Topic of The Week: “Management” Time

For time building’s issues…

DeCenzo, D. A. & Robbins, S. P. 2010. Fundamentals of Human Resource Management, 10th Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Dyer, W. G., Dyer, W. G., & Dyer, J. H. 2007. Team Building, Fourth Edition. Proven Strategies for Improving Team Performance. San Fransisco, CA: John Wiley & Sons.

Langton, N. & Robbins, S. P. 2004. Fundamental of Organizational Behavior. London: Pearson Education.

Robbins, S. P. 2003. Essentials of Organizational Behavior, 7th Edition. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

***

Conflict management…

De Dreu, C. K. W. & Gelfand, M. J. 2008. The Psychology of Conflict and Conflict Management in Organizations. London: Lawrence Erlbaum Associates.

Jeong, H. 2010. Conflict Management and Resolution. An Introduction. New York: Routledge.

Robbins, S. P. 2003. Perilaku Organisasi Jilid 2. Jakarta: PT INDEKS Kelompok GRAMEDIA.

Thomas, K. W. & Kilmann, R. H. ____. Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument. Diunduh dari: http://www.ucdenver.edu/academics/colleges/SPA/BuechnerInstitute/ Centers/RMLP/R MLP 2013 Assignments/ Documents/Thomas-Kilmann Instrument.pdf

***

Training and Development world…

Buku dan Artikel Penelitian:

Arthur, W. Bennet, W., Edens, P. S., & Bell, S. T. 2003. Effectiveness or Training in Organization: A Meta-analysis of Design and Evaluation Features. Journal of Applied Psychology. Vol. 88, No. 2, 234-245.

Becker, R. S. 2011. Interactive Games for Business Training. Becker Multimedia, Inc. http://itforum.coe.uga.edu/paper123/Interactive_Games_for_Business_Training.pdf

DeCenzo, D. A. & Robbins, S. P. 2010. Fundamentals of Human Resource Management. Tenth Edition. Hoboken: John Wiley & Sons.

High, T. & Graefe, A. R. 2002. Outdoor Experiential-Based Training: Motivational and Environmental Influences Affecting Outcomes. Dalam Todd, S (Ed.). Proceedings of the 2001 Northeastern Recreation Research Symposium. Newtown Square, PA: U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Northeastern Research Station. 85-91.

Hussain, T., Feurzeig, W., Cannon-Bowers, J., Coleman, S., Koenig, A., Lee, J., Menaker, E., Moffitt, K., Murphy, C., Pounds, K., Roberts, B., Seip, J., Souders, V., & Wainess, R. (2010). Development of game-based training systems: Lessons learned in an inter-disciplinary field in the making. In J. Cannon-Bowers & C. Bowers (Eds.), Serious game design and development: Technologies for training and learning (pp. 47-80). Hershey, PA: IGI Global Information Science Reference.

Kirkpatrick, D. L. & Kirkpatrick, J. D. 2006. Evaluating Training Programs. The Four Levels. Third Edition. San Fransisco: Barret-Koehler Publisher, Inc.

Kirkpatrick, D. L. & Kirkpatrick, J. D. 2005. Transferring Learning to Behavior. Using the Four Levels to Improve Performance. San Fransisco: Barret-Koehler Publisher, Inc.

Kraiger, K. 2003. Perspectives on Training and Development. Dalam I. B. Weiner (Ed.). Handbook of Psychology Vol. 12 Industrial and Organizational Psychology. Hoboken: John Wiley & Sons.

Lewis, L. H. & Williams, C. J. 1994. Experiential Learning: Past and Present. New Directions for Adult Continuing Education. No. 62, Summer 1994.

Miller, B. J. 1992. The Use of Outdoor-Based Training Initiatives to Enhance the Understanding of Creative Problem Solving. Thesis. State University of New York.

Rothman, I. & Cooper, C. 2008. Organizational and Work Psychology. London: Hodder Education.

Ruben, B. D. 1999. Simulations, Games, and Experience-Based Learning: The Quest for a New Paradigm for Teaching and Learning. Simulation & Gaming. Vol. 30 No. 4, December 1999, 498-505.

Sibthorp, J., Paisley, K. & Gookin, J. 2007. Exploring Participant Development Through Adventure-Based Programming: A Model from the National Outdoor Leadership School. Leisure Sciences. 29: 1 – 8.

Silberman, M. & Auerbach, C. 2006. Active Training. A Handbook of Techniques, Designs, Case Examples, and Tips. Third Edition. San Fransisco: John Wiley & Sons.

Squire, K. 2005. Game-based Learning. Present and Future State of The Field. MASIE Center e-Learning Consortium. Diunduh dari: https://pantherfile.uwm.edu/tjoosten/ LTC/Gaming/Game-Based_Learning.pdf.

Wilson, J. P. (Ed.). 2004. Human Resource Development. Learning and Training for Individuals and Organization. London: Kagan Page.

***

Haha… tidak jelas ya, apa maksudku menulis kali ini? Siapa yang butuh, boleh minta file-nya di aku. Aku punya semuanya, Insya Allah, kalau belum hilang.

Aku hanya sedang menarik napas dalam dan lega. Tidak bisa aku kecewa. Selama tiga bulan belakangan ini, aku tahu aku tidak menulis apa-apa soal buku yang sedang atau sudah aku baca. Aku meletakkan Filsafat Ilmu, Filsafat Manusia, Muqaddimah Ibn Khaldun, Manusia yang Tertipu karya Al-Ghazali, beberapa buku kecil karya Sayyid Quthb, dan novel untuk sementara yang tak berbatas waktu karena pekerjaanku membuatku tidak sempat membaca lagi. Tapi, selama waktu itu pula, aku membaca banyak sekali buku dan artikel untuk kepentingan pekerjaan. Tidak bisa aku kecewa! Aku justru memasuki dunia baru yang lama sekali aku pandangi dia sebelah mata: dunia Manajemen Organisasi dan Sumber Daya Manusia.

Selama kuliah, aku tidak begitu nyaman dengan psikologi industri dan organisasi (PIO), tetapi ironis, justru itulah yang paling banyak aku manfaatkan untuk mengurusi organisasiku di kampus. Hambatanku hanya satu sebetulnya: aku tidak menemukan relevansi PIO dengan kehidupanku. Tidak ada anggota keluargaku yang bekerja di perusahaan. Aku tidak mengerti dunia kerja yang membuat wanita-wanita berdandan, berpakaian modis, dan bersepatu hak tinggi. Setiap memasuki kelas, yang dibicarakan melulu soal kinerja, performa, dan produktivitas kerja, serta persaingan kerja, stres kerja… Dunia PIO adalah dunia orang-orang yang mengejar-ngejar dan dikejar-kejar oleh target, target, dan target. Sungguh tidak bahagia! pikirku.

Tapi, itulah kenyataan hidup! Lama aku hindari, tidak aku masuki, dan aku menggeluti bidang-bidang yang aku sukai saja, ternyata aku ditakdirkan untuk menghadapinya, diharuskan untuk menyelaminya. Sekarang aku sudah basah dan mataku terbuka, menemukan benang merah beberapa persoalan dan solusinya. Aku belajar berpikir memandang semua ini dengan kacamata sistem. Tidak salah dahulu aku membenamkan diri dalam psikologi, sekarang aku menceburkan diri dalam dunia organisasi manusia. Aku bergerak dari pemahaman yang sifatnya mikro ke yang lebih makro. Semua relevan. Semua berhubungan. Semua saling menerangkan. Semua saling memberikan jawaban. Kini aku belajar tentang organisasi manusia yang sederhana, mungkin besok aku bisa menjajal ilmu tentang organisasi manusia yang lebih besar dan kompleks: negara dan dunia. Insya Allah…

Ada banyak hal yang menarik, tetapi ada yang paling menarik, yaitu tentang dasar aktivitas manajemen itu sendiri. Mengapa manusia melakukan manajemen? Secara psikologis, manusia memang makhluk yang bertujuan. Ia dianugrahkan ego untuk memiliki kebutuhan, keinginan, harapan. Manusia meregulasi dirinya untuk mencapai semua itu karena yang diinginkannya itu tidak dapat dicapai tanpa usaha. Tidak ada konsekuensi segera pasca seseorang berkeinginan. Ia harus bekerja keras, dan usahanya itu terikat ruang dan waktu, dibatasi oleh banyak hal; dirinya sendiri dan lingkungannya. Usaha ini yang kemudian dapat kita sebut sebagai aktivitas manajemen. Manajemen terjadi karena manusia hidup dalam keterbatasan sumber daya, tenaga, waktu, dana, dan sebagainya. Kalau semua itu berlimpah dan tak akan habis, tak perlu ada manajemen. Manajemen dilakukan agar semua hal itu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan manusia. Dari sini, manajemen dekat dengan ilmu ekonomi, bercabang-cabang sampai jauh menyentuh sains dan teknologi, ilmu sosial lainnya, termasuk psikologi.

Manusia adalah aspek terpenting dalam aktivitas manajemen. Manusialah yang menetapkan tujuan pergerakan hidup organisasinya. Manusia yang berkepentingan dengan sumber daya yang terbatas itu. Manusialah yang juga kemudian menjadi pengatur, baik dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya, agar semua bergerak menuju sebuah visi. Bagi kita yang meyakini agama baik-baik, kita mengenal visi kita untuk menjadi khalifah Allah di bumi dan menjadi hamba yang senantiasa beribadah kepada-Nya. Visi itu dijabarkan lagi menjadi lebih sederhana sehingga pria-wanita punya tanggung jawabnya masing-masing, tua-muda juga punya tanggung jawabnya masing-masing. Mereka yang kuat atau yang lemah punya hak dan kewajiban. Siapapun punya peran, sesuai dengan kemampuan diri dan potensinya. Lebih spesifik lagi, siapapun dia, apapun pekerjaan atau profesinya, semua punya tugas yang mulia, yang dapat bernilai ibadah jika dilakukan di jalan Allah (fi sabilillah).

Untuk mencapai visi, orang-orang berusaha. Tetapi, agar usaha tersebut tetap terarah dan terkontrol, orang-orang butuh diatur, maka aturan itu dibuat. Jalannya alam semesta berdasarkan hukum yang Allah tetapkan, juga demikian dengan yang terjadi di bumi. Kita mengenal konsep sunatullah, secara umum. Namun, untuk mengatur usaha-usaha yang spesifik, dibutuhkan aturan-aturan yang juga spesifik, maka ibadah ada aturannya, kehidupan sosial ada aturannya, juga hidup bernegara, bermasyarakat, berkeluarga, berorganisasi, beraktivitas ekonomi, dan sebagainya. Setelah berusaha, muncul hasil, dan proses manajemen yang dikehendaki untuk bersifat berkelanjutan membutuhkan hasil evaluasi atas hasil usaha. Di level manusia, kita kenal konsep pahala dan dosa, sebagai “poin” atas amal perbuatan kita di dunia. Di masyarakat, ada penghargaan juga sanksi sosial atau hukum. Di organisasi pun demikian. Namun, semuanya mengandung esensi yang sama bahwa evaluasi ada demi suatu perbaikan yang dibutuhkan.

Selama waktu ini, aku memfokuskan diri pada manajemen sumber daya manusia, dan intinya sebetulnya sederhana saja. Pilih orang-orang terbaik, yang berkemampuan, yang mampu amanah menjalankan tugas mereka. Persiapkan diri mereka sebaik mungkin, berikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mereka dapat bekerja sebaik mungkin. Dukung mereka agar niat melakukan yang terbaik senantiasa ada dalam diri mereka. Terakhir, pelihara diri mereka dengan membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka (secara finansial, sosial, emosional, intelektual) agar mereka langgeng, tetap bertahan dengan penuh komitmen dan kesetiaan, pada kerja dan organisasi tempat mereka bernaung. Yang seperti ini terjadi di organisasi yang paling sederhana, yaitu keluarga sampai yang terbesar, yaitu negara. Manusia sungguh makhluk yang dinamis. Mereka yang belajar membuat kehidupan tampak cemerlang. Dan pengajaran menjadi unsur terpenting dalam kehidupan. Manusia perlu diajarkan cara hidup yang baik, cara bekerja yang menghasilkan manfaat, cara bergaul yang tidak merugikan; dan metode-metode untuk mencapai itu begitu banyak agar manusia dapat belajar dan tetap produktif.

***

Semua itu begitu indah di mataku. Kerja manusia memakmurkan bumi sungguh perkara yang besar dan tidak main-main. Aku membayangkan bermilyar-milyar orang yang bangun dari tidurnya setiap harinya, mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari itu, berpeluh bersama-sama dalam kerja mereka, lalu kembali pulang dengan sesuatu di tangan, lalu pergi beristirahat untuk besok kembali bangun. Bumi terus menyala dan hidup, bergemuruh. Kehidupan di bumi tak pernah tidur. Segala sesuatunya berputar dalam rutinitas yang seperti itu. Jika hari ini kita bersedih, ada banyak orang yang juga bersedih. Jika kita bergembira, juga ada banyak yang bergembira. Jika hari ini kita merasa masih bodoh, ada banyak orang yang berjuang untuk belajar. Jika hari ini kita masih merasa miskin, sejak Adam turun ke bumi, semua manusia berjuang menghadapi kelemahan dirinya. Bergerak seperti itu, terus seperti itu, seakan dengan itu suatu saat akan sampai ke puncak dunia, memperbaiki dan terus memperbaiki cita-cita dan pencapaian. Dan Allah pun berfirman:

Maha Suci Allah yang di Tangan-Nya-lah segala Kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang Menjadikan mati dan hidup, supaya Dia Menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. … QS 67: 1-2

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kamu akan Menguji kamu dengan Keburukan dan Kebaikan sebagai Cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. QS 21: 35

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku Merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang-orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa. QS 20: 15-16

Katakanlah, “Apakah akan Kami Beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap Ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu Penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat. QS Al 18: 103-105

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s