbur dari tempat tertanamnya, yakni dalam hati, dan 2) tolak segala godaan yang baru datang dengan mengusir sebab-sebab dijadikannya sesuatu sebagai bahan kesombongan.

Pertama, menjebol akar-akarnya dari hati. Ada dua hal yang penting dilakukan secara bersama-sama, yaitu:

1) Secara ilmiah, membuat orang tersebut menyadari kedudukan dirinya dan kedudukan Tuhan-nya. Orang yang menyadari siapa dirinya dan kesadarn itu benar-benar hakiki, maka ia akan merasa bahwa kesombongannya itu benar-benar tidak patut. Manusia itu patut diajak mengerti, bagaimanakah ia patut menyombongkan dirinya, bagaimana ia layak merasa megah dan tinggi, bagaimana ia pantas bersifat takabbur, padalah ia adalah selemah-lemahnya segala yang lemah, sehina-hinanya segala yang hina, dan serendah-rendahnya segala yang rendah?

2) Secara amaliah, dengan perbuatan, yakni hendaklah seseorang itu senantiasa merendahkan dirinya kepada orang lain karena semata-mata mengharapkan keridlaan Allah. Ini harus dilakukan dan dilatih terus-menerus. Ia wajib berbuat demikian dengan siapapun juga, tanpa memilih-milih orang yang ada di hadapannya. Ia perlu mencontoh perilaku para ahli tawadlu’ dan orang-orang saleh, serta yang terutama Rasulullah.

Kedua, mengusir sebab-sebab timbulnya takabbur. Bagi orang yang berilmu, sombong dengan menggunakan ilmunya adalah bentuk kesombongan yang amat besar bahayanya jika dibandingkan dengan kesombongan yang lain.

1) Hendaklah orang yang pandai atau ‘alim itu mengetahui bahwa hujjah Allah, pemeriksaan-Nya, dan pertanggungjawaban yang dipikulkan padanya itu adalah lebih berat, lebih dikokohkan, dan lebih teliti. Sesuatu yang dipertanggungkan kepada yang bodoh belum dapat menyamai sepersepuluh dari apa yang dipertanggungkan kepada orang yang pintar. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah padahal ia mengetahui hukumnya dan bahwa kelakuannya itu sebagai pelanggaran terhadap larangan Allah, maka kesalahan yang dilaksanakan tadi tentulah dianggap lebih buruk dan lebih jahat, sedangkan bahayanya lebih besar pula.

2) Jikalau pada suatu ketika hatinya ingin berlagak sombong terhadap orang yang berbuat kefasikan atau gemar kebid’ahan, maka hendaklah diingat, betapa besarnya dosa dan kesalahan yang dilakukan. Hendaklah jangan menganggap kecil orang-orang yang semacam itu. Yang perlu diperiksa baik-baik adalah bagaimana akibatnya nanti, yakni di akhir masa kehidupan orang-orang itu. Siapa tahu, barangkali dirinya sendiri yang akan memperoleh su’ul khatimah (penghabisan yang buruk), sedang orang yang dianggap fasik dan tukang bid’ah itu justru yang akan mendapatkan husnul khatimah (penghabisan yang baik). Dengan menyadari itu, hati akan merasa takut dari berbuat kesombongan.

Ada orang yang bertanya: “Terhadap orang-orang yang fasik, jikalau tidak disombongi, bukankah itu berarti menyetujui kelakuannya yang salah itu? Sebaliknya, jikalau disombongi, bukankah itu berarti membencinya? Bukankah membenci kelakuan sedemikian itu mutlak diperlukan?”

Al-Ghazali menjawab: “Meninggalkan kesombongan itu bukan berarti menyetujui dan menyombongi itu belum tentu menyetujui. Apakah halangannya jikalau kita tetap membenci orang-orang tersebut karena Allah tanpa menunjukkan kesombongan sama sekali? Kesombongan dan kebencian perlu dipisah-pisahkan. Memang kita wajib membencinya, wajib tidak menyetujui kelakuannya, wajib mengingkari kefasikannya, dan wajib pula tidak mencocoki cara-cara kebid’ahannya. Tetapi, semua itu haruslah didasarkan semata-mata untuk mengharapkan keridlaan Allah, sebab yang diperintahkan-Nya ialah boleh kita membencinya, tetapi sama sekali tidak boleh berlagak sombong dan takabbur padanya.

***

Besok, aku akan menulis tentang ‘ujub. Semoga kita diberi Allah kekuatan untuk selalu mengevaluasi dan memperbaiki diri. Bersemangat semua!

2 thoughts on “Kesombongan Kaum Ulama, Ilmuwan, dan Cendekia, serta Mereka yang Merasa Tahu atau Memang Lebih Tahu

    • Memang, Mal. Waktu itu aku agak kecewa. Status itu seperti bilang “jangan sombong”, tetapi tidak mengajarkan “rendah hati” itu bagaimana dan komentar orang-orang nampak tersesat. Jadinya, aku selidiki sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s